Asuransi Mengandung Riba

Ada seorang pria sederhana. Pekerjaannya wiraswasta. Dia tinggal di rumah kontrakan bersama istri dan dua anaknya. Dia bukan tak ingin punya rumah sendiri, tapi dia tidak mau ambil KPR karena takut riba.

Oleh karena itu dia menabung sebisanya seraya terus berusaha dan berdoa semoga Allah memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka.

Pada suatu hari salah satu anaknya sakit. Dia dan keluarganya tidak punya asuransi sama sekali. BPJS Kesehatan pun dia tidak ikut. Dia takut riba.

Jadi dibawalah anaknya ke Puskesmas. Gratis. Tapi hingga tiga hari kemudian, sakit anaknya tak kunjung reda.

Dengan terpaksa dibawalah anaknya ke rumah sakit untuk dirawat inap. Tabungannya yang tak seberapa, direlakan seluruhnya menjadi deposit.

Dia kebingungan. Dia tahu dalam dua hari ke depan, jika anaknya tak kunjung pulang, depositnya akan habis.

Dalam kebingungan, dia terus berdoa semoga Allah memberinya jalan keluar dari masalahnya.

Dia pun menghubungi beberapa temannya,  menginformasikan keadaannya yang membutuhkan bantuan. Ada yang menyumbang alakadarnya, ada yang memberi sedikit pinjaman. Tapi totalnya diperkirakan tetap tak cukup untuk membayar seluruh biaya rumah sakit.

Akhirnya dia menghubungi gurunya, orang yang selama ini mengajarkan bahwa KPR dan asuransi, termasuk BPJS, walaupun ada syariahnya, itu riba dan riba haram.

“Banyak berdoa saja,” kata sang guru.

“Baik, guru,” kata sang murid.

Ternyata anaknya dirawat di rumah sakit selama 5 hari.

Apa yang terjadi saat pria ini harus membayar semua tagihan rumah sakit?

Kita semua sering berharap akhir yang baik. Tapi kita tahu, hidup memiliki beragam kemungkinan.

Jadi saya tidak akan mengakhiri kisah ini dengan satu kemungkinan saja.

Silakan pilih:

  1. Tiba-tiba ada seseorang, entah siapa, yang datang untuk melunasi tagihan RS. Orang ini mungkin suruhan gurunya, atau orang yang digerakkan oleh Allah untuk menolongnya.
  2. Ayah si anak membayar semua tagihan RS dengan dana dari hasil gadai BPKB motor.

Kita berharap kemungkinan pertamalah yang terjadi. Tapi kemungkinan kedua pun bisa saja terjadi.

Kemungkinan kedua menunjukkan satu hal: sakit bisa mengundang riba.

Riba yaitu berutang dengan bunga.

Tak ada orang yang suka berutang, terlebih berutang dengan ditambah bunga.

Tapi dalam kondisi darurat, hal itu mungkin saja tak bisa dihindari.

Cerita di atas baru contoh kecil. Bagaimana jika sakitnya lebih lama dan biayanya lebih besar? Bagaimana jika yang sakit bukan si anak, tapi istri atau bahkan sang kepala keluarga?

Jadi, bijaklah sejak awal. Menghindari darurat itu wajib. Asuransi dapat menghindarkan kita dari kondisi darurat.

Natanael (agen asuransi allianz)

HP/WA 08113436830

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s