Konsep Asuransi sudah Digagas Tuhan Melalui Nabi Nuh

Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan r –dengan taat mempersiapkan bahtera s  untuk menyelamatkan keluarganya; t  dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. u 
sumber: http://alkitab.sabda.org/search.php?search=Nabi%20Nuh&scope=all&exact=off

Jika kita membaca ayat di atas yang saya kutip dari Ibrani 11:7 (Alkitab), dapat disimpulkan bahwa konsep asuransi sudah digagas oleh Allah sejak jaman Nabi Nuh. Karena Iman, maka Nuh-dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum terjadi (kelihatan). Dan dengan patuhnya, Nabi Nuh melaksanakan perintah Allah.

Nabi Nuh menyelamatkan keluarganya dengan membuat perahu (bahtera). Meskipun saat itu banyak orang yang mengolok-olok dia, karena Nabi Nuh membuat perahu dikala musim panas atau kering dan mustahil ada banjir.

Perintah Allah ke Nabi Nuh adalah konsep dasar asuransi. Tujuannya adalah agar keluarganya selamat. Selamat tidak hanya nyawanya, tetapi selamat dari kebangkrutan ekonomi. Selamat dari kemiskinan karena ditinggal pergi suami atau ayah sebagai kepala keluarga.

Nabi Nuh mengimani hal itu. Nabi Nuh mengimani bahwa perahu yang dibuatnya karena Allah akan mengirim air bah sehingga terjadi banjir. Dan, Nabi Nuh berhasil menyelamatkan keluarganya.

Nabi Nuh patuh terhadap perintah Tuhan. Dia mau melaksanakan karena iman.

Nah, jika kita kaitkan dengan konsep asuransi juga sama. Asuransi membicarakan sesuatu hal yang belum terjadi. Membicarakan program ke depan yang belum tentu terjadi. Namun, kita sebagai manusia ber-iman, percaya bahwa Allah memberikan kita petunjuk atau tanda akan sesuatu hal yang belum terjadi.

Maaf saya tulis artikel ini karena masih banyak yang beranggapan bahwa ikut asuransi berarti tidak percaya pada kemurahan Tuhan. Ikut asuransi berarti tidak menyerahkan hidup pada Tuhan. Jujur saja ya, saya tidak menyalahkan pendapat tersebut. Hanya saja, pendapat ini terlalu naif buat saya. Dan terlalu sombong. Istilah nya kesombongan rohani.

Sebagai manusia beriman, kita diberi kebijaksanaan untuk merencanakan yang terbaik buat Tuhan dan sesama, terutama keluarga. Sebaiknay hal ini seiring sejalan, tidak berat sebelah. Di kisah Nabi Nuh jelas digambarkan sebuah antisipasi positif terhadap sesuatu yang akan terjadi. Kita perlu belajar bagaimana mengantisipasi dampak keuangan yang terjadi jika terjadi sesuatu.

Kita boleh berserah pada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan pasti pegang kita tapi kita tidak boleh pasrah. Kita harus berusaha. Kita harus merencanakan sebuah tujuan masa depan yang lebih baik.

Demikian kiranya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s