Category Archives: Hindari kesalahan membeli asuransi

Resiko Berinvestasi di Unit Link Asuransi

RD 4Banyak agen asuransi menawarkan produk unit-link dengan iming-iming investasi. Tahun kesekian dapat uang sekian, uangnya bisa dipakai untuk pendidikan anak, bisa dipakai pensiun, bisa untuk jalan-jalan, dsb.

Saya pribadi juga berasumsi demikian. Melihat ilustrasi pertumbuhan investasi pada unit link asuransi, kita bisa membayangkan hal yang luar biasa kedepannya.

Benarkah demikian? Belum tentu. Belum tentu berarti: bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Kenyataannya akan tergantung banyak hal. Dengan kata lain, investasi itu tidak dijamin.

Terkait dengan pekerjaan sebagai agen asuransi, menjual sesuatu yang tidak dijamin itu akan tidak menenangkan. Padahal asuransi itu sendiri sesuai pengertian harfiahnya adalah proteksi, perlindungan, atau jaminan. Jadi, agen asuransi mestinya menjual sesuatu yang bisa memberikan perlindungan bagi nasabahnya.

Begitu pula bagi nasabah, mengambil produk asuransi dengan tujuan investasi itu bisa bikin khawatir, karena mungkin saja dana pendidikan atau dana pensiun yang direncanakan tidak bisa diambil sesuai nilai yang diharapkan.

Gambar-gambar di bawah ini diambil dari infovesta.com, menyajikan kinerja sejumlah reksadana saham (equity fund) dalam satu hari, satu bulan, satu tahun, dan tiga tahun terakhir dihitung pada tanggal 14 Januari 2016. Saya tidak menyajikan kinerja investasi unit-link untuk menghindari penyebutan merek unit-link tertentu. Tapi investasi unit-link itu sama dengan reksadana, jadi hasilnya tak jauh beda.

RD 6

RD 1

RD 2

Seperti bisa dilihat dalam gambar di atas, kinerja investasi reksadana saham dalam satu tahun terakhir (Januari 2015 sd Januari 2016) semuanya minus, ada yang belasan hingga lebih dari 20 persen. Sedangkan dalam tiga tahun terakhir, sebagian minus dan sebagian plus, itu pun tidak seberapa besar.

Melihat fakta dan data ini, masihkah unit-link layak dijadikan kendaraan untuk mengembangkan uang alias investasi? Sila dipikir-pikir lagi.

Bagi saya pribadi, unit-link itu bagaimana pun adalah produk asuransi. Saran profesional saya kepada setiap calon nasabah: ambillah unit-link dengan tujuan untuk mendapatkan proteksi. Di sini, yang dilihat bukan proyeksi nilai investasi yang tidak dijamin, melainkan berapa besar UP (uang pertanggungan) atau manfaat asuransi yang diterima, baik untuk asuransi jiwa dasar maupun ridernya. Nilai UP ini dijamin dan akan keluar jika terjadi sesuatu yang sesuai kriteria kejadian.

Ada orang (agen) yang berkata, buat apa ambil asuransi yang manfaatnya hanya keluar kalau meninggal, kalau sakit, kalau kecelakaan, kalau cacat, dan sebagainya. Asuransi jiwa itu “life insurance” alias asuransi hidup, bukan “death insurance”, jadi mestinya nasabah mendapatkan manfaat ketika dia hidup dan sehat.

Ungkapan ini ada betulnya, tapi sebetulnya kita tidak perlu khawatir jika kita sehat dan hidup, yang artinya kita baik-baik saja. Yang perlu kita khawatir adalah jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita, dan di sinilah fungsi asuransi (serta agen asuransi) bekerja.

Mungkin ada pertanyaan, bukankah proteksi unit-link tidak bisa dilepaskan dari investasinya? Dengan kata lain, jika kinerja investasi jelek terus, nilai investasi lama-lama bisa habis untuk membayar biaya asuransi (tabarru) dan proteksi pun berakhir?

Itu betul. Tapi jika kita mengambil unit-link dengan tujuan untuk asuransi, sebetulnya nilai investasi habis bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Syarat dan ketentuan mengenai berlakunya proteksi unit-link adalah: Selama biaya asuransi (tabarru) dan administrasi dibayar, proteksi tetap berlaku sampai akhir masa perlindungan, yaitu sampai usia 100 tahun untuk asuransi dasar dan berbeda-beda untuk tiap rider. Jika saldo investasi masih ada, biaya asuransi dan administrasi dipotong dari saldo investasi. Jika saldo investasi habis atau tidak cukup, biaya asuransi dan administrasi bisa dibayar dari luar dengan cara top up tunggal atau dengan cara membayar sebesar biaya asuransi dan administrasi saat itu.

Demikian. []

Advertisements

Hindari Kesalahan dalam Membeli Asuransi

Sering kita kecewa tentang layanan asuransi yang kurang maksimal atau clime yang tidak dibayar. Hal tersebut bisa jadi adalah saat membeli asuransi, kita tidak mengerti tentang apa yang ada di polis yang kita beli. Berikut ini yang biasanya terjadi:

Uang Pertanggungan Kurang.

Uang Pertanggungan atau UP adalah uang yang menanggung nilai jiwa orang yang diasuransikan. Misalnya Anda membeli asuransi jiwa, UP adalah yang diterima ahli waris saat Anda meninggal. Mengapa dikatakan UP kurang? Karena demi mengejar premi kecil Anda menerima saja perhitungan UP yang dilakukan agen. “Saat ini, dibutuhkan UP antara Rp1,4 miliar sampai Rp3,5 miliar,” tegas Aidil. “Jadi, kalau UP asuransi Anda di bawah Rp1 miliar, bahkan ada yang dibawah Rp100 juta, well, Anda underinsured.”

Allianz menawarkan produk asuransi (utamanya jenis unitlink) yang memberikan proteksi maksimal dengan premi ringan.  Saya seringkali memberikan penawaran kepada calon nasabah untuk memiliki proteksi dengan UP minimal 1 Miliar.  Kenapa?  Karena: kontrak antara nasabah dan perusahaan asuransi (dalam hal ini Allianz) adalah kontrak jangka panjang, dimana Allianz melindungi nasabah seumur hidup.  Dengan memberikan proteksi yang besar (UP jumlah besar, minimal 1M), diharapkan nominal tersebut masih “terasa manfaatnya” minimal sampai 10 tahun ke depan.  Hal ini dengan mempertimbangkan adanya inflasi, dll.  Walaupun idealnya, dianjurkan bagi nasabah untuk me-review kembali polis asuransinya minimal dalam 5 tahun, dan mempertimbangkan kembali Uang Pertanggungan yang ada dalam polis.  Apakah Uang Pertanggungan dalam polis masih sesuai dengan fungsinya kelak, yaitu untuk menggantikan biaya hidup bulanan keluarga, jika terjadi resiko pada pencari nafkah utama.

Ahli waris salah.

Siapa yang Anda jadikan sebagai ahli waris atau penerima manfaat atau pemaslahat atau beneficiary? Kalau Anda menjawab ‘anak’, bisa jadi Anda melakukan kesalahan. Mengapa? “Karena anak yang belum cakap hukum nggak bisa menerima waris. Karena seseorang dikatakan cakap hukum bila berusia 21 atau sudah menikah,” ujar Aidil. “Jadi, jika Anda mencantumkan anak sebagai ahli waris, segera ubah. Bisa digantikan dengan nama pasangan atau orang tua. ”

Di Allianz, bila nasabah mencantumkan nama anak sebagai ahli waris, dan ternyata saat resiko terjadi sang anak masih di bawah umur, maka Allianz akan mengacu pada surat “Perwalian Hak Asuh Anak” dari pengadilan.  Artinya, siapapun nama wali yang menjadi keputusan hak asuh anak, maka UP yang cair akan diberikan pada wali tersebut, bukan kepada anak.  Bila nasabah ingin UP menjadi milik anak, silahkan buat Surat Wasiat secara lengkap dan detil, yang kelak menjadi tanggung jawab anggota keluarga (utamanya wali asuh anak) untuk menuruti/mengacu pada isi Surat Wasiat tersebut.  Asuransi hanya bertanggung jawab sampai pada hasil keputusan resmi dari pengadilan.

Tertanggung salah.

Banyak orang salah kaprah soal tertanggung. Misalnya menjadikan anak sebagai tertanggung alias mengasuransikan anak. Biasanya agen Anda akan menawarkan – setelah Anda dan pasangan – agar anak diasuransikan juga. Padahal anak tidak mempunyai nilai ekonomis, sehingga tidak bisa diasuransikan. Kesalahan ini terjadi utamanya pada asuransi pendidikan, di mana agen mencantumkan anak sebagai tertanggung, umumnya dengan dalih agar premi lebih kecil dan UP lebih besar. Padahal dengan demikian asuransi justru akan keluar pada saat anak Anda meninggal. Itu berarti tujuan memiliki asuransi pendidikan buat anak jadi tidak tepat.

Allianz adalah perusahaan asuransi yang mengutamakan proteksi, bukan investasi.  Meskipun Allianz punya produk unitlink (produk utama yang saya jual: Tapro Allisya) yang menjawab kebutuhan nasabah akan hal tersebut, yaitu memberi proteksi dan investasi.  Namun fungsi utama investasi disini adalah untuk menjaga polis tetap aktif selama masa perlindungan.  .

Kami memahami benar fakta di lapangan bahwa masih ada sebagian masyarakat yang belum memiliki pemahaman yang sama. Artinya calon nasabah masih berharap bisa mendapatkan hasil investasi yang besar dari asuransi.  Hal ini terbukti dari banyaknya “permohonan ilustrasi untuk persiapan dana pendidikan anak” yang masuk ke email saya.

Membeli rider yang tidak perlu.

Selain asuransi dasar, Agen pasti menawarkan berbagai riders atau asuransi tambahan. Nah, kerap kali pihak agen juga kesulitan menjelaskan soal riders, sehingga timbul salah kaprah. Misalnya riders berbentuk asuransi kesehatan atau hospital benefit, dengan alasan asuransi meng-cover critical illness. Jika pemahaman Anda bahwa asuransi akan membayar saat Anda didiagnosis menderita 42 penyakit kritis yang disebutkan dalam polis, Anda salah besar. Karena yang dimaksud di sini adalah asuransi hanya akan membayar ketika Anda sudah dalam tahap sakit kritis – misalnya dalam kondisi stadium 4 kanker. “Jadi saat Anda didiagnosis, bahkan di stadium 3B pun asuransi nggak akan bayar,” ungkap Aidil. “Jadi benar-benar dibayarkan kalau Anda sudah kritis, dan kenyataannya, dari stadium 4 ke 4B itu jaraknya hanya 6-8 bulan sebelum akhirnya meninggal.” Lalu, apakah tidak perlu membeli riders critical illness sama sekali? “Tergantung riwayat kesehatan ayah dan ibu,” jawab Aidil. “Kalau ada riwayat penyakit kanker dan sebagainya dalam keluarga, beli saja. Kalau tidak ada, abaikan.” (Antono Purnomo)

Tentang kapabilitas agen asuransi.  Penting sekali untuk mengetahui profil calon agen Anda, apakah calon agen tersebut benar-benar memahami Anda, peduli kebutuhan proteksi Anda sehingga bisa memberikan solusi terbaik untuk menjawab kebutuhan tersebut?  apakah calon agen Anda benar-benar sudah memahami produk yang dijualnya?  Bila Anda bertemu langsung dengan calon agen yang belum pernah Anda kenal atau baru saja Anda kenal, ada baiknya Anda coba menyelami juga karakternya, apakah Anda sudah “klik” dengan karakternya?

Bila Anda bertemu dengan calon agen via blog bisnisnya, silahkan Anda telusuri artikel-artikel yang ada di blognya.  Dari situ Anda bisa ketahui bagaimana karakter calon agen (si penulis artikel / pengelola blog), bagaimana pendapatnya tentang asuransi, tentang produknya, tentang rencana keuangan, dll.  Jangan sampai salah pilih calon agen Anda.  Bila Anda setuju dengan pemikirannya (yang dituangkan pada artikelnya), berminat dengan produknya, silahkan kontak calon agen Anda.  Karena calon agen Anda adalah mitra Anda untuk membantu rencana proteksi Anda, dan mendampingi Anda sampai tahun-tahun mendatang (jangka panjang).

Tentang asuransi kesehatan dan asuransi sakit kritis.  Asuransi kesehatan dan asuransi sakit kritis adalah 2 hal yang memiliki pemahaman yang berbeda. Asuransi Kesehatan =  sangat membantu untuk membiayai segala keperluan pengobatan selama DI DALAM rumah sakit. Tapi untuk segala biaya yang timbul DI LUAR rumah sakit, atau segala keperluan yang TIDAK BERHUBUNGAN dengan rumah sakit, asuransi kesehatan tidak bertanggung jawab lagi.   Asuransi penyakit kritis = bisa membantu untuk berbagai biaya dan keperluan yang timbul DI LUAR rumah sakit, karena klaim asuransi penyakit kritis diberikan dalam bentuk uang tunai (cash). Besarnya sesuai jumlah uang pertanggungan (UP) yang tercantum dalam polis.

Tentang proteksi sakit kritis.

Asuransi penyakit kritis (Critical Illness) memiliki 5 fungsi:

1. Membiayai pengobatan penyakit kritis.
2. Membiayai perawatan setelah pengobatan penyakit kritis
3. Mengganti penghasilan yang hilang selama atau karena tidak bisa bekerja
4. Mencegah kehilangan aset dan jeratan utang.
5. Memelihara kepercayaan diri.

Allianz paling banyak cover sakit kritis (dibanding perusahaan asuransi lain), yaitu 49 sakit kritis.  Seiring waktu, melihat kebutuhan masyarakat yang besar terhadap proteksi sakit kritis, kemudian Allianz melahirkan proteksi sakit kritis yang lebih besar dan lebih luas, yaitu 100 sakit kritis.

Keunggulan proteksi 100 sakit kritis pada produk unitlink (Tapro) Allianz:

  • cover 100 kondisi kritis
  • kondisi kritis sejak tahap awal
  • proteksi sampai usia nasabah 100 tahun