Pentingnya Asuransi

Ketika Nabi Muhammad Saw
mewasiatkan lima hal di atas,
beliau tentu tidak berpikir soal
asuransi. Para ulama pun lebih
memaknai hadis tersebut sebagai
peringatan agar kita banyak
beramal sebelum segalanya
terlambat, baik kesempatan
maupun kemampuan.
Namun jika kita merenungkan
kembali pesan Nabi tersebut di
masa sekarang, dengan mudah kita
menemukan betapa erat kaitannya
hadis ini dengan produk keuangan
modern yang disebut asuransi.
Tanpa mengurangi penafsiran yang
telah disajikan para ulama, sehat
sebelum sakit, muda sebelum tua,
dan lapang sebelum sempit dapat
dimaknai sebagai anjuran
mengikuti asuransi kesehatan, kaya
sebelum miskin berarti saran untuk
mengambil proteksi atas
penghasilan, dan hidup sebelum
mati merupakan dasar dari
asuransi jiwa.
Saat ini kita sehat, tapi siapa yang
menjamin kita akan selalu sehat,
apalagi jika usia tidak lagi muda?
Bahkan yang muda pun tidak kebal
dari penyakit. Ketika sakit, banyak
kerugian akan kita alami, antara
lain berkurangnya kenyamanan
fisik, finansial, dan waktu yang
berharga. Oleh karena itu,
mumpung masih muda, sehat, dan
punya waktu, persiapkanlah
sesuatu agar kerugian di kala sakit
bisa diminimalkan. Di sini, asuransi
kesehatan berperan mengurangi
kerugian finansial.
Sekarang kita kaya, tapi siapa yang
bisa memastikan kita akan kaya
selamanya? Ada sejumlah
kemungkinan yang bisa
membangkrutkan harta seseorang.
Kebakaran, kemalingan, bencana
alam, sakit, kecelakaan, dan cacat.
Asuransi berfungsi memproteksi
penghasilan kita dari risiko-risiko
semacam itu. Tentu kita berharap
hal-hal tersebut tidak perlu
dialami. Tapi siapa yang tahu?
Sedangkan asuransi jiwa adalah
pengingat yang luar biasa bahwa
setiap manusia pasti mati, dan
kematian itu tidak tentu waktunya.
Ikut asuransi jiwa berarti dengan
rendah hati mengakui bahwa kita
ini manusia fana, yang mungkin
mati kapan saja. Yang dilindungi
asuransi jiwa bukanlah diri kita,
tapi orang-orang yang kita sayangi
(istri/suami, anak-anak, kerabat).
Terutama bagi penanggung nafkah
utama keluarga, asuransi jiwa wajib
dimiliki agar kita dapat
memperhatikan mereka bukan
hanya ketika kita hidup, tapi juga
jika kita ditakdirkan berumur
pendek. Asuransi jiwa membantu
para janda dan anak-anak yatim
agar tidak telantar. Ini juga
sekaligus memenuhi perintah Allah
(QS 4:9) agar kita tidak
meninggalkan di belakang kita
generasi yang lemah, termasuk
dalam hal ekonomi.
Banyak orang Islam enggan
berasuransi karena menganggap hal
itu melawan takdir. Anggapan ini
perlu diluruskan. Asuransi tidak
mencegah risiko terjadi. Ikut
asuransi atau tidak, manusia tetap
mungkin mengalami musibah, entah
itu sakit, kecelakaan, ataupun
kematian. Yang dicegah asuransi
adalah kerugian keuangan yang
timbul akibat musibah itu.
Tinggal sekarang, kita mau ikut
asuransi yang seperti apa. Sebagai
muslim, sudah selayaknya dalam
bermuamalah kita berlaku sesuai
tuntunan syariat Islam. Hal ini
dimungkinkan pada masa sekarang,
karena telah hadir asuransi syariah
yang dibangun dengan landasan
tolong-menolong ( ta’awuni ) dan
prinsip berbagi risiko ( risk sharing),
sehingga insya Allah bernilai
ibadah. []

Financial Consultan Allianz Life
WA 08113436830
PIN: 7AC6C47F

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s