Category Archives: Asuransi Apa yang Cocok?

Hanya dalam Waktu 3 Hari, Allianz Life Bayar Klaim Meninggal Julia Perez 733 Juta

 

Klaim Jupe

Julie Perez alias Jupe meninggal dunia pada 10 Juni 2017 di RS Cipto Mangunkusumo, setelah berjuang selama 3 tahun melawan penyakit kanker serviks. Tiga hari setelah itu, klaimnya langsung dibayar oleh Allianz sebesar 733 jutaan.

Jupe adalah pemilik polis asuransi jiwa dan penyakit kritis di Allianz. Sebelumnya pada bulan Juni 2015 diberitakan bahwa klaim penyakit kritisnya telah dibayar oleh Allianz dengan jumlah yang tidak disebutkan.

Tentang hal ini, Jupe pernah berkata, “Kalau tahu akan sakit maka saya akan memilih uang pertanggungan Rp 3 atau 5 miliar sejak awal, daripada harus berhutang sana-sini saat saya sakit kemarin. asuransi ini adalah bentuk cinta terhadap diri kita. Namun ternyata saya terlalu pelit dengan diri sendiri.”

Jupe Jangan Pelit thd Diri Sendiri.jpeg

Kita bisa menduga nilai klaim polis yang diterima Jupe dan keluarganya tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan selama tiga tahun terakhir ini.

Satu pelajaran yang bisa diambil, punya polis asuransi saja belum cukup. Pastikan polis asuransi anda memiliki manfaat proteksi penyakit kritis, dan pada saat yang sama uang pertanggungannya harus cukup besar untuk menanggulangi segala biaya yang timbul, baik biaya medis maupun nonmedis (contoh: kehilangan produktivitas dan penghasilan).

Apakah anda menyadari bahwa penyakit kritis seperti dialami Jupe bisa terjadi pada siapa saja?

Jika ya, segera lengkapi polis anda dengan asuransi penyakit kritis dari Allianz.

Asuransi penyakit kritis adalah asuransi yang memberikan uang tunai sejumlah yang dijanjikan ketika seseorang mengalami salah satu penyakit kritis.

 

Info pendaftaran polis Allianz hubungi: Natanael 08113436830

 

sumber: allianz-life-bayar-klaim-meninggal-julia-perez-733-juta-dalam-waktu-3-hari/

Bagaimana Cara Ajukan Klaim Coordination Of Benefit (COB) antara BPJS Dengan Allianz?

Bagaimana cara klaim apabila mempunyai 2 asuransi kesehatan?   Misalnya asuransi pertama BPJS , dan satu lagi asurasi kesehatan yang dari SWASTA. Apabila keduanya Asuransi Swasta, maka Anda tinggal memilih mana dulu asuransi yang akan di gunakan.

Pada dasarnya ketika kita mempunyai dua ASURANSI KESEHATAN (Asuransi yang membayar biaya rawat inap SISTEM KARTU), maka bisa dua-dua nya di klaim, dengan catatan tidak melebihi biaya yang dikeluarkan. Jadi sifatnya saling melengkapi kekurangan tagihan satu sama lain. Namun hal ini bergantung juga akan kebijakan masing masing perusahan asuransi.

Contohnya : Tuan A memiliki asuransi BPJS  dan asuransi  KESEHATAN SWASTA. Saat dirawat di rumah sakit Tuan A menggunakan kamar, biaya dokter, oprasi dan obat obatan yang melebihi dari PLAFON BPJS. Untuk MEMBAYAR KEKURANGAN TAGIHANNYA , Tuan A bisa mengklaim ke perusahaan kedua (ASURANSI KESEHATAN SWASTA) TENTUNYA SESUAI DENGAN PLAFON. Hal ini pun berlaku dengan asuransi ketika dua duanya adalah asuransi swasta. Hal penting yang perlu dicatat adalah, pembayarannya

Adapun prosedur pengajuan klaim, adalah dengan cara prosedur di bawah ini (Prosedur di bawah ini adalah prosedur untuk pengajuan double klaim di Asuransi Allianz) :

  1. Apabila Anda mempunyai BPJS , maka asuransi yang pertama yang HARUS di gunakan saat anda dirawat adalah asuransi BPJS, dan kemudian kekurangan pembayarannya Anda bisa klaim ke asuransi swasta lainnya yang Anda miliki. Setelah itu, anda bisa menghubungi asuransi kedua, untuk memberitahukan bahwa Anda sedang melakukan rawat inap. Untuk menghubunginya di kartu kesehatan Anda ada no call center yang bisa dihubungi 24 jam, atau memberitahukan pihak rumah sakit bahwa selain memiliki asuransi BPJS anda pun memiliki asuransi di perusahaan asuransi lain
  2. Ketika akan pulang dari pengobatan atau rawat inap, Anda bisa meminta rincian dari perusahaan asuransi PERTAMA mengenai PERINCIANBIAYA APA SAJA YANG TIDAK DICOVER oleh perusahaan tersebut untuk kekurangannya di klaimkan ke asuransi yang kedua.(Dokumen Asli).
  3. Mintalah COPY-AN KUITANSI KESELURUHAN dari biaya pengobatan yang Anda lakukan, dengan dilengkapi dengan CAP ASLI dari rumah sakit tersebut. Sertakan pula RESUME MEDIS DARI DOKTER yang harus diisi oleh dokter yang formatnya sudah disediakan oleh ASURANSI KEDUA. Lengkapi pula dengan HASIL LAB yang berhubungan dengan pengobatan, untuk disertakan di pengajuan ke ASURANSI KEDUA.
  4. Setelah dokumen yang dibutuhkan untuk klaim ke ASURANSI KEDUA, maka segera kirimkan dokumen tersebut, yang disertai dengan pengajuan KLAIM.
  5. Apabila dokumen telah lengkap, maka Anda tinggal menunggu pencairan dana yang yang akan di trasfer perusahaan Asuransi langsung ke rekening Anda atas kekurangan dana pengobatan.

 KESIMPULANNYA DATA YANG DIBUTUHKAN UNTUK KLAIM KE ASURANSI YANG KEDUA :

  • Perincian biaya yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan pertama
  • Copian kuitansi biaya keseluruhan pengobatan
  • Form Resume medis dokter (Disediakan oleh asuransi ke dua )
  • Hasil lab yang berhubungan dengan pengobatan (Boleh Copian)
  • Form pengajuan klaim 

Pengajuan DOUBLE KLAIM ASURANSI KESEHATAN itu MUDAH, asalkan Anda tahu caranya dan LENGKAP DATANYA, dan dana Klaim Anda pun akan lebih cepat cair.

Ringkasan Prosedur COB (Coordination Of Benefit) dengan BPJS yang berjalan saat ini adalah:
1. Peserta ikuti prosedur BPJS. Minta rujukan dari puskesmas nya. Masuk RS BPJS.
2. Kalau naik kelas atau ada biaya Medis yang tidak dicover BPJS, bisa diklaim reimburse ke Allianz.
Dokumen yang diperlukan:
a. Form klaim. Minimal diisi bagian Peserta nya saja. Kalau bisa minta dokter isi
b. SEP (Surat Eligibilitas Peserta) BPJS yg dikeluarkan di awal perawatan oleh petugas di BPJS center di RS
c. Resume Medis dari RS. Ini Hak pasien untuk dapat copynya
d. Yang paling penting kuitansi asli dari biaya yang dibayar sendiri. Namanya bayar, tentu berhak atas kuitansi.
Noted:
Bila nasabah membeli rider Flexicare maka tidak perlu kuitansi asli. Tapi butuh resume medis atau surat keterangan RS yg menjelaskan dirawat kapan, dokter siapa & diagnosanya.
Prosedur COB atau Koordinasi manfaat ke asuransi kedua itu mudah.  Asalkan dari perusahaan asuransi pertama sudah lengkap, maka asuransi kedua pasti akan membayar ekses klaimnya.
Bila ingin COB atau koordinasi manfaat dari BPJS ke asuransi swasta juga mudah.  Yang dibutuhkan oleh asuransi swasta adalah dokumen yang lengkap.  Yang menjadi pertanyaan adalah:  apakah BPJS bisa dan mau (dengan mudah) memberikan dokumen yang diperlukan nasabah untuk memenuhi syarat yang diminta oleh asuransi swasta?
Info lebih detail hubungi: Natanael, HP/WA 08113436830

Layanan Bagus Dari Asuransi Kesehatan Allianz Syariah

Nasabah Yang Terhormat,

 

 

 

4 Fitur dari Asuransi Kesehatan Allianz Syariah ini tentunya sangat membantu nasabah lebih mudah mendapatkan pelayanan maksimal, untuk bisa lebih fokus pada pengobatan dan penyembuhan.

Tagihan Rumah Sakit?  Biar Allianz yang urus.

 

Tertarik untuk buka polis Asuransi Kesehatan Allianz Syariah?

Hubungi: Natanael HP/WA 08113436830

Jangan Pelit Sama Diri Sendiri

Berikut ini saya ulas artikel dari blog teman sesama agen Asuransi yang berjudul

Jangan Pelit Sama Diri Sendiri (Julia Perez). Di dalam isi tulisan tersebut diceritakan tentang isi ucapan almarhum Julia Perez yakni “Jangan pelit sama diri sendiri”. Dalam beberapa hari ini banyak tulisan yang berisi kedukaan terhadap meninggalnya Julia Perez. Hal ini bukan apa-apa, karena si Julia Perez sendiri salah satu nasabah Allianz yang tempo hari pernah mendapatkan clime sakit kritis.

Isi quote yang pernah disampaikan artis Julia Perez itu memang mewakili kondisi seseorang yang mengalami sakit kritis.  Ternyata memang benar dan fakta bahwa sakit kritis itu butuh biaya besar.  Akan berbeda maknanya, apabila seseorang yang mengalami sakit kritis itu:

  1. Tidak punya asuransi
  2. Punya asuransi seadanya
  3. Punya asuransi dengan santunan besar/maksimal.

Sebelum membahas lebih dalam, mari kita samakan dulu pemahaman bahwa asuransi merupakan salah satu ikhtiar dalam upaya merencanakan keuangan keluarga.  Jadi asuransi adalah salah satu pos “pengeluaran” keuangan keluarga yang bertujuan melindungi penghasilan dari resiko hidup yang dampak keuangannya tidak dapat kita tanggung.

TIDAK PUNYA ASURANSI

Bila belum memiliki pos pengeluaran keuangan keluarga untuk berasuransi, mungkin kita menyetor dana di tabungan di bank.  Dengan harapan, dana akan berkembang dan bila resiko hidup terjadi maka dananya tersedia di bank.

Ralat 1:  jika tujuan kita adalah mengembangkan dana di bank, jangan simpan di tabungan.  Silahkan sisihkan dana kita di instrumen investasi.

Ralat 2:  ubah tujuan Anda menabung.  Tujuan menabung lebih tepatnya adalah untuk menyimpan dana likuid.  Dana yang Anda gunakan sehari-hari, cashflow rutin bulanan Anda saja.  JANGAN: gunakan dana di tabungan sebagai dana cadangan untuk menutup kebutuhan hidup bila terjadi resiko hidup yang dampak keuangannya tidak dapat kita tanggung.

Jika tidak punya asuransi, maka ketika terjadi sakit kritis, solusinya adalah:  kuras tabungan, ambil investasi, jual aset, pinjam teman/keluarga.

Masalah:  Bagaimana Jika:

  • tabungan kita masih sedikit?
  • investasi kita tidak cukup?
  • aset tidak langsung terjual dengan cepat sementara kondisi sakit kritisnya tidak bisa menunggu alias perlu tindakan segera?
  • merasa malu untuk pinjam uang pada keluarga dan bingung nanti bagaimana cara mengembalikan hutangnya karena jumlahnya yang begitu besar? (awas, hindari riba hutang!)

 

PUNYA ASURANSI SEADANYA

Sering suatu saat ketemu calon nasabah dengan penghasilan 50 juta perbulan, namun meminta proteksi asuransi dengan premi termurah di Allianz.  Padahal, Pakar Perencana Keuangan menyarankan bahwa sebaiknya ada alokasi dana untuk asuransi adalah minimal 10% dari gaji, atau sesuai kebutuhan.  Kenapa?  Orang dengan penghasilan 50 juta perbulan, tentunya memiliki gaya hidup yang berbeda dengan orang yang berpenghasilan 5 juta perbulan. Artinya: Gaya hidup yang lebih tinggi itu, tentu menuntut pengeluaran yang lebih tinggi juga.

Sebaiknya dalam memiliki proteksi asuransi, bila dananya memang ada, kita sewajarnya membeli proteksi yang Uang Pertanggungannya sesuai pengeluaran rutin bulanan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan rutin bulanan kita.  Uang Pertanggungan diberikan oleh perusahaan asuransi dalam bentuk UANG TUNAI yang jumlahnya bisa sangat besar (contoh miliar-an).

Bila gaya hidup kita tinggi, artinya pengeluaran juga tinggi, tapi proteksi asuransi yang dimiliki hanya dengan santunan/UP seadanya, ini sangat beresiko. Karena jika kita terkena sakit kritis misalnya, stroke atau jantung, maka uang dari mana untuk membiayai sakit tersebut.

Kita masih harus nombok banyak untuk bisa menjalani proses pengobatan dan perawatan sakit kritisnya.

PUNYA ASURANSI DENGAN MANFAAT/SANTUNAN YANG MAKSIMAL

Kegunaan UP (Uang Pertanggungan) pada asuransi sakit kritis adalah:

1. Membiayai pengobatan penyakit kritis.
2. Membiayai perawatan setelah pengobatan penyakit kritis
3. Mengganti penghasilan yang hilang selama atau karena tidak bisa bekerja
4. Mencegah kehilangan aset dan jeratan utang.
5. Memelihara kepercayaan diri.

Bagaimana mengetahui Uang Pertanggungan yang sesuai dan cukup untuk kebutuhan rutin bulanan?  Setelah Anda mengetahui UP yang sesuai dan cukup, kita bisa diskusikan berapa besarnya premi yang  Anda bayarkan untuk mendapatkan UP senilai tersebut, sesuai dengan profil Anda.

Memiliki produk asuransi yang tepat, didampingi oleh agen yang tepat (memahami kebutuhan Anda dan memberikan solusi yang sesuai), dengan manfaat santunan yang maksimal, akan:

  • memantapkan kita dalam keseharian bekerja mencari nafkah demi keluarga.
  • menenangkan kita jika resiko sakit kritis terjadi.
  • keluarga kita juga tenang.

Jadi, apakah kita masih:

  • lebih mementingkan kesenangan dan gaya hidup berlebih?
  • merasa berat untuk menunda kesenangan agar bisa menyisihkan dana untuk berasuransi?
  • bahkan pelit sama diri sendiri?

 

Bijaklah dengan uang Anda.  Mari berasuransi.

Konsultasi GRATIS, kontak saya: Natanael HP 08113436830

 

Sumber: jangan-pelit-sama-diri-sendiri-julia-perez/

Produk Asuransi Jiwa Murni Termlife Smartlife

Saya akan jelaskan tentang produk asuransi jiwa Termlife dari Allianz bernama SmartLife
1. Produk asuransi jiwa murni dari Allianz #SmartLife adalah produk tradisional
2. Yang memberikan perlindungan asuransi jiwa maksimal dgn premi terjangkau #SmartLife
3. Krn bersifat TermLife, maka premi hangus dan tidak ada nilai tunainya #SmartLife
4. Kontrak tersedia dari minimal 1 tahun sampai dengan 30 tahun #SmartLife
5. Kontrak adalah masa perlindungan dan masa pembayaran premi #SmartLife
6. Dimana nasabah hanya mendapat perlindungan selama masa kontrak tersebut #SmartLife
7. Pembayaran premi hanya dapat dilakukan secara semesteran per 6 bulan atau tahunan #SmartLife
8. Asuransi jiwa Termlife Allianz #SmartLife ini juga dapat ditambah rider asuransi tambahan
9. Pilihan rider TermLife Allianz #SmartLife adalah penyakit kritis, cacat tetap permanen, kecelakaan, dan waiver of premium
10. Rider ini sifatnya optional, bisa ditambahkan bisa juga tidak #SmartLife
11. Bila rider mau ditambahkan berarti akan menambah besarnya premi #SmartLife
12. Besarnya Uang Pertanggungan meninggal bisa sampai sekian milyar rupiah #SmartLife
13. Premi akan tergantung dari umur nasabah, semakin muda umurnya akan semakin murah #SmartLife
13. Premi juga akan tergantung dari jangka waktu kontrak, semakin pendek kontrak akan semakin murah premi tahunannya #SmartLife
14. Untuk mengetahui premi Anda, sebutkan tgl lahir dan jenis kelamin Anda ke m3ld4m[at]gmail.com atau mention juga boleh
 

Salam

Natanael

HP/WA: 08113436830

 

Kekurangan Term Life dan Kelebihan Unit Link

Di antara berbagai jenis produk asuransi, menurut saya hanya dua yang layak dipertimbangkan, yaitu term life (asuransi jiwa berjangka) dan unit link (asuransi jiwa plus investasi).

Banyak perencana keuangan menyarankan untuk memisahkan asuransi dan investasi. Asuransinya ambil term life, investasinya boleh di mana saja (reksadana, emas, saham, dll). Saya setuju, tapi tidak semua orang cocok dengan saran ini.

Selain itu, setelah saya menggali berbagai kemungkinan yang ada di unit link, khususnya produk yang saya jual yaitu Tapro Allisya, ternyata preminya tidak berselisih jauh dibandingkan term life untuk mendapatkan manfaat yang sama. Malah beberapa produk term life masih lebih mahal dibandingkan unit link Tapro Allisya ini.

Kekurangan Term Life

Jadi, ya, saya tahu term life lebih murah ketimbang unit link, tapi dengan beberapa catatan:

  1. Murah hanya pada awalnya atau selama masa kontrak (5, 10, 20 tahun). Pada saat perpanjangan preminya akan naik berlipat-lipat. Oleh karena itu, kalau anda memutuskan mengambil term life, minta juga ilustrasi berapa preminya jika asuransi diperpanjang.
  2. Hanya bisa bayar tahunan. Bayar tahunan berarti keluar uang sekaligus banyak, misalnya 3 atau 5 juta tergantung manfaat proteksinya. Bagi orang yang uangnya berlimpah, ini tak masalah. Tapi tidak semua orang punya uang sebanyak itu. Kalaupun punya, mungkin masih ada keperluan lain yang juga penting. Selain itu, selisih uang yang ada bisa juga dipakai untuk bisnis atau investasi. Siapa tahu hasilnya bisa menutupi premi bulan berikutnya. Biasanya orang mengambil term life dengan tujuan agar bisa berinvestasi sendiri. Bagaimana mau investasi, kalau belum apa-apa uangnya sudah diambil oleh asuransi.
  3. Beberapa produk term life mensyaratkan tes kesehatan saat perpanjangan sehingga jika kesehatan anda menurun, perpanjangan asuransi anda belum tentu diterima. Oleh karena itu, kalau anda mengambil term life, cari yang ada garansi perpanjangannya.
  4. Kalau ditambah rider, seperti kecelakaan dan sakit kritis, belum tentu ridernya tersedia. Selain itu, belum tentu tarif ridernya murah juga.
  5. Bagi yang peduli dg nilai-nilai syariah: term life umumnya bukan produk syariah. Memang sudah ada yang syariah, tapi silakan cek preminya.

 

Kelebihan Unit Link Tapro Allisya

Unit link Tapro Allisya mengenakan premi 355 ribu per bulan untuk mendapat UP jiwa 1 miliar, tanpa rider apa pun. Manfaat ini berlaku untuk pria usia 30 tahun, tidak merokok, dan pekerjaannya dalam ruangan.

Silakan anda survai, adakah produk term life yang bisa memberikan premi seperti ini untuk UP 1 miliar? Jika dihitung per tahun, memang ada yang lebih murah. Tapi ini per bulan.

Kelebihannya:

  1. Preminya flat, tidak naik sampai kapan pun. Malah anda berkesempatan mendapatkan masa bayar lebih pendek (10 tahun) jika hasil investasi sesuai ilustrasi dengan asumsi tertinggi.
  2. Cara bayar bulanan cocok untuk orang yang keuangannya terbatas atau mereka yang merencanakan keuangan dengan periode bulanan (karena gajinya juga bulanan).
  3. Masa bayar bisa lebih pendek untuk masa proteksi yang lebih panjang.
  4. Tidak usah memikirkan perpanjangan. Masa berlaku proteksi sampai 70 tahun (UP 1 miliar), dan masih ada sisa UP 340 juta sampai usia 99 tahun.
  5. Tidak usah medical check up (untuk UP 1 miliar ke bawah)
  6. Kalau mau ditambah rider, tersedia bermacam rider yang bagus dan lebih murah.
  7. Maslahat meninggal akan lebih besar dari 1 miliar karena ditambah hasil investasi. Dengan begini, UP jiwa anda tidak usah diupgrade, karena sudah ada tambahannya dari hasil investasi. Anda juga, kalau mau dan butuh banget uang, bisa mengambil sebagian hasil investasi itu selagi masih hidup.
  8. Produk sudah sesuai syariah, baik dari segi akad maupun penyaluran dana investasi.

Demikian, silakan para pembaca menimbang-nimbang.

Salam,

Natanael HP/WA 08113436830

sumber: https://myallisya.com/2012/03/10/kekurangan-term-life-dan-kelebihan-unit-link/

Unit Link dan Term-life Tinjauan Perbandingan

 

Ketika anda mengambil asuransi jiwa berjangka (term-life), perusahaan asuransi bertaruh bahwa anda tidak akan mati pada masa pertanggungan. Dan biasanya mereka selalu benar. Kalau biasanya tidak, tentu mereka sudah bubarkan perusahaan asuransinya, sebab keuntungan mereka didapat dari hasil pertaruhan ini. (Pameo populer mengatakan, “bandar selalu menang”).

Anda sendiri tidak bertaruh apa-apa karena walaupun anda telah membayar premi, pada dasarnya anda berharap tetap hidup sampai masa pertanggungan berakhir.

Tapi dalam unit link, perusahaan asuransi tidak bertaruh dengan hidup-matinya jiwa anda. Mereka hanya berharap anda akan hidup cukup lama sampai uang yang anda setorkan ke mereka mencapai hasil investasi yang cukup untuk membayar klaim anda.

Lalu apakah term-life itu judi? Ada yang menganggap begitu. Tapi sekarang ada term-life yang syariah. Kalau sudah syariah tentu bukan judi. Akadnya disebut tabarru atau berbuat kebajikan (tolong-menolong). Preminya ya sama-sama hangus juga kalau tidak klaim, hanya ada bagi hasil dari surplus dana tabarru.

Kemudian, ini yang kerap disalahpahami orang: meski unit link berlaku seumur hidup, jenis asuransi jiwa pada unit link sebetulnya asuransi jiwa berjangka juga. Bedanya dengan term-life, jangka waktu pada unit link berlaku sampai usia 99 atau 100, sedangkan pada term-life hanya berlaku sampai usia 70 tahun.

Mengapa unit link termasuk asuransi jiwa berjangka? Karena biaya asuransi tetap dikenakan setiap tahun selama polis masih ingin tetap berlaku. (Pada asuransi jiwa seumur hidup atau whole-life, biaya asuransi dikenakan di muka, 5 atau 10 tahun pertama, dengan memperhitungkan biaya asuransi tahun-tahun selanjutnya sehingga premi jadi mahal).

Penetapan biaya asuransi jiwa pada unit link menggunakan metode actual premium (riil sesuai usia pada tahun berjalan dan naik setiap tahun), sedangkan pada term-life tarifnya ditetapkan dengan metode level premium (rata/flat mulai awal masuk hingga akhir pertanggungan).

Dalam unit link, nasabah membayar biaya asuransi (iuran tabarru dalam unit ink syariah) secara terus-menerus sampai uang pertanggungannya cair (alias meninggal). Biaya asuransi tersebut dipotong dari hasil investasi sehingga hampir tidak akan terasa bahwa nasabah telah membayar.

Jadi dalam unit link  tidak ada kemungkinan memberikan uang gratis ke perusahaan asuransi. Uang pertanggungan pasti keluar, dan jumlahnya akan jauh lebih besar daripada total biaya asuransi yang dibayarkan selama berpuluh-puluh tahun.

Sementara dalam term-life, hal ini tidak dimungkinkan karena ada pembatasan usia maksimal, biasanya 70 tahun. Batasan itu pun jika sebelumnya telah mendaftar pada usia 50 tahun. Lewat usia 60, umumnya perusahaan asuransi jiwa akan menolak aplikasi nasabah. Iyalah, orang mau mati kok baru minta asuransi jiwa. Jelas perusahaan gak mau rugi.

Dalam term-life, ada kemungkinan nasabah akan memberikan uang gratis kepada perusahaan asuransi jika dalam masa pertanggungan ia masih hidup. Dan kemungkinan ini sangat besar, mengingat usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata mencapai 65 tahun. Jika orang meninggal jauh di bawah usia itu, besar kemungkinan penyebabnya bukan “faktor usia”, tapi sebab lain seperti kecelakaan, sakit kritis, atau tertular flu burung. (Saya tidak sebutkan penyakit menular karena AIDS juga penyakit menular, namun dari jenis yang tidak bikin orang mati secara cepat).

Sebuah tabel mortalitas yang pernah saya baca menyebutkan, tingkat kematian pada laki-laki di kisaran usia 25-40 tahun adalah 0,135% alias 1,35 per mil (seribu). Artinya, di antara seribu orang, yang berkemungkinan meninggal pada rentang usia itu adalah 1,35 orang (antara 1-2 orang).

Jika dibaca kebalikannya, maka di antara 1000 orang, 998,65 orang tetap hidup. Dengan kata lain, peluang seorang muda usia 25-40 tahun untuk tetap hidup adalah 99,865%.

Kesimpulannya, jika seorang muda usia mengambil program asuransi jiwa berjangka (term-life), 99,865% uangnya akan hangus.

Di unit link, khusus manfaat meninggal dunia, kemungkinan uang hangus itu tidak ada. Biaya asuransi yang telah dibayarkan memang tidak akan dikembalikan, tapi biaya itu akan diganti dalam bentuk uang pertanggungan (UP). Dan besarnya UP ini jauh lebih besar daripada total biaya asuransi yang ditagihkan selama seumur hidup nasabah.

Kemudian dari segi premi, term-life sedikit lebih murah. Untuk laki-laki usia 30 tahun, dari ilustrasi yang pernah saya peroleh dari sebuah perusahaan asuransi, UP 1 miliar bisa didapat dengan premi 3 juta per tahun selama 20 tahun. Untuk jangka waktu lebih pendek (10 atau 5 tahun), preminya sama tapi manfaatnya lebih besar. Kemudian jika ingin memperpanjang masa perlindungan, biaya premi akan naik beberapa kali lipat. Di usia 50 tahun, ilustrasi yang saya terima menunjukkan laki-laki tsb harus membayar premi 15,530 juta (naik 5 kali lipat lebih) sampai usia 70.

Premi unit link agak lebih mahal daripada term-life. Tentu saja, karena premi pada unit link dibagi dua: sebagian untuk bayar porsi asuransi, sebagian lagi untuk porsi investasi. Perusahaan penyedia unit link sudah memperhitungkan perbandingan keduanya sehingga premi cukup dibayar dalam jangka waktu tertentu (misalnya 10 tahun), dan untuk seterusnya biaya asuransi akan dipotong secara otomatis dari hasil investasi.

Sebagai contoh, untuk mendapatkan UP 1 miliar bagi laki-laki 30 tahun, sebuah produk unit link mengenakan premi 355 ribu per bulan (disetahunkan jadi 4,26 juta, tapi bayarnya bisa bulanan). Dengan catatan asumsi investasi terpenuhi, nasabah bisa membayar cukup selama 10 tahun. Selanjutnya hasil investasi akan membayari sendiri biaya asuransi tahun-tahun selanjutnya sampai nasabah ybs meninggal dunia. (Penjelasan tentang produk unit link dimaksud, klik di sini).

Untuk membandingkan keduanya silakan hitung sendiri.

Itulah sekilas tinjauan mengenai perbandingan antara unit link dan term-life. Masih ada beberapa perbedaan lainnya, tapi biar saya pelajari lagi dan saya bagikan hasilnya di lain kesempatan. []

sumber: https://myallisya.com/2011/11/26/unit-link-dan-term-life-dalam-perbandingan/