Monthly Archives: April 2016

Berasuransi Mencegah Riba

Jika seseorang mengalami sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit, dia butuh uang untuk biaya perawatan. Kita tahu, sakit bisa datang tiba-tiba dan belum tentu yang bersangkutan sudah siap biayanya. Kita pun tahu tagihan RS tidak bisa diutang atau ditunda. Jika saat itu orang yang sakit tidak punya uang, atau punya uang tapi tidak cukup, apa yang dia lakukan? 

Langkah pertama yang terpikir biasanya adalah pinjam. Jika dia punya kerabat yang kaya dan baik hati, dia beruntung. Tapi jika kerabat yang kaya dan baik hati tidak ada, dia akan terpaksa pinjam ke siapa pun yang bisa meminjaminya uang, walaupun ada bunganya. Dan pinjaman yang paling mudah cair adalah menjaminkan BPKB ke rentenir (1 jam cair) atau KTA (kredit tanpa agunan, 2 hari cair). Ada yang lebih cepat lagi yaitu gesek kartu kredit, tapi orang yang menolak asuransi dengan alasan riba rasa-rasanya tidak mungkin punya kartu kredit.

Dalam kondisi terpaksa seperti ini, jatuhlah orang itu ke dalam riba, sesuatu yang tadinya ingin dia hindari. Padahal kalau dia punya asuransi kesehatan, hal semacam ini tidak perlu terjadi.

Itu baru musibah sakit biasa yang biayanya belum seberapa dan masih memungkinkan untuk pinjam uang. Ada beberapa musibah lagi yang biayanya lebih besar, sehingga bahkan untuk pinjam pun bisa jadi tidak memungkinkan. Contoh: sakit kritis semacam kanker, butuh biaya ratusan juta. Dalam keadaan sehat pun pinjam ratusan juta tidak mudah, apalagi dalam kondisi sakit.

Nah, dalam hal ini asuransi kesehatan dan asuransi penyakit kritis bisa menjadi solusi. Dan jangan lupa ada juga musibah kecelakaan, cacat, dan meninggal yang semuanya butuh biaya. Jadi, siapkan juga asuransinya supaya kita terhindar dari bencana keuangan yang parah plus utang berbunga alias riba.

 

Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah

Tapi, mungkin ada keraguan tentang asuransi yang banyak beredar sekarang, bukankah itu mengandung riba?

Baiklah. Perlu diketahui bahwa asuransi ada dua macam. Pertama, lazim disebut asuransi konvensional. Kedua, asuransi syariah.

Asuransi konvensional memang mengandung riba. Riba dalam hal apa? Setidaknya dalam dua hal. Pertama, pertukaran atau jual beli antara premi dengan uang pertanggungan.Kedua, penyaluran dana pada instrumen-instrumen keuangan ribawi, seperti deposito, obligasi, dan saham-saham yang tidak semuanya memenuhi kriteria syariah.

Tapi kedua unsur riba tersebut sudah dihilangkan dalam asuransi syariah. Pertama, akad yang terjadi bukan pertukaran atau jual beli antara premi dengan uang pertanggungan, melainkan akad hibah atau saling menolong di antara para peserta asuransi. kedua, penyaluran dana hanya pada instrumen-instrumen investasi yang sesuai syariah, antara lain deposito syariah, sukuk (obligasi syariah), dan saham-saham yang memenuhi kriteria syariah.

Kriteria investasi syariah itu sendiri telah dijabarkan dalam fatwa DSN MUI tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksadana Syariah, pada pasal 8 disebutkan bahwa investasi hanya dapat dilakukan pada efek-efek yang diterbitkan pihak (emiten) yang jenis kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah Islam. Jenis usaha yang bertentangan dengan syariah Islam antara lain usaha perjudian, usaha lembaga keuangan ribawi (termasuk perbankan dan asuransi konvensional), usaha di bidang makanan dan minuman haram, dan usaha di bidang barang-barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.

 

Asuransi Bukan Mencari Keuntungan Tapi Menghindarkan Kerugian

Asuransi bukanlah tentang mencari keuntungan, tapi tentang menghindarkan mudarat atau kerugian. Mencari keuntungan tidaklah wajib, dalam arti kalau tidak dilakukan pun tidak apa-apa. Tapi menghindarkan mudarat adalah wajib, artinya kalau tidak dilakukan akan menjadi masalah.

Riba itu mudarat, dan mudarat wajib dihindari. Asuransi mampu menghindarkan kita dari riba, jadi keberadaan asuransi itu wajib atau dibutuhkan oleh manusia. Tidak mungkin Tuhan mengharamkan sesuatu yang merupakan kebutuhan manusia. Jikapun asuransi yang beredar sekarang masih mengandung hal-hal yang diharamkan, pasti ada jalan keluar dari itu tanpa harus kehilangan manfaat asuransinya.

Itulah sebabnya para ulama di Dewan Syariah Nasional MUI tidak serta-merta mengharamkan asuransi, melainkan mencari solusi bagaimana caranya supaya kita tetap mendapatkan manfaat asuransi namun pada saat yang sama terhindar dari hal-hal yang dilarang.

Dan solusi itu adalah asuransi syariah.

Artikel ini diambil dari https://myallisya.com/2016/04/06/asuransi-syariah-mencegah-riba/#more-5448

Advertisements

Pentingnya Rider Pembebasan Premi

Dalam polis asuransi jiwa ada rider (manfaat tambahan) pembebasan premi. Dalam asuransi jiwa tradisional (term-life,whole-life, dan endowment), istilah yang lazim digunakan adalah Waiver of Premium. Dalam asuransi jiwa unit-link, istilahnya Payor Benefit. (Penjelasan tentang Payor Benefit bisa dibaca di SINI).

Rider Waiver of Premium dan Payor Benefit memberikan pembebasan premi jika pemegang polis mengalami Penyakit Kritis (Critical Illness [CI]) atau Cacat Tetap Total (Total Permanent Disability [TPD]). Ada yang membebaskan premi dari CI saja, atau TPD saja, ada juga yang dari kedua-duanya.

Perbedaan Rider Waiver of Premium dan Payor Benefit

Perbedaan rider Waiver of Premium pada asuransi jiwa tradisional dan rider Payor Benefit pada unit-link ada dua:

Pertama, Waiver of Premium memberikan pembebasan premi sesuai dengan masa pembayaran premi dari polis dasarnya. Jika polis dasarnya berjangka waktu pembayaran 10 tahun, maka manfaat Waiver pun berlaku selama 10 tahun. Misalnya terjadi TPD di tahun ke-5, maka nasabah dibebaskan dari membayar premi mulai tahun ke-6 sd tahun ke-10.

Payor Benefit memberikan pembebasan premi sampai usia tertentu, biasanya sampai usia pemegang polis 65 tahun. Walaupun masa pembayaran premi direncanakan hanya 10 tahun, pembebasan premi tetap sampai usia 65 tahun. Misalnya nasabah usia 30 tahun, terkena TPD tahun kelima (usia 35 tahun), maka ia mendapatkan pembebasan premi sampai usianya 65 tahun.

Kedua, Waiver of Premium memberikan pembebasan dalam bentuk berhenti bayar premi, sedangkan Payor Benefit memberikan pembebasan dalam bentuk premi dibayarkan oleh perusahaan. Jika sebelumnya nasabah yang menyetor premi, setelah Payor Benefit berlaku, ganti perusahaan asuransi yang menyetor premi. Premi yang disetorkan perusahaan akan menjadi nilai investasi pada unit-link nasabah, dan nasabah boleh saja mengambil nilai investasi tersebut.

Dengan kata lain, pada Waiver of Premium, nasabah mendapatkan polis secara gratis, sedangkan pada Payor Benefit, nasabah mendapatkan uang tunai sebesar premi, adapun biaya-biaya polisnya tetap harus bayar dengan cara dipotong dari nilai investasi.

Seberapa Penting Rider Pembebasan Premi?

Jika seseorang mengalami penyakit kritis atau cacat tetap total, menurut anda apakah yang ia butuhkan?

Penyakit kritis membutuhkan biaya yang sangat besar untuk pengobatan dan perawatan. Apa yang dibutuhkan di sini? Uang tunai yang besar. Penyakit kritis juga bisa menimbulkan kehilangan kemampuan produktif, berarti uang tunai yang besar itu juga harus ada lebihnya untuk biaya hidup.

Cacat tetap total atau lumpuh menimbulkan kehilangan kemampuan produktif alias tidak bisa bekerja lagi. Apa yang orang butuhkan saat ini? Tidak lain adalah uang tunai yang besar untuk menggantikan penghasilan, di mana penghasilan ini diperlukan untuk memenuhi biaya hidup dan kebutuhan lainnya.

Rider pembebasan premi berfungsi melindungi polis dari lapse karena ketidakmampuan bayar. Sedangkan untuk biaya sakit kritis atau cacatnya sendiri tidak menyediakan. Oleh karena itu, polis asuransi jiwa yang anda miliki sebaiknya dilengkapi pula dengan manfaat yang memberikan perlindungan berbentuk uang tunai dari risiko sakit kritis dan cacat tetap total.

Perlindungan terhadap penghasilan karena ketidakmampuan total diperoleh jika seseorang mengambil rider TPD (Total Permanent Disability). Sedangkan perlindungan terhadap biaya pengobatan yang mahal akibat penyakit kritis, dan juga terhadap kehilangan penghasilan yang mungkin disebabkannya, disediakan melalui rider CI (Critical Illness).

Dengan kata lain, rider pembebasan premi (Payor Benefit) menempati prioritas yang lebih rendah setelah rider cacat tetap total (TPD) dan rider penyakit kritis (CI).

Penawaran standar yang saya berikan ke calon nasabah melalui produk Tapro Allisya adalah:

  1. Asuransi Dasar (proteksi meninggal dunia)
  2. CI (proteksi penyakit kritis). Di Tapro Allisya ada rider CI+ (49 CI) dan CI100 (100 kondisi kritis sejak tahap awal).
  3. ADDB (proteksi cacat/meninggal karena kecelakaan)
  4. TPD (proteksi cacat tetap total)
  5. Payor Benefit (pembebasan premi)

Jika uang tak masalah, saya sarankan untuk mengambil semuanya. Tapi jika anggaran terbatas, ambil proteksi sesuai urutan di atas.

Sumber: https://myallisya.com/2015/08/18/rider-pembebasan-premi-pada-polis-asuransi-jiwa-seberapa-penting/

Solusi Keuangan: Investasi Plus Asuransi

Cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah berinvestasi. Bukan menabung. Kenapa? Karena biaya pendidikan naik terus setiap tahun. Itulah yang disebut inflasi, dan inflasi di sektor pendidikan tergolong paling tinggi. Jika hanya menabung, maka nilai tabungan kita akan kalah oleh inflasi. Walaupun kita menabung di deposito, bunganya tidak akan kuat menahan kenaikan harga (inflasi). Saat ini bunga deposito rata-rata 4,5% (6% dipotong pajak 20%), sedangkan inflasi di sektor pendidikan sekurang-kurangnya 10%.

Di mana investasinya? Di mana saja, asalkan dia memberikan imbal hasil lebih besar daripada inflasi. Emas, perak, hewan ternak, dan tanah adalah contoh tempat berinvestasi yang aman dari tekanan inflasi. Orangtua-orangtua kita dulu melakukan ini untuk menyiapkan biaya pendidikan kita.

Tempat investasi lainnya adalah reksadana dan saham. Reksadana ada beberapa macam, antara lain reksadana saham, reksadana campuran saham-obligasi, dan reksadana campuran obligasi-deposito. Dana reksadana dikelola oleh manajer investasi yang andal di bidang investasi, kita tinggal nunggu laporan hasilnya. Berbeda dengan reksadana, saham adalah investasi langsung di pasar modal atau bursa efek. Di sini kitalah yang menjadi manajer investasi bagi diri kita sendiri.

Reksadana dan saham ini cara modern. Kita perlu “sedikit” belajar untuk menguasainya. Cara ini bisa menghasilkan retur yang lebih besar daripada emas dan perak, tapi risiko ruginya pun lebih besar pula.

Cara yang sama, yaitu investasi, dapat pula kita terapkan pada persiapan ibadah haji dan dana pensiun. Intinya, kita mengumpulkan uang untuk masa depan, namun jangan sampai nilainya tergerus oleh inflasi.

Sebagaimana disebutkan di atas, cita-cita bisa kandas jika terjadi risiko yang tidak diinginkan pada diri kita. Oleh karena itu, sembari kita berinvestasi, kita pun perlu melindungi diri kita dan keluarga dengan asuransi. Yang dilindungi oleh asuransi bukanlah risiko itu sendiri, melainkan keuangan kita. Misalnya, jika kita sakit lalu berobat, dana yang sedianya diinvestasikan jadi terpakai untuk bayar dokter. Jika biaya dokternya mahal, bisa-bisa hasil investasi yang sudah ada pun terpakai semuanya, atau malah kurang sehingga kita terpaksa harus pinjam uang.

Untuk melindungi dari sakit, kita butuh asuransi kesehatan. Jika kita orang kantoran, atau PNS, biasanya sudah ada askes dari kantor. Syukur alhamdulillah, walaupun kecukupannya masih perlu dipertanyakan.

Untuk melindungi dari kecelakaan dan kematian, kita butuh asuransi jiwa. Asuransi kecelakaan jarang yang berdiri sendiri; biasanya dia nempel pada asuransi jiwa.

Demi keluarga yang kita sayangi, berasuransi adalah suatu keniscayaan dalam perencanaan masa depan kita.

Sekarang ini ada produk asuransi yang menggabungkan proteksi dan investasi dalam satu rekening. Namanya unit link. Unit link memberikan proteksi dari sakit (sakit biasa maupun sakit kritis), kecelakaan, dan kematian; pada saat yang sama, juga menyediakan imbal hasil menguntungkan lewat investasi pada reksadana.

Sambil kita mempersiapkan cita-cita kita (pendidikan anak, ibadah haji, pensiun), kita pun mendapat perlindungan dari risiko-risiko (sakit, kecelakaan, kematian) yang mungkin menimpa di tengah perjalanan.

Demikian. Semoga Tuhan senantiasa menaungi kita dengan kesehatan dan keselamatan. Semoga cita-cita kita di masa depan menjadi kenyataan.

sumber: https://myallisya.com/2012/01/22/perencanaan-keuangan-untuk-keluarga-muda/

Klaim Kanker 500jt Cair dalam 11 Hari

Gambar di bawah ini adalah berita tentang pencairan klaim penyakit kritis yang terjadi pada nasabah dari rekan saya di grup ASN Busster Medan, bpk Jimmy Wisanto (paling kiri). Klaim kanker dengan UP 500 juta cair hanya dalam waktu 11 hari sejak tanggal submit berkas klaim (tanggal 15 Februari 2016, cair tanggal 26 Februari 2016). Bukan hanya itu, polis-polis nasabah dan keluarganya pun pembebasan pembayaran preminya oleh Allianz (manfaat Payor Benefit) sampai pemegang polis berusia 65 tahun.

Klaim Allianz 2

Terima kasih, Allianz. []

Kalkulator Perencanaan Keuangan

Link di bawah ini akan membantu menghitung perencanaan keuangan kita. Silahkan dicoba.

Kalkulator Asuransi

Perencanaan Keuangan yang baik harus terlindungi dari berbagai risiko. Uang pertanggungan yang cukup akan menjaga kondisi dan tujuan keuangan keluarga tercinta tetap tercapai. Jangka waktu pertanggungan yang digunakan dapat didasari pada anggota keluarga yang membutuhkan dukungan finansial terlama. – See more at: http://investment.allianz.co.id/kalkulator/financial-calculators/pertanggungan#sthash.9W9bnLQG.dpuf

Dalam perencanaan di atas kita akan mengetahui dan diajak merencanakan kebutuhan asuranasi mulaidari awal.

Kalkulator Investasi

Langkah pertama Perencanaan Keuangan adalah menentukan Tujuan. Tentukan tujuan keuangan Anda sebelum memulai Perencanaan Keuangan dari sisi investasi. Tujuan investasi dapat berupa membeli rumah, kendaraan, berwisata, perjalanan religi, warisan, dan lainnya. – See more at: http://investment.allianz.co.id/kalkulator/financial-calculators/calculator-invest#sthash.UXsGA9LI.dpuf

Kalkulator Tabungan Pendidikan

Perencanaan Keuangan menyiapkan tujuan jangka panjang sejak dini. Semakin dini biaya pendidikan disiapkan akan semakin baik. Biaya pendidikan sebaiknya dilengkapi dengan informasi yang rinci seperti besarnya dana yang dibutuhkan, dan jangka waktu untuk mencapainya.  Biaya yang dikalkulasikan mencakup total dari uang pangkal, biaya bulanan, serta biaya lainnya untuk suatu jenjang.  – See more at: http://investment.allianz.co.id/kalkulator/financial-calculators/pendidikan#sthash.oNOoDvBx.dpuf