Monthly Archives: May 2015

(Solusi) Usia Sudah Tua, Anak Masih Kecil, Gaji Kecil, Hutang Belum Lunas

Tiba-tiba saja saya tertarik dengan solusi perencanaan keuangan yang ditulis di kabarasuransi.com Semoga solusi ini bermanfaat.

Sebut saja namanya Fulan. Dia nikah di usia yang sudah cukup tua: usia 35 tahun. Setelah menikah dia tidak langsung dikarunia anak. Selah lima tahun kemudian Tuhan baru memberinya anak. Kini usia Fulan sudah 40 tahun, sedangkan anaknya baru saja lahir alias memasuki tahun pertama.

Fulan tentu sangat senang dengan hadirnya si buah hati ini. Namun di samping itu ia sendiri suka merenung menghitung usia. Pada saat anaknya masuk SD (usia 6 tahun) dia sudah berusia 46 tahun. Saat anaknya tamat SD berarti dia sudah berusia 52 tahun. Kemudian tiga tahun kemudian, pada saat anaknya tamat SLTP berarti dia sudah berusia 55 tahun. Pada usia itu dia sudah pensiun kerja.

Dengan gaji yang tak seberapa tentunya dia tidak punya tabungan untuk menyiapkan masa pensiun. Dana pensiun memang ada. Tapi itu tak seberapa dan dalam hitungannya itu akan habis untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal anaknya masih harus melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Fulan bahkan menginginkan anaknya dapat meneruskan pendidikan sampai jenjang pendidikan tinggi.

Itu kalau semuanya berjalan mulus. Artinya Fulan panjang umur dan tidak sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Jika kedua hal ini terjadi, maka nasib anaknya semakin mengkhawatirkan. Apalagi kalau misalnya dalam perjalanannya Fulan dikeruniai anak lagi. Tentunya kebutuhan semakin membengkak. Lantas apa solusinya? Bagaimana memastikan kondisi anak dan tentu saja keluarga yang dibawah tanggungjawab Fulan tetap aman secara finansial, bahkan seandainya Fulan tidak berumur panjang sekalipun?

Caranya adalah dengan mengikuti program asuransi TAPRO (Tabungan Proteksi). Fulan bisa menyisihkan pendapatannya 300 – 500 ribu per bulan (lebih banyak tentu lebih bagus) untuk mengikuti program TAPRO ini.

Dengan membayar premi per bulan 300 ribu saja, ia sudah dapat menyiapkan warisan sebesar 300 jutaan untuk keluarga tercinta. Jika ia mengalami cacat total mendapatkan santunan sebesar 150 juta. Nilai ini tentunya sangat membantu jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu bagi Fulan.

Advertisements

Satu yang Utama adalah Melindungi Penghasilan Keluarga

magic-bill-no-incomePertanyaannya, apa yang terjadi jika, karena satu dan lain hal, PENGHASILAN kita BERHENTI?

Silakan direnungkan dengan saksama. Boleh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, boleh juga lebih lama, tapi jangan kelamaan karena kita tak pernah tahu.

magic-bill-copy

Apa yang Bisa Menyebabkan Penghasilan Berhenti?

Mungkin ada yang bertanya, memangnya apa yang bisa membuat penghasilan berhenti? Tentunya tidak jauh dari hal-hal di bawah ini:

1. PHK/bangkrut => Penghasilan berhenti.

2. Sakit kritis => Butuh biaya besar, bisa menyedot penghasilan dan menghabiskan aset/tabungan; tidak mampu bekerja, penghasilan berhenti atau berkurang signifikan.

3. Cacat tetap => Tidak mampu bekerja, penghasilan berhenti atau berkurang signifikan.

4. Meninggal dunia => Tidak bekerja lagi, penghasilan berhenti.

Penyebab yang pertama, solusinya adalah memiliki aset atau bisnis yang dapat memberikan penghasilan pasif kepada kita. Salah satunya bisa dibaca di SINI.

Untuk tiga penyebab berikutnya, solusinya adalah dengan memiliki TAPRO.

Apa itu Tapro? Tapro adalah sebuah program yang dapat melindungi penghasilan dari tiga risiko: sakit kritis, cacat tetap (akibat sakit ataupun kecelakaan), dan meninggal dunia

tapro artikelDengan iuran 2 juta per bulan, seorang laki-laki usia 30 tahun akan memperoleh manfaat perlindungan yang luar biasa, dengan total manfaat lebih dari 4 miliar, yaitu:

1. Jika mengalami 1 dari 100 kondisi penyakit kritis sebelum usia 100 tahun, akan mendapatkan uang pertanggungan sebesar 1 miliar (atau 500 juta jika terdiagnosa tahap awal). Uang ini bisa digunakan untuk biaya pengobatan penyakit kritis, atau menggantikan penghasilan yang hilang jika tidak bisa bekerja lagi akibat sakit kritis tersebut.

2. Jika mengalami kecelakaan yang berakibat cacat atau meninggal dunia sebelum usia 65 tahun, akan mendapatkan uang pertanggungan sebesar 1 miliar. Khusus kejadian meninggal dunia karena kecelakaan, manfaat akan ditambahkan dengan uang pertanggungan meninggal dunia (nomor 4), sehingga diberikan uang 2 miliar untuk ahli warisnya, plus nilai investasi yang ada pada saat itu.

3. Jika mengalami cacat tetap total karena sakit atau kecelakaan sebelum usia 65 tahun, akan mendapatkan uang pertanggungan sebesar 1 miliar. Khusus jika mengalami cacat tetap total karena kecelakaan, manfaat akan ditambahkan dengan uang pertanggungan cacat karena kecelakaan (nomor 2), sehingga diperoleh uang 2 miliar. Uang ini tentunya akan bermanfaat untuk menggantikan penghasilan karena tidak bisa bekerja akibat kehilangan fungsi anggota tubuh secara menetap.

4. Jika meninggal dunia, ahli warisnya akan mendapatkan uang pertanggungan sebesar 1 miliar + nilai investasinya. Uang ini akan bermanfaat bagi ahli waris untuk melanjutkan kehidupan mereka.

5. Jika mengalami sakit kritis atau cacat tetap total, akan dibebaskan dari pembayaran premi dan setoran preminya diteruskan oleh Tapro.

Itulah manfaat Tapro untuk melindungi satu hal terpenting dalam hidup kita, yaitu penghasilan, plus hal-hal lainnya yang tak kalah penting seperti kesehatan dan tabungan.

Selengkapnya tentang Tapro, silakan klik di Allisya Protection Plus.

Jika ada yang bertanya apakah saya sudah punya Tapro, informasinya bisa dibaca di SINI.

Contact Agen Natanael

Phone: 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com

Asuransi Kecelakaan, Melengkapi Asuransi Jiwa & Kesehatan

Tadi pagi saya dapat kabar bahwa kakak teman saya kecelakaan dan harus diamputasi. Berita yang sangat mengejutkan apalagi jika hal tersebut menimpa diri kita secara tiba-tiba.

Melindungi diri dari risiko dengan asuransi merupakan cara bijaksana mempersiapkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi di masa depan.

Dari sejumlah pilihan asuransi – mulai dari kesehatan, kendaraan, jiwa, perjalanan dll, apakah seseorang masih membutuhkan asuransi kecelakaan diri (personal accident insurance)?
Asuransi Kecelakaan Vs. Asuransi Jiwa

Asuransi jiwa reguler umumnya mencakup proteksi atas kematian, sedangkan asuransi kecelakaan diri tidak hanya memberi santunan meninggal akibat kecelakaan, melainkan juga menyediakan manfaat saat seseorang mengalami cacat karena kecelakaan.
Perlindungan yang dicakup asuransi kecelakaan berkisar dari perlindungan menyeluruh yang mencakup cacat tetap dan sementara, hingga yang hanya mencakup cacat total atau kematian akibat kecelakaan.

Itu sebab, penting untuk memahami apa saja yang tercakup dalam polis sehingga meminimalkan terjadinya penolakan klaim.

Sebagai contoh, sebagian besar perusahaan asuransi hanya memberikan persentase tertentu dari total uang pertanggungan dalam hal cacat sementara (misalnya patah kaki), tapi besar persentase akan berbeda untuk tiap perusahaannya.

Tidak seperti asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri biasanya diambil secara individu dan menjembatani kesenjangan antara manfaat asuransi jiwa dengan asuransi kesehatan.

Mirip dengan asuransi jiwa, asuransi kecelakaan menyediakan uang pertanggungan dalam kasus kematian, tetapi juga memberikan kompensasi atas peristiwa kecelakaan.

Hal ini sangat berguna jika seseorang memiliki hutang yang harus dibayar, sementara dia tidak bisa melakukan pekerjaannya secara normal akibat mengalami kecelakaan.

Dianjurkan bagi siapa saja (idealnya seawal mungkin) untuk memiliki asuransi kecelakaan diri, dan memastikan besar uang pertanggungan setidaknya 50 kali gaji bulanan.
Asuransi Kecelakaan Vs. Asuransi Kesehatan

Dibanding asuransi kecelakaan diri, asuransi kesehatan juga menawarkan manfaat yang sama seperti biaya rumah sakit, tapi bahkan perlidungan seperti asuransi penyakit kritis, yang mengkompensasi pendapatan yang hilang karena sakit, tidaklahsekomprehensif asuransi kecelakaan diri.

Misalnya, dalam asuransi penyakit kritis, tertanggung harus hidup dalam jangka waktu minimum (biasanya 30 – 90 hari) setelah diagnosis penyakit kritis untuk bisa mengklaim manfaat dalam skema asuransi ini.

Juga, sebagian besar skema asuransi kesehatan tidak menawarkan kompensasi untuk hilangnya pendapatan, dll.

Itu sebab, sekali lagi, asuransi kecelakaan diri merupakan jembatan atau penghubung antara polis asuransi jiwa dan asuransi kesehatan.
Ringkasan

• Asuransi kecelakaan diri hanya dapat diambil secara perseorangan (bukan kelompok).

• Menghubungkan kesenjangan antara manfaat asuransi jiwa dengan asuransi kesehatan.

• Pilihan yang berbeda seperti perlindungan penuh (cacat sementara & permanen), hanya kematian, dll.

• Dianjurkan untuk membeli asuransi kecelakaan diri sedini mungkin.

Tips Memilih Asuransi Penyakit Kritis (Critical Illness)

banneramazineTerdiagnosis penyakit kritis merupakan peristiwa yang mengubah hidup yang memiliki konsekuensi besar bagi individu dan orang-orang yang bergantung padanya.

Penyakit kritis bisa saja memupus semua impian sekaligus menguras tabungan yang sudah dikumpulkan dalam waktu lama.

Solusi paling efektif untuk mengatasi bencana finansial atas kemungkinan timbulnya penyakit kritis adalah dengan memiliki polis asuransi kesehatan penyakit kritis.
Tujuan polis ini adalah untuk memberikan sejumlah uang ‘lump sum’ saat seseorang terdiagnosis penyakit kritis tertentu.

Namun, pentingnya membeli polis penyakit kritis jangan sampai membuat Anda terlupa memeriksa berbagai fitur pada polis tersebut.

Berikut adalah empat faktor penting yang harus Anda teliti sebelum membeli polis asuransi penyakit kritis:
1. Penyakit Kritis yang Dicakup

Periksa penyakit kritis apa saja yang tercakup dalam polis. Perusahaan asuransi tidak akan mencakup semua penyakit kritis dalam polisnya.

Sebagai contoh, rider critical illness 100 atau CI 100 dari Allianz mencakup 100 penyakit kritis, yang merupakan salah satu jumlah terbanyak dibanding produk serupa dari perusahaan lain.

Meskipun mungkin terdapat perbedaan dalam premi, hal utama yang harus Anda perhatikan adalah apakah cakupan perlindungan suatu produk dirasa mencukupi.

2. Pengecualian

Selain penting untuk memahami apa yang tercakup dalam polis penyakit kritis, faktor yang sama pentingnya adalah mengetahui pengecualian dalam polis.

Baca pula mengenai lamanya waktu tunggu sebelum klaim bisa diajukan. Asuransi penyakit kritis CI 100 dari Allianz memiliki masa tunggu 90 hari dari tanggal berlaku polis dan survival period 7 hari dari terdiagnosa penyakit kritis (produk kompetitor umumnya 30 hari).
3. Proses Klaim

Kemudahan proses klaim sangat penting diperhatikan karena penyakit kritis umumnya melibatkan pembayaran sejumlah besar uang.

Sebagian polis asuransi kesehatan memiliki fasilitas cashless sementara yang lain tidak menawarkannya.
CI 100 dari Allianz memungkinkan klaim saat tertanggung terdiagnosa salah satu dari 100 kondisi penyakit kritis pada tahap awal, tahap menengah dan tahap akhir dengan skema tertentu.
4. Masa Perlindungan

Periksa sampai usia berapa polis tetap melindungi tertanggung dari penyakit kritis.

CI 100 Allianz memiliki masa perlindungan sampai usia 100 tahun (seumur hidup). Tidak ada di produk serupa di kompetitor.

Semakin lama masa perlibdungan tentunya akan lebih baik karena seseorang akan terlindungi dari risiko penyakit kritis seumur hidupnya (hingga usia 100 tahun), alih-alih hanya sampai usia 70 tahun, misalnya.[]

Pelajaran dari Kasus Afriani, Rasyid Rajasa, AQJ, hingga Christopher tentang Pentingnya Proteksi Kecelakaan

Data Badan Pusat Statistik menyatakan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia tahun 2013 mencapai 100.106 kali. Dari jumlah kecelakaan itu, yang meninggal 26.416 orang. Setiap jam setidaknya terdapat 12 kasus kecelakaan lalu lintas yang merenggut tiga korban jiwa. Sementara setiap harinya, 69 nyawa melayang di jalan raya.

outlander-mautTEMPO.CO, Jakarta – Dalam dua tahun terakhir, kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Ibu Kota semakin membuat miris. Mulai dari kasus Afriani Susanti yang menabrak 15 orang dan menewaskan sembilan orang.

Setelah itu, Rasyid Rajasa, putra Hatta Rajasa yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Perekonomian RI, juga menabrak saat mengendarai mobil dengan menabrak kendaraan lain di jalan tol sehingga dua orang meninggal. Kemudian muncul kabar tak kalah memilukan, AQJ, anak di bawah umur yang melintas pembatas jalan tol dan menewaskan tujuh orang.

Data Badan Pusat Statistik menyatakan angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia tahun 2013 mencapai 100.106 kali. Dari jumlah kecelakaan itu, yang meninggal 26.416 orang. Setiap jam setidaknya terdapat 12 kasus kecelakaan lalu lintas yang merenggut tiga korban jiwa. Sementara setiap harinya, 69 nyawa melayang di jalan raya.

Kini terjadi lagi tabrakan maut di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa 20 Januari 2015. Christopher Daniel Sjarif pelaku yang menabrak hingga menewaskan empat orang dan dua luka parah ternyata positif menggunakan narkoba. Narkoba yang digunakan adalah LSD (Lysergic Acid Diethyamide) yang merupakan narkotika golongan satu. (Lihat Infografis: Kronologi Tabrakan Maut di Pondok Indah).

Berikut tiga kasus kecelakaan sebelumnya yang menyedot perhatian karena kejadiannya yang mengenaskan, jumlah korbannya yang cukup banyak, dan pelakunya orang terkenal.
Afriani Susanti Divonis 15 Tahun Penjara

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Afriani Susanti, 29 tahun, dijatuhi hukuman selama 15 tahun penjara karena melanggar Undang-Undang Lalu Lintas. Dia dianggap bersalah karena lalai mengemudikan kendaraan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.

Afriani Susanti, merupakan pengemudi Xenia yang menabrak 13 orang di Jalan M.I. Ridwan Rais, Ahad, 22 Januari 2012 sehingga menyebabkan sembilan orang tewas.

Afriani mengendarai mobil Daihatsu Xenia hitam berpelat nomor B 2479 XI dengan kecepatan 100 km/jam. Dari hasil pemeriksaan urine, dia positif mengkonsumsi narkoba dan miras sebelum mengendarai kendaraan tersebut.
AQJ Dikembalikan ke Orang Tua

Pengadilan Negeri Jakarta Timur memvonis AQJ alias Dul, 14 tahun dikembalikan kepada orangtua. Putra Musisi Ahmad Dhani dan Musisi Maia Estianty tersebut terhindar dari tuntutan Jaksa yang menuntutnya dengan pidana 1 tahun penjara dengan masa percobaan selama dua tahun dengan denda 50 juta rupiah atau subsider 3 bulan kerja sosial. Sidang putusan digelar Pengadilan Negeri Jakarta Timur, 16 Juli 2014.

Ketua Majelis Hakim Fetriyanti, SH menyatakan AQJ bersalah dan melanggar Pasal 310 Ayat 1,3,4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999. “Ahmad Abdul Qadir Jaelani terbukti bersalah atas kelalaian mengendarai kendaraan bermotor sehingga mencelakaan orang,” ujarnya.

Namun, Dul, terutama Ahmad Dhani dianggap sudah bertanggung jawab terhadap para korban dan dijadikan pertimbangan oleh majelis hakim. “Banyak yang sudah dilakukan pihak terdakwa sebagai aksi pertanggungjawaban terhadap para korban,” ujar Fetriyanti ketika membacakan butir pertimbangan.

AQJ dinyatakan bersalah atas kelalaiannya mengendarai kendaraan mobil yang menewaskan 7 orang di Jalan Tol Jagorawi KM 8, September lalu. Mobil sedan Mitsubishi Lancer bernopol B 80 SAL menabrak mobil yang datang dari berlawanan karena menghindari mobil di depannya. Saat itu AQJ diduga memacu mobilnya hingga mencapai kecepatan 170 Km per jam.
Rasyid Rajasa Divonis Enam Bulan Percobaan

Jakarta- Majelis hakim memutuskan terdakwa kasus kecelakaan BMW maut M. Rasyid Amrullah Rajasa, 22 tahun, divonis lima bulan dengan masa percobaan enam bulan. Ketua Majelis Hakim, J.Soeharjono mengatakan Rasyid terbukti melanggar Pasal 310 ayat (4) dan ayat (2) tentang lalu lintas dan angkutan jalan Undang-undang Lalu Lintas nomor 22 Tahun 2009.

“Terdakwa lalai dan menyebabkan korban meninggal dunia dan luka-luka,” kata Soeharjono dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin, 25 Maret 2013.

Namun, hakim menimbang kecelakaan tersebut tidak seluruhnya kesalahan terdakwa. “Kecelakaan juga karena keadaan kondisi mobil Luxio yang memodifikasi kursi sehingga membahayakan penumpang,” ujarnya.

Sebelumnya, Rasyid ditetapkan sebagai tersangka pada kasus kecelakaan di tol Jagorawi KM 3+350 arah Bogor pada Selasa, 1 Januari 2013, sekitar pukul 05.45. Mobil BMW X5 dengan pelat nomor B-272-HR, yang dikemudikannya, menabrak Daihatsu Luxio (dengan pelat nomor F-1622-CY) dari belakang.

Dalam tabrakan tersebut, dua penumpang Luxio meninggal dunia setelah terlempar keluar dari mobil, yaitu Harun, 57 tahun, dan seorang balita Muhammad Raihan, 14 bulan. Selain itu, tiga orang lainnya mengalami luka-luka, yaitu Enung, Supriyati, dan Rifai. []

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus-kasus kecelakaan tersebut?
Kita telah berhati-hati, bisa saja orang lain yang ceroboh. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu iringi setiap langkah dengan doa dan usaha yang sesuai.
Kecelakaan bisa mengakibatkan seseorang meninggal dunia atau cacat tetap. Jika orang tersebut adalah pencari nafkah dalam keluarga, otomatis keluarganya akan kehilangan salah satu atau bahkan satu-satunya sumber penghasilan. Jadi hendaknya kita tidak lupa untuk membentengi sumber penghasilan keluarga kita dengan asuransi jiwa dan kecelakaan. []

Lebih Prioritas Mana, Asuransi atau Investasi Reksadana?

Oleh Rudiyanto
@rudiyanto_zh

KOMPAS.com – Dalam teori perencanaan keuangan, idealnya setiap orang harus memiliki asuransi dan investasi. Kegunaan dari asuransi adalah untuk melindungi seseorang atau keluarganya secara keuangan dari risiko yang sifatnya tidak terduga.

Sementara kegunaan dari investasi adalah untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang dan menjaga agar daya beli kita tidak tergerus dengan inflasi. Baik asuransi dan investasi, keduanya sama-sama penting.

Yang menjadi pertanyaan, apabila jumlah uang yang bisa disisihkan setiap bulannya terbatas, apakah sebaiknya digunakan untuk membeli asuransi atau berinvestasi?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami asuransi dengan lebih mendalam. Sama halnya reksa dana yang bisa dibagi menjadi jenis pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham yang disesuaikan dengan kebutuhan keuangan kita, asuransi juga demikian.

Yang dimaksud dengan “membeli” asuransi adalah kita membayar sejumlah uang yang disebut premi kepada perusahaan asuransi. Selanjutnya jika dalam periode tertentu (masa pertanggungan) terjadi risiko pada pembeli asuransi (tertanggung), maka perusahaan asuransi akan membayar sejumlah uang ganti rugi (uang pertanggungan). Jika tidak terjadi risiko, maka premi tersebut menjadi milik asuransi.

Mengapa perusahaan asuransi bisa memberikan uang pertanggungan yang nilainya bisa sangat besar dibandingkan dengan premi yang dibayarkan? Hal ini karena produk asuransi dijual secara luas kepada orang banyak. Keuntungan dari “banyak” orang yang tidak mengalami risiko digunakan sebagai “simpanan” untuk membayar “sedikit” orang yang mengalami risiko.

Secara umum asuransi untuk perorangan dapat dibagi menjadi asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi penyakit kritis, dan asuransi kesehatan. Manfaat dari masing-masing jenis asuransi tersebut adalah sebagai berikut:

Asuransi Kecelakaan
Memberikan pertanggungan atas risiko kematian dan cacat tetap total yang disebabkan karena kecelakaan. Dengan demikian, untuk risiko cacat tetap total dan kematian yang disebabkan bukan karena kecelakaan tidak ditanggung.

Dalam prakteknya, asuransi ini sering disebut PADD (Personal Accident Death and Disablement) atau disebut juga PA (Personal Accident). Karena kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat kecil, umumnya premi asuransi ini sangat murah, namun uang pertanggungannya terbatas.

Asuransi Jiwa
Memberikan pertanggungan atas risiko kematian karena alasan apapun. Jadi meninggal dunia karena sebab alami, kecelakaan bahkan bunuh diri bisa mendapat uang pertanggungan.

Pada prakteknya, ada beberapa pengecualian yang bisa menyebabkan uang pertanggungan tidak keluar seperti jika kematian terjadi karena tertanggung melakukan kejahatan. Poin-poin pengecualian tersebut bisa dibaca pada polis asuransi yang bersangkutan.

Karena kemungkinan terjadinya lebih besar dibandingkan asuransi PA, umumnya premi asuransi ini lebih mahal namun uang pertanggungannya tidak terbatas.

Asuransi Penyakit Kritis
Memberikan pertanggungan atas risiko terdeteksi mengidap penyakit kritis tertentu. Biasanya masing-masing perusahaan asuransi memiliki ketentuan yang berbeda-beda baik jumlah penyakit kritis yang ditanggung dan tahapan dari penyakit kritis tersebut.

Untuk melakukan klaim atas asuransi ini biasanya tertanggung harus menyiapkan riwayat medis yang sangat lengkap dan jujur dalam mengisi kuesioner. Dengan adanya asuransi ini diharapkan tertanggung bisa membiayai pengobatan penyakitnya.

Asuransi Kesehatan
Memberikan pertanggungan atas risiko tindakan operasi dan rawat inap di rumah sakit. Terkadang, orang tidak bisa membedakan antara asuransi kesehatan dengan asuransi penyakit kritis.

Cara kerja asuransi kesehatan adalah menanggung biaya kesehatan yang timbul dari rawat inap di rumah sakit, biaya tindakan operasi, biaya obat-obatan dan rawat jalan. Misalkan, jika di menjalani rawat inap di rumah sakit, maka per malam Asuransi akan memberikan pertanggungan hingga sekian ratus ribu atau juta per hari.

Tergantung premi yang dibayarkan, ada yang hanya menanggung biaya rumah sakit dan tindakan operasi, ada pula yang sampai pada biaya obat-obatan dan rawat jalan. Sistemnya fleksibel, bisa sistem kartu sehingga kita tidak perlu membayar, bisa juga sistem reimbursement atau kita membayar dahulu baru kemudian melakukan klaim.

Sebagian dari Kita Sudah Terasuransi
Untuk Anda yang bekerja di perusahaan, sebenarnya tanpa disadari kita sudah memperoleh manfaat asuransi. Sebagai contoh, umumnya perusahaan memberikan manfaat asuransi kesehatan untuk karyawan. Bahkan ada yang menanggung hingga istri dan anaknya.

Ada yang menggunakan asuransi komersial, ada pula yang menggunakan asuransi dari BPJS Kesehatan. Ada pula yang dua-duanya. Beberapa perusahaan yang bonafide bahkan memiliki rumah sakit sendiri dan menggratiskan atau memberikan diskon besar untuk biaya kesehatan bagi karyawan dan pensiunannya.

Kemudian, bagi anda yang didaftarkan dalam Jamsostek atau sekarang lebih dikenal dengan BPJS Ketenagakerjaan, sebenarnya dalam komponen tersebut juga terdapat Jaminan Kecelakaan Kerja yang sudah mencakup Asuransi Jiwa dan Asuransi Personal Accident.

Jika Anda merasa fasilitas dari perusahaan sudah mencukupi, berarti hanya tinggal Penyakit Kritis yang belum anda miliki. Namun jika anda merasa bahwa asuransi yang ada masih belum cukup anda bisa menambahnya melalui asuransi komersial.

Menurut saya, Idealnya, bagi seseorang yang menjadi tulang punggung nafkah keluarga sebaiknya memiliki 3 asuransi yaitu Jiwa, Penyakit Kritis dan Kesehatan sebelum melakukan investasi.

Asuransi atau Reksadana
Kembali ke pertanyaan awal, jika dana terbatas, maka mana yang sebaiknya menjadi prioritas? Apakah investasi reksa dana atau membeli asuransi? Ataukah melakukannya bersamaan seperti halnya reksa dana dan dana darurat?

Jika dana memang sangat terbatas, maka menurut saya sebaiknya asuransi yang menjadi prioritas dibandingkan investasi. Sebab ketika risiko terjadi ketika investasi baru tidak lama dijalankan, dikhawatirkan nilai investasi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial keluarga.

Sambil berjalannya waktu ketika kondisi finansial sudah mulai meningkat baru kita melakukan investasi. Bagaimana jika karena hal ini kita terlambat maka hasil investasinya kurang maksimal? Sepanjang badan dan pikiran kita sehat, menurut saya gaya hidup bisa disesuaikan dengan kemampuan dan kita bisa mencari cara untuk meningkatkan penghasilan.

Apakah bisa jika kita melakukan investasi saja dengan tidak memiliki asuransi penyakit kritis? Sebenarnya ini tergantung masing-masing orang. Jika anda berani mengambil risiko, pola hidup dan makannya sehat dan tidak ada riwayat penyakit kritis pada keluarga, serta banyak amal dan ibadahnya silakan saja.

Demikian sharing saya kali ini, semoga bermanfaat. [Sumber: Kompas.com]

*Rudiyanto adalah penulis Buku “Sukses Finansial dengan Reksa Dana” dan “Fit Focus Finish” yang diterbitkan oleh Elex Media. Head of Operation and Business Development Panin Asset Management. Salah satu Manajer Investasi terbesar di Indonesia, penerima penghargaan reksa dana Tertinggi, Terbaik dan Terfavorit pada tahun 2015 oleh Majalah Investor – Infovesta. Rudiyanto juga merupakan anggota Kelompok Kerja (POKJA) Otoritas Jasa Keuangan untuk peningkatan Literasi Keuangan di Indonesia. Blog rudiyanto.blog.kontan.co.id
FB Rudiyanto.Blog