Tag Archives: asuransi jiwa

Peluang Investasi yang Prospektif dan Likuid

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa investasi yang prospektif adalah property misal invest rumah atau tanah. Pendapat tsb benar, namun jika dikaji lebih dalam invest di property menurut saya kurang prospektif. Mengapa?

Si Bapak A katakanlah baru beli rumah sehrg Rp 1 M. Pertanyaannya, apakah jika Bapak A tiba2 sakit yg mengharuskan dia membayar biaya berobat hingga 2 M (misal sakit yg berat seperti jantung, kanker, stroke, dll) dengan secepat itu dapat menjual rumahnya yg seharga Rp2M? Pasti sulit. Tidak mudah menjual rumah. Perlu waktu bulanan sampai tahunan. Padahal biaya sakit hrs cepat dibayar kalau tidak, terpaksa rumah sakit memulangkan Bapak A. Satu-satunya jalan mungkin pinjam saudara atau perusahaan. Tapi mungkin tidak sampai Rp2M.

Dari kasus tersebut, jalan yang bijaksana adalah menjadi nasabah asuransi. Bapak A bisa membuka polis asuransi dengan manfaat mendapat uang /dana cash jika terjadi sakit kritis. Besar nilai jangan tanggung-tanggung, ambillah Rp2M untuk antisipasi dana. Ini tanpa mengurangi saldo investasi di asuransi.

Selain itu, Bapak A harus mengambil juga manfaat santunan harian. Misal santunan harian Rp1.5jt per hari jika diopname di rumah sakit. Tinggal hitung saja. Misal opname sepuluh hari maka Bapak A dapat santunan dana Rp15jt.

Kalau Bapak A sudah ada asuransi dari kantor, ini bisa dipakai dobel klaim. Istilahnya sambil menyelam minum air.

Demikian ulasan saya tentang jenis pilihan investasi yang prospektif dan memilki likuiditas cepat.

Konsultasi hub

Bisnis Eksekutif Allianz tinggal di Surabaya – Sidoarjo

Natanael

Hp/WA 08113436830

Email; natanael.albertus@gmail.com

Polis Asuransi Jiwa Kok Bisa Jadi Jaminan Kredit di Bank

Selamat bertemu kembali di ulasan tentang asuransi jiwa. Kali ini saya akan mengulas tentang polis asuransi jiwa sebagai jaminan saat kita mau kredit atau pinjam uang di Bank.

Ceritanya begini. Sebut saja Bapak Bijaksana. Dia mau beli rumah dengan cara KPR. Rumah tersebut seharga Rp 2 Milyar.

Pasti Bank akan bertanya, apa aset untuk jaminan. Jaminan yang kita serahkan selain sertifikat rumah, tanah, dan juga bisa polis yang kita miliki. Polis yang dimaksud adalah polis asuransi.

Secara tidak  langsung sebenarnya pihak Bank sebelum kita meminta Kredit Perumahan, Bank menyodorkan perincian antara lain angsuran kita perbulan akan dipotong asuransi. Kita sebagai nasabah boleh menolak asuransi tersebut dan diganti dengan polis yang kita miliki. Tentu saja polis kita harus memiliki nilai yang sepadan dengan harga rumah yang kita beli yakni Rp 2 Milyar.

Saya akan tunjukkan ilustrasi polis asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan Rp 2 Milyar.

Bpk Bijaksana UP Total 4 Milyar

Dari diagram di atas, Bapak Bijaksana hanya dengan premi perbulan Rp 2jt,

manfaat yang di dapat adalah:

  1. Jika Bapak Bijaksana terjadi Kecelakaan dan Cacat Tetap Total maka asuransi memberi dana Rp 2 Milyar ke keluarganya (istri dan anak, ini bisa untuk melunasi hutang KPR di Bank)
  2. Jika Bapak Bijaksana terjadi kecelakaan dan meninggal maka asuransi memberi dana Rp 4 Milyar ke istri dan anak yang bisa dibuat melunasi hutang KPR Bapaknya. Ini berarti keluarga masih mengantongi Rp 2 Milyar yang bisa dibuat modal usaha atau biaya pemakaman.
  3. Jika Bapak Bijaksana sakit dan cacat yang membuat beliau tidak bisa bekerja maka premi perbulan dibayar oleh asuransi Allianz.
  4. Jika Bapak Bijaksana masih hidup karena kemurahan Tuhan pada usia 55 tahun, dana Rp 2 Milyar sudah bisa diambil dari saldo di polis asuransi jiwa miliknya. Saldo tersebut bisa dipakai melunasi sisa hutang KPR nya.

Demikian penjelasan tentang polis asuransi khususnya asuransi jiwa Allianz yang dapat dipakai sebagai jaminan jika kita mengajukan KPR atau hutang di Bank.

Terimakasih

Pendaftaran polis asuransi dengan nilai pertanggungan Rp 2 Milyar bisa saya bantu,

Hubungi saya,

Natanael (Bisnis Eksekutif Allianz)

HP/WA 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com

Produk yang Menanggung Sekaligus Rawat Inap, Rawat Jalan, dan Asuransi Jiwa

Saya ingin membagikan informasi dari myallisya.com/2017/12/21. Karena cerita tersebut juga saya alami. Saya pernah ditanya teman, dia mencari asuransi yang bisa menanggung rawat inap, rawat jalan dan asuransi jiwa yang ada UP-nya. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa produk yang menanggung sekaligus rawat inap, rawat jalan, dan asuransi jiwa tidak tersedia di asuransi Allianz.

Produk yang tersedia adalah:

  •  Asuransi jiwa + rawat inap (tanpa rawat jalan). Nama produk Tapro Allisya Protection Plus.
  • Asuransi rawat inap + rawat jalan (tanpa asuransi jiwa). Nama produk Allisya Care. Selain itu ada juga Smartmed Premier dan Maxi Violet.

Di artikel tersebut dijelaskan bahwa anggaran premi bapak A adalah 300 ribu per bulan, maka manfaat yang bisa diambilnya hanyalah asuransi jiwa dengan UP 150 juta. Dan jika ingin ditambah rawat inap (rider HSC+), maka premi harus dinaikkan jadi minimal 500 ribu per bulan, dan mendapatkan rider HSC+ plan kamar 350rb.

Ilustrasi bisa dilihat di bawah ini;

Konsultasi asuransi 1 Ilustrasi

Dan rincian manfaat rawat inap rider HSC+ plan 350 bisa dilihat pada tabel bawah:

Konsultasi asuransi 1 Ilustrasi 2

Di artikel tersebut tidak membuatkan ilustrasi untuk produk asuransi rawat inap + rawat jalan, karena preminya harus tahunan, tidak sesuai dengan anggaran.

Tapi sebagai informasi, jika menggunakan produk Allisya Care dengan manfaat rawat inap + rawat jalan (tanpa asuransi jiwa), plan 350, preminya adalah 5.269.000 setahun.

Konsultasi asuransi 1 Ilustrasi 3

Seperti terlihat pada gambar di atas, premi untuk rawat inapnya sendiri 2,308 juta setahun, dan untuk rawat jalannya 2,925 juta setahun. Premi rawat jalan lebih mahal, sedangkan manfaatnya tak seberapa. Tabel manfaat rawat jalan plan D (350) bisa dilihat di bawah ini:

Konsultasi asuransi 1 Ilustrasi 4

Di artikel tersebut dijelaskan bahwa konsultasi dokter umum dibatasi 75 ribu per kunjungan, maks 30 kunjungan per tahun. Konsultasi dokter spesialis 150 ribu per kunjungan, maks 10 kunjungan per tahun. Dan untuk obat-obatan dibatasi 3 juta per tahun. Padahal preminya sendiri hampir 3 juta per tahun.

Selain itu, untuk rawat jalan ada co-share 20%. Co-share artinya berbagi risiko. Artinya, pihak asuransi mengganti sebanyak 80% biaya, dan 20% harus ditanggung nasabah. Contoh, biaya obat habis 1 juta, maka yang diganti pihak asuransi adalah 800 ribu. Sisanya 200 ribu menjadi tanggungan nasabah.

Manfaat rawat jalan pada Allisya Care hanya bisa diklaim menggunakan sistem reimbursement (bayar dulu, lalu ajukan klaim). Produk rawat jalan yang bisa cashless hanya Smartmed Premier.

Secara umum, dengan membandingkan premi dan manfaatnya, serta kebutuhan biayanya yang tidak besar, saya tidak sarankan ambil rawat jalan. (Baca juga: Rawat Jalan Itu Tidak Perlu Pakai Asuransi)

Risiko yang memerlukan asuransi hanya 4, disingkat R-S-C-M, yaitu Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, dan Meninggal dunia.

Keempatnya membutuhkan biaya yang lumayan besar hingga sangat besar, bahkan bisa menimbulkan hilangnya sumber penghasilan.

Demikian.

Untuk konsultasi mengenai asuransi dan produk-produk asuransi dari Allianz, silakan menghubungi saya:

Natanael (Bisnis Eksekutif ASN_)

HP/WA 08113436830

email: natanael.allianz@gmail.com

 

sumber: https://myallisya.com/2017/12/21/mohon-informasi-mengenai-asuransi-rawat-inap-rawat-jalan-dan-ada-asuransi-jiwanya/#more-12203

Pandangan yang Salah oleh Masyarakat terhadap Asuransi

Kesadaran berasuransi di tengah masyarakat Indonesia sejauh ini masih rendah, seperti yang dilansir KOMPAS.com –

Berikut ini pandangan salah yang berkembang di masyarakat, dan bagaimana pandangan yang lebih tepat mengenai asuransi.

1. Membeli Asuransi = Investasi?

Masih banyak kalangan yang menganggap, membeli asuransi sama saja membuang uang percuma. Malah, tak sedikit yang menilai membeli asuransi sebagai langkah investasi.

Pandangan seperti itu sebenarnya salah kaprah. Asuransi dalam kamus perencanaan keuangan adalah salah satu strategi manajemen risiko finansial. Dengan membeli produk asuransi, kita mengalihkan risiko keuangan pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi.

intinya adalah, sebagai manusia biasa kita memiliki risiko untuk sakit. Sakit membuat kita harus berobat yang menguras biaya.

Kondisi sakit juga membuat kita tidak bisa bekerja. Dengan membeli asuransi kesehatan, ketika risiko sakit itu menimpa kita, biaya berobat dan kerugian akibat produktivitas yang terhenti, kita alihkan ke perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi yang akan membayar biaya berobat tersebut.

2. Asuransi dan penghasilan

Banyak yang salah kaprah dalam tujuan membeli asuransi. Pada saat memiliki penghasilan, banyak orang yang langsung membeli asuransi. Padahal langkah ini belum tentu benar. Membeli asuransi diperlukan jika Anda telah memiliki tanggungan seperti anak atau istri.

Saat itulah sebagai pencari nafkah kita mengalihkan risiko kematian atau kesehatan diri dan keluarga kepada perusahaan asuransi. Jika belum memiliki tanggungan, belum ada kondisi mendesak bagi kita untuk memiliki asuransi.

3. Asuransi jiwa tak wajib

Selama ini asuransi jiwa sering disepelekan sehingga tak banyak yang membeli asuransi jenis ini.

Padahal jika kita sudah bekerja dan memiliki tanggungan yang akan terpengaruh kesejahteraan hidupnya bila kita meninggal dunia, maka memiliki proteksi jiwa adalah wajib hukumnya bagi kita.

Asuransi jiwa tersebut akan berfungsi menggantikan kontribusi finansial kita kepada para ahli waris yang selama ini menjadi tanggungan kita.

Sebaliknya, bila kita sudah bekerja tetapi tidak menanggung siapapun, belum perlu bagi kita membeli asuransi jiwa. Jadi, perlukah anak muda membeli produk asuransi?

Untuk asuransi kesehatan, kita bisa menjadi peserta Asuransi Kesehatan Allianz yakni Maxi Violet dan Smartmed Premier, untuk mengcover risiko-risiko terkait kesehatan. Bagaimana dengan asuransi jiwa?

Bila kita saat ini sudah menanggung hidup orang lain, seperti orangtua, adik, atau saudara, maka lebih baik memiliki asuransi jiwa yakni Tapro Allianz.

4. Salah mengasuransikan diri

Dan jangan salah mengasuransikan diri. Pencari nafkah, suami atau istri, itulah yang diasuransikan. Bukan anak atau istri/suami.

Artinya risiko si pencari nafkah ditanggung oleh perusahaan asuransi. Jika mengalami kematian, misalnya, ahli waris seperti anak dan istri, akan tetap menjalani kehidupannya dengan dana risiko dari perusahaan asuransi.

Pencari nafkah membeli asuransi untuk anak atau istri, padahal mereka bukan pencari nafkah. Istri, jika sebagai pencari nafkah bersama suami, dapat membeli asuransi jiwa dengan ahli waris anaknya atau keluarganya.

Asuransi Bukan Tabungan

Kok aneh ya pak, kalau saya bayar premi Rp1jt perbulan dan pada bulan, misalnya bulan ke dua puluh tiba-tiba terdeteksi sakit jantung, maka perusahaan asuransi langsung memberi santunan ke saya Rp1 milyar. Menabung perbulan Rp1jt selama dua puluh bulan belum mencapai Rp1milyar. Bagaimana bisa? Uang darimana utk diberikan ke kita sebagai nasabah. 

Pertanyaan diatas sering ditanyakan oleh teman maupun orang yang baru saya kenal saat presentasi asuransi. 

Mengapa asuransi bisa membantu Rp1 milyar Meskipun kita hanya membayar premi baru dua kali. Jawabannya karena Asuransi bukan Tabungan. 

Uang dari mana untuk membayar atau menyantuni nasabah? Jawabannya adalah uang sumbangan dari seluruh nasabah. Jadi premi yang kita bayar itu intinya disumbangkan buat nasabah lsin yang terkena musibah. Inilah, mengapa perusahaan asuransi bisa menyantuni nasabah yang sakit. Yah, karena yang dipakai adalah uang sumbangan dari seluruh premi nasabah. 

Jadi, salah jika ada yang mengartikan asuransi itu tabungan. Karena beda konsep. 

Konsultasi lebih lanjut hubungi

Natanael

Hp/wa 08113436830

Email. natanael.albertus@gmail.com

3 Hal Yang Dilakukan Istri Jika Suami Meninggal Dunia Tanpa Asuransi Jiwa

Istri asuransi jiwa

Ketika agen asuransi datang dan menawarkan asuransi jiwa, tak jarang para suami khawatir istrinya tidak setuju, dan istri terkadang khawatir uang belanjanya jadi berkurang. Suami-istri yang bijak seharusnya membujuk pasangannya untuk setuju dengan asuransi jiwa.

Karena pernahkah terpikirkan oleh anda, terutama istri, apa yang harus dilakukan jika suami meninggal dunia dalam usia muda dengan kondisi meninggalkan anak-anak yang masih belia?

Setidaknya ada 3 langkah yang pada umumnya dilakukan istri jika suaminya meninggal dunia tanpa memiliki asuransi jiwa. Continue reading