Tag Archives: allisya

“Kenapa Saldo Polis Saya Kecil Sekali?”

“Kenapa saldo polis saya kecil sekali?”

“Kenapa nilai tunainya tidak ada?”

Itulah pertanyaan yang lazim saya dengar jika ada nasabah yang menutup polis unit-linknya di tahun-tahun awal. Kenapa bisa begitu?

Hal ini terkait dengan komponen biaya yang dikenakan dalam polis unit-link. Biaya-biaya ini sebaiknya dikenali di awal sebelum membeli polis, supaya kelak tidak kaget ketika terpaksa menutup polis.

Apa saja biaya yang dikenakan dalam produk unit-link?

  1. Biaya Akuisisi dan Pemeliharaan

Seperti disebutkan dalam polis, biaya akuisisi dan pemeliharaan adalah biaya sehubungan dengan penerbitan polis yang antara lain meliputi: ongkos pemeriksaan kesehatan, ongkos pengadaan polis dan pencetakan dokumen, biaya lapangan, biaya pos dan telekomunikasi, serta remunerasi karyawan dan agen.

Biaya akuisisi dikenakan di lima tahun pertama dengan besar yang cenderung turun. Biaya ini dipotong langsung dari premi sebelum diinvestasikan. Jadi, biaya akuisisi merupakan kebalikan dari alokasi investasi. Besarnya biaya akuisisi dan alokasi investasi bisa dilihat di tabel berikut.

Tahun Biaya Akuisisi Alokasi Investasi
1 75 % 25 %
2 40 % 60 %
3 15 % 85 %
4 7,5 % 92,5 %
5 7,5 % 92,5 %
6 dst 0 % 105,26 %
Total 145 %

Biaya akuisisi dihitung dari premi berkala atau premi dasar. Top up berkala tidak kena biaya akuisisi.

Biaya akuisisi adalah biaya yang paling besar di tahun-tahun awal polis. Biaya inilah yang menyebabkan nilai investasi polis unit-link anda belum terbentuk jika anda menutup polis di tahun pertama atau kedua, terutama jika polis anda tanpa top up berkala atau top up berkalanya kecil.

  1. Biaya Asuransi (Cost of Insurance, atau Tabarru dalam asuransi syariah)

Banyak orang menyangka, bukan hanya nasabah tapi juga sebagian agen, bahwa biaya akuisisi adalah satu-satunya biaya yang dikenakan dalam produk unit-link. Setelah periode lima tahun pertama, mulai tahun keenam dan seterusnya premi seluruhnya diinvestasikan dan tidak dipotong biaya apa pun lagi.

Tidak. Bahkan bukan hanya setelah tahun kelima, sejak tahun pertama pun ada biaya-biaya lain yang dikenakan, seperti akan diterangkan berikut ini.

Salah satunya adalah biaya asuransi (terjemahan dari cost of insurance, atau tabarrudalam asuransi syariah). Biaya asuransi adalah biaya yang dikenakan untuk setiap manfaat asuransi yang diambil, baik asuransi dasar maupun asuransi tambahan (rider). Manfaat asuransi adalah perlindungan keuangan yang diterima jika tertanggung mengalami risiko yang ditanggung dalam polis, misalnya meninggal dunia, rawat inap, sakit kritis, atau cacat tetap, tergantung mana yang diambil oleh nasabah.

Besarnya biaya asuransi tergantung usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan, pekerjaan, dan uang pertanggungan, baik untuk asuransi dasar maupun rider. Angka ini dicantumkan di proposal halaman 1.

Biaya asuransi cenderung naik tiap tahun seiring usia. Khusus rider ADDB (Accidental Death and Disability Benefit), biaya asuransinya sama setiap tahun, karena risiko kecelakaan tidak terpengaruh usia.

Di unit-link Tapro Allianz berlaku ketentuan yaitu biaya asuransi tahun pertama tidak dipotong di tahun pertama, melainkan dipotong mulai bulan ke-13 sd bulan ke-36 (setengahnya di tahun kedua dan setengahnya lagi di tahun ketiga), bersamaan dengan pemotongan biaya asuransi tahun kedua dan tahun ketiga. Dengan kata lain, biaya asuransi tahun pertama dianggap utang, yang baru dibayar di tahun kedua dan ketiga.

Setelah polis berusia tiga tahun, tidak ada lagi biaya asuransi terutang. Biaya asuransi tahun keempat, kelima, keenam, dan seterusnya dipotong di tahun berjalan.

Biaya asuransi dipotong selama polis aktif sampai masa perlindungan berakhir. Kapan masa perlindungan berakhir? Untuk asuransi dasar, masa perlindungannya sampai usia 100 tahun, jadi biaya asuransinya pun dipotong sampai usia 100 tahun (jika masih hidup dan polis masih aktif). Untuk ridernya, beda-beda tergantung masa berlaku rider yang diambil. Misalnya, rider ADDB masa pemotongan biaya asuransinya adalah sampai usia 65 tahun, CI+ masa pemotongan biaya asuransinya sampai usia 70 tahun, CI100 masa pemotongan biaya asuransinya sampai usia 100 tahun.

  1. Biaya Administrasi

Biaya administrasi polis Tapro adalah sebesar 26.500 per bulan. Tahun pertama gratis. Benar-benar gratis, bukan diutangi.

Biaya administrasi dipotong bersamaan dengan pemotongan biaya asuransi setiap bulannya. Biaya asuransi dipotong selama polis aktif sampai polis berakhir (entah karena meninggal dunia, polis ditutup, atau saldo tidak cukup).

  1. Biaya Pengelolaan Investasi

Biaya pengelolaan investasi adalah upah bagi manajer investasi yang mengelola dana unit-link. Besarnya biaya tergantung jenis dana, yaitu antara 1 sd 2 % per tahun.

  1. Biaya Selisih Harga Jual-Beli Unit

Pada tabel biaya akuisisi dan alokasi investasi di atas, mungkin ada yang bertanya, kenapa di tahun keenam dan seterusnya alokasi investasi ditulis 105,26%, bukan 100%? Kenapa dilebihkan 5,26%? Untuk apa? Apakah itu bonus?

Jawabnya: Penetapan harga unit di unit-link Allianz menerapkan sistem dual price atau dua harga dengan selisih 5%. Jadi, kelebihan 5,26% bukanlah bonus, melainkan untuk menutupi selisih harga jual-beli unit (bid-offer price).

Karena adanya sistem dua harga ini, unit-link Tapro Allianz tidak lagi mengenakan biaya untuk top up berkala, top up tunggal, dan penarikan dana. Biaya tersebut sudah termasuk dalam selisih harga.

Di unit-link lain yang mengenakan sistem satu harga, ada biaya yang dikenakan untuk top up berkala, top up tunggal, dan kadang untuk penarikan dana.

  1. Biaya Pengalihan Dana (Switching)

Pengalihan dana misalnya dana yang disimpan di Equity Fund dialihkan ke Balanced Fund atau Money Market Fund, atau sebaliknya, karena suatu pertimbangan tertentu.

Biaya pengalihan dana gratis 5 kali dalam setahun, dan setelahnya dikenakan biaya sebesar 1% dari nilai dana yang dialihkan, dengan minimal 100 ribu per sekali transaksi.

Saya ambil Tapro dengan premi 1 juta per bulan. Setelah bayar 12 bulan, polisnya saya tutup. Berapakah nilai tunai yang bisa saya ambil?

Itu karena nilai tunai yang bisa diambil tergantung komposisi premi dasar dan top up berkala, dan tergantung besarnya biaya asuransi (tabarru) yang dikenakan.

Sebagai contoh: Jika premi 1 juta per bulan itu seluruhnya merupakan premi berkala atau premi dasar, maka premi anda kena potongan 75% (750 ribu) untuk biaya akuisisi tahun pertama. Sisanya 250 ribu diinvestasikan. Dalam 12 bulan, berarti alokasi premi yang diinvestasikan adalah 3 juta.

Tapi uang 3 juta ini belum bersih karena masih ada biaya lainnya, yaitu biaya asuransi atau tabarru. Jika biaya asuransinya 200 ribu per bulan (2,4 juta setahun), maka dana yang bisa ditarik adalah sekitar 600 ribu (dikurangi selisih harga jual-beli 5%, ditambah hasil investasi). Tapi jika biaya asuransinya misalnya 300 ribuan per bulan, maka tidak ada dana yang bisa ditarik, malah polis anda minus.

Lain halnya jika setoran 1 juta itu sebagian berupa premi berkala dan sebagian lagi top up berkala, misalnya premi berkala 500 ribu dan top up berkala 500 ribu. Maka premi yang kena potongan biaya akuisisi adalah 75% dari 500 ribu, yaitu 375 ribu. Sisanya 125 ribu diinvestasikan, ditambah dengan top up berkala 500 ribu. Jadi, nilai yang masuk ke investasi adalah 625 ribu per bulan atau 7,5 juta setahun.

Jika biaya asuransinya 200 ribu per bulan (2,4 juta setahun), berarti dana yang bisa ditarik adalah sekitar 5,1 juta (dikurangi selisih harga jual-beli 5%, ditambah hasil investasi).

Jadi, jika anda ingin investasinya besar, premi berkala harus diperkecil dan top up berkala diperbesar, supaya potongan biaya akuisisinya kecil. Dan supaya biaya asuransinya pun kecil, manfaat asuransinya kecil saja. Tapi itu berarti anda ambil produk unitlink ini bukan untuk tujuan proteksi. Dan jika dibilang untuk tujuan investasi pun kurang tepat karena banyak potongan biayanya (untuk keperluan proteksi).

Unit-link adalah produk asuransi. Walaupun ada investasinya, unit-link sebaiknya tetap ditujukan untuk tujuan proteksi. Jika untuk tujuan investasi, besar kemungkinan anda akan tertipu, dan kecewa.

Apa keunggulan Allianz dibanding asuransi lain?

Salah satunya, komponen biaya di unitlink Tapro Allianz lebih murah dibanding asuransi lain. Silakan dibandingkan misalnya pada biaya akuisisi, di Tapro Allianz totalnya 145% dalam lima tahun, sedangkan di asuransi lain rata-rata sekitar 200%.

Kenapa biaya asuransi dan administrasi dipotong hingga seumur hidup? Bukankah di asuransi lain hanya 10 tahun saja?

Tidak benar jika dikatakan bayar premi dan bayar biaya-biaya unitlink hanya 10 tahun, kecuali setelah itu anda menutup polis. Jika setelah 10 tahun anda masih ingin mendapat proteksi, anda tetap harus membayar biaya-biayanya, dalam ini terutama biaya asuransi dan administrasi, sampai masa proteksinya berakhir. Biaya-biaya tersebut dipotong dari nilai investasi. Polis aktif selama nilai investasi masih cukup untuk membayar biaya-biaya, dan akan lapse jika tidak cukup. Jadi sebaiknya anda terus bayar premi selama masih butuh proteksi, tidak berhenti setelah 10 tahun.

 

Untuk konsultasi GRATIS mengenai asuransi, silakan menghubungi saya:

Natanael Agen Asuransi Allianz

HP/WA: 08113436830

email: natanael.allianz@gmail.com

Advertisements

Jika Dana Terbatas, Asuransi Apa Yang Harus Diambil Lebih Dulu?

AsuransiJika dana untuk asuransi terbatas, kita perlu lebih bijak menentukan asuransi apa yang sebaiknya kita ambil sebagai prioritas. Dalam hal ini ada beberapa kekeliruan yang sering saya jumpai di lapangan, antara lain mendahulukan asuransi untuk anak, meniatkan asuransi untuk pendidikan, mengambil asuransi dengan uang pertanggungan yang minim, dan mendahulukan asuransi kesehatan (untuk salah satu anggota keluarga) daripada asuransi jiwa (untuk pencari nafkah).

Berikut ini saya sajikan beberapa contoh asuransi yang sebaiknya diambil jika dana terbatas. (Selain artikel ini, baca juga Prioritas Asuransi).

Contoh 1: Dana 300 ribu per bulan, belum punya asuransi apa pun.

Sebuah keluarga memiliki penghasilan 3 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 300 ribu per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Menurut saya, asuransi yang prioritas untuk diambil adalah asuransi jiwa untuk pencari nafkah (orangtua).

Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Blog myallisya.com memakai slogan “1 yang terpenting: melindungi penghasilan keluarga”, karena penghasilanlah yang membuat roda kehidupan keluarga bisa berjalan.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 300 ribu per bulan, ada dua pilihan:

  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 100 sd 500 juta, kecelakaan (ADDB) 100 sd 250 juta, cacat tetap total (TPD) 100 sd 250 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 100 sd 250 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 300 sd 800 juta.

Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, kondisi kesehatan, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau di antara anggota keluarga ada yang sakit dan harus dirawat inap?

Jika ingin ditanggung juga untuk asuransi kesehatan sekeluarga, maka pilihannya adalah:

  1. Mendaftar program JKN BPJS kelas 3 dengan premi per orang 25.500, empat orang berarti 102 ribu per bulan.
  2. Sisanya 200 ribu per bulan dibelikan asuransi jiwa untuk pencari nafkah. Tapi karena saat ini jarang sekali produk asuransi jiwa yang menyediakan premi bulanan 200 ribu, alternatifnya ambil premi triwulanan 600 ribuan, semesteran 1,2 juta, atau tahunan 2,4 juta.

Contoh 2: Dana 500 ribu per bulan, belum punya asuransi apa pun.

Mirip dengan contoh 1, kali ini sebuah keluarga memiliki penghasilan 5 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 500 ribu per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Pendapat saya:

  1. Asuransi jiwa untuk pencari nafkah dengan premi 300-400 ribuan per bulan.
  2. Asuransi kesehatan untuk sekeluarga melalui program JKN BPJS dengan premi 100-170 ribuan per bulan (tergantung kelas yang dipilih).

Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 400 ribu per bulan, ada dua pilihan:

  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 150 sd 650 juta, kecelakaan (ADDB) 150 sd 350 juta, cacat tetap total (TPD) 150 sd 350 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 150 sd 350 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 400 juta sd 1,2 miliar.

Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.

Asuransi kesehatan bermanfaat jika di antara anggota keluarga ada yang mengalami sakit, terutama sakit yang memerlukan rawat inap di rumah sakit. Asuransi kesehatan harus dianggarkan untuk seluruh anggota keluarga, karena kita tak pernah tahu siapa yang akan mengalami sakit.

Asuransi kesehatan memakai program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan. Dalam hal ini setidaknya ada dua pilihan:

  1. Kelas 3, dengan premi 25.500 per orang. Total 4 orang berarti 102 ribu per bulan.
  2. Kelas 2, dengan premi 42.500 per orang. Total 4 orang berarti 170 ribu per bulan.

Contoh 3: Dana 1 juta per bulan, belum punya asuransi apa pun

Kali ini kita mengambil contoh sebuah keluarga yang memiliki penghasilan 10 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 1 juta per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Tiap orang di keluarga itu belum memiliki asuransi. Asuransi kesehatan pun belum punya karena sang pencari nafkah bekerja secara mandiri (wiraswasta).

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Pendapat saya:

  1. Asuransi jiwa untuk pencari nafkah, dengan premi 750 ribu per bulan. Jika penghasilan 10 juta itu diperoleh berdua suami-istri, maka preminya bisa dibagi dua, mungkin 400 ribu untuk suami dan 350 ribu untuk istri.
  2. Asuransi kesehatan melalui program JKN-BPJS, ambil kelas 1 (premi 59.500 per orang x 4, total 238 ribu per bulan).

Asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan jika pencari nafkah tidak bisa bekerja, misalnya karena cacat tetap, penyakit kritis, atau meninggal dunia.

Manfaat asuransi jiwa yang bisa diperoleh dengan premi 750 ribu per bulan, ada dua pilihan:

  1. Paket proteksi penghasilan lengkap, meliputi uang pertanggungan meninggal 250 juta sd 1 miliar, kecelakaan (ADDB) 250 sd 500 juta, cacat tetap total (TPD) 250 sd 500 juta, penyakit kritis (CI+ atau CI100) 250 sd 500 juta, dan bebas premi.
  2. Paket warisan saja, yaitu jika ingin maksimal di manfaat meninggal dunia, maka bisa memperoleh UP 750 juta sd 2 miliar.

Besarnya UP (uang pertanggungan) tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, merokok/tidak, juga apakah ingin maksimal di manfaat asuransi atau ingin seimbang antara asuransi dan investasi.

Contoh 4: Dana di bawah 1 juta per bulan, sudah punya asuransi kesehatan dari kantor

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini sebuah keluarga sudah memiliki asuransi kesehatan dari perusahaan tempat pencari nafkah bekerja. Penghasilan 10 juta per bulan. Dana yang bisa disisihkan untuk asuransi maksimal 10% yaitu 1 juta per bulan. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak.

Pertanyaannya, asuransi apakah yang harus diambil oleh keluarga tersebut?

Pendapat saya: Maksimalkan dana yang ada untuk asuransi jiwa bagi pencari nafkah (ayah saja atau ayah dan ibu).

Tanya-Jawab

T: Dari keempat contoh tersebut, mengapa selalu disarankan ambil asuransi jiwa dulu, bukan asuransi kesehatan?

J: Pertama, risiko yang ditanggung dalam asuransi jiwa, yaitu cacat tetap, penyakit kritis, dan meninggal dunia, lebih besar dampak keuangannya daripada risiko yang ditanggung dalam asuransi kesehatan, yaitu rawat inap di rumah sakit. Kedua, seluruh anggota keluarga bergantung secara ekonomi kepada pencari nafkah (misalnya ayah). Selama ayah masih hidup, sehat, dan mampu bekerja normal, ekonomi keluarga akan tetap bisa berjalan. Ketiga, Bicara asuransi jiwa, kita bisa dengan tegas mengatakan: untuk pencari nafkah. Tapi jika mendahulukan asuransi kesehatan, kita akan dihadapkan pada pertanyaan: siapa dulu yang harus diberikan askes? Apakah ayah, ibu, anak pertama, atau anak kedua? Kalau yang diberikan askes itu ayah, bagaimana kalau yang sakit ibu atau anak? Kalau yang diberikan askes itu anak pertama, bagaimana kalau yang sakit anak kedua?

T: Mengapa untuk asuransi kesehatannya selalu disarankan pakai JKN-BPJS, bukan asuransi swasta?

J: Pertama, dana yang ada cukupnya memang untuk BPJS saja. Kedua, kalau pakai askes swasta, premi 300 ribu per bulan hanya cukup untuk askes satu orang, itu pun dengan plan yang rendah (kamar 200 ribu). Pertanyaannya, manfaat askes ini harus diberikan kepada siapa? Ayah, ibu, anak pertama, atau anak kedua? Ketiga, ini juga yang membedakan asuransi Allianz dengan asuransi lain, yaitu kami selalu menyarankan para nasabah untuk mengikuti program JKN dari BPJS Kesehatan.

T: Bagaimana dengan asuransi pendidikan?

J: Dana yang dialokasikan untuk persiapan pendidikan anak mestinya di luar dari dana yang dianggarkan untuk asuransi jiwa dan kesehatan. Jadi, untuk persiapan pendidikan anak, tetap harus menabung atau berinvestasi lagi secara tersendiri. Kalau mau disatukan dengan asuransi boleh juga, alokasinya ditaruh sbg top up/saver. Tapi keinginan untuk mempersiapkan pendidikan anak jangan sampai mengurangi manfaat asuransi jiwa untuk pencari nafkah.

Baca juga: Prinsip dan Tips Persiapan Dana Pendidikan Anak.

T: Bagaimana dengan asuransi rawat jalan dan melahirkan?

J: Rawat jalan dan melahirkan perlu dipersiapkan, tapi sebaiknya tidak lewat asuransi. Biaya rawat jalan tidaklah besar, dan biaya melahirkan pun masih terukur. Dibandingkan rawat inap, penyakit kritis, cacat tetap, atau meninggal dunia, mana yang lebih besar dampak keuangannya? Sementara premi rawat jalan dan melahirkan itu mahal sekali, bahasa kerennya “not worth it“.

Jika anda punya JKN-BPJS, di situ sudah tercakup manfaat rawat jalan dan persalinan. Jika dirasa masih kurang, anda bisa tambah dengan dana darurat. Khusus untuk melahirkan, sebaiknya ditambah pula dengan menabung secara khusus, apalagi keperluan persalinan bukan hanya biaya rumah sakit, tapi juga pakaian bayi, tasyakuran, perawatan ibunya, dll yang semua itu tidak ditanggung asuransi mana pun.

T: Tentang contoh 4, keluarga tsb sudah punya askes dari kantor. Kalau mau nambah askes lagi bagaimana?

J: Boleh saja, tapi kalau dananya terbatas (1 juta atau kurang), penuhi dulu kebutuhan asuransi jiwanya.

T: Memangnya berapa kebutuhan asuransi jiwa?

J: Sederhananya, jika pencari nafkah meninggal dunia, uang pertanggungan yang diwariskan harus bisa menggantikan penghasilan yang biasanya dia berikan untuk keluarganya. Minimal untuk biaya hidup sekeluarga dan pendidikan anak-anak sampai mereka mandiri. Atau lebih minimal lagi, cukup jika dijadikan modal usaha untuk melanjutkan kehidupan ekonomi keluarga.

Misalnya, penghasilan 3 juta per bulan, anggaran asuransi 300 ribu per bulan. Untuk usia 30 tahun, standarnya mendapatkan UP 150 juta (ditambah ADDB, TPD, dan CI100 @150 juta). Jika dia meninggal, keluarganya memperoleh uang 150 juta. Uang ini mungkin tidak cukup kalau hanya dihabiskan begitu saja untuk biaya hidup tiap bulan sampai anak mandiri. Tapi kalau dijadikan modal usaha, hasilnya bisa lumayan dan dana pokoknya pun bisa berkembang.

Tapi kalau premi 300 ribu per bulan dimaksimalkan di manfaat meninggal, maka bisa memperoleh UP hingga 800 juta. Uang 800 juta, seandainya didepositokan saja dengan bunga 5% (40 juta per tahun), itu cukup untuk menggantikan penghasilan 3 juta per bulan.

Cuma kalau dimaksimalkan di manfaat meninggal, risiko penyakit kritis dan cacat tetap belum ditanggung.

T: Seberapa penting asuransi yang menanggung risiko cacat tetap (karena sakit ataupun kecelakaan) dan penyakit kritis? Apakah manfaat meninggal saja tidak cukup?

J: Pertama, manfaat meninggal saja akan cukup seandainya seseorang TIDAK MUNGKIN mengalami cacat tetap dan penyakit kritis. Kedua, risiko cacat tetap dan penyakit kritis bisa membuat seseorang tidak bisa bekerja, dan jika tidak bekerja, dia tidak akan memperoleh penghasilan. Jadi, bicara melindungi penghasilan keluarga, mengambil manfaat meninggal saja belum cukup.

T: Tentang risiko penyakit kritis, apakah tidak cukup dengan asuransi kesehatan saja?

J: Pertama, bicara penyakit kritis semacam kanker, jantung, stroke, gagal ginjal, jelas sekali ada kebutuhan biaya yang sangat besar, bisa ratusan juta sd miliaran. Asuransi kesehatan biasa saja tidak mungkin cukup. Kedua, di samping itu ada satu akibat lain yang sering ditimbulkan penyakit kritis, yaitu berkurangnya kemampuan bekerja, atau bahkan tidak bisa bekerja sama sekali, baik untuk sementara ataupun selamanya. Yang dibutuhkan di sini ialah sejumlah uang tunai (UP) untuk menggantikan penghasilan yang hilang karena tidak bisa bekerja.

 

sumber: https://myallisya.com/2014/12/16/jika-dana-terbatas-asuransi-apa-yang-harus-diambil-lebih-dulu/

Pentingnya Dana Hari Tua…

Hari ini saya mendapat sharing pengalaman hidup dari blog https://mytapro.net/2016/05/07/kisah-nyata-pentingnya-dana-hari-tua/

Cerita ini bisa menjadi pelajaran hidup buat kita.

“Saya mengenal sebuah keluarga yang sangat baik dan sangat santun dalam kehidupannya, terdiri dari seorang pencari nafkah, istri dan 2 orang anak yang sudah dewasa.
Kehidupan mereka sangat sederhana, tidak berlebihan. Mereka hidup apa adanya dengan sebuah rumah yang cukup nyaman.

Intinya dengan pencari nafkah bekerja, maka kehidupan keluarga ini berjalan normal, sampai tiba tiba sekitar bulan Oktober 2015 kemarin pencari nafkah tiba tiba mengalami stroke dan mengakibatkan tidak bisa bekerja lagi. Keuangan keluarga sudah pasti terganggu, karena penghasilan pencari nafkah terhenti. Anak mereka sudah dewasa dan sudah bekerja, namun tetap saja tidak dapat digantikan sebagai sumber pencari nafkah utama di dalam keluarga tersebut dan orang tua mereka juga tidak mau membebankan hal ini kepada anak mereka.

Saya kenal cukup dekat dengan keluarga ini, dan hari ini mereka menyampaikan hal yang menyedihkan untuk saya dengar. Mereka sekeluarga sudah sepakat akan menjual rumah mereka dan akan tinggal di rumah yang lebih kecil lagi. Walaupun terasa sangat berat melepaskan rumah kenangan yang sudah mereka tempati sejak kelahiran putri mereka yang pertama, tetapi mereka terpaksa harus melakukan hal ini karena sisa uang penjualan rumah akan mereka gunakan untuk membiayai kebutuhan mereka sehari hari karena mereka sudah tidak bekerja.

Jujur saya sangat sedih sekali mendengar hal ini, tetapi saya mengerti kebutuhan mereka untuk menyambung hidup, belum lagi renovasi rumah yang harus segera dilakukan karena sudah 25 tahun sejak ditempati rangka atap belum pernah diganti dan sudah banyak rayap. Bahkan bagian ruang tamu sudah pernah ambruk. Biaya renovasi yang cukup besar ini, juga merupakan pertimbangan lain untuk menjual rumah tersebut karena mereka tidak memiliki dananya
Mengenai keadaan pencari nafkah setelah terserang stroke, saya ikut memanjatkan puji syukur kepada Allah, karena pengobatan untuk kesehatannya tidak menuntut dana yang sangat besar, bisa dilakukan melalui terapi terapi pengobatan alternatif.

Ibu rumah tangga ini menurut saya sangat bijaksana sebagai orang tua. Dalam kesedihannya itu beliau sempat memberi nasihat kepada saya sisakanlah sedikit uang untuk ditabung dalam bentuk investasi jangka panjang seperti reksa dana, besar manfaatnya untuk hari tua.

Saya sangat sepaham dengan nasihat ini, kita wajib memilikinya. Belajar dari pengalaman hidup keluarga ini sebaiknya kita tidak menggantungkan diri kepada orang lain termasuk anak kita, terlepas mereka mampu membiayai kita di masa depan nanti. Dan dalam praktiknya saya anggap tabungan ini adalah cicilan untuk membiayai kebutuhan hidup di masa tua, karena selama kita hidup kita masih memerlukan biaya.

Setelah saya menyelesaikan semua cicilan yang manfaatnya sudah saya nikmati di masa lampau (KTA), sekarang saya lebih fokus pada cicilan yang manfaatnya akan saya nikmati di masa mendatang nanti yakni cicilan Tapro.

Cicilan Tapro untuk Hari Tua

Saat ini saya punya dua polis Tapro. Yang pertama saya buka sebelum saya bergabung dengan ASN yaitu pada awal Desember 2014. Saya membeli Tapro dengan premi 500 ribu per bulan. Manfaat yang diperoleh adalah sebagai  berikut:

Asuransi Dasar (pertanggungan jiwa sd usia 100 tahun): 300 juta
ADDB (pertanggungan cacat/meninggal karena kecelakaan sd usia 65 tahun): 300 juta
CI100 (pertanggungan 100 kondisi penyakit kritis sd usia 100 tahun): 300 juta
TPD (pertanggungan cacat tetap total karena sakit/kecelakaan sd usia 65 tahun): 300 juta
Payor Benefit (pembebasan premi sd usia 65 tahun jika pemegang polis didiagnosa salah satu dari 49 penyakit kritis atau menderita cacat tetap total)
Spouse Payor Benefit dan Protection (pembebasan premi sd usia 65 tahun jika pasangan pemegang polis didiagnosa salah satu dari 49 penyakit kritis atau menderita cacat tetap total)

Total manfaat Tapro pertama : 1,2 miliar + payor benefit + spouse payor benefit dan Protection

Satu tahun kemudian (Desember 2015), sadar akan besarnya Uang Pertanggungan yang tidak terlalu besar, saya membuka lagi polis Tapro dengan manfaat yang lebih besar. Kali ini agennya adalah saya sendiri. Setoran 1,5 juta per bulan, manfaat sebagai berikut:

Asuransi Dasar (pertanggungan jiwa sd usia 100 tahun): 1 miliar
ADDB (pertanggungan cacat/meninggal karena kecelakaan sd usia 65 tahun): 1 miliar
TPD (pertanggungan cacat tetap total sd usia 65 tahun): 1 miliar
CI 100 (pertanggungan 100 kondisi penyakit kritis sd usia 70 tahun): 1 miliar
Payor benefit (pembebasan premi sd usia 65 tahun)

Total manfaat Tapro kedua : 4 miliar + payor benefit

Asuransi jiwa yang sama juga dimiliki oleh suami saya, dua polis dibeli dengan waktu yang bersamaan dengan polis saya dengan total premi sebesar 1 juta per bulan mendapatkan total pertanggungan sebesar 2 miliar.

Dengan demikian, total manfaat Tapro yang kami miliki saat ini lebih dari 7,2 miliar dengan rincian:

UP jiwa: 1,8 miliar
ADDB: 1,8 miliar
CI 100: 1,8 miliar
TPD: 1,8 miliar
Payor Benefit
Spouse Payor Benefit dan Protection

Pada awal Desember 2015 saya juga sudah membeli Tapro untuk anak saya yang berusia 6 tahun dengan premi sebesar 510 ribu per bulan manfaat sebagai berikut :
1. UP jiwa : 600 juta
2. ADDB : 600 juta
3. CI 100 : 600 juta
4. Payor Benefit dan Protection
5. Spouse Payor Basic dan Protection

Untuk anak dibawah usia 17 tahun belum tersedia manfaat uang pertanggungan cacat tetap total.

Selain polis asuransi jiwa, Januari 2015 saya juga membeli polis asuransi kesehatan rawat inap Maxi Violet untuk kami sekeluarga. Dengan kelas kamar per malam adalah 750 ribu. Premi tahun pertama yang saya bayarkan adalah sebesar Rp. 9,871,350 setelah dikurangi dengan diskon polis keluarga 5% dan diskon karena mempunyai Tapro sebesar 10%. Dan untuk perpanjangan tahun 2016 nanti akan mendapat diskon lagi 20% karena selama tahun 2015 kami sekeluarga tidak melakukan klaim rawat inap.

Kenapa kami mengambil polis dengan manfaat sedemikian?

  1. Biaya premi yang semakin mahal bila saya membelinya di tahun    tahun mendatang.
  2. Tidak ada orang yang kebal dari risiko rawat inap, penyakit kritis, kecelakaan, cacat (sebagian maupun total, sebab sakit ataupun kecelakaan), dan meninggal dunia. Saya tidak mau pilih-pilih risiko, jadi saya ambil semua proteksinya.
  3. Tentunya tidak ada juga orang yang kebal dari sakit gigi, masuk angin, meriang, dan berbagai penyakit yang cukup dengan rawat jalan. Tapi saya tidak ambil proteksinya karena untuk sakit-sakit ringan semacam itu, biayanya tidak akan besar dan saya yakin tanpa asuransi pun tak masalah.
  4. UP jiwa sebesar 1,8 miliar kiranya cocok dengan kebutuhan keluarga saya. Jika uang tsb disimpan saja sbg deposito dengan bunga 5% per tahun, akan menghasilkan uang sekitar  90 jutaan per tahun atau 7,5 jutaan per bulan. Kiranya cukup untuk kebutuhan keluarga saya saat ini.
  5. UP kecelakaan sebesar 1,8 miliar diharapkan cukup untuk mengganti kemungkinan penghasilan yang hilang atau berkurang dari risiko cacat.
  6. UP penyakit kritis sebesar 1,8 miliar mudah-mudahan cukup untuk menangani risiko penyakit kritis, baik saat di rumah sakit maupun perawatan lanjutannya. Kelak saya akan menambahnya lagi, karena jika urusannya penyakit kritis, biayanya tidak bisa diprediksi.
  7. UP cacat tetap total  sebesar 1,8 miliar, risiko ini biasanya didahului sakit atau kecelakaan, sehingga bisa dobel dengan CI+ ataupun ADDB.
  8. Asuransi kesehatan adalah pertolongan pertama pada kecelakaan, rawat inap, maupun penyakit kritis. Untuk sekarang ini saya masih perlu.
  9. Ada satu risiko lagi yang juga butuh biaya besar, yaitu usia tua (pensiun, butuh uang besar di saat tidak produktif lagi). Dana pensiun bukanlah ranah asuransi, tapi investasi dan bisnis. Saya telah dan sedang mempersiapkan dana pensiun saya melalui bisnis di ASN.

.Pengalaman di atas patut kita ikuti dan menjadi inspirasi kita.

Jika ingin membuka polis Tapro bisa hubungi saya agen Allianz

HP 08113436830

Natanael

Mengantisipasi Kerugian Finansial dengan Cara Membeli Asuransi Kematian

Menurut sebuah penelitian manusia saat ini bisa diharapkan  hidup sampai usia 120 tahun, bahkan setiap tahun diseluruh dunia mungkin sekitar 3000 orang merayakan ulang tahunnya yang ke 100, tetapi tidak semua orang bisa hidup selama itu.

Kebanyakan dari kita mungkin meninggal lebih awal dalam kecelakaan di tempat kerja, kecelakaan di jalan atau kerena sakit. Masalahnya risiko terjadinya kematian ini tidak saja berdampak psikologis karena kehilangan orang yang dicintai, lebih jauh lagi risiko kematian juga bisa mengakibatkan kerugian finansial apabila terjadi pada sang pencari nafkah.

Bagi kebanyakan keluarga pada umumnya kematian dari sang pencari nafkah , maka  tidak terhindarkan selanjutnya akan mengalami kesulitan keuangan sejalan dengan terhentinya penghasilan keluarga.

 

Solusi untuk menghindari situasi keuangan yang tidak menyenangkan ini, maka jawabannya adalah dengan melakukan antisipasi risiko kerugian finansial tersebut dengan cara membeli asuransi jiwa atau asuransi kematian, yang akan membayar sejumlah uang ganti rugi ketika orang yang diasuransikan meninggal dunia.

Mengantisipasi kerugian finansial dengan cara membeli asuransi kematian penting sekali untuk dilakukan bagi setiap orang yang memiliki tanggungan, terutama bagi mereka yang sudah menikah apalagi jika pasangannya tidak mempunyai penghasilan , ditambah lagi mereka sudah memiliki  anak.

Sebab memiliki asuransi kematian sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga Anda berarti  memastikan bahwa orang-orang yang hidupnya bergantung kepada Anda secara finansial tidak akan mengalami kesulitan keuangan  jika Anda meninggal.

Namun membeli asuransi jiwa/ asuransi kematian juga tidak semudah sebagaimana mestinya. Banyak sekali produk  asuransi jiwa yang ditawarkan  saat ini dipasaran, sayang sekali  beberapa diantaranya tidak memberikan manfaat yang maksimal sesuai dengan uang yang kita keluarkan. Karena itu anda harus jeli memilih.

Kami merekomendasikan asuransi kematian Allianz yang dinamakan TAPRO (Tabungan proteksi) dimana 1 polis asuransi kematian Allianz ini memberikan beragam manfaat diantaranya manfaat perlindungan terhadap resiko penyakit kritis, cacat tetap total, meninggal/cacat karena kecelakaan, dan bahkan resiko apabila di rawat di rumah sakit.

Siapa saja yang Membutuhkan Asuransi kematian

Siapapun yang memiliki tanggungan, atau jika ada orang lain yang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari hari tergantung dari penghasilan Anda misalnya saja istri, anak maupun orang tua yang sudah tua dan sudah tidak bekerja lagi. Akibatnya jika Anda meninggal dan otomatis penghasilan juga terhenti, maka orang tersebut akan kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Hampir sebagian besar kebutuhan proteksi penghasilan dari risiko kematian timbul ketika seseorang menikah dan memiliki anak. Pada saat inilah kematian dari orang tua atau pencari nafkah utama bisa menyebabkan kerugian finansial yang sangat serius.  Sudah selayaknya  tindakan antisipasi risiko yang dilakukan  tersedia pada saatnya kapanpun risiko kematian terjadi dan  juga mampu menggantikan penghasilan yang hilang akibat meninggalnya si pencari nafkah.

Semakin banyak tanggungan Anda, , maka semakin besar pula jumlah uang pertanggungan yang dibutuhkan.

Selain alasan tadi maka asuransi kematian sebaiknya juga diambil oleh  Anda yang memiliki kewajiban cicilan hutang, terutama hutang dalam jumlah besar dengan  jangka waktu pembayaran yang panjang seperti cicilan kredit rumah atau cicilan kredit mobil. Asuransi kematian yang diambil secara khusus memang dirancang untuk  bisa mengcover jaminan pelunasan hutang sisa hutang, jika Anda sebagai penghutang meninggal dunia.

Dengan demikian jika terjadi risiko kematian pada Anda, seharusnya tidak meninggalkan keluarga atau pasangan  dan anak-anak Anda dalam kewajiban pembayaran hutang.

Berapa Besarnya Uang Pertanggungan Asuransi Kematian

Idealnya uang pertanggungan yang diberikan pihak asuransi seyogyanya bisa menggantikan penghasilan sebelumnya sehingga pengeluran keluarga seterusnya bisa tercover. Namun untuk mencapai kondisi ideal tersebut tentunya dibutuhkan sejumlah uang pertanggungan yang bisa jadi sangat besar, akibatnya pembayaran preminya semakin  mahal. Mau tidak mau kita harus bersikap realistis dalam menentukan besarnya uang pertanggungan.

Misalnya, untuk sebuah keluarga muda maka yang penting proteksi dilakukan sedini mungkin dan tidak perlu memaksakan diri mengambil asuransi dengan uang pertanggungan yang besar. Tetapi sebaiknya berpatokan pada  berapakah  nilai minimum untuk keluarganya supaya bisa survive. Contoh , seseorang pria yang baru menikah memperkirakan bahwa  dengan modal Rp  200 juta, istrinya bisa menghidupi dirinya dengan memulai sebuah usaha kalau sampai dirinya mengalami kematian. Karena itu pria tersebut bisa  membeli asuransi dengan uang pertanggungan Rp  200 juta.

Jadi tidak perlu jor-joran menyisihkan penghasilan untuk membayar premi asuransi yang besar demi mendapatkan uang pertanggungan yang tinggi apabila memang untuk saat ini anda belum mampu, kecuali anda memang sanggup. Karena memiliki asuransi kematian berarti anda memiliki komitmen untuk menyisihkan sebagian pendapatan anda untuk membayar premi setiap bulannya.

Namun tidak usah kuatir, disaat rezeki anda bertambah, anda bisa kok melakukan upgrade polis asuransi kematian anda untuk menambah Uang Pertanggungan. Anda tinggal menghubungi agen anda saja untuk melakukan upgrade dan agen anda akan membantu anda. Jika anda mendaftar asuransi jiwa Allianz melalui situs ini, berarti saya akan menjadi agen anda. Anda tinggal menghubungi saya kapanpun anda mamu mengupgrade polis anda.

Buat sebuah keluarga muda, kematian dari salah satu dari mereka berarti pasangannya harus mencoba untuk mempertahankan standar hidup keluarga seterusnya, paling tidak sampai anak yang terkecil  bisa mandiri secara finansial. Jadi besarnya uang pertanggungan yang realistis itu harus ada, walaupun tidak bisa memenuhi semua kebutuhan rumah tangga sebesar sebelumnya.

Besarnya uang pertanggungan tergantung dari beberapa faktor seperti  umur, jumlah tanggungan, penghasilan rutin, dan berapa banyak hutang yang dimiliki. Sebuah keluarga muda bisa jadi membutuhkan uang pertanggungan lebih besar, daripada pasangan yang berusia 40 atau 50  tahun  dimana kemungkinan anak-anaknya  sudah mandiri.

Ketika anak-anak sudah bisa mempunyai penghasilan sendiri, keharusan  orang tua untuk  memiliki sejumlah uang pertanggungan asuransi kematian semakin berkurang. Pada saat inilah besarnya uang pertanggungan bisa dikurangi

Asuransi Jiwa Jenis Apa yang Sebaiknya Dipilih?

Asuransi jiwa sebenarnya dibeli dengan tujuan  mengantisipasi risiko tidak terbayarnya kebutuhan hidup seseorang atau sebuah  keluarga karena terhentinya penghasilan keluarga akibat meninggalnya pencari nafkah.

Karena itu asuransi kematian sebagai proteksi seharusnya memiliki konsep yang sederhana dan mudah dimengerti yaitu, perusahaan asuransi  menjamin untuk membayar sejumlah uang pertanggungan, jika terjadi risiko kematian pada Anda selama kontrak asuransi berlangsung. Jika tidak terjadi risiko kematian pada Anda selama masa asuransi berlangsung, maka tidak ada uang pertanggungan yang dibayar.

Asuransi kematian Allianz adalah asuransi jiwa yang memberikan perlindungan kepada anda sampai anda berusia 100 tahun. Jadi bisa dibilang bahwa ini adalah asuransi kematian yang mengcover seumur hidup anda karena sangat jarang sekali ada orang yang bisa hidup sampai mencapai usia 100 tahun. Hindarilah asuransi jiwa yang hanya melindungi anda sampai anda berusia 70 tahun atau 80 tahun karena itu sangat nanggung sekali.

Ibaratnya perusahaan Asuransi yang jenisnya seperti itu takut rugi jika dia memberikan perlindungan cuma sampai usia sekian. Tetapi di Allianz tidaklah demikian. Makanya tidak heran, banyak institusi dan perusahaan internasional yang asuransinya semua menggunakan Allianz. Jika asuransi kematian Allianz melindungi sampai anda berusia 100 tahun, itu artinya keluarga anda sudah pasti akan menerima Uang Pertanggungan ini dari Allianz. Tinggal waktu nya saja yang belum tahu kapan. Tergantung kapan anda dipanggil menghadap Yang Mahakuasa. Yang pasti, semua orang sudah pasti akan meninggal bukan? Tinggal waktunya saja yang berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat.

Lalu mengapa anda masih ragu untuk memiliki asuransi kematian Allianz apabila anda sudah tahu jika suatu saat anda sudah pasti akan meninggal dunia (anda tidak bisa melawan takdir), dan keluarga anda akan menerima Uang Pertanggungan dari Allianz. Jika dihitung hitung, total premi yang anda bayarkan setiap bulannya jauh lebih kecil daripada Uang Pertanggungan yang nantinya akan diterima ahli waris anda.

Ingin info lebih lanjut atau ingin membeli polis asuransi kematian hubungi 08113436830 Natanael Allianz Life Agen

sumber: asuransi kematian

UP 1 Milyar, Hanya dengan Rp 350.000/bulan

Hanya dengan bayar premi 350 ribu/bulan, kita bisa dapat UP jiwa 1 M. Caranya dengan gabungan dua Asuransi Dasar dan Term Life.

  1. Asuransi dasar: Rp 333.333.334
  2. Term life: Rp 666.666.666

Silakan cek di ilustrasi di bawah ini.

 

Di Tapro Allisya berlaku ketentuan UP term life maksimum 2 kali UP dasar. Jadi, angka 1 miliar itu dibagi 3: 1/3 untuk asuransi dasar, 2/3 untuk term life. Dengan memperkecil asuransi dasar, premi jadi lebih murah.

Ilustrasi kedua ini pun berlaku untuk pria usia 30 tahun, pekerjaan dalam ruangan, dan sehat. Untuk usia dan jenis kelamin yang berbeda, serta kondisi pekerjaan dan kesehatan yang berbeda, premi akan berbeda, apalagi jika ditambahkan rider (proteksi tambahan).

Fasilitasnya antara lain:

  1. Boleh bayar bulanan.
  2. Preminya bisa flat.
  3. Bisa cuti premi. (Fasilitas ini sangat terasa dibutuhkan jika suatu saat mengalami problem keuangan).
  4. Bergaransi perpanjangan otomatis.
  5. Masa pertanggungan hingga seumur hidup.
  6. Premi tidak seluruhnya hangus, ada unsur tabungannya.
  7. UP jiwa akan lebih dari 1 M, karena ditambah nilai investasi.
  8. Bisa ditambah rider antara lain ADDB (kecelakaan), TPD (cacat total), CI+ (penyakit kritis), Flexicare family (rawat RS), dan payor benefit. Tentunya dengan tambahan premi.
  9.   Akad asuransi dan penyaluran investasi sesuai syariah.
  10. Dan lain-lain.

Selamat berasuransi.

Salam,

Natanael

Bisnis Eksekutif Allianz Star Network

HP 08113436830

FB: natanael08

 

Sumber: UP 1 Milyar hanya dengan premi Rp 350.000

Mengukur Prioritas Asuransi

  1. Semakin sering frekuensi kejadiannya, semakin butuh asuransi.
  2. Semakin besar dampak keuangannya, semakin butuh asuransi.

Jika kita cermati kedua kalimat di atas.

Ambil contoh sakit. Sakit apakah yang kejadiannya sering kita alami? Mungkin batuk, pilek, meriang. Saya rasa semua orang pernah mengalaminya. Tapi apakah kita membutuhkan asuransi untuk menangani masalah batuk-pilek-meriang? Saya pribadi, untuk sakit semacam itu, biasanya dengan beristirahat saja pun sembuh sendiri. Dan kalau agak lama batuk-pilek-meriangnya, saya beli obat warung atau minta obat ke puskesmas. Tidak pakai asuransi sama sekali. BPJS Kesehatan yang saya miliki pun biasanya tidak saya gunakan.

Contoh berikutnya. Sakit apakah yang dampak keuangannya besar? Di antaranya sakit yang membutuhkan rawat inap atau pembedahan. Misalnya DBD, tipes, usus buntu, sudah pasti butuh biaya yang lumayan besar, bisa jutaan hingga puluhan juta. Apakah kita membutuhkan asuransi untuk menangani sakit rawat inap dan pembedahan? Jika anda punya tabungan puluhan juta dan tidak keberatan uang tsb terpakai untuk bayar biaya rumah sakit, silakan saja tidak punya asuransi. Tapi jika anda tidak punya uang puluhan juta, atau punya tapi keberatan jika diserahkan begitu saja ke pemilik rumah sakit, berarti anda butuh asuransi kesehatan.

Sakit yang membutuhkan rawat inap lebih jarang frekuensi kejadiannya daripada sakit yang cukup dengan rawat jalan. Tapi ternyata, untuk rawat jalan, walaupun kejadiannya sering, tanpa asuransi pun tak masalah karena bisa ditangani sendiri. Sedangkan untuk rawat inap, walaupun kejadiannya lebih jarang, tapi sekali kejadian bisa menghabiskan uang cukup banyak, maka dibutuhkan asuransi, dalam hal ini asuransi kesehatan untuk rawat inap dan pembedahan (hospital and surgical).

Contoh satu lagi. Selain sakit rawat inap, ternyata ada sakit yang dampak keuangannya lebih besar. Ialah sakit kritis. Contoh: kanker, jantung, stroke, gagal ginjal, liver, tumor otak, transplantasi organ tubuh, kebutaan, hingga kelumpuhan. Penyakit-penyakit kritis tersebut biasanya juga memerlukan rawat inap dan seringkali disertai pembedahan. Biayanya? Mulai puluhan juta, ratusan juta, hingga miliaran rupiah. Bukan hanya itu, penyakit-penyakit kritis juga bisa menimbulkan turunnya produktivitas sehingga orang ybs tidak dapat lagi mendapatkan penghasilan seperti sebelumnya.

Frekuensi atau kemungkinan terjadinya penyakit kritis mungkin lebih jarang daripada rawat inap, tapi karena dampak keuangannya lebih besar, maka risiko ini sangat membutuhkan asuransi. Selain asuransi kesehatan untuk menanggung biaya rawat inap dan pembedahan di rumah sakit, dibutuhkan juga asuransi khusus penyakit kritis yang memberikan uang tunai dalam jumlah besar untuk mengantisipasi risiko kehilangan produktivitas.

Baca juga:

10 Fakta yang Perlu Dipahami tentang Asuransi Penyakit Kritis

Asuransi yang menanggung penyakit kritis biasanya tersedia sebagai rider (manfaat tambahan) di asuransi jiwa. Asuransi ini memberikan klaim dalam bentuk uang tunai (uang pertanggungan), misalnya ratusan juta atau beberapa miliar, sehingga pemakaiannya fleksibel. Bisa untuk biaya berobat dan berguna juga sebagai pengganti penghasilan untuk biaya hidup.

4 Kuadran Butuh Asuransi

Bagaimana jika ada penyakit yang frekuensinya sering sekaligus menimbulkan dampak keuangan yang besar, apakah perlu asuransi? Ya, memang perlu asuransi. Tapi pertanyaannya, apakah masih ada perusahaan asuransi yang mau terima? Contoh, ada orang sudah terkena kanker, sehingga setiap periode tertentu dia harus kontrol ke rumah sakit dan dengan biaya yang besar. Dia tentu butuh bantuan, tapi sayangnya tidak akan ada perusahaan asuransi swasta yang mau terima. Kabar baiknya, sekarang sudah ada program BPJS kesehatan yang akan tetap menerima nasabah tanpa melihat kondisi kesehatannya.

Baca juga:

Prioritas Asuransi dalam Keluarga

Selain rawat inap dan penyakit kritis, risiko yang dampak keuangannya besar adalah cacat tetap (sebagian maupun total, karena sakit ataupun kecelakaan) dan meninggal dunia.

Cacat tetap menimbulkan turunnya kemampuan produktif dan berpengaruh ke penghasilan. Sebagai contoh, pada umumnya orang menyetir mobil dengan dua tangan, dua kaki, dan dua mata, di mana keseluruhannya harus berfungsi normal. Jika salah satunya tidak berfungsi, kegiatan menyetir mobil mau tak mau mesti diserahkan ke orang lain. Mengetik di komputer pun tidak nyaman dilakukan jika salah satu dari tangan atau mata tidak bisa digunakan.

Meninggal dunia jelas sekali dampak keuangannya. Jika terjadi pada pencari nafkah dalam keluarga, berarti keluarga tersebut kehilangan sumber penghasilan yang biasanya mereka dapatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

4 Kejadian Yang Membutuhkan AsuransiKeempat risiko kehidupan ini bisa kita singkat menjadi RSCM (Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, Meninggal dunia). Itulah empat hal yang memerlukan asuransi. Sudahkah anda dan keluarga memilikinya?

Ingin berkonsultasi lebih detail tentang ini: Segera hubungi

Natanael Agen Allianz Life

HP 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com

Agen Asuransi Allianz Terkaya Tahun 2016

 

MDRT logo

Saat saya berjalan dan menunggu calon nasabah, tak henti-hentinya membaca postingan blog tentang daftar pengumuman agen asuransi Allianz yang berpenghasilan miliaran pada tahun 2016.

Isi artikel tersebut yakni: Total MDIT (Million Dollar Income Team) berjumlah 156 orang, 7 pasang di antaranya merupakan suami-istri, naik dari tahun sebelumnya 147 MDIT. Wow, saya sangat termotivasi dan ada keinginan mencapai MDIT.

Posisi pertama masih diraih Liem Lie Sia dengan torehan 17 bintang (penghasilan 17 miliar rupiah setahun atau hampir 1,5 miliar per bulan).

Berikut adalah daftar peraih MDIT Allianz Star Network 2016 sebagaimana dimuat di Harian Kompas tanggal 27 Mei 2016.

MDIT 2016

 

Ringkasan MDIT

Selengkapnya daftar di atas saya tuliskan ulang di bawah ini, dilengkapi dengan posisi agen ybs di tahun 2014 dan 2015. .

No Nama Domisili Penghasilan (miliar/tahun)
2016 2015 2014
1 Liem Lie Sia Jakarta 17 15 12
2-3 Esra Manurung & Ivan Maleakhi Jakarta 7 6 4
4 Jozef Sujanto Sugianto Jakarta 7 6 5
5-6 Linda Chandra Adi & Nathan Rudi Setiawan Solo 7 7 5
7 Hendy Winata Jakarta 6 4 3
8 Wong Sandy Surya Jakarta 5 5 5
9 Venny Wantouw Jakarta 5 4 3
10 Ummaya Khuzaimah Jakarta 5 5 3
11 Irwan Poerwoko Jakarta 5 4 3
12-13 Richard Karyadi & Santi Febiani Jakarta 4 4 3
14 Ali Sugiharto Jakarta 4 4 3
15 Linda Herawati Jakarta 4 4 3
16 Cristine Adi S Sugito Bandung 4 4 3
17 Thomas Djojo Nihardjo Jakarta 4 3 3
18 Sonny Arief Jakarta 4 3 2
19 Beriman Sinaga Jakarta 3 4 3
20 Rita Ventarini Jakarta 3 3 2
21 A Salam Muhammadong Jakarta 3 2 2
22 Gunarso Adikerta Jakarta 3 2 2
23 Siawarri Siabini Jakarta 2 2 2
24 Shanty Apriyanti Jakarta 2 3 2
25 Marisa AT Jakarta 2 2 1
26 Yohannes Harjono S Bandarlampung 2 2 1
27 Liza Lindaningsih Jakarta 2 2 1
28 Hugo Jonas Irwan Jakarta 2
29 Devi Ekajanti Murti Denpasar 2 2 1
30 Trifina Tjaya Seriati Jakarta 2 2 1
31 Dewi Ratna Anggraeni Surabaya 2 2 1
32 Mariana Denpasar 2 2 2
33-34 Suwanto & Jenni Medan 2 2 1
35 Hendry Medan 2 2 1
36-37 Ang Hendy & Lily Batam 2 2 2
38 Susanto Chandra Jakarta 2 2 1
39 Sinaga Yandy Jakarta 2 2 1
40-41 Herman & Fifi Sandora Tanjungpinang 2 2 2
42-43 Andreas Gunawan T & Anda Dewi Y Solo 2 2 2
44 Alexander Agus TK Surabaya 2 2 2
45 Wan Kek Ali Sumitro Medan 2 2 1
46 Agustinus S Sulistyo Jakarta 2 2 2
47 I Wayan Uthana Denpasar 2 1 1
48 Maria Santoso Jakarta 2 1 1
49 Harun Taslim Jakarta 2 1 1
50 Lenny Jakarta 2 1 1
51 Suria Sing Medan 2 1 1
52 Susanty Batam 2 2 1
53 Lily Rahardja Jakarta 2 1 1
54 Ivan Budiman Jakarta 2 1 1
55-56 Hartono & Liena Gunawan Jakarta 2 1 1
57 Ernie Djuari Jakarta 1 1 1
58 Veronika Theresia DR Jakarta 1 1 1
59 Lina Mokar Jakarta 1 1 1
60 Agustinus Sukmawan Jakarta 1 1 1
61 Edison Jakarta 1 1 1
62 Irene Angelica Jakarta 1 1 1
63 FX Yusmar Jakarta 1 1 1
64 Meiske Tan Jayapura 1 1 1
65 Yunny Megawati Thio Surabaya 1 1 1
66 Betty Wijaya Padang 1 2 2
67 Madha Lanny Bandarlampung 1 1 1
68 Gregorius Uce Bandung 1 2 1
69 Yanti Wongso Winoto Denpasar 1 1 SBP
70 Martha Tjhay Jakarta 1 1 1
71 Deddy Suristo Bandarlampung 1 1 1
72 Henny Wati Jakarta 1 1 1
73 Ludi Tanjungpinang 1 1 1
74 Simon Scorpio Bandung 1 1 1
75 Andrian Yonatan Jakarta 1 1 1
76 Leni Ong Medan 1 1 SBP
77 Lie Fe Lie Jakarta 1 1 SBP
78 Lucy Chrysantina Jakarta 1 1 1
79 Moeljati Suprajogi Jakarta 1 1 1
80 Vincentius Afen Syafei Tangerang 1 1 1
81 Sri Budi Rahayu Manokwari 1 1 1
82 Meilinda Jawhanes Makassar 1 1 1
83 Roben Denpasar 1 1 1
84 Marwali Lino Medan 1 1 1
85 Anastasia Sumartini Bontang 1 1 1
86 Asia Pekanbaru 1 1 1
87 Yogie Soedira Jakarta 1 1 1
88 Ariadny Widyanti Jakarta 1 1 SBP
89 Tony Gunawan Jakarta 1 1 SBP
90 Vita M Amanda Jakarta 1 1 SBP
91 Tiarma Simare Mare Medan 1 1 SBP
92 Tasliaty Jakarta 1 1 SBP
93 Mervina Gunawan Makassar 1 1 1
94 Jony Soedjono Jakarta 1 SBP
95 Denny Wijaya Batam 1 1 2
96 Sumino Samarinda 1 1 1
97 Hidayatus Solicha Jakarta 1 1 SBP
98 Grace Karina P Jakarta 1 1 SBP
99 Tien-Tien Wahono Jakarta 1 SBP
100 Dina Febriana Jakarta 1 SBP
101 Khoe Harun Kurniawan Jakarta 1 1 1
102 Meliantha Jakarta 1 1 1
103 Shirley Tanjungpinang 1 1 1
104 Cindy Rahardja Jakarta 1 SBP SBP
105 Reine Bopha Dewi Malang 1 SBP
106 Indra Gunawan Batam 1 1 1
107 Yanti Liliany Salim Padang 1 1 2
108 Lina Tanjungpinang 1 SBP
109 Osrinita Oesman Jakarta 1 SBP
110 Tri Ari Noviyanti Bogor 1 1 1
111 Yusron Nur Kholis Denpasar 1 1 SBP
112 John Edwin Asmara Jakarta 1 1 2
113 Risa Elga Gozali Jakarta 1 1 1
114 Fendy Sentoso Medan 1 SBP
115 Freddy Jakarta 1 1 1
116 Lenny Anglia Halim Jakarta 1 1 1
117 Ignatius Anthony Spiro Jakarta 1 1 1
118 Michael Lesmana Tjahyadi Jakarta 1
119 Daniel Jonathan Jakarta 1 1 SBP
120 Sri Puji Utami Jakarta 1 1 1
121 Andrew Jakarta 1
122 Khoe Wiwi Kurniawati Jakarta 1 1 1
123 Yudi Haliman Tangerang 1 1 SBP
124 Johan Bachtiar T Permana Jakarta 1 SBP
125 Eltiana Salim Jakarta 1 1 1
126 Noegroho Rahardjo Jakarta 1 1 SBP
127 Lia Indra Harto Jakarta 1 SBP
128 Siti Hasanah Jakarta 1 1 1
129 Meike Theodoree Jakarta 1 SBP
130 Dyah Eka Widyanti Jakarta 1 1 1
131 Margayawati Jakarta 1 SBP
132 Yuli Thanuwijaya Jakarta 1 SBP
133 Jauw Suliyana Makassar 1 SBP
134 Lucia Dewani Soeradji Jakarta 1 1 1
135 Trisnaningsih Jakarta 1 SBP
136 David Natawidjaya Jakarta 1
137 Budi Andrianto Jakarta 1 1 SBP
138 Sutrisno Medan 1 1 SBP
139 Dodot Ery Julianto Jakarta 1 1 SBP
140 Santi Nugroho Semarang 1
141 Irman Agus Denpasar 1 1 SBP
142 I Made Murdayaso Jakarta 1 1 SBP
143 Ni Made Widiari Jakarta 1 1 1
144 Ni Made Ayu Aryawati Jakarta 1 1 SBP
145 Muhammad Niswadi Bandarlampung 1 SBP
146 Agnes Surjadi Jakarta 1 1 1
147 Nurwahidah Jakarta 1 1 1
148 Herlinwaty Medan 1 1 SBP
149 Denny Michael Karundeng Medan 1 1 SBP
150 Dina Aryanti Jakarta 1 1 1
151 Thien Pao Batam 1 1 SBP
152 Ni Nyoman Sri Tilawati Denpasar 1 SBP
153 Nora Kurniasih Solo 1 1 1
154 Djoddy Frol Mongkaren Balikpapan 1 SBP
155 Krisno Batam 1 1 1
156 Fenny Jakarta 1 SBP

sumber: https://myallisya.com/2016/05/27/daftar-agen-asuransi-allianz-terkaya-di-indonesia-tahun-2016/

Tertarik bersama dengan saya, memiliki penghasilan miliaran melalui bisnis asuransi di ASN? Mari kita bersama meraih masa depan yang lebih baik.

Hubungi Natanael

Phone: 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com