Monthly Archives: April 2015

Asuransi Kesehatan, Pentingkah?

Salah satu nikmat terbesar yang harus kita syukuriadalah kesehatan. Tetapi ada kalanya tanpa kita inginkan, kondisi kesehatan kita menurun/sakit. Untuk memulihkan kesehatan kita perlu berobat ke dokter.

Jika sampai sakit dan harus diopname, siapa yang akan menjadi penjamin untuk membayar tagihan rumah sakit di depan kasir Rumah Sakit nanti ? ada jaminan kantorkah? uang pribadi atau asuransi ?

Jika ada jaminan dari kantor itu artinya kantor menyediakan limit pengeluaran untuk fasilitas kesehatan karyawannya. Ada juga kantor yang memberikan fasilitas asuransi kesehatan grup. Tinggal di cek, dari fasilitas dari kantor ini kita dapat apa saja, coverage kesehatannya seperti apa dan untuk siapa saja manfaat askes itu diberikan. Jika fasilitas askes kantor sudah cukup memadai, kita tidak usah lagi membeli asuransi kesehatan pribadi.

Jika kita tidak memiliki jaminan dari kantor atau untuk sebagian dari kita yang profesinya sebagai self employee (wirausaha, seniman, dokter dll) maka perlu persiapkan fasilitas kesehatan sendiri. Caranya yaitu dengan memiliki dana darurat yang besar dan asuransi kesehatan. Bisa memanfaatkan BPJS atau asuransi swasta, pilihannya sesuaikan dengan kemampuan keuangan kita.

Banyak penyakit yang bisa sembuh dengan istirahat, minum obat-obatan yang bisa dibeli bebas atau rawat jalan. Tetapi jika dokter menyarankan kita untuk rawat inap, itu memerlukan dana yang cukup besar. Biaya rawat inap terdiri dari biaya kamar, makanan, dokter, obat dan perawatan, tindakan medis termasuk operasi, laboratorium dll.

Ketika memilih produk asuransi kesehatan, pertimbangkan beberapa hal. Tiap-tiap Rumah Sakit berbeda fasilitasnya. Rumah sakit premium tentu berbeda fasilitasnya dengan rumah sakit biasa. Cek standar biaya kamar RS per hari. Ini hal penting sebagai acuan awal. Jika askes yang kita punya memiliki cover kamar per hari Rp 250 rb, kita masuk kamar Rp 1 juta per hari, maka kelebihan biaya yang harus kita bayar diluar yang diganti/dibayar askes akan besar sekali.

Biaya opname itu yang mahal bukan kamarnya, tapi biaya ‘lain-lain’ seperti perawatan, obat, tindakan dokter dll. Biaya medis opname mengikuti biaya kamar. Makin tinggi harga kamar, biaya pun ikut naik. Pastikan mengerti coverage asuransi kesehatan kita. Perhatikan biaya kamar per hari, sistem inner limit/lainnya, kartu (cashless) atau reimburst.

Jangan tunggu sakit dulu baru mencari asuransi kesehatan. Semua orang harus punya asuransi kesehatan.. BPJS/jaminan kesehatan nasional memiliki service terbatas. Pelayanannya bersifat basic. Contoh kasus jika ada seseorang yang pusing-pusing misalnya, ada kemungkinan terjadi penyempitan pembuluh darah di otak. jika dia memiliki askes swasta bisa langsung melakukan pemeriksaan MRI, tapi jika dia menggunakan BPJS maka dilakukan pelayanan dasar dulu seperti cek darah, mengikuti saran/ petunjuk pelayanan BPJS yang berlaku. Bagi anda yang terbiasa mendapat pelayanan VIP di RS Swasta sepertinya akan ada penyesuaian atas kurang nyamannya fasilitas BPJS ini. Maka mau tidak mau anda harus double cover dengan asuransi swasta.

Untuk anda pekerja kantoran, pada umumnya kantor menyediakan fasilitas kesehatan. Tapi jika kantor anda tidak menyediakan asuransi kesehatan yang bagus atau tidak sesuai harapan, anda bisa melengkapi dengan askes sendiri. Nanti klaimnya sebagian-sebagian (koordinasi manfaat), tidak bisa double klaim. Untuk anda self employed harus membeli asuransi kesehatan sendiri. Untuk anda yang memiliki bisnis dengan sejumlah pekerja maka belilah asuransi kesehatan untuk sekantor. Belilah asuransi kesehatan sendiri Jika anda berencana berhenti dari pekerjaan, dan memutuskan untuk bekerja sendiri.

Untuk informasi awal, askes swasta bisa digunakan untuk rawat inap setelah melewati masa tunggu 30 hari untuk ‘sakit-sakit biasa’ seperti demam berdarah, tifus, usus buntu dll. Untuk ‘penyakit khusus’ seperti batu dalam ginjal, saluran kemih, saluran empedu, jantung dan pembuluh darah, katarak, penyakit yang berhubungan dengan telinga, hidung dan tenggorokan yang memerlukan pembedahan, diabetes melitus, tuberkulosis dan komplikasinya, gangguan kelenjar tiroid, kelainan lemak dalam darah (contoh: kolesterol), gagal ginjal kronis dan terminal, hernia nucleus pulposus dan semua kasus hematologi masa tunggunya setelah 12 bulan baru bisa klaim.

Cukupkah dengan hanya memiliki Asuransi Kesehatan saja untuk melindungi dari berbagai macam penyakit? ternyata tidak. karena Asuransi Kesehatan sebagus apapun dan sebesar apapun limitnya, tidak memberikan uang tunai daam jumlah besar, sesuatu yang sangat dibutuhkan ketika seseorang mengalami penyakit tertentu yang lebih berat yang tergolong critical Illness.

Jika seseorang terkena critical Illness, selama akibat sakit tersebut harus di rawat inap, itu bisa dicover askes. Perlu dipertimbangkan, untuk kondisi yang tergolong critical Illness (stroke, jantung, kanker, gagal ginjal kronis, terminal illness dll) selain biaya rawat inap ada biaya-biaya lain yang jumlahnya sangat besar.

Oleh karena itu di Allianz ada produk rider yang khusus mengcover resiko akibat critical illness ini yaitu CI, CI + dan CI 100.

Beberapa pilihan Asuransi Kesehatan dari Allianz bisa anda baca di sini

saya membuka kesempatan untuk berdiskusi lebih lanjut terkait kebutuhan asuransi kesehatan anda dan keluarga. (sumber: http://proteksisyariah.com/)

Natanael

HP/WA : 08113436830

PIN BBM : 54A7F03B

email : natanael.allianz@gmail.com

Advertisements

Harga Sebuah Penundaan

Tulisan ini berdasarkan kisah teman saya. Ia bercerita bahwa pada bulan April ini mendapatkan dua kabar yang mengejutkan dan cukup menakutkan. Kabar pertama, calon nasabahnya meninggal dunia sebelum bertemu dengan dia untuk mendaftar asuransi. Kabar kedua, nasabahnya yang sudah mendaftar asuransi meninggal dunia sebelum polisnya disetujui. Dua-duanya adalah kepala keluarga.

Apa yang bisa ia lakukan? Dia hanya bisa mengucapkan turut berdukacita, tidak lebih dari itu.

Tentang Kabar Pertama

Calon nasabahnya adalah seorang pria umur 53 tahun, tinggal di Jakarta Selatan. Istrinya sudah membuka polis Tapro Allisya Protection Plus sejak akhir 2014 dengan fokus manfaat pada askes rawat inap. Pada awal akhir Maret 2015, dua anaknya menyusul didaftarkan, juga dengan fokus manfaat rawat inap.

Pada awal April, sang istri yang selama ini berhubungan dengannya, berkata bahwa ia ingin mendaftarkan suaminya juga. Suaminya seorang perokok, tapi sehat dan tidak pernah rawat inap. Dalam soal asuransi, keluarga ini memprioritaskan manfaat rawat inap dengan sistem cashless. Rencananya, polis yang akan diambil utk sang suami preminya 1 juta per bulan, dengan manfaat UP jiwa 75 juta, 49 penyakit kritis 75 juta, dan HSC (rawat inap) plan kamar 1jt. Jadi, seperti halnya istri dan dua anaknya, fokus manfaatnya di askes rawat inap.

Tapi sebelum memperoleh waktu yang tepat untuk bertemu, pada hari Kamis minggu kedua April, dia mengabari saya bahwa suaminya telah meninggal dunia karena serangan jantung.

Tentang Kabar Kedua

Dia mendapat kabar  kedua yakni sebulan setengah setelah kejadian. Rabu 15 April 2015, istrinya menelepon saya, berkata bahwa ia bermaksud mengubah ahli waris pada polisnya. Saya belum mengerti maksudnya apa, sampai dia berkata bahwa suaminya telah meninggal dunia, diduga karena serangan jantung.

Suami istri ini bertemu dengan saya di rumahnya di Jakarta Barat pada hari Sabtu tanggal 14 Februari 2015. Sang suami telah menghubungi saya sekitar setahun sebelumnya, telah beberapa kali berdiskusi dan meminta ilustrasi, namun baru memutuskan saat itu. Umur 31 tahun, dia membuka polis Tapro Allisya dengan premi 350rb per bulan, manfaat UP jiwa 750 juta, Ci100 150 juta, dan Payor benefit. Sang istri seorang ibu rumah tangga yang baru berhenti dari pekerjaannya, umur 30 tahun, membuka polis juga dengan premi 350 ribu per bulan, manfaat UP jiwa 350 juta, Ci100 350 juta, dan Payor benefit.

Rupanya, 5 hari setelah bertemu saya, sang suami mendadak jatuh dari kursi saat mengobrol di ruang tamu. Langsung dibawa ke rumah sakit, tapi tidak tertolong dalam 3 jam. Kemungkinan besar serangan jantung, karena suaminya sehat tanpa riwayat sakit atau keluhan apa pun.

Saat itu tanggal 19 Februari, polisnya masih dalam proses, dan baru disetujui tanggal 23. Ketika saya mengantar polisnya dua minggu kemudian, di rumahnya ada sang ibu mertua dan saya tidak diberi tahu bahwa salah satu polis yang saya antar itu telah tidak berguna lagi.

Hikmah

Saya tidak perlu menggambarkan apa yang sekarang dialami keluarga yang ditinggalkan. Yang pasti, hikmah yang bisa diambil dari dua kabar ini antara lain agar kita tidak menunda-nunda untuk membeli asuransi, terutama asuransi jiwa. Setiap penundaan ada harganya. Jika penundaan itu mengenai asuransi kesehatan (rawat inap), harganya bisa anda bayar sepulang dari rumah sakit. Tapi jika penundaan itu mengenai asuransi jiwa (meninggal dunia dan penyakit kritis), itu ibarat nasi sudah menjadi bubur dan buburnya sudah basi. []

Apakah Rawat Jalan Perlu Asuransi?

Tulisan berikut ini saya ambil dari tulisan Bpk Asep Sopian yang ditujukan untuk mereka yang suka menanyakan asuransi rawat jalan. Di bagian akhir saya tambahkan pula dialog tentang rawat gigi, kacamata, dan melahirkan, serta asuransi apa yang selayaknya kita miliki. Semoga bermanfaat.

Z : Aku baca di tulisan “Asuransi Rawat Jalan, Perlukah?”, kamu bilang asuransi rawat jalan itu tidak perlu. Kenapa emangnya?

A : Lho, katanya udah baca, kok nanya lagi?

Z : Sori, cuma pengen denger langsung dari orangnya.

A : Oke. Menurut kamu, sakit yang bisa berobat jalan itu sakit kayak apa?

Z : Hmm, yang aku pernah alami sih, batuk pilek sama demam. Tadinya pakai obat warung, udah tiga hari gak berenti. Trus aku pergi ke klinik 24 jam. Diperiksa-periksa sama dokter, dikasih obat, habis itu mendingan.

A : Habis berapa waktu itu berobatnya?

Z : Buat dokternya 75 ribu, obatnya 90 ribu. Total 165 ribu.

A : Punya gak uang segitu?

Z : Ada sih.

A : Nah, berarti gak perlu pakai asuransi kan?

Z : Tapi kan, kalau ada asuransi lebih enak.

A : Jadi asuransi itu buat cari enak?

Z : Emangnya buat apa?

A : Asuransi itu untuk cari perlindungan. Perlindungan keuangan dari hal-hal yang tidak sanggup kita tanggung.

Z : Oo gitu ya. Soalnya aku punya temen, kalau berobat jalan gitu tinggal kasih kartu, pulang gak pake bayar.

A : Temenmu itu dapat asuransi rawat jalan dari mana?

Z : Dari kantornya.

A : Nah, kalau ada dari kantor ya alhamdulillah, tinggal dipakai saja.

Z : Aku gak ada rawat jalan dari kantor. Adanya cuma rawat inap.

A : Kalau gak ada, gak usah repot nyari-nyari. Toh pakai uang sendiri pun sanggup, iya kan?

Z : Iya sih. Tapi kamu jual kan askes rawat jalan?

A : Ada. Tapi kalau mau ambil rawat jalan, harus ambil rawat inap. Jadi kamu punya askes rawat inap dari kantor, bisa mubazir. Kalau kamu pakai askes dari kantor dulu, askes sininya yang mubazir karena yang namanya askes kalau pakai kartu dia gak bisa dobel klaim.

Z : Oo gitu ya. Kalo preminya sendiri gimana?

A : Kalau rawat inap, preminya murah manfaatnya lumayan. Tapi rawat jalan itu preminya mahal banget, manfaatnya kecil.

Z : Berapa?

A : Contoh, kalau rawat inap, untuk dapat plan kamar yang 500 ribu sehari, preminya 2,3 juta per tahun. Tapi rawat jalan untuk plan yang sama, preminya 3,2 juta per tahun. Total kalau ambil rawat inap + rawat jalan, preminya 5,5 juta per tahun. (Cek di Tabel Premi Allisya Care)

Z : Wah, mahal juga ya. Lalu manfaatnya segimana?

A : Untuk rawat jalan plan 500, manfaatnya untuk konsultasi dokter umum 85 ribu per kunjungan, dokter spesialis 175 ribu per kunjungan, obat-obatan 4 juta per tahun, ada lagi untuk pemeriksaan diagnostik dan fisioterapi. Dan semua itu sistemnya reimburse, bayar dulu baru klaim. Selain itu, yang ditanggung asuransi cuma 80%, sisanya ditanggung sendiri (co-share, bagi risiko). (Cek di Tabel Manfaat Allisya Care).

Z : Wah, jadi total manfaatnya untuk obat-obatan 4 juta ya? Gak jauh beda sama preminya ya.

A : Emang. Kalo menurutku, daripada uang 3,2 juta itu disetorkan ke asuransi, mendingan dijadikan dana darurat. Sewaktu-waktu kena pilek trus ke dokter, tinggal pakai. Yakin deh, dalam setahun gak bakal habis kalau cuma utk rawat jalan.

Z : Hmm, betul juga sih. Oke deh terima kasih.

A : Sama-sama, terima kasih kembali :).

Asuransi Rawat Gigi, Kacamata, dan Melahirkan

Z : Nanya lagi boleh?

A : Ya silakan, kawan.

Z : Kalau rawat gigi gimana, perlu gak pakai asuransi?

A : Prinsipnya sama. Biaya rawat gigi berapa sih? Kalau masih mampu pakai uang sendiri, kenapa repot-repot pakai asuransi?

Z : Oo gitu. Kalau rawat kacamata?

A : Itu sih lebih-lebih lagi gak perlu asuransi. Emangnya dalam setahun berapa kali ganti kacamata? Dan harga kacamata berapa sih?

Z : Hmm, gitu ya. Kalau untuk melahirkan, gimana?

A : Menurut saya juga tidak perlu. Pertama, melahirkan itu bukan musibah, tapi anugerah. Asuransi itu fungsinya untuk jaga-jaga dari musibah, khususnya musibah yang biayanya berat kalau ditanggung sendiri. Kedua, biaya melahirkan itu relatif tidak besar. Kalau mau melahirkan di bidan, biayanya paling cuma 1 jutaan. Kalau di rumah sakit, lahir normal tak sampai 10 juta. Masih bisalah pakai uang sendiri, asalkan disiapkan dari awal kehamilan.

Z : Kalau cesar gimana?

A : Ya siapkan juga antisipasi dananya untuk lahir cesar. Alasan ketiga, premi asuransi melahirkan itu mahal sekali. Misal ingin ditanggung sebesar 10 juta (lahir normal) atau 20 juta (lahir cesar), maka preminya 10 jutaan per tahun. (Cek Tabel Manfaat dan Tabel Premi di atas).

Z : Hmm, kalau punya uang 10 juta, mendingan ditabung sendiri ya.

A : Betul banget. Selain itu, kalau dibelikan asuransi, belum tentu manfaatnya terpakai.

Z : Kenapa?

A : Karena untuk ambil asuransi melahirkan, statusnya harus dalam keadaan belum hamil. Kalau sudah hamil tidak bisa, karena ada masa tunggu 280 hari atau 9 bulan 10 hari. Kalau ambil asuransi melahirkan tapi ternyata tidak hamil, berarti uangnya hangus ngus ngus. Bahkan kalau hamilnya telat, misalnya baru hamil 4 bulan atau lebih setelah ambil asuransi, sama juga tidak terpakai, karena masa berlaku polisnya satu tahun.

Z : Jadi, kalau ambil asuransi melahirkan, harus hamil dalam waktu paling lambat 3 bulan ya setelah polis jadi?

A : Tepat sekali, baru manfaatnya terpakai.

Asuransi Yang Wajib Diambil

Z : Oke deh, makasih pencerahannya. Jadi, asuransi apa yang mestinya kita ambil?

A : Asuransi yang mesti diambil, ukurannya satu: Kalau sebuah risiko biayanya terlalu berat untuk ditanggung sendiri, atau bahkan tidak akan sanggup kalau ditanggung sendiri, berarti WAJIB pakai asuransi.

Z : Contohnya?

A : Contohnya risiko meninggal dunia, cacat tetap, dan penyakit kritis.

Z : Wah, itu sih memang berat sekali akibat keuangannya. Kalau rawat inap?

A : Askes rawat inap pada umumnya perlu untuk sebagian besar orang. Tapi untuk orang yang punya cukup uang, katakanlah dia punya gaji bulanan di atas 30 jutaan dan bisa menyisihkan sepertiga penghasilannya, atau dia punya dana darurat 100 jutaan, bisa jadi tidak perlu ambil askes rawat inap.

Z : Kenapa?

A : Askes rawat inap itu fungsinya lebih untuk sakit biasa, contohnya tipes, DBD, diare, usus buntu. Biayanya saat ini antara 5 sampai 20 jutaan, dan kalau rumah sakitnya yang mahal, mungkin bisa sampai 50 juta. Memang cukup besar, tapi kalau dihitung-hitung, angka itu cuma sekali atau dua kali gaji bulanan. Kalau punya simpanan dana darurat 100 jutaan, habis 50 juta pun tak masalah. Pulang dari RS tinggal cari uang lagi.

Z : Tapi penyakit kritis kan ditanggung juga?

A : Betul, askes menanggung juga penyakit kritis, asalkan dirawat inap. Pokoknya penyakit apa pun yang membutuhkan rawat inap, askes akan bantu. Tapi seberapa besar? Lihat juga limitnya. Penyakit biasa biayanya bisa diperkirakan. Tapi yang namanya penyakit kritis tidak bisa diprediksi berapa butuh uangnya. Bisa jadi cuma puluhan juta, mungkin ratusan juta, tapi mungkin juga sampai miliaran.

Z : Hmm…

A : Belum lagi kalau penyakit kritis itu bikin orangnya tidak bisa bekerja. Contoh: stroke lalu lumpuh, kena serangan jantung lalu harus banyak istirahat, kanker lalu terbaring saja di kasur, dan sebagainya. Dalam kondisi begini, apakah askes akan bantu?

Z : Sepertinya tidak ya. Kecuali mungkin untuk rawat inapnya.

A : Betul. Penyebabnya satu: askes, sebagus apa pun, tidak memberikan uang tunai. Padahal yang dibutuhkan untuk kondisi ini adalah uang tunai, dan dalam jumlah besar. Asuransi penyakit kritis (CI) dan asuransi cacat (TPD) memberikan uang tunai yang dibutuhkan untuk kasus ini.

Z : Oke, masuk akal penjelasannya. Terima kasih.

A : Sama-sama, terima kasih telah mendengarkan

Dari dialog tadi dijelaskan bahwa sesuatu hal yang bisa kita bayar atau mampu kita bayar maka tidak perlu memakai asuransi.

Consultasi atau ingin minta ilustrasi silahkan hubungi:

Natanael

Bisnis Eksekutif Allianz Life

HP/WA 08113436830

PIN BB: 54A7F03B

email: natanael.allianz@gmail.com

atau  natanael.albertus@gmail.com

Z : Oke, masuk akal penjelasannya. Terima kasih.

A : Sama-sama, terima kasih telah mendengarkan 🙂 []

Term Life dalam Unit Link. Lebih Murah Apa Lebih Mahal?

term-life-insuranceBagi anda yang sedang mencari asuransi jiwa murni term life, saya menawarkan sebuah alternatif yang menarik, yaitu term life dalam unit link. Mungkin tidak semua unit link menyediakannya, tapi di Allianz, Term Life merupakan rider (proteksi tambahan) dari produk Allisya Protection Plus atau Tapro Allisya.

Rider Term Life memberikan tambahan UP jiwa selain yang ada pada Asuransi Dasar dan berlaku sampai usia 70 tahun. Rider Term Life dapat diambil dengan UP minimum separuh dari UP Dasar, maksimum 2 kali UP Dasar. Untuk mendapatkan gabungan UP jiwa yang maksimal dengan premi yang minimal, komposisinya adalah 1:2. Satu bagian UP Dasar banding dua bagian UP Term Life.

Dengan menambahkan rider Term Life, manfaat meninggal akan menjadi seperti ini: Jika peserta meninggal sebelum umur 70 tahun, yang diperoleh ahli warisnya adalah UP Dasar + UP Term Life + nilai investasi. Jika meninggal setelah umur 70 tahun, maka yang diperoleh ahli waris adalah UP Dasar + nilai investasi.

Contoh penerapan rider Term Life bisa dilihat di:

– UP 1 Miliar? 350 Ribu Pun Bisa!

– 355 Ribu Dapat UP 1 Miliar, Mau?

– Tabel Premi UP 1M untuk Berbagai Usia

Tanya-Jawab

Apa betul manfaat rider Term Life sama dengan manfaat Asuransi Dasar?

Ya, sama persis, yaitu memberikan uang pertanggungan jika tertanggung meninggal dunia oleh sebab apa pun, di luar pengecualian.

Bagaimana dengan biaya asuransinya (Tabarru)?

Tabarru rider Term Life sama persis dengan tabarru Asuransi Dasar.

Lalu apa bedanya rider Term Life dengan Asuransi Dasar?

Bedanya hanya di jangka waktu proteksi. Rider Term Life sampai usia 70 tahun, Asuransi Dasar sampai usia 100 tahun.

Kenapa tidak ada pilihan, misalnya sampai usia 50, 55, atau 60?

Itu tidak perlu. Jika anda hanya butuh proteksi sampai usia 50 tahun, tinggal tutup saja rider term lifenya, atau polisnya sekalian. Kelebihan dari tanpa pilihan ini justru membuat anda lebih fleksibel berhenti kapan pun. Mau berhenti di usia 51, bisa. Usia 57, silakan. 63, oke.

Apa betul dengan menambahkan rider Term Life, premi jadi lebih murah dibanding jika ambil term life pada produk tradisional?

Ya. Silakan dicek sendiri di asuransi lain.

Apa yang dimaksud lebih fleksibel?
Cara pembayaran dapat dilakukan secara bulanan, triwulanan, semesteran, dan tahunan. Di lain pihak, asuransi term life tradisional biasanya hanya menyediakan cara bayar tahunan dan semesteran, jarang sekali yang bisa bulanan. Kalaupun ada, preminya akan lebih mahal, dan itu pun cara bayarnya harus dengan kartu kredit.
Masa pembayaran premi dapat lebih pendek daripada masa berlaku proteksinya. Dengan catatan, hasil investasi sedang atau bagus. Selanjutnya, penagihan biaya-biaya asuransi akan dipotong otomatis dari nilai investasi yang telah terakumulasi.
Ada fasilitas cuti premi (berhenti bayar premi untuk sementara). Fasilitas ini sangat diperlukan jika suatu saat lupa bayar premi atau tidak punya uang untuk bayar premi, karena penagihan biaya akan otomatis dipotong dari nilai investasi yang ada pada saat itu. Dengan demikian, kondisi lupa bayar tidak mengakibatkan polis langsung lapse.
Jika ditambah rider, maka UP rider dapat diatur sesuai keperluan sepanjang masih dalam batasan minimum dan maksimum. Pada sejumlah produk term life murni, UP rider seringkali dipatok dalam rasio tertentu dari UP dasar, tidak boleh kurang atau lebih (misal: harus setengah atau harus sama dengan UP dasar).

Apa kelebihan lainnya jika ambil rider Term Life pada unit link Tapro Allisya?
Akadnya sesuai syariah. Di sisi lain, produk asuransi term life tradisional yang saat ini ada di pasaran hampir semuanya bukan syariah.
Dapat ditambahkan aneka rider yang bagus dengan harga bersaing, yaitu ADDB, Critical Illness, Total Permanent Disutama maupun anggota keluarganya).

,

Tertarik?

Hubungi: Natanael

HP/WA: 08113436830

Silakan hubungi saya untuk mendapatkan ilustrasi dan penjelasan selengkapnya.

Salam,

Perlukah Asuransi Jiwa untuk Umur yang sudah Tua

Jika pertanyaan pada judul di atas diajukan kepada orang yang saat ini berusia 30-an tahun, dan dia memahami perencanaan keuangan, mungkin dia akan menjawab “tidak perlu”. Kenapa? Karena dia akan merencanakan keuangan dengan baik dan berinvestasi seoptimal mungkin sehingga pada usia tua (di atas 50 tahun), hartanya sudah cukup banyak dan dia tidak perlu lagi uang dari asuransi.

Tapi jika pertanyaan di atas diajukan kepada orang yang saat ini sudah berusia di atas 50-an, apa jawabannya? Saya memperkirakan setidaknya ada lima kemungkinan jawaban, tergantung kondisi yang bersangkutan:

1. Tidak Butuh

Jika si orang tua telah berinvestasi dengan baik semasa muda, dan kini aset-asetnya sudah bejibun, semua anaknya sudah mandiri, dan tidak lagi punya utang, maka dia tidak butuh asuransi jiwa. Yang dia butuhkan hanya asuransi kesehatan, atau sejumlah uang yang cukup untuk membayar biaya-biaya kesehatannya.

2. Butuh

Jika si orang tua tidak berinvestasi sejak muda, atau sekarang masih punya anak yang harus dinafkahi, atau utangnya belum lunas, maka dia masih butuh asuransi jiwa.

3. Perlu

Mungkin anak-anak sudah mandiri, tapi hidup mereka masih pas-pasan. Tempat tinggal masih ngontrak atau malah masih numpang. Ingin kredit rumah, DP-nya kemahalan. Dan melihat perkembangan karir mereka sekarang, sepertinya butuh waktu sangat lama bagi mereka untuk mengumpulkan uang kontan puluhan juta untuk bayar DP rumah, atau mungkin tidak akan kesampaian.

Si orang tua ingin sekali membantu anak-anaknya, tapi hartanya juga tidak banyak-banyak amat. Maka salah satu cara yang bisa dia tempuh adalah mengambil asuransi jiwa. Tepatnya asuransi jiwa yang bisa berlaku seumur hidup. Saya kira UP 100 juta atau 200 juta akan sangat berharga untuk anak-anaknya. Dan untuk orang tua di atas 50-an, preminya malah lebih murah di unit link daripada di term life. Selain itu unit link bisa berlaku seumur hidup, term life tidak.

Dengan cara ini, walaupun ketika hidupnya si orang tua melihat anak-anaknya masih ngontrak, ia bisa memastikan anak-anaknya punya rumah ketika ia meninggal dunia.

4. Ingin

Jika si orang tua telah punya aset yang cukup, tidak lagi punya tanggungan dan utang, anak-anaknya juga sudah mandiri dan mapan, maka bisa saja dia mengambil asuransi jiwa atau mempertahankan asuransi jiwa yang telah dimilikinya.

Lalu untuk apa uang pertanggungannya?

Untuk disedekahkan.

Saya ingin menegaskan poin keempat ini. Marilah kita berpikir lebih jangka panjang, bervisi lebih akhirat. Uang pertanggungan asuransi jiwa, mungkin 1 miliar, 500 juta, atau hanya 100 juta, akan cukup besar nilainya jika disumbangkan. Pernahkah anda menyumbang uang sebesar itu untuk pembangunan masjid? Atau untuk panti asuhan? Atau untuk sebuah lembaga pendidikan? Atau untuk lembaga penelitian kanker? Atau untuk memodali seorang yang tengah merintis usaha keluar dari kemiskinan?

Dengan memiliki asuransi jiwa, kita bisa menyumbang uang sebesar yang bisa dilakukan orang-orang kaya dan dermawan. Asal tempat penyalurannya tepat, sedekah kita akan bernilai jariyah, yang pahalanya mengalir terus sampai hari kebangkitan. Semoga.

5. Tidak Bisa

Ada orang tua yang sebetulnya masih butuh asuransi jiwa; dia masih punya anak kecil, KPR belum lunas, dan anak yang paling tua pun belum mapan ekonominya.

Tapi asuransi jiwa bukan barang yang gampang dibeli siapa saja. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memiliki asuransi jiwa, yaitu mereka yang sehat.

Jika orang yang sudah tua ini tidak sehat lagi fisiknya, walaupun punya uang dia tidak akan bisa beli asuransi jiwa. []

Siapkah Keuangan Kita thp Biaya Penyakit Kritis

Saya terinspirasi setelah membaca tulisan pak Sopian tentang sakit kritis.

Kebetulan, saya punya teman yang sekarang sudah tidak mampu bekerja karena kena stroke. Begitu juga, saya juga punya teman yang tiap bulan harus cuci darah sehingga hartanya habis untuk penyakit kritisnya.

Cobalah sesekali tanya orang yang sekarang terkena stroke, apakah sebelumnya dia pernah menyangka akan terkena stroke?

Atau tanyalah orang yang sekarang harus menjalani cuci darah tiap minggu, apakah dulu ia pernah mengira akan mengalami gagal ginjal?

Ya, terkadang penyakit kritis datang seperti kecelakaan lalu lintas. Tiba-tiba dan tidak diduga. Vonis dokter terdengar seperti hantaman palu godam. Ya, karena yang bersangkutan mungkin merasa selama ini baik-baik saja. Ia ngantor tiap hari, bergaul dengan teman-temannya, bercengkrama dengan keluarganya, bahkan berolahraga secara rutin.

Penyakit kritis sebetulnya bisa dicegah. Tapi sebaik apa pun usaha kita, di zaman sekarang ini peluang keberhasilannya tidak akan 100 persen. Kita menerapkan gaya hidup sehat, lingkungan kita belum tentu mendukung. Setiap hari kita makan beraneka ragam hidangan dengan kandungan yang bermacam-macam, bergaul dengan teman-teman yang merokok, menghirup polusi udara, terjebak stres di perjalanan, terpapar sinar ultraviolet dari matahari, dan sebagainya. Semua itu terakumulasi sedikit demi sedikit dalam tubuh kita, dan masing-masing menyumbang peran bagi menurunnya tingkat kesehatan kita. Bisa jadi ujungnya adalah penyakit kritis yang kita tidak sangka-sangka itu. Bisa jadi juga tidak. Tapi satu yang patut disadari, munculnya salah satu dari penyakit kritis bukanlah hal yang mustahil.

“Saya sudah punya askes dari kantor.”

Oke. Tapi askes ada limitnya, dan biasanya askes kantor tidak berdaya menghadapi tagihan penyakit kritis. Askes berguna untuk penyakit umum (batuk, pilek, tifus, DBD) tapi tak akan berdaya untuk penyakit khusus (stroke, jantung, kanker, hepatitis, tumor otak [walaupun] jinak, parkinson, meningitis). Kita memerlukan proteksi yang lebih bertenaga dibanding asuransi kesehatan.

Sebelum anda memutuskan perlu tidaknya mengambil proteksi penyakit kritis, cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
Apakah anda sehat? Benar-benar sehat?
Apakah anda tidak punya satu pun keluhan penyakit, terutama dari jenis yang jangka panjang?
Apakah perut anda tidak makin buncit? (Bandingkan keadaannya dengan perut anda lima tahun ke belakang)
Apakah berat badan anda normal dan anda akan bisa menjaganya tetap seperti itu?
Apakah anda tidak merokok, minum minuman beralkohol, dan semacamnya?
Apakah teman-teman/pergaulan anda tidak merokok?
Apakah orang-orang di rumah anda tidak merokok?
Apakah lingkungan tempat tinggal anda sehat (bukan daerah kumuh, bukan kawasan pabrik, cukup udara segar, dll)?
Apakah orang-orang yang termasuk kerabat sedarah, yaitu orangtua, kakek-nenek, paman-bibi, dan saudara kandung, tidak ada yang pernah mengalami penyakit kritis?
Apakah pekerjaan anda memungkinkan tubuh anda relatif bergerak sehingga otot-otot anda mendapat cukup ruang dan waktu untuk bergeliat?
Apakah setiap harinya anda terhindar dari polusi udara dan kemacetan di perjalanan?
Apakah anda jarang stres, baik karena masalah pekerjaan, rumah tangga, pergaulan, ataupun kemacetan?
Apakah setiap harinya anda tidak mengonsumsi makanan yang mengandung bahan-bahan kimia seperti 4P (penyedap, pewarna, pengawet, pestisida)?
Apakah cara makan anda tidak berlebihan, yang bisa berakibat pada menumpuknya kadar gula darah, kolesterol, ataupun asam urat?
Apakah anda selalu makan masakan rumah bikinan sendiri, dan tidak pernah atau jarang sekali makan dan jajan di luar?
Apakah anda suka berolahraga dan rutin melakukannya?
Apakah anda rutin memeriksakan kesehatan anda (general check up)?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut jawabannya “ya”, maka okelah anda tidak mengambil proteksi penyakit kritis. Tapi jika beberapa di antaranya anda jawab “tidak”, sebaiknya anda waspada. Tetap berdoa semoga jantung dan darah anda baik-baik saja sampai tua. Tetap menjaga kesehatan dengan cara apa pun yang anda bisa. Pada saat yang sama, siapkan sejumlah dana (boleh kumpulkan sendiri atau lewat asuransi) untuk membayar dokter kalau-kalau kelak sakit kritis menimpa.

Mengenal Unit Link

Pengertian Unit-link

Secara sederhana, unit-link adalah asuransi jiwa yang ditautkan (linked) dengan investasi. Asuransi jiwanya berbentuk YRT (Yearly Renewable Term, asuransi jiwa berjangka tahunan yang memiliki garansi perpanjangan), sedangkan investasinya berbentuk reksadana (kumpulan dana dari masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi).

Manfaat asuransi unit-link terdiri dari manfaat dasar dan manfaat tambahan (rider). Manfaat dasarnya memberikan sejumlah uang pertanggungan jika tertanggung meninggal dunia dalam masa perlindungan, biasanya hingga seumur hidup (usia 99-100 tahun). Ridernya bermacam-macam, antara lain meliputi perlindungan dari cacat tetap (akibat sakit ataupun kecelakaan, cacat sebagian hingga cacat total), penyakit kritis, rawat inap, dan pembebasan premi.

Investasi unit-link disalurkan ke dalam instrumen investasi berbentuk reksadana. Reksadana adalah kumpulan dana dari masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi. Dana pada

reksadana dikelompokkan berdasarkan tingkat risiko dan potensi keuntungannya.

unitlink

Perbedaan Unit-link dengan Asuransi Tradisional

Produk asuransi tradisional ada tiga jenis. Term-life, whole-life, dan endowment. Term-life adalah asuransi jiwa berjangka tanpa nilai tunai. Whole-life adalah asuransi jiwa seumur hidup dengan nilai tunai yang tidak terlalu besar. Endowment adalah asuransi jiwa berjangka dengan titik tekan pada nilai tunai. Untuk uang pertanggungan yang sama, premi term-life lebih murah daripada whole-life, dan premi whole-life lebih murah daripada endowment.

Seperti halnya unit-link, asuransi tradisional juga menyediakan manfaat dasar dan sejumlah manfaat tambahan (rider). Hanya saja, dalam dekade terakhir ini asuransi tradisional kurang mendapat perhatian karena hampir semua perusahaan asuransi fokus pada pengembangan unit-link.

Term-life vs Unit-link

Term-life adalah asuransi jiwa berjangka, ada yang tahunan, 5 tahunan, 10 tahunan, 20 tahunan, atau sesuai kebijakan perusahaan asuransi. Ciri pokok term-life adalah tanpa nilai tunai alias premi hangus. Ciri lainnya, masa perlindungan sama dengan masa pembayaran. Bayar 1 tahun, perlindungan 1 tahun. Bayar 10 tahun, perlindungan 10 tahun. Ada klaim dapat uang pertanggungan, tidak ada klaim premi hangus.

Term-life yang berjangka tahunan merupakan bentuk paling dasar dari asuransi jiwa. Nasabah membayar premi untuk masa perlindungan selama satu tahun, dan tahun berikutnya premi naik jika polis diperpanjang. Term-life tahunan ada yang mensyaratkan seleksi kesehatan saat perpanjangan, ada juga yang memiliki fitur garansi perpanjangan (YRT: Yearly Renewable Term). Saat ini skema semacam term-life tahunan banyak digunakan di asuransi umum (asuransi rumah, mobil), asuransi kesehatan murni, asuransi kumpulan/karyawan, dan unit-link.

Kok unit-link? Ya, betul, tidak salah lagi. Seperti disebutkan di awal, unsur asuransi jiwa pada unit-link berbentuk YRT. Premi yang disetorkan secara berkala digunakan untuk membayar biaya-biaya, salah satunya biaya asuransi (cost of insurance atau COI, atau tabarru dalam asuransi syariah). Biaya asuransi adalah biaya yang dikenakan untuk setiap manfaat dasar maupun rider yang diambil. Premi bersifat tetap (flat), sedangkan biaya asuransi naik setiap tahun seiring usia. Selisih dari premi dikurang biaya-biaya sama dengan nilai investasi.

Untuk membuktikan bahwa unit-link itu sama dengan YRT, caranya mudah saja. Jika anda punya unit-link yang sudah berjalan di atas 5 tahun, cobalah tarik hampir seluruh nilai investasi yang ada, sisakan sedikit sebesar biaya asuransi + administrasi yang dikenakan pada bulan itu. Bulan-bulan berikutnya, anda hanya perlu menyetor sebesar biaya asuransi + administrasi. Maka secara prinsip, unit-link tsb telah berubah menjadi YRT. Selama anda membayar biaya asuransi + administrasi, unit-link anda akan tetap berlaku sampai seumur hidup. Jika anda menghentikan pembayaran, polis berakhir dan biaya asuransi + administrasi tadi hangus.

Jadi, unit-link adalah YRT + reksadana. Bedanya, YRT pada unit-link memberikan perlindungan hingga seumur hidup (usia 100 tahun), YRT pada asuransi term-life dibatasi sampai usia tertentu (maksimal sampai usia 70 tahun).

Term-life yang bukan tahunan merupakan pengembangan lebih lanjut dari term-life tahunan. Sekarang ini, kebanyakan produk term-life ditawarkan dengan tenor yang lebih panjang, 10, 15, atau 20 tahun. Premi flat selama masa kontrak, dan akan naik beberapa kali lipat jika diperpanjang.

Secara umum premi term-life lebih murah daripada unit-link. Tentu wajar, karena term-life tidak mengandung nilai tunai sedangkan unit-link mengandung nilai tunai. Tapi dengan suatu cara tertentu, unit-link bisa dibuat lebih murah daripada term-life. Caranya dengan menambahkan rider Term-life ke dalam unit-link.

Whole-life vs Unit-link

Whole-life, sesuai namanya, adalah asuransi jiwa dengan jangka perlindungan seumur hidup (usia 100 tahun). Masa pembayaran preminya bisa diatur sesuai kesepakatan, ada yang 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, bahkan ada yang sekali bayar. Semakin singkat masa pembayaran, preminya semakin mahal, tapi secara keseluruhan lebih murah (mirip cicilan rumah). Whole-life memiliki nilai tunai yang dijamin, dan ada nilai tunai tambahan yang tidak dijamin (hasil pengembangan investasi). Nilai tunai pada whole-life tidaklah terlalu besar, karena tujuan utamanya tetap untuk mendapatkan proteksi. Asuransi jenis whole-life biasanya digunakan oleh orang yang sudah berumur (katakanlah 40 tahun ke atas) untuk mempersiapkan warisan, karena kepastian yang diberikannya.

Banyak yang menyangka unsur asuransi jiwa pada unit-link adalah whole-life. Bukan. Seperti disebutkan di atas, unsur asuransi jiwa pada unit-link lebih tepat disebut YRT atau term-life tahunan.

Jika dilihat dari masa perlindungan jiwanya, memang unit-link dan whole-life sama-sama menyediakan proteksi hingga seumur hidup (usia 100 tahun). Tapi ada satu perbedaan besar. Pada whole-life, nasabah membayar premi sesuai masa perjanjian (misalnya 10 tahun), setelah itu tidak bayar lagi, dan perlindungan dijamin selama seumur hidup.

Pada unit-link, nasabah membayar premi sesuai rencana (misalnya 10 tahun), setelah itu boleh cuti premi, dan perlindungan akan tetap berlaku selama nilai investasi cukup untuk membayar biaya asuransi + administrasi. Jika nilai investasi habis, polis berakhir, tapi nasabah bisa tetap mendapatkan perlindungan selama dia membayar biaya asuransi + administrasi. Biaya asuransi + administrasi ini dikenakan hingga seumur hidup, dan inilah yang disebut YRT.

Secara umum, premi unit-link sedikit lebih murah daripada premi whole-life. Hal ini karena pada whole-life, perusahaan asuransi harus menjamin manfaat polis tetap berlaku setelah masa pembayaran premi berakhir. Sedangkan pada unit-link, manfaat polis tergantung pada ketersediaan nilai investasi yang sifatnya tidak dijamin, atau tergantung pada kesediaan nasabah untuk tetap membayar biaya asuransi + administrasi.

Endowment vs Unit-link

Endowment atau dwiguna adalah asuransi jiwa + tabungan dengan titik tekan pada unsur tabungannya, sedangkan asuransi jiwanya tidaklah besar. Endowment biasanya digunakan untuk keperluan mempersiapkan dana pendidikan anak dan dana pensiun. Sekarang, seiring munculnya unit-link, endowment semakin jarang ditawarkan.

Menurut saya, endowment merupakan produk yang setengah-setengah. Dari segi proteksi, uang pertanggungannya sangat kecil dibandingkan term-life, whole-life, ataupun unit-link. Dari segi tabungan, jumlahnya pun masih lebih kecil dibandingkan tabungan pendidikan atau deposito di bank, dan tentunya kalah agresif dibandingkan unit-link.

Kelebihan endowment dibanding unit-link hanyalah bahwa nilai tabungannya bersifat dijamin. Tapi karena dijamin, jumlahnya tidak besar. Sedangkan dari segi proteksi, endowment kalah jauh sekali.

Mengenal Unit-link dari Allianz: Tapro

Unit-link dari Allianz secara populer disebut Tapro (Tabungan + Proteksi). Kelihatannya istilah tabungan digunakan lebih karena alasan praktis. Arti yang sebenarnya adalah investasi. Perbedaan antara tabungan dan investasi: tabungan itu dijamin, investasi tidak dijamin; keuntungan tabungan tidak besar, keuntungan investasi bisa sangat besar tapi juga ada kemungkinan rugi.

Tapro ada dua jenis, syariah dan konvensional. Tapro syariah nama produknya Allisya Protection Plus, Tapro konvensional nama produknya Smartlink Flexi Account Plus.

Tapro memberikan manfaat asuransi dasar berupa proteksi meninggal dunia hingga seumur hidup (usia 100 tahun). Sedangkan manfaat asuransi tambahan atau ridernya terdiri dari:
ADDB (Accident Death and Diability Benefit): Proteksi meninggal atau cacat karena kecelakaan.
TPD (Total Permanent Disability): Proteksi cacat tetap total.
CI+ (Critical Illness Plus), CIA (Critical Illness Accelerated), atau CI100 (Critical Illness 100): Proteksi penyakit kritis.
HSC+ (Hospital and Surgical Care +): Rawat inap dengan sistem cashless.
Flexicare Family: Santunan rawat inap dan pembedahan dengan sistem reimburse.
Payor Benefit: Pembebasan premi berkala jika pemegang polis mengalami cacat tetap total atau penyakit kritis.
Payor Protection: Pembebasan premi berkala jika pemegang polis meninggal dunia.
Spouse Payor Benefit: Pembebasan premi berkala jika pasangan pemegang polis mengalami cacat tetap total atau penyakit kritis.
Spouse Payor Protection: Pembebasan premi berkala jika pasangan pemegang polis (istri/suami) meninggal dunia.
Term-life: Tambahan manfaat meninggal dunia.

Tapro juga memberikan manfaat investasi yang bisa ditarik jika ada keperluan. Investasi Tapro disalurkan pada instrumen reksadana yang bisa dipilih oleh nasabah, antara lain fix income fund (reksadana pendapatan tetap), balanced fund (reksadana campuran), dan equity fund (reksadana saham). Dana unit-link Tapro dikelola oleh manajer investasi dari Allianz sendiri, tidak diserahkan ke luar.

Kesimpulan

Unit-link memiliki manfaat asuransi dan juga manfaat investasi. Tentang manfaat investasi pada unit-link (termasuk Tapro), saya selalu menyebutnya sebagai bonus, bukan tujuan utama. Jika anda mencari keuntungan dari investasi, tempatnya bukan unit-link. Tapi jika anda mencari asuransi, unit-link sangat layak dipertimbangkan karena manfaat asuransinya memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki asuransi tradisional.

Demikian. []

info/konsultasi

Contact Bpk Natanael

HP/WA 08113436830

PIN BB: 54A7F03B