Category Archives: Edukasi

Berapa Persen Alokasi Asuransi dan Investasi?

 

Unitlink“Berapa persen alokasi asuransi dan investasi?” Dengan kata lain, “Berapa persen premi yang masuk ke asuransi dan berapa persen premi yang masuk ke investasi?”

Bicara terus-terang, pertanyaan ini perlu penjelasan lebih lanjut. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan tegas, karena sesungguhnya alokasi asuransi dan investasi bukan berbentuk persentase.

Dalam hal ini ada tiga hal yang perlu dibedakan:

  1. Perbandingan antara alokasi asuransi dengan alokasi investasi. Tidak berbentuk persentase.
  2. Perbandingan antara alokasi investasi dengan biaya akuisisi. Berbentuk persentase.
  3. Perbandingan antara premi berkala dengan top up berkala. Bisa dipersentasekan.

Yang pertama, perbandingan antara alokasi asuransi dengan alokasi investasi bukan berbentuk persentase. Dalam unit-link, premi yang disetorkan memang akan dibagi ke dalam dua keranjang, yaitu keranjang asuransi dan keranjang investasi. Tapi perbandingannya bukan dalam bentuk persentase, karena keranjang asuransi sebetulnya terdiri dari berbagai macam biaya, yang meliputi biaya akuisisi, biaya administrasi, biaya asuransi (cost of insurance, tabarru dalam asuransi syariah), biaya pengelolaan investasi, dan biaya top up. Sedangkan alokasi investasi adalah sisa dari premi setelah dikurangi berbagai macam biaya tersebut.

Yang kedua, perbandingan antara alokasi investasi dengan biaya akuisisi memang berbentuk persentase. Yang perlu dipahami, biaya akuisisi hanyalah satu dari sejumlah biaya yang dikenakan di produk unit-link, jadi alokasi investasi di sini belum bersih karena masih dipotong biaya-biaya lain.

Sebagai contoh di Tapro Allianz, berapa persen biaya akuisisinya? Jawabannya: tahun pertama 75%, tahun kedua 40%, tahun ketiga 15%, tahun keempat 7,5%, dan tahun kelima 7,5%. Total 145%. Tahun keenam dan seterusnya tidak dikenakan lagi biaya akuisisi.

 

Tahun Biaya Akuisisi Investasi (belum dipotong biaya lain)
1 75% 25%
2 40% 60%
3 15% 85%
4 7,5% 92,5%
5 7,5% 92,5%
6 dst 0% 105,26%

 

Alokasi premi berkala setelah dipotong biaya akuisisi masuk ke investasi. Tapi bukan berarti porsi yang masuk ke investasi ini tidak dikenakan biaya apa-apa lagi.

Selain biaya akuisisi, ada beberapa biaya lagi yang selalu ada dalam produk unit-link. Dua di antaranya yang cukup signifikan untuk disebut adalah biaya administrasi dan biaya asuransi. (Selengkapnya biaya-biaya pada unit-link bisa dibaca di SINI).

  • Biaya administrasi. Dikenakan tiap bulan selama polis masih berlaku. Ada yang menggratiskan biaya administrasi tahun pertama.
  • Biaya asuransi (cost of insurance atau tabarru dalam asuransi syariah). Dikenakan untuk tiap manfaat asuransi yang diambil (asuransi dasar maupun rider), sejak tahun pertama sampai masa proteksinya berakhir, selama polis masih berlaku.

Di sini, banyak nasabah bahkan agen yang salah paham dan belum bisa membedakan antara biaya akuisisi dengan biaya asuransi. Dikiranya biaya akuisisi itu sama dengan biaya asuransi dan setelah itu tidak ada biaya lagi.

Pemahaman seperti ini lalu dipakai untuk menjelaskan kenapa nilai investasi unit-link sangat kecil di tahun-tahun awal. Sering dikatakan, “Nilai investasi unit-link kecil di tahun-tahun awal karena masih kena banyak potongan untuk asuransinya. Nanti setelah lima tahun, premi seluruhnya masuk ke investasi.”

Yang jarang dijelaskan agen, setelah lima tahun, premi yang seluruhnya masuk ke investasi itu masih dikenakan potongan lagi untuk biaya administrasi dan biaya asuransi.

Jadi, apa perbedaan biaya akuisisi dengan biaya asuransi?

 

Biaya Akuisisi Biaya Asuransi (Tabarru)
Dikenakan di 5 tahun pertama (pada umumnya) Dikenakan sejak tahun pertama sampai masa proteksi berakhir selama polis masih berlaku
Dipotong dari premi berkala (tidak termasuk top up berkala) Dipotong dari nilai investasi
Fungsinya untuk biaya-biaya pembuatan polis serta komisi dan bonus agen Fungsinya untuk membiayai manfaat proteksi (uang pertanggungan asuransi dasar dan rider)
Berbentuk persentase, cenderung turun tiap tahun Sesuai tabel biaya asuransi, cenderung naik tiap tahun

 

Biaya akuisisi dipotong dari premi berkala (istilah lain: premi reguler, premi dasar, premi target, premi pokok). Selain premi berkala, ada tambahan premi yang disebut top up berkala (istilah lain: saver). Top up berkala hampir seluruhnya masuk ke investasi, hanya dipotong sedikit untuk biaya top up.

Perbandingan antara premi berkala dengan top up berkala bisa disajikan dalam bentuk persentase. Misalnya: setoran 1 juta per bulan, terdiri dari premi berkala 700 ribu dan top up berkala 300 ribu. Berarti persentase premi berkala 70% dan top up berkala 30%. Tapi ini bukan persentase antara asuransi dengan investasi, karena baik premi berkala maupun top up berkala dua-duanya diinvestasikan dan dari nilai investasi yang terbentuk akan dipotong biaya-biaya. Bedanya, premi berkala kena biaya akuisisi, top up berkala tidak kena biaya akuisisi.

Perbandingan antara premi berkala dan top up berkala bersifat fleksibel. Dari setoran 1 juta per bulan, bisa saja 100% merupakan premi berkala tanpa top up berkala, bisa 80% banding 20%, bisa 50% banding 50%, bahkan bisa saja premi berkala hanya 25% dan 75% merupakan top up berkala. Di sini tergantung ketentuan dari perusahaan asuransi, juga tergantung racikan agen, dan tergantung kebutuhan nasabah apakah ingin fokus di proteksi atau ingin fokus di investasi. Secara umum dapat dikatakan, jika ingin fokus di proteksi, perbesar premi berkala supaya manfaat proteksinya lebih besar. Jika ingin fokus di investasi, perbesar top up berkala dan harus rela manfaat proteksinya kecil saja.

***

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, “Berapa persen alokasi investasi dan asuransi?”

Jawaban saya: “Alokasi investasi sama dengan premi yang disetor dikurangi biaya-biaya yang dikenakan.”

Jadi, untuk mengetahui nilai investasi secara garis besar, hitung saja berapa total premi yang disetor dikurangi biaya-biaya yang timbul, lalu ditambah (atau dikurangi) hasil investasinya.

Contohnya, premi 1 juta per bulan. Pertama, cek berapa premi berkala dan berapa top up berkala untuk menghitung biaya akuisisinya. Lalu kurangilah dengan biaya akuisisi (dari premi berkala), biaya administrasi, biaya asuransi, biaya top up (atau selisih harga jual-beli unit pada unit-link yang menerapkan dual price), dan biaya pengelolaan investasi. Sisanya, itulah nilai investasi yang menjadi milik anda.

Jika tujuan anda untuk mendapatkan keuntungan investasi, tidak disarankan melalui unit-link karena potongan biayanya terlalu besar dibanding jika berinvestasi di instrumen investasi lain. Potongan biaya-biaya yang besar itu adalah untuk mendapatkan manfaat asuransinya serta upah untuk perusahaan dan agen. Unit-link bagaimana pun adalah produk asuransi, jadi ambillah dengan tujuan utama untuk mendapatkan manfaat asuransinya.

sumber: berapa-persen-alokasi-asuransi-dan-investasi/

Empat Kejadian yang Membutuhkan Asuransi

Kali ini saya akan mengulas tentang empat kejadian yang membutuhkan asuransi.

Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, dan Meninggal dunia. Empat kejadian ini membutuhkan asuransi untuk menangani dampak keuangan.

Mengapa? Karena empat kejadian ini memiliki empat kesamaan sekaligus, yaitu:

  1. Mungkin dialami oleh setiap manusia;
  2. Kejadiannya tidak diinginkan;
  3. Waktunya tidak dapat diketahui;
  4. Menimbulkan dampak keuangan yang berat.

Itulah empat kriteria dibutuhkan asuransi. Satu saja ada yang kurang, asuransi tidak diperlukan. Jika suatu kejadian tidak mungkin dialami oleh setiap manusia, tentunya tidak diperlukan asuransi. Jika kejadiannya diinginkan oleh manusia, itu bukan urusan asuransi. Jika waktunya dapat diketahui, maka tidak perlu asuransi. Dan jikadampak keuangan yang ditimbulkannya tidak berat, maka cukuplah ditanggung sendiri.

Di luar yang empat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait risiko jiwa dan kesehatan. Di bagian bawah, akan kita bahas beberapa jenis asuransi yang sering dicari orang dan beberapa jenis “asuransi” yang sering ditawarkan perusahaan asuransi, yaitu asuransi rawat jalan, asuransi rawat gigi, dan asuransi melahirkan, lalu “asuransi” pendidikan dan “asuransi” pensiun.

Baca juga:

Prioritas Asuransi dalam Keluarga

R: Rawat Inap

Kejadian rawat inap memenuhi empat kriteria di atas: mungkin dialami oleh setiap manusia, kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan menimbulkan dampak keuangan yang berat.

Dampak keuangan dari rawat inap adalah segala biaya perawatan di rumah sakit, meliputi kamar, dokter, obat, bedah, dan lain-lain. Besarnya biaya rawat inap bervariasi tergantung jenis penyakit, lamanya dirawat, dan juga fasilitas perawatan yang diperoleh. Sebagai contoh, dirawat karena tipes mungkin bisa habis sekitar 5 juta sampai beberapa puluh juta. Jika dirawat karena kanker, tentu beda lagi biayanya, bisa puluhan sampai ratusan juta. Semua itu pada umumnya terasa berat bagi kebanyakan orang.

Untuk mengantisipasi dampak keuangan dari rawat inap, produk asuransi yang tepat adalah asuransi kesehatan (askes). Askes rawat inap memberikan penggantian biaya rawat inap dan juga pembedahan di rumah sakit.

Produk askes ada yang berdiri sendiri dan ada juga yang merupakan rider (manfaat tambahan) pada asuransi jiwa. Selengkapnya pilihan produk asuransi kesehatan bisa dibaca di SINI.

S: Sakit Kritis

Kejadian sakit kritis memenuhi empat kriteria: mungkin dialami oleh setiap manusia, kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan menimbulkan dampak keuangan yang berat.

Sakit kritis dapat disebabkan faktor keturunan, gaya hidup yang buruk, pengaruh lingkungan, ataupun kecelakaan. Jadi, tidak ada yang kebal dari sakit kritis.

Dampak keuangan dari sakit kritis ada dua, yaitu biaya perawatan dan turunnya penghasilan karena kehilangan produktivitas.

Untuk mengantisipasi dampak keuangan dari sakit kritis, produk asuransi yang tepat selain asuransi kesehatan adalah asuransi penyakit kritis. Asuransi kesehatan berperan menanggulangi biaya rawat inap dan pembedahan di rumah sakit. Sedangkan asuransi penyakit kritis melengkapi apa yang tidak dapat diberikan oleh askes sebagus apa pun, yaitu uang tunai dalam jumlah besar, yang bisa digunakan untuk mengganti penghasilan akibat produktivitas yang berkurang.

Asuransi penyakit kritis ada yang berdiri sendiri, tapi pada umumnya merupakan rider (manfaat tambahan) pada asuransi jiwa.

Baca juga:

Penjelasan tentang 3 Rider Asuransi Penyakit Kritis dari Tapro Allianz

 C: Cacat Tetap

Cacat tetap memenuhi empat kriteria: mungkin dialami oleh setiap manusia, kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan menimbulkan dampak keuangan yang berat.

Cacat tetap bisa sebagian maupun total, bisa disebabkan sakit ataupun kecelakaan. Pada titik tertentu, hilangnya fungsi anggota tubuh bisa menimbulkan hilangnya kemampuan produktif untuk mendapatkan penghasilan.

Produk asuransi yang tepat untuk mengantisipasi hilangnya penghasilan karena cacat tetap ada dua, yaitu ADDB (Accidental Death and Disability) dan TPD (Total Permanent Disability). ADDB menanggung kejadian cacat tetap atau meninggal dunia karena kecelakaan. Cacat tetap pada ADDB bisa sebagian (misalnya hilang satu ruas jari atau satu tangan) hingga total (misalnya hilangnya fungsi dua tangan, dua kaki, atau dua mata). Sedangkan TPD menanggung hanya cacat tetap total, cacat tetap sebagian tidak ditanggung, tapi bisa disebabkan oleh sakit ataupun kecelakaan.

ADDB dan TPD ada yang berdiri sendiri, tapi pada umumnya merupakan rider (manfaat tambahan) pada asuransi jiwa.

Baca juga:

Perbedaan dan Persamaan antara ADDB dengan TPD

M: Meninggal Dunia

Meninggal dunia memenuhi empat kriteria: mungkin dialami oleh setiap manusia, kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan menimbulkan dampak keuangan yang berat.

Dampak keuangan dari meninggal dunia yang pasti adalah biaya penyelenggaraan jenazah dan pemakaman. Lalu sesuai dengan budaya di banyak daerah di Indonesia, tradisi yang menyertai kematian pun tidak jarang membutuhkan biaya tinggi. Dan jika kejadian ini dialami oleh pencari nafkah dalam keluarga, maka hilang pulalah sumber nafkah keluarga tersebut.

Uang pertanggungan meninggal dunia merupakan manfaat dasar pada semua produk asuransi jiwa. Manfaat dasar ini bisa ditambah rider (manfaat tambahan) yaitu rider rawat inap, rider penyakit kritis, rider cacat tetap (ADDB dan TPD). Jika anggaran terbatas, asuransi jiwa merupakan produk asuransi pertama yang wajib dimiliki oleh pencari nafkah dalam sebuah keluarga, sebelum beranjak ke jenis asuransi lainnya.

Asuransi jiwa bisa berbentuk asuransi jiwa berjangka murni (term-life), asuransi jiwa seumur hidup (whole-life), asuransi jiwa dwiguna (endowment), atau asuransi jiwa berjangka plus investasi (unit-link).

Untuk keperluan proteksi, pilihannya adalah antara term-life atau unit-link. Kenapa unit-link? Karena unit-link itu hakikatnya adalah asuransi jiwa berjangka, sama seperti term-life. Bahkan unit-link itu jangka waktunya per tahun (tampak dari pengenaan biaya asuransi atau tabarru yang sifatnya tahunan), beda dengan term-life yang jangka waktunya bisa dipilih untuk beberapa tahun. Adapun sisi investasi pada unit-link, jika dikehendaki, bisa dikecilkan untuk mendapatkan manfaat proteksi yang maksimal, beda dengan sisi tabungan pada produk whole-life dan endowment yang tidak bisa diotak-atik sama sekali.

Baca juga:

5 Fungsi Asuransi Jiwa

Itulah RSCM (Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, Meninggal dunia), empat risiko yang memerlukan asuransi untuk menangani dampak keuangannya.

 

Asuransi di Luar RSCM

Di luar RSCM, ada beberapa jenis asuransi yang produknya memang tersedia di pasaran, tapi sebetulnya tidak diperlukan atau pada hakikatnya bukan ranah asuransi. Pembahasan tentang hal ini ada di artikel “Hal-hal yang Sebaiknya Dipersiapkan Bukan Lewat Asuransi”, tapi saya angkat kembali di bawah ini dengan titik tekan yang berbeda.

 

Asuransi Rawat Jalan

Rawat jalan memenuhi tiga kriteria pertama (mungkin dialami, tidak diinginkan, dan waktunya tidak dapat diketahui), tapi tidak memenuhi kriteria keempat yaitu dampak keuangan yang berat. Dampak keuangan dari rawat jalan seperti batuk-pilek-demam itu relatif ringan, sehingga pada umumnya bisa ditanggung sendiri.

Saran terbaik untuk mengantisipasi rawat jalan adalah menyiapkan dana darurat sejumlah yang diperkirakan akan diperlukan untuk biaya rawat jalan. Misalnya tahun lalu pergi 3 kali ke dokter dengan biaya 150 ribu per kunjungan, maka tahun ini kita siapkan uang sekitar 500 ribu dengan tujuan khusus untuk mengantisipasi biaya rawat jalan.

Jika biaya rawat jalan hendak disiapkan lewat asuransi, produk yang tersedia di pasaran jarang sekali. Dan kalaupun ada, preminya mahal sekali. Sebagai contoh, untuk mendapatkan manfaat rawat jalan sebesar maksimal 5 juta setahun, preminya sekitar 2,5 juta setahun. Perbandingan antara premi dengan manfaat hanya sekitar satu banding dua. Sangat tidak worth it. Bandingkan dengan premi rawat inap, misalnya 2,5 juta per tahun, manfaatnya bisa ratusan juta per tahun.

Mengapa premi rawat jalan itu mahal? Karena potensi klaimnya sering dan mudah disalahgunakan. Dan karena nilai klaimnya biasanya kecil, pihak asuransi tidak akan merasa perlu melakukan investigasi jika ada nasabah rawat jalan yang klaimnya mencurigakan. Daripada repot dengan nilai uang recehan, ya sudah dibikin mahal saja preminya.

Baca Juga:

Asuransi Rawat Jalan, Perlukah?

Asuransi Rawat Gigi

Sama seperti rawat jalan, rawat gigi pun memenuhi tiga kriteria pertama, tapi tidak kriteria keempat. Saran terbaik untuk mengantisipasi rawat gigi adalah menyiapkan uang sejumlah yang kira-kira diperlukan untuk biayanya. Misal, tahun lalu pergi ke dokter gigi 3 kali dengan total biaya 1 juta, maka tahun ini kita siapkan pula sekitar 1 juta khusus untuk biaya rawat gigi, jika memang sudah rutin merawat gigi.

 

Asuransi Melahirkan

Melahirkan tidak memenuhi empat kriteria di atas sekaligus.

Kriteria pertama, ada beberapa kalangan yang tidak mungkin melahirkan. Laki-laki jelas tidak akan melahirkan. Tidak semua perempuan pun akan melahirkan. Perempuan yang masih anak-anak, perempuan lansia, serta gadis yang belum bersuami tidak diharapkan akan melahirkan anak. Hanya seorang istri dan ibu muda yang mungkin untuk melahirkan, jadi segmen asuransi melahirkan ini sangatlah terbatas.

Kriteria kedua, melahirkan anak jelas merupakan sesuatu yang diinginkan oleh ibu bapaknya. Lalu kriteria ketiga, secara garis besar, waktu melahirkan itu dapat diketahui. Ketika seorang istri hamil satu bulan, bisa diperkirakan dengan tepat bahwa ia akan melahirkan delapan bulan kemudian.

Lalu kriteria keempat, dampak keuangan dari melahirkan bisa besar atau kecil, tergantung gaya hidup. Jika tak keberatan melahirkan di bidan dan puskesmas, biaya melahirkan relatif kecil dan bisa ditanggung sendiri. Jika gaya hidup mengharuskan seorang ibu melahirkan di rumah sakit, tentunya uang beberapa juta rupiah sanggup ditanggung oleh suaminya. Dan jika pun harus melahirkan secara caesar, biayanya masihlah terukur. Dampak keuangan dari melahirkan yang terbesar biasanya bukanlah operasinya, tapi seremoni yang menyertainya (akikah dan upacara pemberian nama, persiapan kebutuhan bayi, dll), yang tentu saja tidak ada asuransi yang menanggungnya.

Kabar baiknya, saat ini asuransi untuk rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan bisa memakai program Jaminan Kesehatan Nasional dari BPJS Kesehatan. Jika pakai asuransi swasta khususnya yang individu, preminya akan mahal sekali, tidak sebanding dengan manfaatnya.

 

“Asuransi” Pendidikan

Kata “asuransi” pada istilah asuransi pendidikan sengaja saya bubuhi tanda petik, untuk menunjukkan bahwa sebetulnya cara untuk mempersiapkan dana pendidikan itu bukanlah melalui asuransi, melainkan investasi atau tabungan.

Memang sejak lama perusahaan asuransi telah mengeluarkan produk yang disebut “asuransi pendidikan” dan produk semacam ini cukup diminati oleh masyarakat. Tapi sebetulnya, pada produk tersebut, dana yang dicairkan untuk membayar dana tahapan pendidikan bukanlah diambil dari dana asuransinya, tapi dari sisi investasi atau tabungannya. Sedangkan sisi asuransi pada produk “asuransi pendidikan” bukanlah untuk dana tahapan ketika si anak memasuki jenjang pendidikan, melainkan untuk mengantisipasi musibah yang menimpa tertanggung atau pemegang polis, misalnya jika meninggal dunia atau terkena penyakit kritis.

Pendidikan tidak memenuhi kriteria kedua karena pendidikan merupakan kejadian yang diinginkan. Tidak juga kriteria ketiga karena pendidikan itu waktunya dapat diketahui. Sedangkan kriteria keempat, dampak keuangan dari biaya pendidikan mungkin besar, tapi hal ini tergantung gaya hidup keluarga yang bersangkutan. Pada umumnya, orangtua akan menyekolahkan anaknya di tempat yang mereka mampu membayar iuran bulanannya. Jika keluarga tsb tergolong tidak mampu, banyak sekolah negeri gratis yang bisa dimasuki.  Dan jika si anak cukup pintar, ia bisa mencari beasiswa untuk mendapatkan sekolah yang bagus. Banyak lembaga atau para dermawan yang bersedia membiayai sekolah anak yang pintar dan berasal dari keluarga tidak mampu.

Kesimpulannya, pendidikan anak tetap perlu dipersiapkan, tapi tidak perlu melalui produk asuransi. Jika dipaksakan dipersiapkan lewat produk asuransi, entah berbentukendowment (asuransi tradisional) ataupun unit-link, potongan biayanya besar sekali. Padahal untuk mendapatkan dana pendidikan yang sebesar-besarnya, potongan biayanya haruslah yang sekecil-kecilnya. Pilihan yang lebih disarankan adalah tabungan pendidikan yang dikeluarkan oleh bank. Dan jika bisa berinvestasi, itu lebih baik lagi, misalnya di reksadana, saham, atau properti.

 

“Asuransi” Pensiun

Seperti halnya “asuransi” pendidikan, “asuransi” pensiun pun tidak memenuhi kriteria kedua dan ketiga. Pensiun itu kejadian yang diinginkan dan waktunya dapat diketahui, atau setidaknya dapat direncanakan. Mengenai dampak keuangan, pensiun itu justru butuh biaya yang sangat besar, karena seseorang yang pensiun harus dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sampai batas waktu yang tidak dia ketahui, sementara saat itu dia tidak bekerja lagi.

Sebagai contoh, jika seorang dengan kebutuhan 5 juta per bulan ingin pensiun, saat itu dia harus memiliki uang tunai senilai minimal 1,2 miliar, di mana uang ini jika dia simpan di deposito yang memberikan imbal hasil 5% per tahun, maka dari imbal hasilnya saja dia bisa hidup selamanya tanpa harus mengurangi simpanan pokoknya.

Untuk bisa punya uang 1,2 miliar bukan sesuatu yang mudah, apalagi bagi orang dengan kebutuhan hidup 5 juta per bulan. Jika dia bisa menabung 1 juta saja per bulan, dibutuhkan waktu 1.200 bulan atau 100 tahun untuk bisa terkumpul 1,2M. Diperlukan suatu instrumen investasi dengan imbal hasil yang tinggi secara konsisten dalam jangka panjang, namun dengan biaya rendah (dan itu bukan produk asuransi), untuk bisa menghasilkan uang sejumlah yang ditargetkan untuk menghidupi masa pensiun. Atau jika hal itu dirasa sulit dicapai, diperlukan usaha tambahan untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang bisa dicadangkan khusus untuk kebutuhan hidup di masa pensiun.

Memang, seperti halnya “asuransi pendidikan”, “asuransi pensiun” pun dikeluarkan oleh perusahaan asuransi. Namun sebetulnya, dana pensiun yang kelak diberikan kepada para nasabah bukanlah diambil dari sisi asuransinya, melainkan dari sisi investasinya.

(artikel ini diambil dari http://myallisya.com/2016/03/25/rscm-4-kejadian-yang-membutuhkan-asuransi/)

Apa Beda Bisnis MLM dengan Asuransi?

Saya berulang kali dirayu teman untuk bergabung di bisnis MLM (Multi-Level Marketing).  Saya sudah sampaikan bahwa saya sudah kerja di Asuransi. Mendapat jawaban seperti itu, mereka justru mengejek. “Ah bisnis Asuransi gak ada apa-apanya pak.” Aku kaget dengan jawaban sinisnya.

Sebenarnya apa perbedaan MLM dengan Asuransi?

Pertama dari Segi Produk

  • Apakah produknya merupakan kebutuhan manusia? Saya pilih berjualan produk yang merupakan kebutuhan manusia.
  • Apakah produknya selalu tersedia? Saya pilih berjualan produk yang selalu tersedia kapan saja, mudah memperolehnya seberapa banyak pun permintaannya, tidak terpengaruh musim dan tren, kondisi politik dan ekonomi, maupun ketersediaan bahan baku.
  • Apakah produknya bisa dijual di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun? Saya pilih produk yang bisa dijual di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun.
  • Seberapa menguntungkan penjualan dari produk tersebut? Saya pilih produk yang memberikan keuntungan lebih besar. Keuntungan jual produk asuransi dikenal dengan istilah faktor 24x (1 kali jual produk, komisinya 24 kali).

Produk asuransi memenuhi semua kriteria di atas. Sementara produk MLM, mungkin beberapa kriteria terpenuhi, tapi tidak semuanya.

Kedua dari Segi Perusahaan

  • Seberapa besar perusahaannya? Saya pilih perusahaan yang besar dan kuat. Ukurannya antara lain dilihat dari segi aset, penjualan, dan keuntungan.
  • Seberapa lama perusahaannya? Saya pilih perusahaan yang sudah lama berdiri, karena hal ini menunjukkan indikasi seberapa lama lagi perusahaan tersebut akan tetap ada.

Perusahaan asuransi tidak ada yang kecil, semuanya besar, bahkan sebagian di antaranya termasuk perusahaan raksasa berskala global, dengan total aset di atas pendapatan domestik bruto suatu negara. Misalnya, aset Allianz sendiri pada tahun 2012 sebesar USD 915,8 miliar (setara Rp 9.000 triliun), sedikit di atas PDB Indonesia tahun 2012 sebesar USD 852,24 miliar. Perusahaan raksasa berskala global itu semuanya telah berumur panjang, bahkan lebih tua dari banyak negara di dunia. Misalnya, Allianz berdiri tahun 1890.

Ketiga dari Segi Bisnis

  • Bagaimana prospek bisnisnya? Saya pilih bisnis yang prospeknya bagus, marketnya luas, penghasilan pasif tanpa batas.
  • Apakah bisnisnya bersifat jangka panjang? Saya pilih bisnis yang bersifat jangka panjang, bukan bisnis sambil lalu atau proyek sesaat. Bisnis asuransi merupakan bisnis jangka panjang karena dari segi produknya sendiri bersifat jangka panjang (masa bayar asuransi dan masa manfaat asuransi adalah puluhan tahun hingga seumur hidup).
  • Apakah marketnya memiliki titik jenuh? Saya pilih bisnis yang tidak memiliki titik jenuh. Di Singapura dan Jepang yang setiap penduduknya memiliki lebih dari satu polis asuransi, banyak perusahaan asuransi raksasa masih bercokol di sana dan tetap memperoleh keuntungan.
  • Apakah jaringan bisnis bisa diwariskan? Saya pilih bisnis yang jaringannya bisa diwariskan. Beberapa MLM mungkin menawarkan fitur ini, tapi yang jadi pertanyaan: apakah para downline masih ada di sana ketika terjadi pewarisan? Jangan-jangan mereka sudah pindah ke MLM lain atau ganti pekerjaan.

Keempat dari Status Profesi

  • Bagaimana kejelasan status profesi? Saya pilih bisnis yang status profesinya jelas. Profesi agen asuransi resmi dan diakui oleh negara. Saya bisa tulis di KTP saya pada kolom pekerjaan: Agen Asuransi.
  • Bagaimana tanggung jawab dan keterikatan dengan profesi? Saya pilih bisnis yang memiliki tanggung jawab profesi. Agen asuransi diharuskan memiliki lisensi keagenan, dan dia terikat kode etik serta tanggung jawab profesi di bidang asuransi. Ini adalah jenis keterikatan yang baik, bukan keterikatan yang menghalangi kebebasan. Saya tidak mau pindah-pindah pekerjaan ataupun gonta-ganti bisnis, apalagi jadi kutu loncat.

Hal-hal Lain

  • Pemasaran lewat internet. Asuransi bisa dipasarkan lewat internet, dan ini membebaskan saya dari kehabisan prospek. Nasabah-nasabah saya adalah mereka yang memang mencari dan membutuhkan asuransi.
  • Hubungan jangka panjang. Di asuransi, saya membina hubungan dengan nasabah maupun agen dalam kerangka hubungan jangka panjang. Siapa pun yang menjadi nasabah saya maupun agen di tim saya, harus siap berteman dengan saya selama-lamanya. Saya sangat berharap bisa menjadi teman sekaligus sahabat yang baik.
  • Keamanan kerja. Di bisnis asuransi, khususnya di ASN, saya memperoleh keamanan kerja dalam arti yang sebenar-benarnya. Saya tidak khawatir dipecat sebagai agen, karena kontrak agen ASN bersifat permanen. Profesi saya diakui negara dan ada lisensinya. Saya tidak khawatir bisnis saya akan surut atau sepi, karena asuransi adalah kebutuhan, dan prospek pasar di Indonesia sangatlah besar. Saya tidak khawatir kehilangan nasabah, karena mereka membeli asuransi dengan kesadaran sebagai kebutuhan. Saya tidak khawatir kehilangan agen, karena mereka pun mendapatkan keamanan kerja yang sama seperti saya. Saya tidak khawatir kehilangan penghasilan saya dan tidak pula khawatir penghasilan saya akan menurun.
  • Penghasilan pasif. Semua bisnis jaringan menawarkan penghasilan pasif, yang diperoleh jika sudah punya para downline aktif. Tapi hanya bisnis asuransi yang penghasilan pasifnya sudah diperoleh walaupun belum punya rekrutan, karena adanya faktor 24x. Jika jaringan sudah terbentuk dan aktif, kita bahkan tidak akan mampu membendung datangnya penghasilan pasif yang terus bertambah dan bertumbuh, karena jika sudah mencapai level tertentu, seorang agen asuransi tidak akan berhenti atau pindah ke bisnis lain. Saya melihat diri saya sendiri: walaupun agen saya belum banyak, saya telah memutuskan dengan bulat hati akan tetap beraktivitas di bisnis ini, dan itu berarti penghasilan pasif yang terus-menerus bagi para leader saya. Saya ingin mencapai posisi seperti mereka.
  • Membantu sesama. Produk asuransi menyediakan bantuan keuangan di saat orang sangat membutuhkan. Menjual produk asuransi berarti membantu orang. Selain itu, melalui sistem bisnisnya yang bersifat jaringan, seorang agen asuransi juga membantu para agen lainnya untuk sukses bersama.
  • Kesempatan untuk menulis. Aslinya saya ini seorang penulis. Asuransi termasuk bidang yang layak untuk ditulis, baik sebagai kajian akademis maupun praktis. Asuransi bisa dihubungkan dengan perencanaan keuangan, ekonomi, investasi, maupun bisnis. Dan saya berniat menulis buku biar dikira ahli asuransi. Sekarang saya sedang mencicil menulis artikel-artikelnya satu demi satu.
  • Terakhir, saya sudah merasa sangat nyaman dengan apa yang saya kerjakan saat ini, lahir maupun batin, material maupun spiritual, emosional maupun intelektual. Sehari-hari kerja di rumah. Waktu untuk keluarga cukup berlimpah. Calon nasabah datang sendiri. Calon agen juga muncul sendiri. Teman dan kenalan saya bertambah setiap hari. Bebas dari perkara mengutangi dan diutangi. Tidak direpotkan  dengan urusan mengangkut dan menyimpan barang. Sifat pekerjaan saya membantu orang. Penghasilan saya naik setiap bulan. Keamanan kerja terjamin. Saya pun bisa tetap membaca dan menulis.  Jadi, apa yang membuat saya harus mencoba-coba bisnis lain? Yang saya butuhkan hanyalah banyak-banyak bersyukur kepada Tuhan. Masa depan hanyalah soal waktu.

Asuransi Nilai Utamanya Proteksi bukan Investasi

Asuransi itu proteksi, bukan investasi. Membeli produk asuransi mestinya diniatkan untuk tujuan memperoleh proteksi atau perlindungan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Bahkan walaupun produk asuransi yang diambil itu jenisnya unit-link (asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi), niat utamanya tetap proteksi, bukan investasi.

Salahkah jika unit-link diniatkan untuk investasi? Ini bukan soal benar-salah, tapi jika tujuannya untuk investasi, ada banyak instrumen lain yang bisa memberikan keuntungan lebih besar dengan biaya yang lebih murah. Misalnya obligasi, reksadana, dan saham. Jika tidak mengerti tentang obligasi, reksadana, dan saham, atau tidak punya waktu untuk mempelajarinya, anda bisa berinvestasi di instrumen tradisional yang lebih sederhana dan mudah dipahami, seperti deposito, emas, dan properti.

Perlu diketahui juga, investasi unit-link pun sebetulnya sama persis dengan reksadana. Reksadana adalah kumpulan dana masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi, dan disalurkan ke instrumen investasi seperti deposito, obligasi, dan saham, atau campuran dari ketiganya (tergantung jenis reksadananya). Investasi reksadana mengandung risiko, dan investasi unit-link pun sama. Bedanya, struktur biaya pada reksadana jauh lebih rendah daripada struktur biaya pada unit-link, sehingga imbal hasil yang diharapkan pun bisa lebih tinggi.

Perbedaan Asuransi dengan Investasi

Asuransi bukan saja berbeda dengan investasi, tapi keduanya memang memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. Jika disatukan, maka memperbesar yang satu akan memperkecil yang lainnya. Contoh dalam produk unit-link, jika uang pertanggungannya diperbesar, biaya asuransi (tabarru) akan lebih besar pula sehingga nilai investasinya otomatis menjadi lebih kecil. Sebaliknya, jika seorang nasabah ingin nilai investasinya lebih besar, uang pertanggungan asuransinya harus diperkecil.

Secara ringkas, perbedaan asuransi dan investasi adalah sebagai berikut.

  1. Asuransi tujuannya melindungi uang supaya tidak habis, investasi tujuannya mengembangkan uang supaya tambah banyak.

Misalnya anda punya tabungan 100 juta, dengan asuransi kesehatan, uang 100 juta itu tidak perlu terpakai jika anda mengalami sakit atau kecelakaan. Sedangkan investasi, misalnya anda punya tabungan 100 juta, anda berpikir harus disalurkan ke mana uang itu supaya dalam 5 tahun menjadi 200 juta.

  1. Asuransi itu jaga-jaga dari hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, investasi itu persiapan untuk hal-hal yang diinginkan di masa depan.

Hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja misalnya rawat inap, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, dan meninggal dunia. Kapan saja itu mungkin tahun depan, mungkin bulan depan, atau bahkan mungkin esok hari, kita tak pernah tahu. Datangnya kejadian-kejadian tersebut tidak memandang apakah kita sudah punya uang atau tidak. Untuk itulah kita butuh asuransi supaya dampak keuangannya bisa ditanggulangi atau diminimalkan.

Sedangkan hal-hal yang diinginkan di masa depan itu contohnya pendidikan anak, ibadah haji, dan pensiun. Semua itu sama-sama butuh dana, tapi waktunya bisa diketahui atau direncanakan sehingga setiap orang bisa mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Cara mempersiapkannya ialah dengan investasi (jika jangka waktunya relatif panjang) atau menabung (jika jangka waktunya pendek, kurang dari satu tahun).

  1. Asuransi itu jangka pendek, investasi itu jangka panjang.

Asuransi itu jangka pendek karena nilai dari manfaat asuransi akan semakin mengecil seiring waktu. Misalnya anda punya uang pertanggungan jiwa 1 miliar, saat ini nilainya mungkin terasa besar, tapi semakin lama nilainya semakin mengecil karena faktor inflasi. Oleh karena itu, setiap periode tertentu, misalnya setiap 5 tahun, uang pertanggungan asuransi harus ditingkatkan (upgrade).

Sedangkan investasi itu jangka panjang karena keuntungan investasi akan semakin membesar seiring waktu. Semakin panjang masa investasi, keuntungan yang dihasilkannya akan semakin besar.

  1. Asuransi itu tidak butuh waktu untuk menjadi besar, investasi itu butuh waktu untuk menjadi besar.

Ini perbedaan lain yang harus disadari. Banyak orang menolak asuransi karena mendingan uangnya ditabung atau diinvestasikan saja. Padahal jika musibah datang dalam waktu dekat, tentu tabungannya belum banyak dan yang belum banyak itu bisa habis semuanya dalam sekejap. Dengan asuransi, dalam waktu singkat telah tersedia sejumlah besar dana untuk menanggulangi dampak dari musibah yang bisa terjadi kapan saja, karena asuransi itu memakai prinsip berbagi risiko di antara sejumlah orang.

  1. Asuransi itu kekuatan bersama, investasi itu kekuatan sendiri.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang datangnya tidak terduga, mana yang lebih efektif: melakukannya sendirian atau melakukannya bersama-sama?

Asuransi, baik konvensional maupun syariah, bisa mengumpulkan dana besar secara cepat karena ada banyak orang yang terlibat di dalamnya sebagai peserta. Setiap peserta merelakan uangnya dipakai untuk membayar klaim peserta lain, dan tidak keberatan jika dirinya sendiri tidak memperoleh uang klaim (artinya tidak terjadi musibah).

Sedangkan investasi adalah murni uang sendiri berikut pengembangannya. Nilai investasi pada produk unit-link adalah milik tiap-tiap peserta, tidak tercampur sama sekali dengan uang dari peserta lain. Dalam asuransi yang disebut “asuransi pendidikan” pun, dana tahapan yang diterima peserta seluruhnya berasal dari uang sendiri, tidak ada sama sekali uang dari peserta lain.

  1. Asuransi itu biaya dan biaya itu hangus, investasi itu cara mengembangkan dana agar tumbuh lebih besar.

Dalam perencanaan keuangan, asuransi itu bagian dari biaya seperti halnya pengeluaran untuk listrik dan telepon. Yang namanya biaya, tentu hangus alias tidak kembali. Dan sebagai gantinya, kita memperoleh proteksi. Entah musibah terjadi atau tidak, kita tetap memperoleh proteksi. Proteksi tidak bisa dilihat atau diraba secara fisik, tapi bisa dirasakan dalam bentuk ketenangan.

Sedangkan investasi bukanlah biaya, melainkan cara kita mengembangkan uang sehingga menjadi lebih besar dari sebelumnya. Dalam investasi ada biayanya, tapi sebisa mungkin carilah instrumen investasi yang paling minim biayanya, supaya hasilnya makin maksimal.

Perbedaan Biaya Unit-link dengan Reksadana

Membicarakan asuransi dalam kaitan dengan investasi, mau tak mau membawa kita pada perbincangan tentang unit-link. Seperti telah disinggung di atas, unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi. Sedangkan untuk investasi, lebih disarankan melalui reksadana karena struktur biayanya lebih kecil.

Perbedaan struktur biaya pada unit-link dan reksadana dapat dilihat pada tabel di bawah:

No Komponen Biaya Unit-link Reksadana
1 Biaya administrasi bulanan Ada, kisaran 20-40 ribu per bulan Tidak ada
2 Biaya akuisisi Ada dan sangat besar Tidak ada
3 Biaya asuransi (tabarru) Ada dan sangat besar Tidak ada
4 Biaya top up (penyetoran, pembelian) Ada, antara 2-5% Ada, antara 0-3%
5 Biaya penarikan dana Umumnya tidak ada Ada, sekitar 1%
6 Biaya pengelolaan investasi Ada, sekitar 1-2% per tahun Ada, sekitar 1-2% per tahun
7 Biaya bank kustodian Tidak ada Ada, sekitar 0,2-0,25% per tahun
8 Biaya pengalihan dana (switching) Umumnya tidak ada, atau baru ada jika lebih dari 4 kali swicthing dalam setahun, dengan besar sekitar 1%. Ada, antara 0-1%
9 Biaya pajak pertambahan nilai Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama. Jarang terjadi karena unit-link premi berkala tidak akan untung di 3 tahun pertama. Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama

Penjelasan:

  • Biaya akuisisi adalah potongan yang dikenakan dari premi dasar unit-link (tidak termasuk top up berkala), besarnya variatif, ada yang total 145% selama 5 tahun (seperti di unit-link Allianz), ada yang lebih dari 200%. Biaya akuisisi digunakan sebagian besar untuk komisi dan bonus agen, selebihnya untuk membiayai penerbitan polis, medical check up, dan urusan surat-menyurat. Karena ada biaya akuisisi inilah nilai investasi unit-link akan sangat rendah di tahun-tahun awal.
  • Biaya asuransi (cost of insurance [COI] atau tabarru dalam asuransi syariah) adalah biaya yang dikenakan untuk tiap manfaat asuransi yang diambil. Besarnya tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, jenis proteksi yang diambil, dan besar uang pertanggungannya. Biaya asuransi dikenakan selama masa proteksi (misalnya untuk asuransi jiwa dasar berarti sd usia tertanggung 100 tahun atau sampai meninggal dunia, mana yang lebih dulu). Adanya biaya asuransi ini menjadikan investasi unit-link sulit diharapkan keuntungannya, karena biaya asuransi atau tabarru ini naik seiring usia.
  • Biaya administrasi, akuisisi, dan asuransi tidak terdapat pada reksadana, oleh karena itu ketiga biaya ini harus dipandang sebagai biaya-biaya untuk mendapatkan manfaat proteksi. Jika tujuan anda membeli unit-link adalah untuk berasuransi, tinggal dilihat apakah biaya-biaya tersebut cukup layak (worth it) dibandingkan dengan manfaat asuransi yang diterima. Tapi jika tujuan anda membeli unit-link lebih ke keuntungan investasi, adanya biaya-biaya ini jelas akan menggerus saldo investasi anda.
  • Biaya nomor 4 sd 9 (top up/pembelian, penarikan, pengelolaan investasi, bank kustodian, pengalihan dana/switching, dan pajak) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan investasi. Jika hanya membandingkan biaya-biaya ini, sebetulnya biaya antara unit-link dan reksadana tidak terpaut jauh, tapi secara keseluruhan biaya reksadana masih lebih rendah. Jadi, jika anda ingin mendapatkan keuntungan investasi, reksadana lebih disarankan daripada unit-link.
  • Lalu apa fungsi nilai investasi pada unit-link jika memang tidak disarankan untuk mencari keuntungan investasi? Fungsi utamanya adalah untuk melindungi polis unit-link anda supaya proteksinya tetap berlaku. Apa maksudnya? Perlu diketahui, aturan dasar dalam unit-link adalah: proteksi polis tetap berlaku selama tersedia dana cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi. Keterangan ini selalu dinyatakan dalam setiap proposal unit-link, meski banyak nasabah yang tidak menyadarinya. Jika dana tidak cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi, maka polis lapse (batal, perlindungan berhenti). Solusinya sebelum itu terjadi, nasabah harus melakukan top up secara manual (menyetor sejumlah dana ke rekening unit-linknya).
  • Nilai investasi pada unit-link juga memiliki fungsi lain yang terkait dengan fungsi utama di atas, yaitu memungkinkan nasabah mengambil cuti premi. Cuti premi artinya berhenti menyetor premi, bisa untuk sementara atau selamanya, dan pada saat yang sama nasabah tetap memperoleh perlindungan asuransi karena biaya asuransi dan administrasi dipotong setiap bulan dari saldo. Fitur cuti premi ini adalah khas pada unit-link, tidak terdapat pada produk asuransi jenis lain.

Mengapa Tidak Asuransi Murni?

Jika asuransi unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi, mengapa tidak berasuransi di produk asuransi yang murni proteksi saja?

Tentu saja boleh dan baik-baik saja. Tapi masalahnya tidak semua proteksi yang dibutuhkan itu tersedia di pasaran dalam bentuk asuransi murni. Mayoritas perusahaan asuransi sekarang ini berlomba-lomba menerbitkan unit-link. Mereka mungkin punya produk asuransi tradisional yang murni asuransi (term-life), tapi tidak dikembangkan lagi.

Untuk asuransi kesehatan yang menanggung rawat inap, pilihannya banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Untuk asuransi jiwa yang menanggung risiko meninggal dunia, pilihannya juga banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Tapi untuk asuransi kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis, pada umumnya hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa dan umumnya di unit-link, jarang yang berdiri sendiri.

Jadi, jika anda ingin mendapatkan proteksi dari kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis (dan semua orang butuh ini), pilihannya terbatas pada unit-link. Kalaupun ada di asuransi non-unit-link, ya itu tadi, karena tidak dikembangkan lagi oleh perusahaan asuransi, fitur-fiturnya tidak sebagus yang tersedia di unit-link.

Sebagai contoh, untuk asuransi penyakit kritis yang menanggung mulai tahap awal (early stage), sejauh ini di pasaran hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa unit-link. Anda akan kesulitan sendiri jika mencari asuransi penyakit kritis tahap awal dalam bentuk asuransi murni non-unit-link. Kalaupun anda menemukan produk tersebut, belum tentu fitur-fiturnya lebih bagus daripada rider penyakit kritis yang ada di unit-link, dan belum tentu pula harganya lebih murah.

Selain itu, unit-link memiliki nilai lebih berupa kepraktisan yaitu cukup satu produk untuk segala manfaat asuransi. Daripada membeli asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi cacat tetap, dan asuransi penyakit kritis secara terpisah-pisah, bukankah lebih praktis jika semuanya disatukan dalam satu produk? [diambil dari asepsopyan, myallisya.com]

Sebenarnya, Asuransi adalah Program Jangka Pendek

Banyak orang beranggapan bahwa asuransi itu program jangka panjang. Anggapan ini tidak sepenuhnya tepat. Sebetulnya asuransi itu bukan program jangka panjang, tapi program jangka pendek atau paling jauh jangka menengah.

Jika ada yang bersifat jangka panjang dalam produk asuransi, seperti pada produk jenis endowment dan unitlink, itu adalah sisi tabungan atau investasinya. Untuk asuransinya sendiri sulit disebut program jangka panjang. Mengapa?

Jika anda mengambil asuransi jiwa (unitlink ataupun bukan) dengan manfaat UP jiwa 1 miliar, maka uang 1 miliar itu mungkin terasa besar di saat sekarang, tapi akan semakin menurun nilainya di masa yang akan datang. Untuk saat ini, uang 1 miliar bisa dipakai membeli rumah mewah, tapi 10 tahun kemudian mungkin hanya rumah menengah saja. Dan 20 tahun kemudian, mungkin rumah sangat sederhana pun tak dapat.

Jika anda mengambil asuransi kesehatan (unitlink ataupun bukan) dengan manfaat plan kamar 1 juta, saat ini masih bisa memperoleh kelas VIP isi 1 orang. Tapi 10 tahun kemudian, kamar seharga 1 juta sehari mungkin setara kamar isi 4 orang, dan 20 tahun kemudian mungkin tak ada lagi kamar di rumah sakit yang tarifnya 1 juta semalam, seperti halnya sekarang ini kita sulit menemukan kamar seharga 100 ribu.

Jadi, jika anda mengambil asuransi, niatkanlah untuk jangka pendek saja, 5 atau paling lama 10 tahun. Setelah itu anda harus meningkatkan manfaat polis asuransi anda, entah dengan cara mengupgrade polis yang ada ataupun menambah polis baru.

Karena adanya anggapan bahwa asuransi itu program jangka panjang, saya pernah mendapat sebuah permintaan dari prospek yang menginginkan asuransi kesehatan untuk masa pensiun. Usianya saat ini 40 tahun dan berencana pensiun di usia 55 tahun. Saat ini selama masih bekerja, asuransi kesehatannya ditanggung kantor. Dia sudah mendapatkan penawaran dari asuransi lain berupa produk unitlink dengan premi 1 juta per bulan dan mendapatkan manfaat plan kamar 800 ribu. Ketika saya katakan bahwa 15 tahun lagi kamar 800 ribu mungkin hanya mendapat kamar kelas 3, dia terkejut dan akhirnya menyadari bahwa sangat naif mengambil asuransi kesehatan sekarang dengan niat untuk dipakai nanti.

Sedangkan investasi adalah betul program jangka panjang, karena manfaat investasi baru akan terasa di masa-masa yang akan datang. Investasi berguna untuk memenuhi keperluan kita di masa depan, misalnya kuliah anak, perjalanan ibadah, dan dana pensiun. Jika kita rutin berinvestasi di reksadana misalnya 1 juta tiap bulan, nilainya masih terasa kecil di tahun-tahun awal. Barulah setelah 5 tahun, atau 10 tahun, nilainya lebih terasa, dan jika konsisten dalam 20 tahun nilainya akan sangat mengejutkan.

Simpulan

Asuransi adalah program jangka pendek karena semakin lama nilainya semakin kecil.

Investasi adalah program jangka panjang karena semakin lama nilainya semakin besar.

Ada pepatah: “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Ini adalah tentang tabungan atau investasi.

Sedangkan untuk asuransi, pepatahnya harus dibalik: “Bukit yang terus dikikis lama-lama menjadi dataran rendah”. []

Asuransi Melindungi Hasil Usaha Kita (Penghasilan, Tabungan, Aset, dan Investasi)

Perencanaan keuangan belumlah lengkap tanpa asuransi, terutama asuransi jiwa. Kita sudah berusaha dengan susah payah mengumpulkan uang untuk kebutuhan masa depan, tiba-tiba pada suatu waktu musibah datang. Mungkin sakit kritis, mungkin kecelakaan. Dalam sekejap, uang yang telah terkumpul bisa hilang. Dan jika musibah itu berupa kematian pada orang yang menjadi tumpuan penghasilan, keluarga yang ditinggalkan akan kebingungan dalam kesedihan.

Asuransi melindungi hasil usaha kita (penghasilan, tabungan, investasi, aset) dari risiko yang mungkin terjadi dalam masa perjanjian, seperti sakit, kecelakaan, dan kematian. Asuransi tidak berwenang mencegah terjadinya musibah. Kita pun tentunya berharap hidup kita senantiasa aman tenteram sentosa selamanya. Tapi jika misalnya peristiwa tak diinginkan itu datang, asuransi akan meringankan beban kita dalam masalah keuangan.

Sakit butuh duit. Kecelakaan menguras uang. Kematian pun ada ongkosnya, khususnya bagi yang ditinggalkan. Tanpa asuransi, bisa jadi penghasilan kita, tabungan, hasil investasi, dan aset akan tersedot untuk membiayai hal-hal itu. Padahal mestinya penghasilan itu kita gunakan untuk biaya hidup, tabungan untuk pendidikan anak, hasil investasi untuk ibadah haji, dan aset untuk dana pensiun. Semua impian bisa berantakan, cita-cita bisa kandas, bahkan kekayaan bisa ludes, hanya karena kita lupa menyertakan asuransi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.

Oleh karena itu, sekali lagi, lengkapi perencanaan keuangan anda dengan asuransi. Insya Allah, semua apa yang kita impikan bisa lebih terjamin pewujudannya.

UP 4 Miliar hanya 1 juta perbulan

Berikut saya tawarkan proteksi jiwa UP 1 miliar ditambah 4 bentuk proteksi lain dengan total UP lebih dari 4 miliar.

up-4-m

Jika anda pria umur 25 tahun atau kurang, bekerja dalam ruangan, dan sehat, maka yang perlu anda sisihkan cukup 1 juta per bulan.

Premi untuk usia dan jenis kelamin yang berbeda:

premi-up-4-m

Lengkap dan murah, bukan? Itulah Tapro Allisya Protection Plus. Tak ada di tempat lain.

Selain lengkap dan murah, program ini ada unsur investasinya pula. Anda boleh menambahkan premi top up untuk mendukung investasi, minimal 100 ribu per bulan, maksimal 3 kali premi. Top up sifatnya opsional, boleh ditambahkan boleh tidak, dan boleh pula ditambahkan kapan saja.

Keterangan Manfaat
Jika pindah dunia sebelum usia 100 tahun, akan cair uang 1 miliar ditambah nilai investasi.
Jika pindah dunia karena kecelakaan sebelum usia 65 tahun, akan cair uang 2 miliar ditambah nilai investasi.
Jika mengalami cacat akibat kecelakaan sebelum usia 65 tahun, akan diberikan sebesar persentase dari 1 miliar.
Jika terdiagnosa 1 dari 49 penyakit kritis sebelum umur 70 tahun, akan keluar uang 1 miliar.
Jika mengalami cacat tetap total, akibat kecelakaan ataupun sakit, akan cair lagi 1 miliar.
Jika terdiagnosa sakit kritis atau cacat tetap total sebelum usia 65 tahun, maka selain mendapat 1 miliar, akan dibayarkan pula tabungan otomatis sebesar premi sampai umur 65 tahun.
Jika selamat sehat wal afiat sampai umur 100 tahun, maka alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan atas karunia nikmatnya kepada anda. Anda dipersilakan menarik semua nilai investasinya.

Hubungi Saya:

Natanael

SMS/What’s App : 08113436830

pin BB : 54A7F03B

E-mail : natanael.albertus@gmail.com atau natanael.allianz@gmail.com