Nasabahku Kali Ini Seorang Pendeta

Aku sungguh tidak menduga, ternyata wanita yang sudah berusia setengah abad dan sekarang duduk di depanku adalah seorang pendeta di salah satu gereja di Surabaya. Dan semenjak itu, aku tersadar bahwa bicara tentang hidup dan mati hanya ada dalam tangan Tuhan saja. Bukan ditangan manusia.

“Saya tidak takut terkena sakit kritis, pak,” jawabnya ke arahku saat aku menjelaskan tentang dampak jika manusia terkena sakit kritis. Aku tiba-tiba tersadar dan terhenyak dari alam bawah sadar setelah dia menjawab seperti itu. Singkat tapi jawaban ini membuatku berpikir ulang. Kata-kata apa yang selanjutnya meluncur dari ibu pendeta ini.

“Ada orang yang hampir mati, bisa sembuh karena saya doakan.” jawabnya bersaksi.

“sungguh, tangan dan kata-kata ibu dipakai Tuhan memberkati dan menyembuhkan semua orang.” jawabku ke ibu pendeta itu.

“Kalau bapak tidak percaya, ini pak, saya ada buktinya.” Jawabnya sambil menunjukkan video tentang kuasa Tuhan menjembuhkan orang sakit melalui ibu ini. Ajaib memang.

Dan, yang membuatku heran lagi, tiba-tiba ibu ini bilang ke saya,

“Saya menelpon bapak tujuannya untuk mendaftar asuransi. Khususnya asuransi jiwa dan sakit kritis.”

Aku kaget setengah mati. Wah, dugaanku salah. Dia seorang pendeta yang bisa menyembuhkan orang terkena sakit kritis. Tiba-tiba memintaku untuk mendaftarnya sebagai nasabah dengan manfaat sakit kritis dan jiwa.

Baik bu, ingin Uang Pertanggungan berapa?

“Saya mau yang Uang Pertanggungan Jiwa Rp 1 Milyar dan Sakit Kritis Rp 500juta.”

Saya pendeta, walaupun bisa menyembuhkan jemaat saya dengan doa, tapi saya mulai berpikir. Saya juga harus memikirkan keuangan anak saya jika tiba-tiba saya sakit yang kritis dan membutuhkan biaya besar. Tidak mungkin biayanya saya bebankan ke anak saya ini.”

Dia mengenalkan anaknya. Anaknya satu-satunya ternyata. Masih kuliah.

“Keputusan ibu tepat.” Saya berdoa agar ibu diberi umur panjang dan sehat selalu.”

“Terimakasih pak.” Tidak ada manusia yang berpikir cepat meninggal, bukan.” Apalagi mengharapkan sakit kritis.”

“Tapi sebagai manusia yang beriman, Tuhan memberi kita hikmat untuk berpikir dan tidak membebani orang. Kita diajarkan untuk memberi bukan hanya meminta.”

“Ibu pendeta betul.” Saya tersentuh dengan kalimat ibu. Terimakasih Tuhan, engkau membukakan mata dan hatiku”,

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s