Tag Archives: 6 Milyar

Polis Asuransi Jiwa Allianz adalah Harta Terakhir Kita

Saat kita mengalami kesulitan keuangan, apa yang kita lakukan?

Yang paling realistis adalah mengurangi pengeluaran.

Ada banyak pengeluaran kita dalam sebulan. Biaya makan-minum, biaya rumah tangga, cicilan rumah, cicilan kendaraan, sekolah anak, zakat dan sedekah, premi asuransi, pulsa, bensin, operasional bisnis, iuran klub olahraga, dan sebagainya.

Pengeluaran apa yang pertama kali terpikirkan untuk dikurangi?

Mungkin di antara kita ada yang menjawab, premi asuransi.

Ya, itu pilihan yang kelihatannya paling nyaman daripada mengurangi pengeluaran yang lain. Tapi jangan salah, bisa jadi itu juga kesalahan yang paling fatal.

Jika polis asuransi kita jenis unitlink dan sudah boleh cuti premi (usia polis telah melewati 2 tahun), menunda bayar premi tidak akan menyebabkan polis langsung lapse. Jadi bolehlah alokasi untuk asuransi ditunda dulu.

Tapi jika polis asuransi kita belum memungkinkan untuk cuti premi (usia polis belum 2 tahun atau nilai investasinya sangat sedikit karena sering ditarik), menunda bayar premi akan menyebabkan polis lapse atau tidak aktif. Dan jika kita melakukan itu, sesungguhnya kita dan keluarga kita berada dalam bahaya besar.

Coba kita pertimbangkan kembali situasinya.

Kita mengalami kesulitan keuangan, lalu kita menghentikan membayar premi sehingga polis menjadi lapse. Kita pun tidak lagi terlindungi dari risiko hidup yang mungkin menimpa secara tiba-tiba.

Jika kita baik-baik saja, masalah keuangan kita mungkin akan beres perlahan-lahan, dan kita pun bisa memulihkan kembali polis asuransi kita.

Tapi bagaimana jika kita tertimpa suatu musibah, entah sakit, atau kecelakaan, atau meninggal dunia? Tentunya masalah keuangan kita akan semakin berat. Yang tadinya sulit akan semakin sulit. Awalnya kita ingin memulihkan keuangan, tiba-tiba malah menjadi kian berantakan.

Kebanyakan kelas menengah di negara kita hidup dengan cicilan utang, terutama untuk rumah dan kendaraan. Kabar baiknya, cicilan rumah dan kendaraan biasanya sudah dilindungi dengan asuransi jiwa. Jika kita meninggal dunia, cicilan lunas sehingga rumah dan kendaraan bisa tetap menjadi milik keluarga kita.

Tapi banyak dari kelas menengah kita yang juga mempunyai utang di luar itu, utang yang biasanya tidak terlindungi asuransi jiwa. Mungkin utang ke teman, utang kartu kredit, utang bisnis, utang ke pegadaian, dan sebagainya.

Hati-hati, karena risiko selalu mengintai setiap saat dan tidak pernah menghubungi kita dulu ketika datang. Jika kita terkena musibah berupa sakit, utang kita bisa makin membengkak. Jika musibah itu berupa sakit kritis atau kecelakaan yang menimbulkan cacat tetap, utang kita mungkin tak akan terbayar selamanya. Dan jika musibah itu berupa meninggal dunia, utang tersebut akan diwariskan kepada keluarga kita.

Beruntunglah orang yang punya asuransi dan tetap mempertahankan asuransinya dalam kondisi sesulit apa pun. Khususnya asuransi jiwa, inilah yang akan menjadi harta terakhir kita.

Bisa jadi, polis asuransi jiwa adalah satu-satunya harta yang bisa kita wariskan kepada keluarga kita ketika harta yang lain telah habis untuk membiayai segala keperluan kita di masa hidup.

Bahkan bisa jadi, polis asuransi jiwa adalah satu-satunya harta yang akan melunasi utang-utang kita, dan melapangkan perjalanan kita di alam keabadian. []

Sumber artikel: https://myallisya.com/2016/06/01/bisa-jadi-polis-asuransi-jiwa-adalah-harta-terakhir-kita/

Asuransi Nilai Utamanya Proteksi bukan Investasi

Asuransi itu proteksi, bukan investasi. Membeli produk asuransi mestinya diniatkan untuk tujuan memperoleh proteksi atau perlindungan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Bahkan walaupun produk asuransi yang diambil itu jenisnya unit-link (asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi), niat utamanya tetap proteksi, bukan investasi.

Salahkah jika unit-link diniatkan untuk investasi? Ini bukan soal benar-salah, tapi jika tujuannya untuk investasi, ada banyak instrumen lain yang bisa memberikan keuntungan lebih besar dengan biaya yang lebih murah. Misalnya obligasi, reksadana, dan saham. Jika tidak mengerti tentang obligasi, reksadana, dan saham, atau tidak punya waktu untuk mempelajarinya, anda bisa berinvestasi di instrumen tradisional yang lebih sederhana dan mudah dipahami, seperti deposito, emas, dan properti.

Perlu diketahui juga, investasi unit-link pun sebetulnya sama persis dengan reksadana. Reksadana adalah kumpulan dana masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi, dan disalurkan ke instrumen investasi seperti deposito, obligasi, dan saham, atau campuran dari ketiganya (tergantung jenis reksadananya). Investasi reksadana mengandung risiko, dan investasi unit-link pun sama. Bedanya, struktur biaya pada reksadana jauh lebih rendah daripada struktur biaya pada unit-link, sehingga imbal hasil yang diharapkan pun bisa lebih tinggi.

Perbedaan Asuransi dengan Investasi

Asuransi bukan saja berbeda dengan investasi, tapi keduanya memang memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. Jika disatukan, maka memperbesar yang satu akan memperkecil yang lainnya. Contoh dalam produk unit-link, jika uang pertanggungannya diperbesar, biaya asuransi (tabarru) akan lebih besar pula sehingga nilai investasinya otomatis menjadi lebih kecil. Sebaliknya, jika seorang nasabah ingin nilai investasinya lebih besar, uang pertanggungan asuransinya harus diperkecil.

Secara ringkas, perbedaan asuransi dan investasi adalah sebagai berikut.

  1. Asuransi tujuannya melindungi uang supaya tidak habis, investasi tujuannya mengembangkan uang supaya tambah banyak.

Misalnya anda punya tabungan 100 juta, dengan asuransi kesehatan, uang 100 juta itu tidak perlu terpakai jika anda mengalami sakit atau kecelakaan. Sedangkan investasi, misalnya anda punya tabungan 100 juta, anda berpikir harus disalurkan ke mana uang itu supaya dalam 5 tahun menjadi 200 juta.

  1. Asuransi itu jaga-jaga dari hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, investasi itu persiapan untuk hal-hal yang diinginkan di masa depan.

Hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja misalnya rawat inap, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, dan meninggal dunia. Kapan saja itu mungkin tahun depan, mungkin bulan depan, atau bahkan mungkin esok hari, kita tak pernah tahu. Datangnya kejadian-kejadian tersebut tidak memandang apakah kita sudah punya uang atau tidak. Untuk itulah kita butuh asuransi supaya dampak keuangannya bisa ditanggulangi atau diminimalkan.

Sedangkan hal-hal yang diinginkan di masa depan itu contohnya pendidikan anak, ibadah haji, dan pensiun. Semua itu sama-sama butuh dana, tapi waktunya bisa diketahui atau direncanakan sehingga setiap orang bisa mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Cara mempersiapkannya ialah dengan investasi (jika jangka waktunya relatif panjang) atau menabung (jika jangka waktunya pendek, kurang dari satu tahun).

  1. Asuransi itu jangka pendek, investasi itu jangka panjang.

Asuransi itu jangka pendek karena nilai dari manfaat asuransi akan semakin mengecil seiring waktu. Misalnya anda punya uang pertanggungan jiwa 1 miliar, saat ini nilainya mungkin terasa besar, tapi semakin lama nilainya semakin mengecil karena faktor inflasi. Oleh karena itu, setiap periode tertentu, misalnya setiap 5 tahun, uang pertanggungan asuransi harus ditingkatkan (upgrade).

Sedangkan investasi itu jangka panjang karena keuntungan investasi akan semakin membesar seiring waktu. Semakin panjang masa investasi, keuntungan yang dihasilkannya akan semakin besar.

  1. Asuransi itu tidak butuh waktu untuk menjadi besar, investasi itu butuh waktu untuk menjadi besar.

Ini perbedaan lain yang harus disadari. Banyak orang menolak asuransi karena mendingan uangnya ditabung atau diinvestasikan saja. Padahal jika musibah datang dalam waktu dekat, tentu tabungannya belum banyak dan yang belum banyak itu bisa habis semuanya dalam sekejap. Dengan asuransi, dalam waktu singkat telah tersedia sejumlah besar dana untuk menanggulangi dampak dari musibah yang bisa terjadi kapan saja, karena asuransi itu memakai prinsip berbagi risiko di antara sejumlah orang.

  1. Asuransi itu kekuatan bersama, investasi itu kekuatan sendiri.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang datangnya tidak terduga, mana yang lebih efektif: melakukannya sendirian atau melakukannya bersama-sama?

Asuransi, baik konvensional maupun syariah, bisa mengumpulkan dana besar secara cepat karena ada banyak orang yang terlibat di dalamnya sebagai peserta. Setiap peserta merelakan uangnya dipakai untuk membayar klaim peserta lain, dan tidak keberatan jika dirinya sendiri tidak memperoleh uang klaim (artinya tidak terjadi musibah).

Sedangkan investasi adalah murni uang sendiri berikut pengembangannya. Nilai investasi pada produk unit-link adalah milik tiap-tiap peserta, tidak tercampur sama sekali dengan uang dari peserta lain. Dalam asuransi yang disebut “asuransi pendidikan” pun, dana tahapan yang diterima peserta seluruhnya berasal dari uang sendiri, tidak ada sama sekali uang dari peserta lain.

  1. Asuransi itu biaya dan biaya itu hangus, investasi itu cara mengembangkan dana agar tumbuh lebih besar.

Dalam perencanaan keuangan, asuransi itu bagian dari biaya seperti halnya pengeluaran untuk listrik dan telepon. Yang namanya biaya, tentu hangus alias tidak kembali. Dan sebagai gantinya, kita memperoleh proteksi. Entah musibah terjadi atau tidak, kita tetap memperoleh proteksi. Proteksi tidak bisa dilihat atau diraba secara fisik, tapi bisa dirasakan dalam bentuk ketenangan.

Sedangkan investasi bukanlah biaya, melainkan cara kita mengembangkan uang sehingga menjadi lebih besar dari sebelumnya. Dalam investasi ada biayanya, tapi sebisa mungkin carilah instrumen investasi yang paling minim biayanya, supaya hasilnya makin maksimal.

Perbedaan Biaya Unit-link dengan Reksadana

Membicarakan asuransi dalam kaitan dengan investasi, mau tak mau membawa kita pada perbincangan tentang unit-link. Seperti telah disinggung di atas, unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi. Sedangkan untuk investasi, lebih disarankan melalui reksadana karena struktur biayanya lebih kecil.

Perbedaan struktur biaya pada unit-link dan reksadana dapat dilihat pada tabel di bawah:

No Komponen Biaya Unit-link Reksadana
1 Biaya administrasi bulanan Ada, kisaran 20-40 ribu per bulan Tidak ada
2 Biaya akuisisi Ada dan sangat besar Tidak ada
3 Biaya asuransi (tabarru) Ada dan sangat besar Tidak ada
4 Biaya top up (penyetoran, pembelian) Ada, antara 2-5% Ada, antara 0-3%
5 Biaya penarikan dana Umumnya tidak ada Ada, sekitar 1%
6 Biaya pengelolaan investasi Ada, sekitar 1-2% per tahun Ada, sekitar 1-2% per tahun
7 Biaya bank kustodian Tidak ada Ada, sekitar 0,2-0,25% per tahun
8 Biaya pengalihan dana (switching) Umumnya tidak ada, atau baru ada jika lebih dari 4 kali swicthing dalam setahun, dengan besar sekitar 1%. Ada, antara 0-1%
9 Biaya pajak pertambahan nilai Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama. Jarang terjadi karena unit-link premi berkala tidak akan untung di 3 tahun pertama. Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama

Penjelasan:

  • Biaya akuisisi adalah potongan yang dikenakan dari premi dasar unit-link (tidak termasuk top up berkala), besarnya variatif, ada yang total 145% selama 5 tahun (seperti di unit-link Allianz), ada yang lebih dari 200%. Biaya akuisisi digunakan sebagian besar untuk komisi dan bonus agen, selebihnya untuk membiayai penerbitan polis, medical check up, dan urusan surat-menyurat. Karena ada biaya akuisisi inilah nilai investasi unit-link akan sangat rendah di tahun-tahun awal.
  • Biaya asuransi (cost of insurance [COI] atau tabarru dalam asuransi syariah) adalah biaya yang dikenakan untuk tiap manfaat asuransi yang diambil. Besarnya tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, jenis proteksi yang diambil, dan besar uang pertanggungannya. Biaya asuransi dikenakan selama masa proteksi (misalnya untuk asuransi jiwa dasar berarti sd usia tertanggung 100 tahun atau sampai meninggal dunia, mana yang lebih dulu). Adanya biaya asuransi ini menjadikan investasi unit-link sulit diharapkan keuntungannya, karena biaya asuransi atau tabarru ini naik seiring usia.
  • Biaya administrasi, akuisisi, dan asuransi tidak terdapat pada reksadana, oleh karena itu ketiga biaya ini harus dipandang sebagai biaya-biaya untuk mendapatkan manfaat proteksi. Jika tujuan anda membeli unit-link adalah untuk berasuransi, tinggal dilihat apakah biaya-biaya tersebut cukup layak (worth it) dibandingkan dengan manfaat asuransi yang diterima. Tapi jika tujuan anda membeli unit-link lebih ke keuntungan investasi, adanya biaya-biaya ini jelas akan menggerus saldo investasi anda.
  • Biaya nomor 4 sd 9 (top up/pembelian, penarikan, pengelolaan investasi, bank kustodian, pengalihan dana/switching, dan pajak) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan investasi. Jika hanya membandingkan biaya-biaya ini, sebetulnya biaya antara unit-link dan reksadana tidak terpaut jauh, tapi secara keseluruhan biaya reksadana masih lebih rendah. Jadi, jika anda ingin mendapatkan keuntungan investasi, reksadana lebih disarankan daripada unit-link.
  • Lalu apa fungsi nilai investasi pada unit-link jika memang tidak disarankan untuk mencari keuntungan investasi? Fungsi utamanya adalah untuk melindungi polis unit-link anda supaya proteksinya tetap berlaku. Apa maksudnya? Perlu diketahui, aturan dasar dalam unit-link adalah: proteksi polis tetap berlaku selama tersedia dana cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi. Keterangan ini selalu dinyatakan dalam setiap proposal unit-link, meski banyak nasabah yang tidak menyadarinya. Jika dana tidak cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi, maka polis lapse (batal, perlindungan berhenti). Solusinya sebelum itu terjadi, nasabah harus melakukan top up secara manual (menyetor sejumlah dana ke rekening unit-linknya).
  • Nilai investasi pada unit-link juga memiliki fungsi lain yang terkait dengan fungsi utama di atas, yaitu memungkinkan nasabah mengambil cuti premi. Cuti premi artinya berhenti menyetor premi, bisa untuk sementara atau selamanya, dan pada saat yang sama nasabah tetap memperoleh perlindungan asuransi karena biaya asuransi dan administrasi dipotong setiap bulan dari saldo. Fitur cuti premi ini adalah khas pada unit-link, tidak terdapat pada produk asuransi jenis lain.

Mengapa Tidak Asuransi Murni?

Jika asuransi unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi, mengapa tidak berasuransi di produk asuransi yang murni proteksi saja?

Tentu saja boleh dan baik-baik saja. Tapi masalahnya tidak semua proteksi yang dibutuhkan itu tersedia di pasaran dalam bentuk asuransi murni. Mayoritas perusahaan asuransi sekarang ini berlomba-lomba menerbitkan unit-link. Mereka mungkin punya produk asuransi tradisional yang murni asuransi (term-life), tapi tidak dikembangkan lagi.

Untuk asuransi kesehatan yang menanggung rawat inap, pilihannya banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Untuk asuransi jiwa yang menanggung risiko meninggal dunia, pilihannya juga banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Tapi untuk asuransi kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis, pada umumnya hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa dan umumnya di unit-link, jarang yang berdiri sendiri.

Jadi, jika anda ingin mendapatkan proteksi dari kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis (dan semua orang butuh ini), pilihannya terbatas pada unit-link. Kalaupun ada di asuransi non-unit-link, ya itu tadi, karena tidak dikembangkan lagi oleh perusahaan asuransi, fitur-fiturnya tidak sebagus yang tersedia di unit-link.

Sebagai contoh, untuk asuransi penyakit kritis yang menanggung mulai tahap awal (early stage), sejauh ini di pasaran hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa unit-link. Anda akan kesulitan sendiri jika mencari asuransi penyakit kritis tahap awal dalam bentuk asuransi murni non-unit-link. Kalaupun anda menemukan produk tersebut, belum tentu fitur-fiturnya lebih bagus daripada rider penyakit kritis yang ada di unit-link, dan belum tentu pula harganya lebih murah.

Selain itu, unit-link memiliki nilai lebih berupa kepraktisan yaitu cukup satu produk untuk segala manfaat asuransi. Daripada membeli asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi cacat tetap, dan asuransi penyakit kritis secara terpisah-pisah, bukankah lebih praktis jika semuanya disatukan dalam satu produk? [diambil dari asepsopyan, myallisya.com]

Mengubah Nasi yang Sudah Menjadi Bubur

Banyak orang mengatakan, nasi sudah menjadi bubur ketika mereka menyesali tidak mengambil satu pun program asuransi sebelum resiko hidup terjadi. Begitu kepala keluarga pencari nafkah kehilangan penghasilan karena sakit berat, kecelakaan berat yang menyebabkan cacat tetap atau pindah dunia terlalu cepat, keluarga baru menyadarinya. Mereka seringkali menyesali mengapa tidak mendengar penjelasan dan mengambil tindakan membeli polis segera. Nasi sudah menjadi bubur.

Akan tetapi, banyak yang lupa bahwa bubur sekarang diperdagangkan dengan sangat laris. Dengan beberapa tambahan seperti cakwe, ayam suir, bawang goreng dll, maka bubur pun bisa dijual kalau enak. Tugas kitalah menjadikan nasi yang sudah menjadi bubur ini menjadi bubur yang enak .

Kita bisa belajar dari apa yang sudah dialami orang lain. Untuk kasus seperti diatas, tentu selain butuh biaya pengobatan yang besar, biaya hidup keluarga juga terus berjalan seperti tagihan listrik, biaya sekolah anak-anak, cicilan dll. Asuransi kesehatan seperti BPJS, asuransi kesehatan swasta, atau jaminan biaya pengobatan tanggungan kantor mungkin banyak membantu biaya ketika rawat inap. Tapi diluar itu masih banyak biaya-biaya lainnya yang harus ditanggung sendiri.

Walaupun kita sudah memiliki deposito yang jumlahnya bisa dipakai untuk  membayar sebagian biaya hidup dan memiliki bisnis apapun, kita tetap membutuhkan asuransi jiwa. Sebab, asuransi memiliki fitur-fitur yang berbeda dengan deposito, tabungan atau bisnis real.

Asuransi memberikan anda kepastian uang pertanggungan, misalnya uang pertanggungan Rp. 1 milyar atau Rp. 2 milyar. Sementara, untuk mendapatkan Rp. 5 juta per bulan sebagai pengganti penghasilan, kita harus memiliki deposito sebesar Rp. 1,2  Milyar dengan tingkat suku bunga 6% per tahun.

Bagi anda yang hingga sekarang belum memiliki satu pun polis asuransi, segera ambil salah satu program asuransi. Mumpung anda masih punya penghasilan, mumpung anda masih muda. Mumpung masih sehat. Hidup akan bertambah sulit jika tidak memiliki asuransi. Jika nasi sudah menjadi bubur, saya meragukan anda bisa mengubahnya menjadi bubur yang enak.

Tabel Premi untuk manfaat Asuransi Jwa Dasar dan CI 00

image

image

Jangan Sampai Kanker Menghancurkan Hidup Keluargamu Juga

Hari ini saya  membaca sebuah pengalaman teman yang bergelut sebagai agen asuransi. Pada saat Ia mengirim ratusan email ke beberapa calon nasabah. Selang sepuluh menit salah satu prospek langsung merespon: “Terima kasih atas penawarannya yang sangat penting ini. Saya berminat ambil asuransi, tapi kondisi saya sekarang ini sedang terserang kanker, apakah bisa ya?” 

Dalam kondisi seperti di atas, berat kemungkinan untuk diterima asuransi. Sebab salah satu syarat untuk mengajukan asuransi adalam kondisi yang bersangkutan sehat dan tidak punya riwayat sakit yang amat serius. Setelah merenung kemudian saya membalasnya: “Ibu, sebenarnya bisa saja dalam kondisi yang sedang Ibu alami saat ini tetap mendaftar asuransi. Tapi harus melampirkan seluruh resume medis dari rumah sakit yang merawat Ibu. Apakah diterima atau tidaknya nanti tergantung underwraiting.”

Keesokan harinya beliau kembali membalas email. “Kalau begitu saya akan menuntaskan pengobatan dulu. Setelah pulih saya baru daftar, ya.” “Baik, Bu. Begitu lebih baik. Semoga cepat sembuh Bu, ya.

Semoga pengalaman Ibu ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Kanker, penyakit ganas yang berkeliaran dan gampang menyerang siapa saja. Tak kenal usia bahkan. Salah satu penyebabnya adalah polusi dan banyaknya makanan dan minuman instant yang sulit kita hindari. Akan lebih baik jika kita cepat daftar asuransi. Sedia payung sebelum hujan adalah langkah yang tepat. Sayangnya, kalau yang cerita seperti ini agen asuransi dikira hanya nakut-nakuti, ujung-ujungnya mau jualan asuransi. Semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Wallahu a’lam.

Mengakhiri tulisan ini, berikut ini saya berikan ilustrasi asuransi jiwa dengan tambahan rider perlindungan 100 jenis penyakit kritis. Hanya di Allianz yang menanggung 100 jenis penyakit kritis hingga usia 100 tahun. Pria, usia 30 tahun, tidak merokok. Hanya dengan premi Rp 1.500.000/bln dia mendapatkan: 1) santunan kematian (UP jiwa): 1 miliar. 2) santunan 100 jenis penyakit kritis (UP CI-100): 1 miliar. Ditambah dengan saldo investasi sesuai dengan perkembangan.

Ilustrasi lengkap klik gambar di bawah:

Ilustrasi Manfaat 1 Miliar

Masih kurang jelas/masih ragu berasuransi? Silahkan hubungi saya:

Natanael Agen Asuransi Allianz Surabaya

HP/SMS/WA 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com / natanael.allianz@gmail.com

Mengenai 49 Penyakit Kritis yang dicover Allianz Life

masalahRider penyakit kritis adalah manfaat tambahan yang diberikan jika tertanggung terdiagnosa salah satu dari 49 penyakit kritis. Untuk daftar penyakit yang termasuk dalam 49 penyakit kritis, silakan lihat di bawah.

B. Masa perlindungan

  • Sampai dengan tertanggung berusia 70 tahun.

C. Uang pertanggungan

  • Minimum 8 juta, maksimum 2 Miliar atau sama dengan UP dasar.
  • Untuk anak-anak, maksimum 500 juta.

D. Usia masuk tertanggung

  • Anak-anak mulai dari 1 tahun sampai dengan 17 tahun.
  • Dewasa mulai dari 18 tahun sampai dengan 64 tahun.

E. Jenis Rider Penyakit Kritis

  • CI: Klaim mengurangi UP dasar, masa perlindungan sampai dengan usia 85 tahun
  • CI+: Klaim tidak mengurangi UP dasar, masa perlindungan sampai dengan usia 70 tahun.

F. Masa tunggu (perioder eliminasi)

  • 90 hari dari tanggal berlaku polis.

G. Kelebihan

  • Tanpa syarat masa bertahan hidup (survival period)
  • Klaim dapat di ajukan begitu terdiagnosa, tanpa harus perawatan terlebih dahulu
  • Menanggung cacat tetap total
  • Menanggung terminal illness.

H. Pengecualian

  • Segala penyakit yang timbul dari luka yang dilakukan secara sengaja, contoh percobaan bunuh diri.
  • Segala penyakit yang disebabkan oleh AIDS, langsung maupun tidak langsung.
  • Segala penyakit bawaan sejak lahir.
  • Penyakit kritis yang didiagnosa sebelum polis berlaku, atau didiagnosa dalam periode eliminasi.

I. Daftar 49 Penyakit Kritis

1. Serangan jantung pertama
2. Stroke
3. Operasi jantung koroner
4. Operasi penggantian katup jantung
5. Kanker
6. Gagal ginjal
7. Kelumpuhan
8. Multiple sclerosis
9. Transplantasi organ vital tubuh
10. Penyakit alzheimer/gangguan otak organik degeneratif yang tidak dapat pulih kembali.
11. Koma
12. Penyakit parkinson
13. Terminal illness
14. Penyakit paru-paru kronis/tahap akhir
15. Penyakit hati kronis
16. Penyakit motor neuron
17. Muscular dystrophy
18. Anemia aplastis
19. Operasi pembuluh aorta
20. Hepatitis fulminant
21. Pulmonary arterial hypertension primer
22. Meningitis bakteri
23. Tumor otak jinak
24. Radang otak
25. Luka bakar
26. Poliomyelitis
27. Trauma kepala serius
28. Apallic syndrome
29. Penyakit jantung koroner lain yang serius
30. Angioplasti dan penatalaksanaan invasif lainnya untuk penyakit jantung koroner
31. Lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus)
32. HIV yang didapatkan melalui transfusi darah dan pekerjaan
33. Tuli (hilangnya fungsi indra pendengaran)
34. Bisu (kehilangan kemampuan bicara)
35. Kebutaan
36. Skleroderma progresif
37. Penyakit kista medullary
38. Cardiomyopathy
39. Aneurisma pembuluh darah otak yang mensyaratkan pembedahan
40. Terputusnya akar-akar syaraf plexus brachialis
41. Stroke yang memerlukan operasi arteri carotid
42. Operasi scoliosis idiopatik
43. Pankreatitis menahun yang berulang
44. Penyakit kaki gajah kronis
45. Hilangnya kemandirian hidup
46. Kematian selaput otot atau jaringan (gangrene)
47. Rheumatoid arthritis berat
48. Colitis ulterative berat (cronh’s disease)
49. Penyakit kawasaki yang mengakibatkan komplikasi pada jantung

Info lebih lanjut

Natanael, HP 08113436830 sms/WA

85% Keluarga Bangkrut karena Kanker

85% pasien dan keluarga bangkrut karena menanggung biaya obat dan perawatan kanker.

Demikian kesimpulan dari studi awal Fase II ASEAN Costs in Oncology pada tahun 2011.

Tahun terus berlalu, namun statistik yang ditunjukkan saat ini bisa jadi tidak jauh berbeda.

Data diatas menjadi indikasi bahwa kanker dan penyakit kritis lain berpotensi membuat ekonomi keluarga menjadi goyah bahkan tumbang.

Sebagai contoh, saat terdapat satu anggota keluarga menderita kanker payudara, biaya perawatan bisa mencapai Rp 200 juta setahun. Maka, keluarga yang berpenghasilan Rp 10 juta per bulan bisa bangkrut.

Biaya Perawatan Penyakit Kritis

Sebagai gambaran tingginya biaya perawatan dan pengobatan penyakit kritis, berikut adalah informasi dari berbagai sumber:

– Biaya operasi ByPass jantung: 250 juta rupiah.

– Biaya cuci darah akibat gagal ginjal: 550 ribu – 1 juta rupiah per sesi.

– Biaya kemoterapi untuk pengobatan kanker: 3 juta – 10 juta per sesi.

Solusi

Solusi paling efektif untuk mengatasi bencana finansial atas kemungkinan timbulnya penyakit kritis adalah dengan memiliki proteksi kesehatan penyakit kritis.

Tujuan polis ini adalah untuk memberikan sejumlah uang ‘lump sum’ saat seseorang terdiagnosis penyakit kritis tertentu yang bisa digunakan untuk membiayai perawatan dan pengobatan.

CI 100 dari Allianz

Allianz CI100 (online)_protekita

Critical Ilness 100 atau CI 100 merupakan rider penyakit kritis dari asuransi jiwa Allianz.

CI 100 Memberikan manfaat uang pertanggungan jika tertanggung terdiagnosa salah satu dari 100 penyakit kritis.

Pertanyaan & Informasi

Untuk pertanyaan dan informasi lebih jauh, silahkan menghubungi kontak berikut:

Natanael Allianz

HP/WA 08113436830

Pentingnya Rider Pembebasan Premi pada Polis Asuransi Jiwa

Rider Waiver of Premium dan Payor Benefit memberikan pembebasan premi jika pemegang polis mengalami Penyakit Kritis (Critical Illness [CI]) atau Cacat Tetap Total (Total Permanent Disability [TPD]). Ada yang membebaskan premi dari CI saja, atau TPD saja, ada juga yang dari kedua-duanya.

Perbedaan Rider Waiver of Premium dan Payor Benefit

Perbedaan rider Waiver of Premium pada asuransi jiwa tradisional dan rider Payor Benefit pada unit-link ada dua:

Pertama, Waiver of Premium memberikan pembebasan premi sesuai dengan masa pembayaran premi dari polis dasarnya. Jika polis dasarnya berjangka waktu pembayaran 10 tahun, maka manfaat Waiver pun berlaku selama 10 tahun. Misalnya terjadi TPD di tahun ke-5, maka nasabah dibebaskan dari membayar premi mulai tahun ke-6 sd tahun ke-10.

Payor Benefit memberikan pembebasan premi sampai usia tertentu, biasanya sampai usia pemegang polis 65 tahun. Walaupun masa pembayaran premi direncanakan hanya 10 tahun, pembebasan premi tetap sampai usia 65 tahun. Misalnya nasabah usia 30 tahun, terkena TPD tahun kelima (usia 35 tahun), maka ia mendapatkan pembebasan premi sampai usianya 65 tahun.

Kedua, Waiver of Premium memberikan pembebasan dalam bentuk berhenti bayar premi, sedangkan Payor Benefit memberikan pembebasan dalam bentuk premi dibayarkan oleh perusahaan. Jika sebelumnya nasabah yang menyetor premi, setelah Payor Benefit berlaku, ganti perusahaan asuransi yang menyetor premi. Premi yang disetorkan perusahaan akan menjadi nilai investasi pada unit-link nasabah, dan nasabah boleh saja mengambil nilai investasi tersebut.

Dengan kata lain, pada Waiver of Premium, nasabah mendapatkan polis secara gratis, sedangkan pada Payor Benefit, nasabah mendapatkan uang tunai sebesar premi, adapun biaya-biaya polisnya tetap harus bayar dengan cara dipotong dari nilai investasi.

Pentingnya Rider Pembebasan Premi.

Jika seseorang mengalami penyakit kritis atau cacat tetap total, menurut anda apakah yang ia butuhkan?

Penyakit kritis membutuhkan biaya yang sangat besar untuk pengobatan dan perawatan. Apa yang dibutuhkan di sini? Uang tunai yang besar. Penyakit kritis juga bisa menimbulkan kehilangan kemampuan produktif, berarti uang tunai yang besar itu juga harus ada lebihnya untuk biaya hidup.

Cacat tetap total atau lumpuh menimbulkan kehilangan kemampuan produktif alias tidak bisa bekerja lagi. Apa yang orang butuhkan saat ini? Tidak lain adalah uang tunai yang besar untuk menggantikan penghasilan, di mana penghasilan ini diperlukan untuk memenuhi biaya hidup dan kebutuhan lainnya.

Rider pembebasan premi berfungsi melindungi polis dari lapse karena ketidakmampuan bayar. Sedangkan untuk biaya sakit kritis atau cacatnya sendiri tidak menyediakan. Oleh karena itu, polis asuransi jiwa yang anda miliki sebaiknya dilengkapi pula dengan manfaat yang memberikan perlindungan berbentuk uang tunai dari risiko sakit kritis dan cacat tetap total.

Perlindungan terhadap penghasilan karena ketidakmampuan total diperoleh jika seseorang mengambil rider TPD (Total Permanent Disability). Sedangkan perlindungan terhadap biaya pengobatan yang mahal akibat penyakit kritis, dan juga terhadap kehilangan penghasilan yang mungkin disebabkannya, disediakan melalui rider CI (Critical Illness).

Dengan kata lain, rider pembebasan premi (Payor Benefit) menempati prioritas yang lebih rendah setelah rider cacat tetap total (TPD) dan rider penyakit kritis (CI).

Penawaran standar yang saya berikan ke calon nasabah melalui produk Tapro Allisya adalah:

  1. Asuransi Dasar (proteksi meninggal dunia)
  2. CI (proteksi penyakit kritis). Di Tapro Allisya ada rider CI+ (49 CI) dan CI100 (100 kondisi kritis sejak tahap awal).
  3. ADDB (proteksi cacat/meninggal karena kecelakaan)
  4. TPD (proteksi cacat tetap total)
  5. Payor Benefit (pembebasan premi)

Jika uang tak masalah, saya sarankan untuk mengambil semuanya. Tapi jika anggaran terbatas, ambil proteksi sesuai urutan di atas.

Contoh penawaran standar bisa dilihat di link berikut:

  1. 600 Ribu Per Bulan Dapat Total UP 2,5 Miliar.
  2. 1 Juta Per Bulan Dapat Total UP 4 Miliar

info lebih detail: hubungi

Natanael Allianz

HP 08113436830 (WA/SMA/TLP)

email: natanael.albertus@gmail.com