Monthly Archives: September 2015

Cara Menyiapkan Biaya untuk Sakit Kritis

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan di tahun 2020 bakal terjadi peningkatan penyakit jantung sampai 137 persen di negara berkembang, sementara di negara maju peningkatannya “hanya” 48 persen. Bukan hanya itu WHO juga menyebutkan tiap tahunnya terjadi 36 juta kematian akibat penyakit kritis seperti kanker,jantung dan diabetes.

Angka-angka tersebut sungguh fantastis, apalagi sekitar 80 persennya terjadi di negara miskin dan berkembang. Menurut dr.Handrawan Nadesul, pengasuh berbagai rubrik kesehatan, karateristik kesehatan masyarakat di Indonesia pada umumnya memang berbeda dengan di negara maju.

Perjalanan penyakit kritis menurut dr.Handrawan berjalan hingga puluhan tahun, sehingga pada dasarnya perburukan penyakit bisa dicegah. Sebut saja misalnya serangan jantung yang tidak terjadi secara kilat namun proses penyumbatannya terjadi puluhan tahun.

“Syarat untuk mengetahuinya adalah deteksi dini. Namun masyarakat kita tidak punya kebiasaan melakukan check up. Banyak yang masih menggagap hal itu memboroskan uang,” katanya.

Kebiasaan “lari” kepada pengobatan alternatif juga dinilai dr.Handrawan sebagai faktor yang memperberat perburukan penyakit. “Padahal jika kanker atau penyakit lain segera ditangani dokter harapan sembuhnya masih ada. Namun karena lebih percaya pada pengobatan alternatif, stadium penyakitnya sudah keburu tinggi,” imbuhnya.

Persoalan lain yang dihadapi masyarakat adalah masih banyak yang tidak dilindungi asuransi kesehatan. Akibatnya, jika menderita sakit kritis yang membutuhkan obat-obatan dan terapi medis berbiaya tinggi, mereka kesulitan biaya.

Untuk mengatasinya, menurut dr.Handrawan yang harus dilakukan adalah perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat serta melakukan upaya deteksi dini. “Bila punya faktor risiko genetik, misalnya orangtua, kakek-nenek, atau saudara menderita penyakit tertentu, lakukan check up berkala minimal setahun sekali,” katanya.

Cara lain untuk menyiapkan diri dari beban finansial yang tinggi adalah mengikuti asuransi. “Terkena penyakit kritis bisa berdampak serius pada kestabilan finansial individu,” (health.compas.com)

Tekanan finansial yang dihadapi oleh penderita penyakit kritis, bisa dikurangi dengan mengikuti program asuransi kesehatan.

Program untuk menekan beban finansial yang tinggi sekarang ditanggulangi oleh Tapro Allianz Ci+ dan ci100. Preminya juga cukup murah dan hasil maksimal.

Ci+ dan CI 100 memberi manfaat dana chas mulai 100jt keatas, tergantung jumlah premi yang disetor. Penjelasan dapat dibaca di ilustrasi sakit kritis CI100.

info lebih lanjut hubungi, Natanael (agen eksekutif Allianz Syariah)

HP, 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com / natanael.allianz@gmail.com

Advertisements

Duka Sedalam-dalamnya terhadap Tragedi Mina 2015

Pagi itu saya baca koran online http://www.jpnn.com berisi tentang tragedi yang menimpa jemaah yang melakukan ibadah haji di Mekah. Isi berita seperti ini:

163745_948001_tragendi_mina“MUSIM haji tahun ini belum berhenti lepas dari jalan penuh cobaan. Belum tuntas investigasi insiden jatuhnya crane di Masjidil Aqsa, terbakarnya hotel, rubuhnya tenda jamaah, kini datang lagi berita memilukan dari Makkah.Setidaknya 220 orang dilaporkan tewas saat menjalani ritual haji di Mina, Kamis (24/9). Dilansir dari Aljazeera, tragedi ini terjadi karena jamaah sudah sangat berdesak-desakan di cuaca panas. Karena hal itu, banyak jemaah yang tak kuat dan jatuh, terinjak-injak dan meninggal.

Pihak pertahanan sipil Arab Saudi menyebutkan, jumlah korban tewas sangat mungkin bertambah. Sementara jumlah korban luka sudah mencapai 400 orang. “Saat ini sedang dilakukan evakuasi,” ujar aparat setempat.(http://www.jpnn.com/read/2015/09/24/328737/Ini-Penyebab-Terjadinya-Tragedi-Mina-2015)

Cukup hati saya menangis saat membaca berita di atas. Saya coba membayangkan bagaimana seandainya saya berada disana.

Semoga kejadian ini tidak terulang dan pemerinta Arab Saudi dapat belajar dari pengalaman tragedi Mina 2015 ini.

Segenap keluarga besar Allianz Syariah mengucapkan duka sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggal diberi kerelaan hati.

Salam, Natanael Allianz

Bisnis Eksekutif Allianz , Contact 08113436830

Sukses Finansial

Sukses financial bukan soal kekayaan

Sukses financial adalah tentang berkecukupan

Meskipun penghasilannya kecil tapi cukup daripada berpenghasilan besar tapi banyak hutang

Kuncinya adalah PERENCANAAN.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan keuangan adalah:

  1. Impian
  2. Sasaran
  3. Pembagian income
  4. Produktivitas
  5. Penghematan
  6. Pengamanan
  7. Sedekah

Impian

Impian bisa diibaratkan tujuan yang ingin dicapai.
Impian diterjemahkan dalam perencanaan bulanan.
Impian juga penting untuk mengukur tiap tahapan yang telah dilalui. Semakin mendekat atau semakin menjauh dari impian kita.

Sasaran

Sasaran adalah target antara
Jika impian adalah target jangkapanjang, maka sasaran adalah target jangka pendek
Jikaimpian adalah target dalam1 tahun, maka sasaran adalah target bulanan yang menuju tercapainya tujuan/impian tahunan.
Breakdown target tahunanan dalam target bulanan agar lebih sederhana dan mudah dicapai.

Jika kita bagi income kita maka

10% untuk pensiun
20% Asuransi& Emergency Fund
30% Bayar Hutang, Investasi, Gaya Hidup& Sedekah
40% BiayaRutinBulanan(pendidikan, makan, listrikdanlain-lain)

Asuransi ada untuk membantu anda, bukan untuk membebani anda.
Emergency fund harus ada. Misal untuk menyumbang saudara, hajatan, dll
Poin ke 3, fokuslah membayar hutang dan sedekah. Karena hutang sangat tinggi resikonya yang berkaitan dengan orang lain. Saudara dan teman bisa renggang hanya karena hutang. Jangan sampai putus silaturahmi karena hutang. Salahsatu pinturejeki  adalah bersilaturahmi.
Sedekah juga bisa melancarkan rejeki. Sebaik-baiknya perniagaan adalah dengan Allah.
Jika dana yang tersedia tidak mencukupi untuk memenuhi yang ada dipoin 3 dan 4, maka sudah saatnya anda mencari sumber income tambahan lainnya.

Produktivitas

Fokus pada menciptakan uang bukan menghabiskan uang, sehingga gaya hidup bisa ditekan.
Beli karena butuh bukan beli karena ingin.
Mulai berinvestasi atau berbisnis kecil-kecilan dengan biaya rendah
Targetnya melatih kepekaan dalam berbisnis, bisa melihat peluang dan kalaupun sampai ada kerugian tidak terlalu menyakitkan karena dana yang masuk juga masih kecil
Sabar dalam berproses. Semua akan indah jika sudah waktunya.

Biasakangayahidupsederhana.

Jika membeli barang, kualitas adalah pilihan utama, karena lebih hemat.
Jika sudah punya, jangan beli lagi hanya dengan alasan discount dan buat koleksi. Karena uang ada akan berhenti disitu.
Salah satu cara berhemat adalah dengan ikut asuransi, karena perusahaan akan memberikan manfaat yang banyak dengan dana yang minim. Jika mau menabung sendiri biaya pendidikan, warisan, kesehatan, pensiun, maka dana yang dibutuhkan jauhlebih besar daripada ikut program sejenis yang ada diperusahaan asuransi.

Anda bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selanjutnya mulai menabung dan menata masa depan sesuai dengan mimpi anda diawal tulisan ini.
Hasilnya semakin hari kehidupan kita semakin baik dan aset pun bertambah.
Hasil kerja keras anda bisa hilang dalam sekejap jika anda tidak memiliki pengaman.
Bisa diibaratkan anda mengisi rumah dengan barang-barang, tapi dibelakang rumah ada pencuri yang tiap hari mengambil barang dan anda biarkan.

Yang harus dilakukan adalah tangkap pencurinya atau anda harus punya pengaman untuk aset anda.
Pengamannya adalah ASURANSI. Tidak ada orang yang bangkrut jika ikut asuransi, tapi banyak orang yang bangkrut jika tidak punya asuransi
Asuransi ibaratnya adalah satpam yang akan menangkap pencuri di rumah anda.
Karena asuransi bisa membantu anda menyelamatkan aset anda sehingga tidak dari tergerus habis jika ke 5 musuh utama kehidupan datang menghampiri anda.

Terakhir adalah sedekah menjadikan rejeki kita berkah karena ada hak orang lain direjeki yang kita terima itu.

Tentang Saya,

Natanael,

Bisnis Eksekutif Allianz Star Network

HP/WA 08113436830

Asuransi Apa yang Kita Butuhkan?

Asuransi sesuai arti harfiahnya adalah perlindungan atau proteksi, yaitu perlindungan dari kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar atau memiliki dampak keuangan yang besar.

Jika kejadian itu diinginkan, seperti melahirkan, pendidikan, ibadah haji, dan pensiun, sebaiknya tidak dipersiapkan melalui asuransi, tapi melalui tabungan atau investasi..

Jika waktu kejadiannya dapat diketahui atau dapat direncanakan, seperti pendidikan, ibadah haji, dan pensiun, sebaiknya tidak dipersiapkan melalui asuransi, tapi melalui tabungan atau investasi.

Jika kejadian itu tidak butuh biaya besar, seperti rawat jalan, rawat gigi, dan persalinan, sebaiknya tidak dipersiapkan melalui asuransi, tapi melalui tabungan atau dana darurat.

Jadi, asuransi apa yang dibutuhkan oleh semua orang? Ialah asuransi yang memberikan perlindungan dari kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar. Ukuran butuh biaya besar adalah tidak dapat ditanggung sendiri atau akan terasa sangat berat jika harus menanggungnya sendiri. Jika suatu kejadian dampak keuangannya masih bisa ditanggung sendiri, pada dasarnya tidak dibutuhkan asuransi untuk menanggulanginya.

Apa sajakah kejadian yang memenuhi tiga kriteria itu?
1. Meninggal dunia
2. Cacat tetap, baik karena sakit ataupun kecelakaan
3. Penyakit kritis
4. Rawat inap dan pembedahan (hospital and surgical)

Meninggal dunia adalah kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya atau memiliki dampak keuangan yang besar. Dampak keuangan dari kejadian meninggal dunia adalah biaya kematian (pemakaman dan upacara yang menyertainya) serta hilangnya sumber penghasilan apabila kejadian ini menimpa pencari nafkah dalam keluarga.

Cacat tetap juga merupakan kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya atau menimbulkan dampak keuangan yang besar. Cacat tetap bisa sebagian anggota tubuh, bisa juga total (dua tangan, dua kaki, dua mata). Cacat tetap bisa diakibatkan oleh penyakit ataupun kecelakaan. Dampak keuangan dari cacat tetap adalah berkurang atau hilangnya kemampuan produktif sehingga penghasilan pun berkurang.

Penyakit kritis juga merupakan kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar. Penyakit kritis contohnya kanker, penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Dampak keuangan dari penyakit kritis yang pertama adalah biaya pengobatan dan perawatan yang besar, serta jika tidak sembuh bisa menimbulkan hilangnya kemampuan produktif sehingga tidak mampu lagi mendapatkan penghasilan.

Rawat inap dan pembedahan juga termasuk kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar. Dampak keuangan dari rawat inap dan pembedahan adalah biaya perawatan di rumah sakit. Besarnya variatif tergantung penyakitnya apa.

Asuransi meninggal dunia, cacat tetap, dan penyakit kritis biasanya digolongkan sebagai asuransi jiwa. Asuransi rawat inap dan pembedahan digolongkan sebagai asuransi kesehatan, dan ada juga yang merupakan manfaat tambahan dari produk asuransi jiwa.

Asuransi untuk kejadian meninggal dunia, cacat tetap, dan penyakit kritis diberikan dalam bentuk santunan uang tunai sebesar uang pertanggungan (UP) yang dijanjikan dalam polis, sedangkan asuransi untuk rawat inap dan pembedahan diberikan dalam bentuk penggantian biaya sebesar yang ditagihkan rumah sakit dengan maksimal sesuai plafon yang diambil.

Di Allianz, produk asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia, cacat tetap, dan penyakit kritis adalah Tapro. Tapro juga bisa ditambahkan manfaat rawat inap dan pembedahan.

Tapi untuk manfaat rawat inap dan pembedahan, tersedia juga produk asuransi yang khusus, yaitu Allisya Care, Maxi Violet, dan SmartMed Premier. Ketiganya merupakan asuransi kesehatan murni tanpa tabungan atau investasi.

Ilustrasi Total UP > 2,5 Miliar Manfaat Lengkap

Tapro Allisya Protection Plus memberikan manfaat perlindungan yang lengkap dan maksimal, dengan premi yang minimal. Tabel di bawah ini menunjukkan manfaat Tapro Allisya dengan total UP > 2,5 miliar.

Tabel 2,5 M

Tabel di bawah menunjukkan premi bulanan untuk mendapatkan manfaat di atas, berdasarkan usia masuk dan jenis kelamin.

Premi UP 2,5 M

Keterangan:

  1. Premi merupakan premi berkala dasar dengan manfaat asuransi yang dimaksimalkan.
  2. Premi belum termasuk top up berkala (opsional, boleh ditambahkan jika ingin investasi lebih besar).
  3. Masa pembayaran tanpa asumsi cuti premi.
  4. Cuti premi dapat dibuat misalnya setelah 10 tahun atau 5 tahun, jika ditambahkan top up berkala dengan jumlah yang cukup.
  5. Profil peserta: pekerjaan dalam ruangan, tidak merokok, dan sehat.
  6. Untuk penjelasan lebih lanjut, atau permintaan ilustrasi, silakan menghubungi kontak di bawah.

Ilustrasi Produk

Ilustrasi 600 Ribu per Bulan Total UP > 2,5 Miliar

Ilustrasi jika ditambah top up berkala 400 ribu (setoran 1 juta per bulan) dengan asumsi cuti premi 10 tahun

Info lebih lanjut, hubungi Natanael, 08113436830

Perlingungan yang Paling Prioritas Utama

prioritasHari ini, saya bertemu dengan seorang calon nasabah. Dalam perkenalan singkat, kami banyak berbincang mengenai perencanaan keuangan yang mesti disiapkan untuk kepala keluarga. Saya sangat senang mengobrol banyak hal di rumahnya sampai larut.

Rasa senang saya karena ia seorang yang sangat teliti dan selalu mendetail dengan banyak hal, termasuk soal rencana proteksi yang akan ia ambil dari program kami. Tak cukup semalam, ia meminta saya untuk datang kembali ke rumahnya pada pekan berikutnya dan berikutnya lagi. Jadi, kami bertemu dalam tiga pertemuan. Sebelum pertemuan pertama, dalam pesan sms, dia mengatakan, “Saya tidak janji mau ambil program proteksi dari Bapak ya.”

Saya katakan, “Ketika saya sudah sampai di rumah dan duduk di ruang tamu Bapak, silakan Bapak bertanya tentang apa saja yang menyangkut progam kami dan Bapak boleh memutuskan dengan hati yang merdeka.” Kepala keluarga yang masih berusia 31 tahun ini mengirimkan pesan simbol senyuman. Sesuai waktu yang ditentukan, kami bertemu pada malam itu.

“Saya membutuhkan proteksi asuransi untuk saya dan keluarga. Apa ya program yang cocok?” tanyanya pada pertemuan pertama kami.

“Perlu saya jelaskan, proteksi paling prioritas yang perlu diambil oleh kepala keluarga adalah proteksi jiwa (asuransi dasar) dan proteksi sakit kritis (CI100),” jawab saya singkat.

“Lho, bukannya proteksi kesehatan (Askes) itu juga penting?” sanggahnya.

“Tepat sekali. Asuransi kesehatan atau askes itu penting, tapi bukan prioritas bagi kepala keluarga.”

“Kok bisa?”

“Boleh saya bertanya, bagaimana kalau seorang kepala keluarga seperti Bapak sakit semisal DBD dan dirawat di Rumah Sakit, apakah memerlukan biaya yang besar?” tanya saya.

“Ya. Sekarang biaya rawat inap cukup besar. Karena itu menurut saya Askes itu sangat penting.”

“Nah, kira-kira berapa biaya rawat inap untuk beberapa hari?”

“Hmm… Mungkin mencapai 20 juta,” jawabnya.

“Ya, itu cukup besar. Menurut Bapak, kalau seorang kepala keluarga tidak punya Askes dan dia dirawat dengan biaya sebesar itu, kira-kira mampu tidak?”

“Ada yang mampu, ada yang keberatan.”

“Kalau Bapak, kira-kira mampu?”

“Saya rasa saya mampu. Tapi, kalau punya askes kan lebih enak,” katanya.

“Kembali ke soal prioritas,” lanjut saya, “kalau seorang kepala keluarga terdiagnosa sakit kritis, misalnya kanker atau stroke, menurut Bapak, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat?” tanya saya lagi.

“Saya tidak tahu pasti. Tapi pastinya besar lah, Pak.” Dia tersenyum.

“Menurut Bapak, berapa kira-kira?”

“Kalau berobat terus menerus, mungkin perlu uang 500 juta atau lebih,” jawabnya.

“Tentu kita berharap dan memohon kepada Tuhan untuk dijauhkan dari penyakit berat. Tapi, jika seorang kepala keluarga terdiagnosa sakit kritis dan ia ingin sembuh, apakah yang harus dilakukan?”

“Berobat. Ambil tabungan,” jawabnya singkat.

“Kalau masih kurang?”

“Jual aset.”

“Kalau masih kurang?”

“Pinjam ke famili atau teman.”

“Kira-kira susah tidak meminjam uang besar ke famili atau teman?”

“Hmm…” Pria muda murah senyum ini benar-benar tersenyum dan saya pun ikut tersenyum.

“Lalu, kalau seorang kepala keluarga terdiagnosa sakit kritis, apakah ia masih bisa bekerja?”

“Bagaimana mungkin,” jawabnya.

“Terus, siapa yang akan membiayai hidup sehari-hari istri dan anak-anaknya?” tanya saya.

“Mungkin ia akan kembali ke orangtuanya, tapi saya rasa akan berat,” katanya.

“Program kami, kalau nasabah mengalami sesuatu yang tidak diinginkan seperti yang kita bicarakan, perusahaan kami akan menyiapkan uang tunai sebesar yang tercantum dalam kontrak,” jelas saya.

“Sekarang saya setuju dengan Bapak. Proteksi sakit kritis dan jiwa prioritas buat saya.”

Ringkas cerita, pada pertemuan ketiga kami, ia mantap mengambil program proteksi Allisya Protection Plus dengan memaksimalkan proteksi dan tidak mengambil Askes. Dengan premi per bulan 800 ribu rupiah, total UP-nya 2,5 M.

Berikut ilustrasi ringkasnya:

Ilustrasi Nasabah 1

(Sumber: http://proteksipenghasilan.com)

Jika Anda ingin menyiapkan proteksi di Tapro Allisya, jangan sungkan untuk menghubungi kami.
Natanael 
(Business Executive)
No Lisensi AAJI: 11491333

HP/WA: 08113436830

Line: natanael1975

Jangan Sampai Polis Tidak Aktif (Lapse)

Yang satu lagi seorang pria umur 38 tahun, memiliki istri seorang ibu rumah tangga dan satu anak umur 6 tahun. Dia pernah punya polis dengan UP di atas 1 miliar. Tapi ketika dia meninggal dunia, polisnya dalam kondisi lapse (batal, tidak aktif), sehingga hilanglah kesempatan yang ia miliki untuk memberikan kepada anak-istrinya warisan 1 miliar.

Alasan yang muncul ketika mereka membiarkan polisnya lapse adalah kesulitan keuangan. Dalam arti ada kebutuhan lain yang menurut mereka lebih prioritas untuk dipenuhi dan tidak bisa ditinggalkan.

Tapi justru dengan adanya musibah yang mendadak ini, keluarga mereka tiba-tiba terjatuh dalam kondisi keuangan yang jauh lebih menyulitkan. Pencari nafkah meninggal, hilanglah sumber penghasilan. Tidak akan mudah untuk menemukan pengganti yang sepadan.

Berpikirlah Kembali Sebelum Menutup Polis Asuransi

Saya memiliki beberapa nasabah yang menghentikan pembayaran polisnya di tengah jalan dengan alasan kesulitan keuangan. Untungnya belum ada yang – sependek pengetahuan saya – sampai mengalami musibah mengerikan. Tapi jika itu terjadi, saya akan ikut merasakan penyesalan.

Untuk mengurangi penyesalan jika hal tidak diinginkan itu terjadi, saya mewanti-wanti kepada para nasabah saya untuk berpikir ulang berkali-kali jika hendak menutup polis atau membiarkan polis lapse. Mungkin memang betul anda mengalami kesulitan keuangan, tapi apakah solusinya harus menutup polis? Kenapa tidak menutup pengeluaran yang lain saja?

Jika saat ini saja, ketika anda masih sehat dan mampu bekerja secara normal, anda mengalami kesulitan keuangan, bagaimana jika anda sedang tidak sehat bahkan tidak mampu bekerja?

Agar kita atau keluarga kita tidak terjebak dalam kesulitan keuangan yang lebih parah, usahakan selalu untuk memiliki asuransi, khususnya asuransi jiwa bagi pencari nafkah. Ini yang utama. Walaupun sekarang posisi keuangan sedang kurang stabil, yakinlah hal itu belum seberapa dibandingkan kesulitan keuangan yang dialami ketika musibah terjadi.

Alternatif Selain Menutup Polis Asuransi

Asuransi terutama asuransi jiwa memiliki prioritas yang sangat tinggi dibanding banyak kebutuhan lainnya. Hanya sedikit kebutuhan yang prioritasnya di atas asuransi jiwa, yaitu: utang (KPR, kartu kredit, dan utang-utang lain yang telah terlanjur dibuat), kebutuhan makan-minum, operasional rumah tangga, operasional pekerjaan, sedekah wajib (zakat), dan biaya sekolah anak (jika sudah punya anak yang sekolah). Di luar itu, prioritasnya berada di bawah asuransi jiwa.

Oleh karena itu, jika anda mengalami suatu kesulitan keuangan, atau peningkatan kebutuhan hidup sementara penghasilan tetap, inilah beberapa alternatif yang bisa anda lakukan selain menutup polis.

  • Mengurangi pengeluaran yang sifatnya untuk gaya hidup (life style), seperti makan di restoran, ngopi di mall, merokok, naik taksi, pakai mobil pribadi, penyaluran hobi, liburan, beli baju baru, dll.
  • Mengurangi anggaran untuk tabungan atau investasi. Asuransi memiliki prioritas yang lebih utama dibandingkan menabung atau berinvestasi. Investasi tak akan banyak berguna jika seseorang mengalami musibah dalam waktu dekat, karena investasi itu butuh waktu untuk tumbuh besar.
  • Mengurangi anggaran untuk pengembangan diri, seperti beli buku dan ikut seminar. Pengembangan diri itu ibarat investasi, prioritasnya berada di bawah asuransi.
  • Mengurangi anggaran untuk sedekah sunah. Asuransi pun prioritasnya lebih tinggi dibanding sedekah yang sifatnya sunah (di luar zakat wajib). Asuransi itu sendiri dapat diniatkan sebagai sedekah, karena setiap hari dana yang kita kumpulkan digunakan oleh perusahaan asuransi untuk membantu para nasabah lain yang mengalami musibah.
  • Menurunkan premi polis hingga preminya sesuai dengan angggaran anda, mungkin dikurangi seperempatnya, setengahnya, atau ambil premi minimal.
  • Jika anda memiliki beberapa polis untuk sekeluarga, dan mayoritas didominasi asuransi kesehatan, boleh dikurangi untuk manfaat kesehatannya, atau ditutup dan dialihkan ke JKN-BPJS. Tapi pastikan pencari nafkah terlindungi oleh asuransi jiwa dengan UP (Uang Pertanggungan) yang memadai.

Jika hal-hal di atas tidak dapat dilakukan, berarti kesulitan keuangan yang anda alami memang lumayan gawat. Baiklah anda boleh menutup polis anda atau membiarkannya tidak dibayar.

Saran-saran di atas berlaku jika anda memiliki polis yang akan lapse jika preminya tidak disetor. Polis asuransi jiwa berjangka (term-life) akan lapse jika premi tidak dibayarkan hingga melewati grace period (masa tenggang, biasanya 30 atau 45 hari dari tanggal jatuh tempo). Polis unit-link yang usia polisnya masih di bawah dua tahun, juga akan lapse jika premi tertunggak melewati grace period. Tapi anda boleh bernafas lega jika polis unit-link anda telah berusia lebih dari dua tahun, karena jika sewaktu-waktu anda mengalami kesulitan keuangan, anda dapat melakukan cuti premi sementara sampai kondisi keuangan membaik.