Monthly Archives: May 2017

Siapkah Jika Rumah Sakit Mengharuskan Anda Menyiapkan Biaya Rp 1 Milyar?

Pertanyaan pada judul di atas kerap kali datang pada pikiran saya. Bagaimana seandainya rumah sakit meminta saya menyiapkan biaya Rp 1 Milyar karena saya terkena sakit kritis? Namun pertanyaan ini sudah tidak lagi muncul di pikiran saya setelah saya membeli polis Tapro dengan fasilitas CI100.

ci100-gambarCI100 (100 Kondisi Penyakit Kritis) adalah salah satu rider pada produk asuransi jiwa Tapro Allisya Protection Plus.

Rider CI100 (bersama proteksi penyakit kritis lainnya yaitu CI+) sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang dalam keluarga (ayah, ibu, anak, saudara), karena tidak ada orang yang kebal dari penyakit kritis dan jika terjadi akan membutuhkan biaya yang sangat besar, bisa ratusan juta sampai miliaran rupiah.

Selain masalah biaya perawatan, kejadian penyakit kritis pun berpengaruh pada kemampuan produktif. Jika ini terjadi pada pencari nafkah, berarti penghasilan yang biasanya diberikan untuk keluarga pun jadi berkurang bahkan hilang.

Rider CI100 bisa diambil mulai premi 300 ribu per bulan, untuk anak-anak bisa mendapatkan UP hingga 1 miliar. Untuk dewasa, preminya mulai 600 ribu per bulan untuk mendapatkan UP CI100 1 miliar, tergantung usia.

Selengkapnya tentang Rider CI100 bisa dibaca di bawah ini.

ci100-1

ci100-2

pengecualian-ci100

100 Ci 1

100 Ci 2

Untuk konsultasi asuransi secara GRATIS, hubungi saya:

Natanael Agen Allianz Indonesia Berlisensi

HP/WA : 08113436830

Advertisements

Jika Dana Terbatas, Asuransi Apa Yang Harus Diambil Lebih Dulu?

AsuransiJika dana untuk asuransi terbatas, kita perlu lebih bijak menentukan asuransi apa yang sebaiknya kita ambil sebagai prioritas. Dalam hal ini ada beberapa kekeliruan yang sering saya jumpai di lapangan, antara lain mendahulukan asuransi untuk anak, meniatkan asuransi untuk pendidikan, mengambil asuransi dengan uang pertanggungan yang minim, dan mendahulukan asuransi kesehatan (untuk salah satu anggota keluarga) daripada asuransi jiwa (untuk pencari nafkah).

Berikut ini saya sajikan beberapa contoh asuransi yang sebaiknya diambil jika dana terbatas. (Selain artikel ini, baca juga Prioritas Asuransi).

Contoh 1: Dana 300 ribu per bulan, belum punya asuransi apa pun.

Sebuah keluarga memiliki penghasilan 3 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 300 ribu per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Menurut saya, asuransi yang prioritas untuk diambil adalah asuransi jiwa untuk pencari nafkah (orangtua).

Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Blog myallisya.com memakai slogan “1 yang terpenting: melindungi penghasilan keluarga”, karena penghasilanlah yang membuat roda kehidupan keluarga bisa berjalan.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 300 ribu per bulan, ada dua pilihan:

  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 100 sd 500 juta, kecelakaan (ADDB) 100 sd 250 juta, cacat tetap total (TPD) 100 sd 250 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 100 sd 250 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 300 sd 800 juta.

Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, kondisi kesehatan, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau di antara anggota keluarga ada yang sakit dan harus dirawat inap?

Jika ingin ditanggung juga untuk asuransi kesehatan sekeluarga, maka pilihannya adalah:

  1. Mendaftar program JKN BPJS kelas 3 dengan premi per orang 25.500, empat orang berarti 102 ribu per bulan.
  2. Sisanya 200 ribu per bulan dibelikan asuransi jiwa untuk pencari nafkah. Tapi karena saat ini jarang sekali produk asuransi jiwa yang menyediakan premi bulanan 200 ribu, alternatifnya ambil premi triwulanan 600 ribuan, semesteran 1,2 juta, atau tahunan 2,4 juta.

Contoh 2: Dana 500 ribu per bulan, belum punya asuransi apa pun.

Mirip dengan contoh 1, kali ini sebuah keluarga memiliki penghasilan 5 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 500 ribu per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Pendapat saya:

  1. Asuransi jiwa untuk pencari nafkah dengan premi 300-400 ribuan per bulan.
  2. Asuransi kesehatan untuk sekeluarga melalui program JKN BPJS dengan premi 100-170 ribuan per bulan (tergantung kelas yang dipilih).

Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 400 ribu per bulan, ada dua pilihan:

  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 150 sd 650 juta, kecelakaan (ADDB) 150 sd 350 juta, cacat tetap total (TPD) 150 sd 350 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 150 sd 350 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 400 juta sd 1,2 miliar.

Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.

Asuransi kesehatan bermanfaat jika di antara anggota keluarga ada yang mengalami sakit, terutama sakit yang memerlukan rawat inap di rumah sakit. Asuransi kesehatan harus dianggarkan untuk seluruh anggota keluarga, karena kita tak pernah tahu siapa yang akan mengalami sakit.

Asuransi kesehatan memakai program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan. Dalam hal ini setidaknya ada dua pilihan:

  1. Kelas 3, dengan premi 25.500 per orang. Total 4 orang berarti 102 ribu per bulan.
  2. Kelas 2, dengan premi 42.500 per orang. Total 4 orang berarti 170 ribu per bulan.

Contoh 3: Dana 1 juta per bulan, belum punya asuransi apa pun

Kali ini kita mengambil contoh sebuah keluarga yang memiliki penghasilan 10 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 1 juta per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Pendapat saya:

  1. Asuransi jiwa untuk pencari nafkah, dengan premi 750 ribu per bulan. Jika penghasilan 10 juta itu diperoleh berdua suami-istri, maka preminya bisa dibagi dua, mungkin 400 ribu untuk suami dan 350 ribu untuk istri.
  2. Asuransi kesehatan melalui program JKN-BPJS, ambil kelas 1 (premi 59.500 per orang x 4, total 238 ribu per bulan).

Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 750 ribu per bulan, ada dua pilihan:

  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 250 juta sd 1 miliar, kecelakaan (ADDB) 250 sd 500 juta, cacat tetap total (TPD) 250 sd 500 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 250 sd 500 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 750 juta sd 2 miliar.

Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.

Contoh 4: Dana di bawah 1 juta per bulan, sudah punya asuransi kesehatan dari kantor

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sebuah keluarga sudah memiliki asuransi kesehatan dari perusahaan tempat pencari nafkah bekerja. Penghasilan 10 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 1 juta per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak.

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Pendapat saya: Maksimalkan dana yang ada untuk asuransi jiwa bagi pencari nafkah (ayah saja atau ayah dan ibu).

Tanya-Jawab

T: Dari keempat contoh tersebut, mengapa selalu disarankan ambil asuransi jiwa dulu, bukan asuransi kesehatan?

J: Pertama, risiko yang ditanggung dalam asuransi jiwa, yaitu cacat tetap, penyakit kritis, dan meninggal dunia, lebih besar dampak keuangannya daripada risiko yang ditanggung dalam asuransi kesehatan, yaitu rawat inap di rumah sakit. Kedua, seluruh anggota keluarga bergantung secara ekonomi kepada pencari nafkah (misalnya ayah). Selama ayah masih hidup, sehat, dan mampu bekerja normal, ekonomi keluarga akan tetap bisa berjalan. Ketiga, Bicara asuransi jiwa, kita bisa dengan tegas mengatakan: untuk pencari nafkah. Tapi jika mendahulukan asuransi kesehatan, kita akan dihadapkan pada pertanyaan: siapa dulu yang harus diberikan askes? Apakah ayah, ibu, anak pertama, atau anak kedua? Kalau yang diberikan askes itu ayah, bagaimana kalau yang sakit ibu atau anak? Kalau yang diberikan askes itu anak pertama, bagaimana kalau yang sakit anak kedua?

T: Mengapa untuk asuransi kesehatannya selalu disarankan pakai JKN-BPJS, bukan asuransi swasta?

J: Pertama, dana yang ada cukupnya memang untuk BPJS saja. Kedua, kalau pakai askes swasta, premi 300 ribu per bulan hanya cukup untuk askes satu orang, itu pun dengan plan yang rendah (kamar 200 ribu). Pertanyaannya, manfaat askes ini harus diberikan kepada siapa? Ayah, ibu, anak pertama, atau anak kedua? Ketiga, ini juga yang membedakan asuransi Allianz dengan asuransi lain, yaitu kami selalu menyarankan para nasabah untuk mengikuti program JKN dari BPJS Kesehatan.

T: Bagaimana dengan asuransi pendidikan?

J: Dana yang dialokasikan untuk persiapan pendidikan anak mestinya di luar dari dana yang dianggarkan untuk asuransi jiwa dan kesehatan. Jadi, untuk persiapan pendidikan anak, tetap harus menabung atau berinvestasi lagi secara tersendiri. Kalau mau disatukan dengan asuransi boleh juga, alokasinya ditaruh sbg top up/saver. Tapi keinginan untuk mempersiapkan pendidikan anak jangan sampai mengurangi manfaat asuransi jiwa untuk pencari nafkah.

Baca juga: Prinsip dan Tips Persiapan Dana Pendidikan Anak.

T: Bagaimana dengan asuransi rawat jalan dan melahirkan?

J: Rawat jalan dan melahirkan perlu dipersiapkan, tapi sebaiknya tidak lewat asuransi. Biaya rawat jalan tidaklah besar, dan biaya melahirkan pun masih terukur. Dibandingkan rawat inap, penyakit kritis, cacat tetap, atau meninggal dunia, mana yang lebih besar dampak keuangannya? Sementara premi rawat jalan dan melahirkan itu mahal sekali, bahasa kerennya “not worth it“.

Jika anda punya JKN-BPJS, di situ sudah tercakup manfaat rawat jalan dan persalinan. Jika dirasa masih kurang, anda bisa tambah dengan dana darurat. Khusus untuk melahirkan, sebaiknya ditambah pula dengan menabung secara khusus, apalagi keperluan persalinan bukan hanya biaya rumah sakit, tapi juga pakaian bayi, tasyakuran, perawatan ibunya, dll yang semua itu tidak ditanggung asuransi mana pun.

T: Tentang contoh 4, keluarga tsb sudah punya askes dari kantor. Kalau mau nambah askes lagi bagaimana?

J: Boleh saja, tapi kalau dananya terbatas (1 juta atau kurang), penuhi dulu kebutuhan asuransi jiwanya.

T: Memangnya berapa kebutuhan asuransi jiwa?

J: Sederhananya, jika pencari nafkah meninggal dunia, uang pertanggungan yang diwariskan harus bisa menggantikan penghasilan yang biasanya dia berikan untuk keluarganya. Minimal untuk biaya hidup sekeluarga dan pendidikan anak-anak sampai mereka mandiri. Atau lebih minimal lagi, cukup jika dijadikan modal usaha untuk melanjutkan kehidupan ekonomi keluarga.

Misalnya, penghasilan 3 juta per bulan, anggaran asuransi 300 ribu per bulan. Untuk usia 30 tahun, standarnya mendapatkan UP 150 juta (ditambah ADDB, TPD, dan CI100 @150 juta). Jika dia meninggal, keluarganya memperoleh uang 150 juta. Uang ini mungkin tidak cukup kalau hanya dihabiskan begitu saja untuk biaya hidup tiap bulan sampai anak mandiri. Tapi kalau dijadikan modal usaha, hasilnya bisa lumayan dan dana pokoknya pun bisa berkembang.

Tapi kalau premi 300 ribu per bulan dimaksimalkan di manfaat meninggal, maka bisa memperoleh UP hingga 800 juta. Uang 800 juta, seandainya didepositokan saja dengan bunga 5% (40 juta per tahun), itu cukup untuk menggantikan penghasilan 3 juta per bulan.

Cuma kalau dimaksimalkan di manfaat meninggal, risiko penyakit kritis dan cacat tetap belum ditanggung.

T: Seberapa penting asuransi yang menanggung risiko cacat tetap (karena sakit ataupun kecelakaan) dan penyakit kritis? Apakah manfaat meninggal saja tidak cukup?

J: Pertama, manfaat meninggal saja akan cukup seandainya seseorang TIDAK MUNGKIN mengalami cacat tetap dan penyakit kritis. Kedua, risiko cacat tetap dan penyakit kritis bisa membuat seseorang tidak bisa bekerja, dan jika tidak bekerja, dia tidak akan memperoleh penghasilan. Jadi, bicara melindungi penghasilan keluarga, mengambil manfaat meninggal saja belum cukup.

T: Tentang risiko penyakit kritis, apakah tidak cukup dengan asuransi kesehatan saja?

J: Pertama, bicara penyakit kritis semacam kanker, jantung, stroke, gagal ginjal, jelas sekali ada kebutuhan biaya yang sangat besar, bisa ratusan juta sd miliaran. Asuransi kesehatan biasa saja tidak mungkin cukup. Kedua, di samping itu ada satu akibat lain yang sering ditimbulkan penyakit kritis, yaitu berkurangnya kemampuan bekerja, atau bahkan tidak bisa bekerja sama sekali, baik untuk sementara ataupun selamanya. Yang dibutuhkan di sini ialah sejumlah uang tunai (UP) untuk menggantikan penghasilan yang hilang karena tidak bisa bekerja.

 

sumber: https://myallisya.com/2014/12/16/jika-dana-terbatas-asuransi-apa-yang-harus-diambil-lebih-dulu/

Personal Care, Asuransi Kecelakaan Diri dengan Beragam Manfaat

Fakta KecelakaanKecelakaan itu kejadian yang tidak terduga. Orang yang sehat ataupun sakit, berhati-hati maupun ceroboh, dapat mengalami kecelakaan. Orang dapat menjaga diri dari sakit dengan menerapkan pola hidup sehat, tapi tidak dari kecelakaan.

Pastikan asuransi anda dan keluarga dilengkapi dengan asuransi kecelakaan diri. Allianz meluncurkan Personal Care untuk memenuhi kebutuhan proteksi anda.

Keunggulan Personal Care

  1. Perlindungan untuk individu dan bisa menyertakan anggota keluarga.
  2. Manfaat yang komprehensif, tidak hanya meninggal atau cacat, tapi juga biaya medis akibat kecelakaan, santunan rawat inap, dan tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga.
  3. No-claim bonus berupa penambahan uang pertanggungan sebesar 5% jika memperpanjang polis tahun berikutnya.
  4. Tersedia dalam empat plan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran anda.
  5. Layanan call center 24 jam
  6. Berlaku di seluruh dunia.

Tabel Manfaat Personal Care

Tabel Manfaat Personal Care

Tabel Premi Personal Care

Tabel Premi Personal Care

Ketentuan Produk

Usia masuk Dewasa: 18 sd 60 tahun (sebelum usia 61 tahun)Anak-anak: 15 hari sd 17 tahun (sebelum usia 18 tahun)
Maksimum masa perlindungan Polis dapat diperpanjang sampai usia 65 tahun (sebelum usia 65 tahun)
Batas pertanggungan anak-anak 50% dari batas pertanggungan orang dewasa
Polis keluarga 2 orang dewasa (tertanggung dengan suami/istri)Untuk perlindungan anak-anak, polis ini harus diikuti sedikitnya 1 orang dewasa.
No claim bonus (apabila tidak ada klaim) Tambahan 5% untuk uang pertanggungan meninggal dunia di tahun berikutnya.
Pengecualian pekerjaan Ø  Atlet olahraga profesionalØ  Underground mining atau offshore mining (pada saat bertugas aktif)

Kelas Pekerjaan

Kelas 1: Pekerjaan yang tidak bersifat manual, bersifat administratif atau ketatausahaan, di kantor atau di tempat yang tidak berbahaya. Pelajar termasuk kategori ini.

Kelas 2: Pekerjaan yang bersifat supervisi atau bepergian di luar kantor untuk keperluan bisnis namun tidak melibatkan pekerjaan yang bersifat manual.

Kelas 3: Pekerjaan yang sesekali bersifat manual namun tidak selalu bersifat berbahaya, dan melibatkan penggunaan alat atau mesin (kecuali mesin pengerjaan kayu)

Kelas 4: Pekerjaan yang bersifat manual dalam lingkungan yang berbahaya dan melibatkan penggunaan alat atau mesin.

Definisi Kecelakaan

Kejadian yang muncul secara tiba-tiba dan tidak terduga, dan menyebabkan tertanggung cedera, yang sifat dan tempatnya dapat dibuktikan secara medis.

Termasuk dalam definisi kecelakaan:

  1. Keracunan akut sebagai akibat dari hal penghisapan dari uap dan gas yang beracun, dengan pengecualian keracunan akibat dari narkotika atau unsur lain yang digunakan dengan sengaja oleh tertanggung dan dari mana suatu efek yang berbahaya dapat diharapkan, begitu juga untuk penggunaan obat-obatan secara umum.
  2. Infensi/peradangan melalui unsur yang berisi benih/kuman pathogenic yang memasuki tubuh tertanggung seperti hasil dari tanpa disengaja ikut jatuh ke dalam air atau zat padat atau cairan lainnya.
  3. Mati lemas dan tenggelam.
  4. Terdampar yang disebabkan oleh suatu bencana eksternal mendadak, seperti kecelakaan kapal, pendaratan darurat, roboh, tetapi hanya terbatas pada yang mengakibatkan kematian sebagai akibat dari rasa lapar atau dahaga, atau kelelahan.

Tabel Persentase Cacat Tetap

Tabel Persentase Cacat Tetap

Cara Pendaftaran

Mengisi form aplikasi Personal Care dengan melampirkan:

  1. Fotokopi KTP calon tertanggung
  2. Fotokopi Akta Lahir anak (jika menyertakan anak)
  3. Fotokopi Kartu Keluarga (jika sekeluarga)
  4. Bukti transfer premi ke virtual account Allianz

Keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi:

Natanael HP/WA: 08113436830

Apakah UP Jiwa Perlu Dinaikkan Seiring Waktu?

Pertanyaan pada judul di atas berkaitan dengan fakta bahwa inflasi membuat nilai uang semakin menurun seiring waktu. Misalnya kita punya asuransi jiwa dengan UP 1 miliar. Pada masa sekarang, uang tersebut mungkin terasa besar, tapi 10 atau 20 tahun kemudian, nilainya akan mengecil. Dengan tingkat inflasi 8% per tahun, misalnya, maka uang 1 miliar pada 10 tahun mendatang akan setara dengan uang 472 juta saat ini, dan 20 tahun mendatang setara dengan 205 juta.

Tapi apakah lalu UP jiwa harus dinaikkan setiap periode tertentu? Jawabannya bisa ya bisa tidak.

Ya, jika seiring waktu, penghasilan dan gaya hidup kita meningkat secara signifikan, sehingga jika terjadi klaim, UP yang ada tidak mencukupi untuk menopang gaya hidup keluarga yang kita tinggalkan.

Tidak, jika seiring waktu, aset-aset kita bertambah dan utang-utang kita berkurang. Dari tadinya tidak punya rumah jadi punya rumah, dari tadinya punya utang jadi tidak punya utang, dari tadinya punya simpanan emas 10 gram jadi 100 gram, dan seterusnya. Aset-aset yang kita miliki dapat berfungsi sama seperti UP jiwa, yaitu sama-sama bisa dijadikan warisan.

Jika kita bisa mengelola gaya hidup dan pengeluaran dengan benar, seharusnya aset-aset kita bertambah seiring waktu. Pertambahan aset yang normal adalah seimbang dengan tingkat inflasi, dan yang ideal adalah lebih besar daripada inflasi.

Jika ini yang terjadi (aset bertambah), maka kebutuhan UP jiwa kita tidak akan sebesar sebelumnya, sehingga menurunnya nilai UP tidak lagi menjadi masalah karena tertutupi oleh penambahan aset-aset kita.

Namun jika meningkatnya penghasilan dan gaya hidup tidak diimbangi dengan meningkatnya aset, kebutuhan UP jiwa kita memang akan meningkat. Pada kasus ini, UP jiwa kita perlu dinaikkan setelah periode tertentu. Tapi perlu diingat juga, bahwa peningkatan UP jiwa berarti peningkatan premi yang harus dibayar. Dan karena usia pun sudah bertambah lebih tua, maka penambahan preminya pun akan lebih besar lagi.

Tinggal sekarang, kita termasuk kategori yang mana: gaya hidup yang meningkat ataukah aset yang bertambah? []

Kesimpulan

  1. UP jiwa perlu dinaikkan jika pengeluaran dan gaya hidup kita meningkat, sementara aset kita tidak bertambah.
  2. UP jiwa tidak perlu dinaikkan jika aset-aset kita bertambah, dan penambahannya lebih tinggi daripada peningkatan gaya hidup.

 

sumber: https://myallisya.com/2012/03/06/apakah-up-jiwa-perlu-dinaikkan-seiring-waktu/

Perbedaan dan Persamaan antara Tapro Syariah dan Tapro Konvensional

Sampul polis Tapro Allisya Protection Plus

Allianz menyediakan dua produk unitlink (biasa disebut Tapro). Yang satu menggunakan skema syariah, nama produknya Allisya Protection Plus. Satunya lagi menggunakan skema nonsyariah atau konvensional, nama produknya Smartlink Flexi Account Plus.

Kepada saya sering ditanyakan, apa perbedaan antara Tapro yang syariah dan Tapro yang konvensional. Saya biasanya menjawab, perbedaan keduanya sama seperti perbedaan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional. Sedangkan dari segi premi dan besarnya manfaat hampir tidak ada perbedaan.

Perbedaan Tapro Syariah dan Tapro Konvensional

Setidaknya ada enam perbedaan penting antara produk Tapro syariah dan Tapro konvensional. Selebihnya hanya perbedaan istilah.

  1. Prinsip Pertanggungan

Asuransi syariah menggunakan prinsip yang disebut risk sharing (pembagian risiko di antara sesama peserta), sedangkan asuransi konvensional menggunakan prinsip risk transfering (pengalihan risiko dari tertanggung kepada perusahaan asuransi).

  1. Kontrak atau Akad

Kontrak pada asuransi syariah menggunakan dua akad, yaitu akad hibah (pemberian sukarela) dan akad wakalah bil ujrah (arti harfiah: penyerahan dengan upah). Akad hibah: Para peserta memberikan dananya untuk menolong para peserta yang mengalami suatu musibah. Akad wakalah bil ujrah: Para peserta menyerahkan pengelolaan dana kepada perusahaan asuransi dan sebagai pengelola dana, perusahan asuransi berhak mendapatkan upah. (Redaksi kontrak polis Tapro Allisya Protection Plus bisa dilihat diSINI)

Akad pada asuransi konvensional menggunakan akad jual-beli biasa (tadabuli), yaitu pihak tertanggung membeli proteksi kepada pihak penanggung (perusahaan asuransi), dan pihak penanggung menjual proteksi kepada pihak tertanggung.

  1. Penyimpanan Dana Klaim

Pada asuransi syariah, dana yang akan digunakan untuk membayar klaim disimpan di rekening terpisah dari rekening perusahaan. Rekening ini disebut Rekening Dana Tabarru. Dana tabarru atau dana kebajikan ini adalah milik para peserta.

Pada asuransi konvensional, rekening dana klaim tidak ada kewajiban dipisahkan dengan rekening perusahaan.

  1. Penyaluran Dana Investasi

Penyaluran dana pada unitlink syariah (termasuk Tapro Allisya Protection Plus) ditempatkan pada instrumen-instrumen investasi yang terbebas dari hal-hal yang haram atau syubhat seperti maysir (judi), gharar (ketidakpastian), dan riba (bunga). Contohnya, sektor perbankan konvensional, minuman keras, dan rokok.

Pada asuransi konvensional, hal ini tidak mendapat perhatian.

  1. Adanya Dewan Pengawas Syariah

Asuransi syariah diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah dari DSN-MUI. Untuk asuransi syariah dari Allianz, anggota DPS-nya adalah (1) Drs. H. Mohamad Hidayat, MBA, MH, (2) Dr. H. Hasanudin, dan (3) H. Rahmat Hidayat, SE, MT, Ph.D.

Asuransi konvensional tentunya tidak memiliki dewan pengawas syariah.

Kedua-duanya tentu saja mendapat pengawasan dari otoritas yang berwenang, seperti OJK.

  1. Pengecualian Meninggal Dunia

Dalam asuransi jiwa syariah, bunuh diri dikecualikan selamanya. Sedangkan dalam asuransi konvensional, bunuh diri hanya dikecualikan di dua tahun pertama, setelah itu tetap ditanggung.

Demikian beberapa perbedaan yang pokok antara Tapro syariah dan Tapro konvensional. Sekadar mengulang penjelasan di atas, perbedaan keduanya saya sajikan dalam tabel berikut:

No Keterangan Tapro Syariah (Allisya Protection Plus) Tapro Konvensional (Smartlink Flexi Account Plus)
1 Prinsip pertanggungan Risk sharing Risk transfering
2 Kontrak Akad hibah dan akad wakalah bil ujrah Akad jual-beli biasa
3 Penyimpanan dana klaim Rekening Dana Tabarru (milik para peserta, dipisahkan dari rekening perusahaan) Rekening milik perusahaan
4 Penyaluran investasi Hanya pada instrumen investasi yang sesuai syariah Islam Boleh di mana saja
5 Dewan Pengawas Syariah Ada Tidak ada
6 Pengecualian meninggal dunia Bunuh diri Bunuh diri ditanggung setelah polis berjalan 2 tahun

Persamaan Tapro Syariah dan Tapro Konvensional

Seperti disebutkan di atas, dari segi premi dan manfaat, Tapro syariah maupun konvensional hampir tidak ada perbedaan, kecuali dalam beberapa detail yang tidak terlalu penting. Lebih lengkapnya bisa dilihat dalam tabel berikut:

No Keterangan Tapro Syariah (Allisya Protection Plus) Tapro Konvensional (Smartlink Flexi Account Plus)
1 Biaya administrasi (per bulan) Rp 26.500 Sama
2 Biaya akuisisi(Persentase dihitung dari premi berkala) Tahun 1: 75%Tahun 2: 40%Tahun 3: 15%Tahun 4: 7,5%

Tahun 5: 7,5%

Tahun 6 dst: 0%

Sama
3 Alokasi investasi(Persentase dihitung dari premi berkala) Tahun 1: 25%Tahun 2: 60%Tahun 3: 85%Tahun 4: 92,5%

Tahun 5: 92,5%

Tahun 6 dst: 105,26%

Sama
4 Biaya asuransi (tabarru) Tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan UP Sama
5 Biaya pengelolaan investasi (per tahun) – Fix income fund: 2%- Balanced fund: 2%- Equity fund: 2% – Money market fund: 1%- Fix income fund: 2%- Balanced fund: 2%– Balanced plus fund: 2%

– Equity fund: 2%

6 Selisih harga jual-beli unit 5% Sama
7 Biaya top up berkala dan top up tunggal Mengikuti selisih harga jual-beli unit 5% Sama
8 Rider (asuransi tambahan) 1. ADDB2. TPD3. CI, CI+, atau CI1004. HSC+

5. Flexicare Family

6. Termlife

7. Payor Benefit

8. Payor Protection

9. Spouse Payor Benefit

10. Spouse Payor Protection

(Keterangan tiap manfaat, bisa dilihat di SINI).

Sama
9 Keterangan manfaat tiap rider Sama Sama
10 Usia masuk tertanggung Minimum 15 hari, maksimum 70 tahun Sama
11 Usia masuk pemegang polis Minimum 18 tahun Sama
12 Mata uang Rupiah Sama
13 Premi minimum – 300 ribu (bulanan)- 625 ribu (triwulanan)- 1 juta (semesteran)– 1,5 juta (tahunan) Sama
14 Minimum top up tunggal 1 juta Sama
15 Minimum penarikan dana 1 juta Sama
16 Minimum saldo jika ada penarikan dana 2 juta rupiah Sama
17 Cara pembayaran premi Transfer, autodebet tabungan, kartu kredit Sama

Demikian.

 

 

sumber : myallisya.com/

Keunggulan Rider Critical Illness dari Tapro Allianz

critical-illness-probability

Program Allisya Protection Plus atau Tapro dari Allianz menyediakan produk rider yang sangat penting untuk dimiliki, yaitu Critical Illness. Rider ini menanggung 49 jenis penyakit kritis. Tersedia dalam dua versi, yaitu CI+ (Critical Illness Plus, klaim tidak mengurangi UP dasar, berlaku sampai usia 70 tahun) dan CI (Critical Illness, klaim mengurangi UP dasar, berlaku sampai usia 85 tahun). (Selengkapnya tentang rider CI dan CI+, klik di sini).

Berikut adalah keunggulan-keunggulan produk ini. Semoga bermanfaat untuk anda yang tengah memilih produk asuransi penyakit kritis, karena nama produk sama belum tentu ketentuannya sama.

1.       Tanpa syarat survival period (masa bertahan hidup)

Survival period atau masa bertahan hidup adalah jangka waktu yang disyaratkan untuk tetap hidup ketika seseorang terdiagnosa sakit kritis. Klaim penyakit kritis baru dapat diajukan jika survival period telah terlewati. Ada yang mensyaratkan harus bertahan hidup selama 14 hari, ada yang 15 hari, ada yang 30 hari. Jika yang bersangkutan meninggal dunia dalam masa survival period, klaim penyakit kritisnya tidak bisa dicairkan. Tapi itu di tempat lain.

Di Allianz, tidak ada syarat survival period. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami serangan jantung lalu meninggal, maka ahli warisnya memperoleh dua manfaat: UP penyakit kritis dan UP meninggal dunia. Dengan catatan, sebelum meninggal dunia sempat menjalani diagnosa untuk mendapatkan bukti medis serangan jantung.

2.       Klaim dapat diajukan begitu terdiagnosa memenuhi syarat kondisi kritis, tanpa harus menjalani pengobatan/operasi terlebih dahulu

Beberapa penyakit kritis dapat ditunda jadwal operasinya. Nah, sebelum operasi dilakukan, klaim dapat diajukan asalkan kelengkapan syarat-syaratnya terpenuhi.

3.       Menanggung kondisi cacat tetap total

Di antara daftar 49 penyakit kritis dari Allianz, ada tiga yang masuk kategori cacat tetap total, yaitu: 1) kebutaan; 2) kelumpuhan; 3) hilangnya kemandirian hidup. Apa pun nama penyakitnya, asalkan memenuhi tiga kondisi ini, maka klaim penyakit kritis dapat diajukan.

4.       Menanggung kondisi kritis yang disebabkan kecelakaan

Proteksi penyakit kritis dari Allianz tidak hanya bicara tentang kondisi kritis yang disebabkan oleh penyakit, tapi juga kondisi kritis yang disebabkan oleh kecelakaan. Di antara 49 penyakit kritis, setidaknya ada 10 yang dapat diakibatkan oleh kecelakaan, yaitu: 1) kebutaan; 2) kelumpuhan; 3) hilangnya kemandirian hidup; 4) Tuli; 5) Bisu; 6) Trauma kepala serius; 7) Koma; 8) Terminal illness; 9) Luka bakar; dan 10) Terputusnya akar-akar syaraf plexus brachialis. Selain itu, rusaknya organ-organ tubuh penting (seperti ginjal dan tulang belakang) juga dapat disebabkan oleh kecelakaan.

5.       Menanggung terminal illness

Di antara daftar 49 penyakit kritis dari Allianz, salah satunya adalah Terminal Illness. Apa pun nama penyakitnya, asalkan dokter telah mendiagnosa umur yang bersangkutan tidak akan melebihi 12 bulan, maka klaim penyakit kritis dapat diajukan.

6.       Menanggung transplantasi organ tubuh penting

Kinerja organ-organ tubuh penting menjadi perhatian utama dalam rider CI+ Allianz. Organ tubuh seperti jantung, ginjal, pankreas, liver, paru-paru, dan sumsum tulang merupakan penyangga kehidupan manusia. Memiliki proteksi yang dapat digunakan untuk membiayai penggantian organ-organ tersebut akan memberikan rasa aman yang diperlukan oleh setiap orang.

7.       Premi dan Biaya Asuransinya Murah

Di atas segala kelebihannya, harga adalah faktor yang sangat penting. Rider CI+ dari Allianz sangat murah, dan apalagi rider CI lebih-lebih lagi sangat murah. Mulai dengan premi 300 ribu per bulan, seorang pria dan wanita usia 30-an tahun dapat memiliki proteksi penyakit kritis sebesar 300 juta + proteksi jiwa 300 juta. Dan jika ingin terproteksi sebesar 1 miliar (UP jiwa 1 miliar + penyakit kritis 1 miliar), preminya 1 juta saja per bulan. Biaya asuransinya pun relatif lebih murah daripada produk sejenis di asuransi lain. Silakan dicek sendiri.

Kesimpulan

Dari berbagai keunggulan di atas, jelas bahwa rider Critical Illness dari Allianz adalah produk yang serba meliputi, karena menanggung hampir semua kondisi terburuk yang mungkin dialami manusia. Dia beririsan dengan rider ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability) pada kondisi cacat total. Jadi, cukup dengan memiliki proteksi jiwa ditambah rider Critical Illness, maka proteksi dasar kita sudah tercukupi. Namun lebih baik lagi jika ditambah ADDB dan TPD, karena meski beririsan, ada juga perbedaannya dan ketiga produk ini tidak saling mengurangi.

Ingin mendaftar asuransi sakit kritis Allianz hubungi:

Natanael

HP/WA 08113436830

Ini Serangan Jantung, Bukan Masuk Angin!

Berikut ini saya bagikan pengalaman wartawan dari blog rekan saya myallisya.com

Pada produk Tapro Allianz, gejala-gejala seperti dialami wartawan Kompas.com, M Latief, ini masuk kategori Serangan Jantung Pertama (rider CI+ ataupun CI100, kriteria lengkap ada di bagian bawah). Simak bagaimana kisahnya lolos dari serangan maut agar kita semua waspada. (Sumber artikel: Kompas.com).

M Latief saat berlibur dengan kedua putranya, Azka dan Azzam.

KOMPAS.com — Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dan tangan memegangi dada ketika pingsan. Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.

Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.

Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.

Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.

Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.

Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.

“Aneh, kok begini,” batin saya.

Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.

Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.

Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.

“Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin,” kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).

Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.

Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.

Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.

Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.

Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya,” kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.

Azka, anak saya yang nomor satu memotong. “Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter,” ujar Azka.

Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.

“Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita pulang sekarang saja ya,” kata istri saya.

“Enggak, ini aneh. Rumah sakit… ke rumah sakit sekarang,” kata saya.

“Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu,” jawab istri saya.

Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.

Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.

Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.

“Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini,” kata istri saya.

Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah, feeling saya bilang lain.

“Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung,” bentak saya.

Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.

Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.

“Itu taksi,” kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.

“Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat,” ujar istri saya.

Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.

“Tuhan… saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati,” batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.

Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.

Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.

“Dada sesak, keringat dingin,” ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.

Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.

“Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan,” ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.

Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.

Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.

Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.

“Habiskan, Pak,” ujarnya.

Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.

Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.

“Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya,” ujar dokter muda tersebut.

Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua “pahlawan” saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.

Pembengkakan jantung

Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.

Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun suka berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.

Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru pulang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.

“Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok,” kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.

Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belum ngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.

Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.

Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa….

Editor :
Lusia Kus Anna
Kriteria Serangan Jantung Pertama dalam rider CI+ dan CI100 Tapro Allianz
Infark sebagian otot jantung sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jantung. Kriteria diagnostik yang harus dipenuhi pada saat terjadinya serangan tersebut adalah harus memenuhi 3 dari 5 kriteria tersebut di bawah ini di mana sesuai dengan diagnosa serangan jantung pertama:
1. Adanya nyeri dada khas pada saat serangan;
2. Terjadinya perubahan-perubahan gambaran elektrokardiogram yang khas untuk infark myocardial stadium dini;
3. Terjadinya peningkatan pada kadar enzim jantung CK-MB;
4. Terjadinya peningkatan Troponin (T or I)
5. Left Ventrikular Ejection fraction kurang dari 50% (lima puluh persen) yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih setelah serangan.