UP Jiwa Dan UP Sakit Kritis, Mana Yang Harus Dimaksimalkan Proteksinya

Menjawab judul diatas, saya akan memberikan contoh gambaran kasus.

Ada suatu kasus dimana suami ingin siapkan polis untuk dirinya dengan UP jiwa maksimal dan UP CI seadanya saja. Sementara istri inginnya polis suami yang UP CI sama besar dengan UP jiwa.

Sebenarnya tidak ada rumusan baku mengenai hal ini.  Kebutuhan tiap individu dan keluarganya akan berbeda-beda.  Meskipun demikian, beberapa hal di bawah ini bisa menjadi dasar pertimbangan:
UP JIWA

Kalau seseorang meninggal, maka “urusan dunia”nya sudah selesai.  Maka yang menjadi langkah selanjutnya adalah keluarga yang ditinggalkan.  Istri dan anak  akan berpikir bagaimana “move on” dari kondisi berduka dan meneruskan hidup mereka secara layak. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan keluarga untuk mendiang suami, kecuali mendoakan.   Umumnya tidak perlu ada biaya lagi untuk mendiang suami.  Kecuali di beberapa daerah di Indonesia yang masih menjaga adat budaya daerahnya, mungkin masih ada beberapa “acara” yang butuh biaya.  Kalau mendiang meninggalkan warisan yang cukup, maka sebagian dapat digunakan untuk membiayai “acara” tersebut dan sebagian lainnya akan dapat bermanfaat bagi ahli waris meneruskan hidup.  Masalah selesai.

UP SAKIT KRITIS
Pertama,  Jika seseorang mengalami sakit kritis, artinya: dia masih hidup (artinya: ada aktifitas harian yang dilakukan), tapi kondisinya tidak sehat alias sedang sakit. Sakitnya kritis, biasanya menjadi berkurang kemandiriannya, maka aktifitas hariannya harus dibantu orang lain.  Sakit kritis pasti butuh dana besar untuk pengobatan dan pemulihan.
Dengan kondisi tersebut, maka kebutuhan finansial akan bertambah: biaya si sakit, biaya suster pribadi, biaya akomodasi dan transportasi keluarga yang mengantar/menemani ke RS, biaya hidup harian keluarga yang sehat di rumah, biaya hidup bulanan, cicilan, tagihan, tabungan, cita-cita pendidikan terbaik untuk anak. Biaya-biaya tersebut tetap harus ada, padahal orangnya sedang sakit.
Kalau butuhnya tenaga, pasti masih ada yang mau membantu tenaganya.
Tapi kalau butuhnya dana? Jika menyangkut hal-hal berbau “dana”, bahkan yang namanya saudara pun bisa jaga jarak … Kalaupun bisa galang dana, seberapa besar bisa terkumpul?  Seberapa cepat bisa terkumpul?  Seberapa lama dana tersebut bisa menopang kebutuhan berobat si sakit ataupun kebutuhan hidup keluarga yang sehat?
Sakit berat/kritis, selama urusannya dengan Rumah Sakit, bisa di-cover oleh Asuransi Kesehatan (Swasta ataupun BPJS).  Namun, untuk urusan di luar Rumah Sakit?  Selama perawatan di rumah, sudah pasti harus pakai uang sendiri, tidak bisa lagi pakai asuransi kesehatan.
Kedua, sakit kritis itu bukan penyakit yang bisa sembuh dalam hitungan hari atau minggu, namun bisa berbulan-bulan.  Contoh: stroke.  Pasien dirawat di RS mungkin hanya 5-7 hari, lalu pulang.  Setelah itu, apakah bisa langsung bekerja lagi?  Tidak, pasien harus istirahat di rumah sekitar 3 bulan.  Selama 3 bulan itu, bagaimana posisinya di kantor?  Kosong.  Apakah perusahaan tetap akan menunggu kekosongan itu sampai karyawannya sembuh?  Tentu tidak.  Pasti perusahaan akan mencari pengganti yang jauh lebih berkualitas, atau minimal setara kualifikasinya dengan Anda.
Adanya efek lanjutan dan jangka panjang dari sakitnya: kondisi tubuh tidak sebugar seperti sebelumnya, kemampuan bekerja menurun, produktifitas berkurang, penghasilan bisa berkurang atau bahkan stop (perusahaan mencari karyawan pengganti dirinya).  Si sakit masih hidup, butuh biaya tambahan bagi dirinya, selain biaya hariannya.  Keluarga yang sehat juga butuh biaya.  Cicilan, tagihan, tabungan, semua biaya ini juga harus diselesaikan.
 Jika kondisinya sama2 hanya punya dana “seadanya”:
1.  kalau orangnya sudah meninggal, artinya “case closed”, tinggal mikirin masa depan.
2.  kalau orangnya masih hidup tapi kondisinya sakit kritis/sakit berat? Maka belum bisa “case closed”.
Harus terus berikhtiar melakukan pengobatannya, membantu pemulihannya, dibutuhkan support dari keluarga besar agar si sakit bisa tumbuh lagi kepercayaan dirinya sehingga semangat juga untuk segera pulih.
Pada kondisi ini, keluarga yang sehat jadi bertambah aktifitasnya: harus mikirin anggota keluarga lainnya (anak yang masih butuh perhatian orangtuanya),  jadi repot harus bolakbalik antar si sakit ke RS, otomatis aktifitas rutinnya terganggu (harusnya kerja, jadi harus ijin untuk antar ke RS). Anak2 di rumah siapa yang jaga? Oma-Opanya? Susternya? Pengeluaran jadi bertambah. Yang semula hanya perlu ongkos bensin rumah-kantor pp, jadi bertambah ada ongkos rumah-RS pp.  Ini jika pengobatan masih berada di kota yang sama.  Bagaimana jika keluarga mengupayakan pengobatan ke luar negeri???
Sakit kritis butuh biaya besar saat sakit terjadi.  Sakit kritis juga masih butuh biaya besar, meski sudah “tidak sakit”, yaitu => kondisi kesehatan tidak se-fit seperti sebelumnya, hilangnya kemandirian hidup, aktifitas harian harus dibantu orang lain, biaya hidup bulanan keluarga tetap ada.
 Jadi, antara 2 kondisi itu, antara meninggal dunia dan sakit kritis:
  • Mana yang lebih butuh banyak biaya?
  • Apakah sudah siap dananya?
Pastikan bahwa sumber dananya bukan dari “tabungan persiapan pendidikan anak”   Jika hal ini terjadi, sia-sia upaya Anda menyiapkan dana pendidikan anak, bisa buyar impian anak bersekolah sesuai keinginannya.
Konsultasi dan pendaftaran polis asuransi Allianz hubungi:
Natanael HP/WA 08113436830
Sudah punya askes? Keputusan Anda tepat karena akan ada penggantian biaya perawatan RS.  Cek lagi polis askesnya, apakah Anda sudah memilih plan askes yang baik, atau malah hanya punya plan askes paling minimal “yang penting asal punya askes”?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s