Monthly Archives: May 2016

Apa Perbedaan ADDB dan TPD dalam Allianz?

Pada produk Tapro Allianz terdapat dua rider (asuransi tambahan) yang memiliki kemiripan, yaitu ADDB dan TPD.

ADDB adalah singkatan dari Accidental Death and Disablement Benefit. TPD adalah singkatan dari Total Permanent Disability.

Jika diterjemahkan secara harfiah, ADDB berarti “Manfaat Cacat dan Meninggal karena Kecelakaan”. Sedangkan TPD berarti “Cacat Tetap Total”.

Di sini ada kesamaan pada kata “cacat”.

Pengertian cacat yaitu kehilangan fungsi. Dalam hal ini yang menjadi objek cacat ialah tangan, kaki, dan mata. Misalnya tangan yang tadinya bisa digunakan untuk memegang, jadi tidak bisa memegang lagi. Kaki yang tadinya bisa digunakan untuk berjalan, jadi tidak bisa berjalan lagi. Mata yang tadinya bisa digunakan untuk melihat, jadi tidak bisa melihat lagi.

Cacat bisa bersifat sebagian (contoh: satu jari, satu tangan, satu kaki, satu mata), bisa juga bersifat total (dua tangan, dua kaki, dua mata).

Istilah “total” pada TPD menunjukkan bahwa yang mengalami cacat tetap itu adalah dua anggota tubuh (dua tangan, atau dua kaki, atau dua mata, atau satu tangan satu kaki, atau satu tangan satu mata, atau satu kaki satu mata). Pada ADDB tidak disebutkan istilah “total”, yang berarti cacat tetapnya bisa bersifat sebagian dan bisa juga bersifat total.

Pada TPD ada istilah “tetap” (permanen) untuk menunjukkan bahwa cacat tersebut tidak bisa dipulihkan lagi. Pada ADDB tidak disebut istilah cacat tetap, tapi dari definisinya di polis sebetulnya sama-sama harus cacat tetap juga alias tidak bisa dipulihkan. Ukuran tidak bisa dipulihkan adalah berlangsung terus-menerus selama minimal 180 hari atau 6 bulan.

Cacat bisa disebabkan kecelakaan, bisa juga disebabkan sakit. ADDB, sesuai definisinya, hanya menanggung cacat yang disebabkan kecelakaan, yang artinya cacat disebabkan selain kecelakaan, misalnya sakit, tidak ditanggung.

Sementara TPD, dari definisinya, tidak menyebutkan faktor penyebab secara khusus. Artinya, unsur penyebab tidak dipersoalkan, yang penting kondisi akhirnya cacat tetap total. Artinya lagi, cacat tetap total karena sakit atau kecelakaan sama-sama ditanggung.

Secara ringkas persamaan dan perbedaan antara ADDB dengan TPD bisa disimak pada tabel berikut.

No Keterangan ADDB TPD
1 Meninggal karena sakit Tidak ditanggung Tidak ditanggung
2 Meninggal karena kecelakaan Ditanggung Tidak ditanggung
3 Cacat tetap sebagian karena sakit Tidak ditanggung Tidak ditanggung
4 Cacat tetap sebagian karena kecelakaan Ditanggung Tidak ditanggung
5 Cacat tetap total karena sakit Tidak ditanggung Ditanggung
6 Cacat tetap total karena kecelakaan Ditanggung Ditanggung

Persamaan antara ADDB dan TPD terletak di poin 6: cacat tetap total karena kecelakaan. Selebihnya, kecuali poin 1, adalah perbedaan keduanya. Jadi, jika seseorang memiliki ADDB dan TPD, lalu ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cacat tetap total, maka ia memperoleh uang pertanggungan ADDB sekaligus TPD.

Sebaliknya, jika orang tersebut lebih dulu mengalami cacat tetap total karena sakit, maka TPD cair dan setelah itu ADDB berakhir (tutup).

Selain yang disebutkan di atas, TPD memiliki alternatif definisi yang membedakannya dengan ADDB, yaitu: “tidak dapat melaksanakan pekerjaan secara normal untuk mendapatkan penghasilan”. Atau jika tertanggung tidak bekerja/pensiun, maka kriteria ini diganti dengan “tidak dapat melakukan 3 dari 5 aktivitas hidup, yaitu makan, berpakaian, mandi, beralih tempat, dan buang air.”

sumber: https://myallisya.com/2015/12/15/perbedaan-dan-persamaan-antara-addb-dan-tpd/

Advertisements

Beberapa Alasan Membeli Unit Link

Berikut ini saya bagikan pengalaman nasabah dari blog leader bpk Asep. Menarik untuk dibaca.

“Aku pada saat menandatangani formulir pengajuan asuransi jiwa tipe unit link. Bayar premi 500 ribu per bulan, manfaat yang kuperoleh (laki-laki, 31 tahun, kelas pekerjaan 2) adalah:

  1. Jika meninggal dunia : 450 juta (sampai usia <100 tahun)
  2. Jika kecelakaan dengan akibat meninggal atau cacat : 450 juta (sampai usia <65 tahun)
  3. Jika sakit kritis (49 penyakit kritis) : 400 juta (sampai usia <70 tahun)
  4. Payor (pembebasan premi dan dibayari premi oleh perusahaan jika terdiagnosis penyakit kritis atau mengalami cacat tetap total) sampai usia 65 tahun.

Ada juga nilai tunai di akhir tahun kesepuluh sebesar Rp 50.525.000 (asumsi pertumbuhan 18%). Nilai tunai ini belum menyamai premi total yang kubayarkan selama 10 tahun (60 juta), karena aku mengambil porsi asuransi yang maksimal. Tak mengapa, karena memang tujuanku adalah proteksi, bukan investasi.

Kalau memang tujuannya proteksi, kenapa tidak ambil asuransi murni? Kan bisa lebih murah?

Alasannya ada sembilan.

Pertama, aku ingin asuransi yang menyediakan keempat manfaat di atas. Aku tidak tahu adakah asuransi murni (tradisional) yang menyediakan empat manfaat tsb sekaligus, dengan harga yang kompetitif.

Apakah keempatnya harus diambil? Menurutku, ya. Karena asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Bagaimana kalau kecelakaan tapi tidak mati, melainkan cacat? Kalau hanya mengambil asji murni, tentu UP-nya tidak cair. Sejauh ini tidak ada metode yang ampuh untuk mencegah kecelakaan. Berhati-hati saja tidak cukup, karena bisa saja penyebabnya kecerobohan orang lain. Satu-satunya cara hanyalah berdoa mengharap perlindungan dari Tuhan.

Tentang manfaat sakit kritis, sebetulnya aku pribadi yakin dengan pola hidupku yang sekarang ini, aku tidak akan mengalami sakit kritis, kecuali mungkin saat hendak meninggal. Tapi aku juga tahu potensi itu ada. Bapakku dulu meninggal dunia karena stroke, dan ibuku sekarang punya penyakit maag, asam urat, dan darah tinggi yang sering kumat. Mengambil manfaat sakit kritis adalah tindakan jaga-jaga, karena penyakit model begini biaya berobatnya mahal. Tentunya harapanku adalah tetap sehat sentosa selamanya.

Sedangkan manfaat payor menjamin bahwa rencana keuanganku, yakni mendapat proteksi jiwa sekaligus investasi, tetap berjalan apa pun yang terjadi pada diriku, sekalipun sakit kritis, cacat total, dan tidak bisa bekerja. Boleh dikatakan, payor benefit adalah “asuransi atas asuransi”. Ya, asuransi kita pun perlu diasuransikan lagi. (Di sini aku teringat ungkapan dalam dunia sufi: “Bahkan istigfar kita pun perlu diistigfarkan lagi”).

Kedua, aku ingin asuransi jiwa yang bisa berlaku seumur hidup, bukan sampai usia tertentu saja. Asuransi jiwa murni (termlife) paling banter hanya sampai 70 tahun, itu pun dengan premi yang sangat mahal selewat usia 50. Dengan unit link, aku punya keleluasaan apakah tetap sampai 100 tahun ataukah kubatalkan pada usia tertentu (misalnya 70 tahun). Dengan demikian, pada usia 70 tahun, seandainya masih hidup, aku bisa punya pilihan apakah akan mewariskan uang 450 juta (kemungkinan nanti nilainya tidak seheboh sekarang akibat inflasi) kepada keluargaku, ataukah membatalkan asuransi jiwaku dan mengambil hasil investasi yang ada (di ilustrasi nilainya mencapai 948 juta).

Pilihan semacam ini tidak akan kuperoleh di asuransi murni termlife. Memang, menurut teori para perencana keuangan, orang tua umur 70 tahun tidak butuh asuransi jiwa karena hartanya diasumsikan sudah bejibun berkat hasil investasinya sejak masa muda. (Iya kalau sukses. Kalau bangkrut?). Tapi punya pilihan tentu lebih menyenangkan. Jika untuk punya pilihan itu aku harus membayar lebih, ya oke-oke saja. Dengan mengambil unit link sekarang, aku bisa menikmati biaya asuransi atau cost of insurance (COI) yang jauh lebih murah di masa tua, dibanding termlife. Dan dana untuk membayar COI itu tidak usah dipikirkan karena akan tertutupi oleh hasil investasi (dengan asumsi kondisi ekonomi sehat, dan tentunya kita mengharapkan demikian. Jika kondisi ekonomi tidak sehat, bukan hanya unit link yang rugi; semua investasi juga rugi, dan asuransi murni juga bisa mengalami gagal bayar klaim).

Ketiga, ada nilai tunai hasil investasi yang akan digunakan untuk merawat manfaat asuransi sampai masa berlakunya berakhir, atau jika butuh uang bisa diambil sebagian tanpa membatalkan manfaat asuransi.

Keempat, unit link menyediakan fasilitas cuti premi, yang memungkinkan diriku: 1) berhenti menyetor premi untuk sementara (beberapa bulan) jika karena satu dan lain hal aku mengalami kesulitan finansial. Pemberhentian ini tidak otomatis membatalkan polis asuransi karena ada unit investasi yang akan membayarkan biaya asuransi dan administrasi. Setelah keuanganku pulih, aku bisa kembali meneruskan setoran premi; 2) membayar premi lebih singkat (rencanaku 10 tahun) untuk mendapatkan proteksi lebih panjang.

Fasilitas ini mungkin bisa direplikasikan jika aku mengambil terpisah (TL+TD), dengan cara membayar premi lanjutan dari retur reksadana. Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi jika uang sudah di tangan kita.

Kelima, belum tentu asuransi murni lebih murah daripada unit link. Memang jika hanya membandingkan unit link vs termlife murni+reksadana, unit link akan kalah, termasuk dalam jangka panjang. Namun jika unit link dibandingkan dengan termlife+(kecelakaan+sakit kritis+payor)+reksadana, aku yakin unit link lebih unggul, termasuk dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, unit link akan lebih tampak lagi keunggulannya. Menurutku, unit link dirancang untuk diambil dengan manfaat yang beragam, bukan satu manfaat saja. Dengan mengambil minimal 2 atau 3 manfaat tambahan, keunggulan unit link akan lebih tampak.

Keenam, jelas unit link lebih praktis daripada mengambil asuransi terpisah dengan investasi. Kepraktisan adalah nilai lebih dari suatu produk, sebab bisa membantu kita menghemat waktu, tenaga, dan pikiran. Jika untuk kepraktisan ini kita membayar sedikit lebih mahal, itu lumrah. Apalagi jika lebih murah.

Ketujuh, dalam unit link ada agen yang sudah berkomitmen untuk melayani nasabah jika melakukan klaim. Ini juga nilai tambah yang tidak boleh diremehkan. Jika untuk fasilitas ini kita membayar lebih mahal, tak masalah. Apalagi jika lebih murah.

Kedelapan, kemampuan keuanganku saat ini hanya memungkinkan aku bayar premi secara bulanan, sedangkan beberapa produk term life yang sudah kusurvai, bayarnya hanya bisa tahunan. Biarpun ada term life yang misalnya menawarkan premi 3 juta utk UP 1 miliar, saat ini aku tidak sanggup bayar sekaligus. Lagi pula, seperti kusebutkan di atas, kebutuhan proteksiku bukan hanya UP jiwa.

Kesembilan, dengan alasan etis dan religius, aku hanya ingin asuransi yang syariah. Produk term-life yang murah-murah tsb pada umumnya belum syariah. Sedangkan term-life syariah preminya lebih mahal, ridernya tidak lengkap, dan aku tidak yakin adarenewal guarantee (garansi perpanjangan).

Produk unit link yang kuambil ini jenisnya syariah. Dan rata-rata penyedia unit link memiliki produk syariah.

Kesimpulan: Aku yakin unit link masih lebih baik daripada asuransi murni, dengan catatan:

1. Manfaat proteksinya dimaksimalkan. Perbesar uang pertanggungan meninggal, kecelakaan, dan sakit kritis, sampai jumlah maksimal yang diizinkan oleh program unit link tersebut sesuai premi yang kita bayarkan.

O ya, di sini aku tidak mengambil manfaat kesehatan karena sementara ini aku masih punya kartu Jamsostek dari kantor istriku. Aku tidak tahu berapa plafonnya (kurasa tidak besar), tapi cukuplah untuk sekadar sakit biasa dan dirawat inap di kamar paling murah. Lagi pula pemakaiannya jarang, karena jika aku sakit, aku pilih dibekam saja daripada ke rumah sakit.

2. Tidak salah memilih produk. Mengapa? Karena unit link berbeda-beda dalam segi manfaat yang bisa diberikan dan biaya yang dikenakan. Sebelum memutuskan yang sekarang ini, aku telah melakukan survai terhadap 5 produk unit link (P, T, A, A, dan A). Insya Allah yang kuambil ini adalah yang terbaik (manfaat paling besar, biaya paling rendah).

3. Agennya berkualitas. Jika anda bertemu agen asuransi, tanya berapa lama dia sudah jadi agen. Semakin lama insya Allah semakin baik, tandanya sudah pengalaman. Tapi juga jangan terlalu tua. Kalau bisa seumuran, sebab dia akan melayani kita seumur hidup kita. Kalau dia meninggal lebih dulu, kita bisa kehilangan fasilitas dilayani agen, kecuali agen di atasnya mau menggantikan.

Lalu tanya pula apakah agen tsb sudah menjadi nasabah dari produk yang dia tawarkan. Jika belum, itu namanya parah. Nyuruh orang beli, dia sendiri tidak pake. Kebetulan agen yang kutemui (aku yang menemuinya, bukan dia menemuiku) sudah enam tahun jadi agen dan kariernya sudah di puncak. Umurnya kelihatannya masih muda, tidak beda jauh denganku. Dan tentunya dengan kekayaan yang dia miliki, dia juga telah menjadi nasabah dari produk yang dijualnya.

Itulah beberapa pertimbangan yang kuambil sebelum memutuskan membeli unit link. Sebelumnya aku sempat anti dengan unit link setelah membaca saran beberapa perencana keuangan yang menganjurkan pemisahan antara asuransi dan investasi. Tapi kupikir para penyedia unit link pun membaca kritik-kritik yang dialamatkan kepada produk mereka. Ada yang sudah memperbaiki produknya, sebagian lagi belum.

Dan aku memilih produk unit link yang kelihatannya telah disempurnakan untuk siap menghadapi kritik tsb. Salah satu cirinya, dulu produk ini mengenakan biaya akuisisi 195%, sekarang biaya akuisisinya 145% dan bisa turun menjadi 118,7% jika aku membayar premi rutin hingga 10 tahun (produk ini memberikan ekstra 5,26% untuk porsi investasi sejak tahun keenam).

Demikian sekadar sharing. Jadi kita tidak sekadar anti dengan unit link tanpa punya pertimbangan yang komprehensif menyangkut sisi kelebihan dan kelemahan suatu produk. Termlife murah, tapi tidak bisa seumur hidup. Unit link lebih mahal, tapi bisa seumur hidup. Selain itu termlife saja belum cukup; kita juga butuh asuransi kecelakaan dan sakit kritis. Unit link memberikan manfaat-manfaat tambahan yang biaya asuransinya akan lebih murah dibanding harus mengambil satu-satu secara terpisah. (Di sini saya belum punya perbandingan dalam bentuk angka, tapi saya yakin setidaknya dalam jangka panjang unit link lebih murah).

Kemudian dari segi investasi, memang reksadana bisa menghasilkan retur yang lebih maksimal. Tapi tentunya kita mengambil unit link bukan dengan tujuan investasi, melainkan proteksi. Hasil investasi yang ada itu fungsinya untuk membayar biaya-biaya asuransi, sehingga sebaiknya tidak kita ambil, kecuali disisakan sejumlah dana yang cukup untuk berkembang sendiri agar kita tidak lagi harus membayar premi.

sumber: https://myallisya.com/2011/11/23/9-alasan-membeli-unit-link-3-catatan/

Benefit Agen Asuransi ASN

Menjadi agen asuransi di ASN berarti menjadi pebisnis. Pebisnis atau pengusaha tidak mengharapkan tunjangan dan bonus, karena dialah yang justru memberikan tunjangan dan bonus kepada orang-orang yang bekerja kepadanya.

Memang saat ini masih ada pekerjaan agen asuransi yang sistemnya tidak murni bisnis, antara lain di perusahaan asuransi yang menerapkan sistem branch (cabang, bukan agensi) dan di bancassurance (agen asuransi yang ditempatkan di bank), di mana selain komisi ada fasilitas dan tunjangan hingga bonus dan asuransi. Itu adalah kelebihan dari pekerjaan agen asuransi pada sistem yang tidak murni bisnis. Tapi kekurangannya, potensi penghasilan yang bisa diperoleh pun terbatas.

4 Benefit Agen Asuransi ASN

Setidaknya ada 4 benefit yang bisa diperoleh agen asuransi di Allianz Star Network, yaitupenghasilan, penghargaan, trip ke luar negeri, dan aneka kontes. Di luar itu masih banyak benefit lain yang sifatnya nonmateri, seperti pengembangan diri, perluasan jaringan pertemanan, fleksibilitas kerja, hingga kepuasan batin karena telah membantu mencairkan klaim nasabah.

Mari kita bahas satu per satu.

  1. Penghasilan

Sebagai sebuah bisnis, benefit paling utama tentunya adalah penghasilan. Penghasilanlah, yang tergambar melalui marketing plan, yang mestinya menjadi pertimbangan utama ketika anda memasuki sebuah bisnis. Banyak benefit lain bisa anda dapatkan jika penghasilan besar sudah di genggaman.

Penghasilan diperoleh dari penjualan pribadi maupun dari penjualan tim. Dalam tahap awal, penghasilan dari penjualan pribadi akan lebih mendominasi. Tapi karena ini bisnis jaringan, dalam jangka panjang, yang lebih diharapkan mengisi pundi-pundi rekening kita adalah penghasilan dari penjualan tim atau grup. Itulah yang disebut penghasilan pasif.

Jenjang karir di ASN terdiri dari dua level, yaitu BE (Business Executive) dan BP (Business Partner). Syarat dari BE menjadi BP adalah penjualan pribadi 300 juta (premi disetahunkan) dan bisa dicapai dalam hitungan bulan, maksimal 2 tahun. Setelah jadi BP, tugasnya adalah merekrut agen-agen dan mendidik mereka supaya bisa melakukan penjualan pribadi 300 juta. Begitu saja dilakukan setiap tahun sampai jaringan membesar tanpa batas. Potensi penghasilan yang bisa diraih sebanding dengan besarnya jaringan yang bisa dibangun.

Marketing plan ASN menyediakan tiga macam sumber penghasilan.

  1. Komisi. Diperoleh dari penjualan pribadi, baik level BE maupun BP. Besarnya komisi tergantung produk.
  2. Overriding unit. Diperoleh BP dari penjualan pribadi maupun penjualan BE-BE di bawahnya. Overriding unit besarnya setengah dari komisi tahun pertama dan tahun kedua.
  3. Overriding generasi (royalti). Diperoleh BP dari omset BP-BP di bawahnya hingga kedalaman 5 generasi BP. Overriding generasi besarnya seperenam dari komisi tahun pertama dan tahun kedua. Inilah sumber penghasilan pasif yang besar dalam jangka panjang.

Keunggulan dari marketing plan ASN antara lain:

  1. Paling simpel. Jenjang karier hanya dua level, sehingga memudahkan untuk sampai di posisi puncak (BP).
  2. Paling mudah. Syarat naik ke posisi puncak hanya penjualan pribadi 300 juta, tidak perlu merekrut.
  3. Paling cepat. Naik ke posisi puncak bisa dicapai dalam hitungan bulan (bahkan bisa 1 bulan!), tidak perlu menunggu sampai akhir tahun.
  4. Paling ringan. Syarat maintenance (pertahankan posisi) puncak juga hanya 300 juta (penjualan unit).
  5. Paling dalam. Overriding generasi atau royalti hingga kedalaman 5 generasi BP.
  6. Paling besar. Nilai overriding generasi seperenam komisi, di tempat lain paling hanya sepersepuluh komisi.

 

  1. Penghargaan

Profesi agen asuransi penuh dengan penghargaan, tentunya bagi mereka yang berprestasi. Top personal sales, top unit sales, top recruitter, dan banyak kategori lain akan mendapatkan penghargaan khusus dan nama serta foto mereka dipajang di koran.

Penghargaan paling terkenal adalah MDRT (Million Dollar Round Table), penghargaan level internasional bagi agen yang berhasil mengumpulkan penjualan premi sejumlah tertentu (sekitar 540 juta collected premium tahun pertama).

Di atas MDRT ada COT (Court of Table) dengan target 3 kali lipat MDRT, dan di atasnya ada TOT (Top of Table) dengan target 6 kali lipat MDRT.

Khusus di ASN, ada satu penghargaan paling bergengsi yaitu MDIT (Million Dollar Income Team), agen dengan penghasilan minimal 1 miliar per tahun. Level MDIT ditandai dengan jumlah bintang, 1 bintang mewakili penghasilan 1 miliar. Peraih bintang tertinggi saat ini Liem Lie Sia dengan 17 bintang (penghasilan 17 miliar per tahun), yang menjadi agen ASN sejak tahun 2004. Status MDIT lebih prestisius daripada MDRT bahkan TOT sekalipun.

Selain itu, masih ada beberapa penghargaan lagi yang dikeluarkan perusahaan, grup agensi, maupun Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia.

 

  1. Trip ke luar negeri

Semua perusahaan asuransi menyediakan trip ke luar negeri atau dalam negeri bagi agen-agen yang memenuhi syarat. Di ASN setiap tahun ada 3 target trip ke luar negeri, mulai dari negara-negara di kawasan ASEAN, Asia, hingga Eropa-Amerika-Afrika, semakin jauh semakin tinggi targetnya. Sejauh ini belum ada kontes trip dalam negeri di ASN.

Target trip bisa dicapai melalui penjualan pribadi (bagi BE maupun BP) dan omset unit (khusus BP).

 

  1. Aneka Kontes

Selain trip ke luar negeri, selalu ada kontes di bisnis asuransi. Kontes bisa diberikan perusahaan, grup agensi, maupun leader.

Sebagai contoh, sejak tahun 2015 di ASN ada kontes berhadiah uang saku, iPad, dan trip ke luar negeri bagi agen yang mampu mencapai CPC (Consistent Producers Club) selama 2 tahun berturut-turut. Ada juga kontes berhadiah mobil VW Beetle dan Mercedes Benz C Class.

Grup agensi maupun leader pun seringkali memberikan kontes dengan hadiah yang lebih kecil, misalnya trip dalam negeri, nonton bareng, angpau, atau sekadar souvenir.

Semua itu diperlukan untuk menjaga semangat agen, karena agen asuransi adalah profesi yang rentan mengalami penurunan semangat.

Tapi benefit paling utama tetaplah penghasilan, yang lain hanyalah kembang-kembangnya.

 

 

Tanya Jawab

  • Apakah di ASN ada bonus tahunan atau triwulanan dari penjualan pribadi? Tidak ada. Bonus tahunan yang dulu pernah ada telah dialihkan ke overriding generasi supaya penghasilan pasif makin besar.
  • Apakah di ASN ada bonus perekrutan? Tidak ada. Bonus perekrutan yang dulu pernah ada telah dialihkan ke overriding generasi supaya penghasilan pasif makin besar.
  • Apakah agen ASN memperoleh asuransi kesehatan? Tidak. Asuransi kesehatan bisa dibeli sendiri ketika sudah memperoleh penghasilan.
  • Apakah agen ASN memperoleh asuransi pensiun? TidakDana pensiun bisa diperoleh melalui overriding generasi jika jaringan sudah berkembang.
  • Apakah agen ASN memperoleh fasilitas seperti telepon, meja, komputer, kendaraan?Tidak. Ingat, agen asuransi itu pebisnis, bukan karyawan. Semua fasilitas tsb bisa diperoleh melalui penghasilan. Jadi, fokus saja pada peningkatan penghasilan.
  • Apakah syarat menjadi BP harus merekrut agen? Tidak. Untuk menjadi BP, syaratnya adalah penjualan pribadi saja dengan ALP 300 juta.
  • Apa itu ALP? ALP singkatan dari Annualized Life Premium atau premi asuransi jiwa yang disetahunkan. Misal premi 1 juta per bulan, berarti ALP-nya 12 juta (dengan catatan 1 juta itu premi dasar semua, top up atau saver dalam unitlink tidak termasuk).
  • Berapa minimal jumlah nasabah yang harus diperoleh untuk menjadi BP? Tidak ada syarat minimal jumlah nasabah, yang penting total ALP mencapai 300 juta. ALP 300 juta adalah setara premi 25 juta per bulan. Jika satu nasabah rata-rata preminya 1 juta per bulan, berarti diperlukan 25 nasabah untuk mencapai ALP 300 juta.
  • Apakah BP masih harus melakukan penjualan pribadi? Tidak harus. Kewajiban BP adalah merekrut agen dan mendidik agen-agen yang direkrutnya agar bisa menjual polis. Tapi jika melakukan penjualan pribadi, itu lebih baik sekaligus memberi contoh untuk agen-agen di jaringannya.
  • Apakah yang dimaksud kedalaman 5 generasi BP? Contoh: Si A seorang BP, dia merekrut B. Si B lalu menjadi BP, dan dia merekrut C. Si C menjadi BP, dan dia merekrut D. Si D menjadi BP, lalu dia merekrut E. Si E menjadi BP, dan dia merekrut F. Si F menjadi BP. Dari struktur ini, si B adalah generasi kesatu dari si A, C generasi kedua, D generasi ketiga, E generasi keempat, dan F adalah generasi kelima dari si A. Jika terjadi penjualan di F, si A mendapatkan overriding generasi alias royalti.
  • Apakah ada syarat untuk mendapatkan overriding generasi dari kedalaman 5 generasi? Ya ada, yaitu harus mempunyai BP generasi 1 sebanyak 5 BP.
  • Apakah BP bisa turun level menjadi BE? Bisa. BP akan turun level menjadi BE jika tidak memenuhi syarat maintenance (mempertahankan posisi) yaitu penjualan unit sebesar 300 juta dalam satu tahun. Penjualan unit berarti penjualan pribadi BP dengan BE-BE di bawahnya. Tapi dia selalu punya kesempatan untuk promosi kembali menjadi BP.
  • Bagaimana caranya menjadi agen asuransi ASN? Mendaftar melalui BP dengan melengkapi persyaratannya.

Sumber: https://myallisya.com/2016/04/05/4-benefit-agen-asuransi-di-allianz-star-network/#more-5398

 

Tujuh Pentingnya Asuransi

Menurut laporan lembaga ekonomi internasional yang bekerja secara independen, Indonesia termasuk salah satu negara yang merupakan negara yang penduduknya memiliki atau dukungan dengan asuransi masih SANGAT rendah! Padahal Indonesia salah satu negara konsumtif.
Sebuah situs manajemen keuangan memberikan kultwit akan pentingnya asuransi.

1. Sebenarnya, tahukah Anda seberapa pentingnya memiliki asuransi? Ini merupakan bentuk investasi yg krusial dan penting untuk menjaga Anda.

2. Asuransi dpt menjamin saat kita kehilangan pekerjaan, properti, pemasukan, kesehatan secara fisik dan juga hilangnya kehidupan. asuransi

3. Sebagian besar orang mengabaikan asuransi, terutama bagi mereka yang merasa muda dan merasa tidak akan terkalahkan. Pendapat mereka salah!

4. Sesungguhnya, diwaktu inilah dimana asuransi itu dapat dijangkau atau dibeli. Janganlah menganggap bahwa asuransi itu adalah “dead money”

5. Anda perlu tahu bahwa setiap perusahaan asuransi memiliki value dan kebijakan yg berbeda, maka berkonsultasilah dengan agen asuransi

6. Agen asuransi yang bagus tidak memaksa anda dgn memberitahu segala macam produk yang ada. Sebaliknya, merancang rencana hidup Anda dgn baik

7. Dengan pilihan yg baik, maka di saat anda berumur >60thn dan tdk bisa membayar lg premi Anda, Anda telah mempunya nilai akumulasi yang bagus

Nah, jaga dan lindungi diri Anda agar tidak menderita dgn dana yg terbatas!

Sumber : Pentingnya Asuransi atau The Importance of Insurance

Pentingnya Dana Hari Tua

Hari ini saya mendapat sharing pengalaman hidup dari sebuah keluarga yang bisa menjadi pelajaran hidup buat saya. Cerita tersebut saya dapat dari https://mytapro.wordpress.com/2016/05/07/kisah-nyata-pentingnya-dana-hari-tua/

Begini kisahnya, selamat membaca:

Saya mengenal sebuah keluarga yang sangat baik dan sangat santun dalam kehidupannya, terdiri dari seorang pencari nafkah, istri dan 2 orang anak yang sudah dewasa.
Kehidupan mereka sangat sederhana, tidak berlebihan. Mereka hidup apa adanya dengan sebuah rumah yang cukup nyaman.

Intinya dengan pencari nafkah bekerja, maka kehidupan keluarga ini berjalan normal, sampai tiba tiba sekitar bulan Oktober 2015 kemarin pencari nafkah tiba tiba mengalami stroke dan mengakibatkan tidak bisa bekerja lagi. Keuangan keluarga sudah pasti terganggu, karena penghasilan pencari nafkah terhenti. Anak mereka sudah dewasa dan sudah bekerja, namun tetap saja tidak dapat digantikan sebagai sumber pencari nafkah utama di dalam keluarga tersebut dan orang tua mereka juga tidak mau membebankan hal ini kepada anak mereka.

Saya kenal cukup dekat dengan keluarga ini, dan hari ini mereka menyampaikan hal yang menyedihkan untuk saya dengar. Mereka sekeluarga sudah sepakat akan menjual rumah mereka dan akan tinggal di rumah yang lebih kecil lagi. Walaupun terasa sangat berat melepaskan rumah kenangan yang sudah mereka tempati sejak kelahiran putri mereka yang pertama, tetapi mereka terpaksa harus melakukan hal ini karena sisa uang penjualan rumah akan mereka gunakan untuk membiayai kebutuhan mereka sehari hari karena mereka sudah tidak bekerja.

Jujur saya sangat sedih sekali mendengar hal ini, tetapi saya mengerti kebutuhan mereka untuk menyambung hidup, belum lagi renovasi rumah yang harus segera dilakukan karena sudah 25 tahun sejak ditempati rangka atap belum pernah diganti dan sudah banyak rayap. Bahkan bagian ruang tamu sudah pernah ambruk. Biaya renovasi yang cukup besar ini, juga merupakan pertimbangan lain untuk menjual rumah tersebut karena mereka tidak memiliki dananya
Mengenai keadaan pencari nafkah setelah terserang stroke, saya ikut memanjatkan puji syukur kepada Allah, karena pengobatan untuk kesehatannya tidak menuntut dana yang sangat besar, bisa dilakukan melalui terapi terapi pengobatan alternatif.

Ibu rumah tangga ini menurut saya sangat bijaksana sebagai orang tua. Dalam kesedihannya itu beliau sempat memberi nasihat kepada saya sisakanlah sedikit uang untuk ditabung dalam bentuk investasi jangka panjang seperti reksa dana, besar manfaatnya untuk hari tua.

Saya sangat sepaham dengan nasihat ini, kita wajib memilikinya. Belajar dari pengalaman hidup keluarga ini sebaiknya kita tidak menggantungkan diri kepada orang lain termasuk anak kita, terlepas mereka mampu membiayai kita di masa depan nanti. Dan dalam praktiknya saya anggap tabungan ini adalah cicilan untuk membiayai kebutuhan hidup di masa tua, karena selama kita hidup kita masih memerlukan biaya.

Setelah saya menyelesaikan semua cicilan yang manfaatnya sudah saya nikmati di masa lampau (KTA), sekarang saya lebih fokus pada cicilan yang manfaatnya akan saya nikmati di masa mendatang nanti.