Tag Archives: Berita Asuransi

Duka Sedalam-dalamnya terhadap Tragedi Mina 2015

Pagi itu saya baca koran online http://www.jpnn.com berisi tentang tragedi yang menimpa jemaah yang melakukan ibadah haji di Mekah. Isi berita seperti ini:

163745_948001_tragendi_mina“MUSIM haji tahun ini belum berhenti lepas dari jalan penuh cobaan. Belum tuntas investigasi insiden jatuhnya crane di Masjidil Aqsa, terbakarnya hotel, rubuhnya tenda jamaah, kini datang lagi berita memilukan dari Makkah.Setidaknya 220 orang dilaporkan tewas saat menjalani ritual haji di Mina, Kamis (24/9). Dilansir dari Aljazeera, tragedi ini terjadi karena jamaah sudah sangat berdesak-desakan di cuaca panas. Karena hal itu, banyak jemaah yang tak kuat dan jatuh, terinjak-injak dan meninggal.

Pihak pertahanan sipil Arab Saudi menyebutkan, jumlah korban tewas sangat mungkin bertambah. Sementara jumlah korban luka sudah mencapai 400 orang. “Saat ini sedang dilakukan evakuasi,” ujar aparat setempat.(http://www.jpnn.com/read/2015/09/24/328737/Ini-Penyebab-Terjadinya-Tragedi-Mina-2015)

Cukup hati saya menangis saat membaca berita di atas. Saya coba membayangkan bagaimana seandainya saya berada disana.

Semoga kejadian ini tidak terulang dan pemerinta Arab Saudi dapat belajar dari pengalaman tragedi Mina 2015 ini.

Segenap keluarga besar Allianz Syariah mengucapkan duka sedalam-dalamnya. Semoga keluarga yang ditinggal diberi kerelaan hati.

Salam, Natanael Allianz

Bisnis Eksekutif Allianz , Contact 08113436830

Advertisements

Jangan Sampai Kanker Menghancurkan Hidup Keluargamu Juga

Hari ini saya  membaca sebuah pengalaman teman yang bergelut sebagai agen asuransi. Pada saat Ia mengirim ratusan email ke beberapa calon nasabah. Selang sepuluh menit salah satu prospek langsung merespon: “Terima kasih atas penawarannya yang sangat penting ini. Saya berminat ambil asuransi, tapi kondisi saya sekarang ini sedang terserang kanker, apakah bisa ya?” 

Dalam kondisi seperti di atas, berat kemungkinan untuk diterima asuransi. Sebab salah satu syarat untuk mengajukan asuransi adalam kondisi yang bersangkutan sehat dan tidak punya riwayat sakit yang amat serius. Setelah merenung kemudian saya membalasnya: “Ibu, sebenarnya bisa saja dalam kondisi yang sedang Ibu alami saat ini tetap mendaftar asuransi. Tapi harus melampirkan seluruh resume medis dari rumah sakit yang merawat Ibu. Apakah diterima atau tidaknya nanti tergantung underwraiting.”

Keesokan harinya beliau kembali membalas email. “Kalau begitu saya akan menuntaskan pengobatan dulu. Setelah pulih saya baru daftar, ya.” “Baik, Bu. Begitu lebih baik. Semoga cepat sembuh Bu, ya.

Semoga pengalaman Ibu ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Kanker, penyakit ganas yang berkeliaran dan gampang menyerang siapa saja. Tak kenal usia bahkan. Salah satu penyebabnya adalah polusi dan banyaknya makanan dan minuman instant yang sulit kita hindari. Akan lebih baik jika kita cepat daftar asuransi. Sedia payung sebelum hujan adalah langkah yang tepat. Sayangnya, kalau yang cerita seperti ini agen asuransi dikira hanya nakut-nakuti, ujung-ujungnya mau jualan asuransi. Semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Wallahu a’lam.

Mengakhiri tulisan ini, berikut ini saya berikan ilustrasi asuransi jiwa dengan tambahan rider perlindungan 100 jenis penyakit kritis. Hanya di Allianz yang menanggung 100 jenis penyakit kritis hingga usia 100 tahun. Pria, usia 30 tahun, tidak merokok. Hanya dengan premi Rp 1.500.000/bln dia mendapatkan: 1) santunan kematian (UP jiwa): 1 miliar. 2) santunan 100 jenis penyakit kritis (UP CI-100): 1 miliar. Ditambah dengan saldo investasi sesuai dengan perkembangan.

Ilustrasi lengkap klik gambar di bawah:

Ilustrasi Manfaat 1 Miliar

Masih kurang jelas/masih ragu berasuransi? Silahkan hubungi saya:

Natanael Agen Asuransi Allianz Surabaya

HP/SMS/WA 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com / natanael.allianz@gmail.com

Setengah Pasien Kanker di Asia Tenggara Bangkrut

imageFirdaus Anwar – detikHealth

Nusa Dua, Bali, Kanker adalah penyakit tak menular yang jumlah pengidapnya semakin meningkat tiap tahun. Bila tak ada upaya pencegahan, maka beban sosial ekonomi akan semakin menumpuk juga.

Pengobatakan berbagai kanker dengan kemoterapi, radioterapi, dan operasi memakan biaya yang tak sedikit. Sebuah studi yang dilakukan oleh ASEAN Cost in Oncology (ACTION) menguji biaya yang dikeluarkan 9.513 orang pengidap kanker di delapan negara termasuk Indonesia dan menemukan hampir 50 persen mengalami kebangkrutan atau masalah finansial setelah menjalani pengobatan selama 12 bulan.

Salah seorang peneliti yang terlibat dalam studi, Mark Woodward dari George Institute of Global Health mengatakan parahnya lagi pengidap sering kali adalah pencari nafkah dalam keluarga. Alhasil seluruh kesejahteraan keluarga juga akan terpengaruh karena pengidap sangat bergantung pada bantuan.

“Mereka tak punya kemampuan untuk membayar utang atau dokter. Ada bencana finansial karena rata-rata pengeluaran untuk kesehatan bisa melebihi 30 persen dari pemasukkan,” papar Mark ketika ditemui pada konferensi media di Westin Hotels & Resort, Nusa Dua, Bali, Kamis (20/8/2015).

Mark menjelaskan dari pasien sebagian besar datang dan menjalani pengobatan medis pada stadium empat, tingkatan terakhir kanker. Akibatnya dalam waktu pengobatan setahun, 30 persen responden meninggal. Hanya sedikit yang bisa selamat lebih dari setahun tanpa disertai dengan kesulitan finansial.

“Perlu ada tindakan darurat untuk melindungi orang-orang dari beban finansial penyakit ini,” lanjut Mark.

Deteksi dini berkualitas adalah solusi yang diajukan studi untuk pemerintah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penyebab beratnya beban sosial ekonomi dari kanker ini adalah karena kerap penyakit baru ditemukan pada stadium lanjut sehingga pasien lebih membutuhkan perawatan dan kemungkinan selamatnya juga lebih kecil.

Mari kita renungkan…

Masalah biaya pengobatan sakit kritis ini adalah masalah bersama. Selain membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, juga kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja optimal lagi. Saya tidak hiperbolik.. bolehlah sekali-kali kita survey biaya pengobatan untuk penyakit-penyakit yang tergolong berat itu.

Bagi yang sudah memiliki aset cukup banyak, bisa saja menjual asetnya untuk biaya pengobatan. itupun, sering kali pasien tidak mau mengorbankan aset yang dimiliki karena memikirkan masa depan keluarganya, berat kan menjual rumah satu-satunya yang jadi tempat berteduh keluarga ? atau mengorbanan dana pendidikan anak yang dikumpulkan sekian lama untuk dipakai biaya hidup/biaya berobat ? akhirnya banyak yang pasrah dengan penyakitnya itu.

Beberapa kali saya temukan orang tidak mau mengobati penyakitnya karena ketiadaan biaya, juga beberapa kali ada keluarga yang akhirnya pasrah membiarkan keadaan pasien karena keluarga tidak mampu menyediakan biaya pengobatan yang layak. menyedihkan..

Seandainya .. kita, atau saudara kandung kita yang mengalami kondisi seperti itu, mampukah kita membantu mereka ? membantu biaya pengobatannya, membantu biaya hidup keluarganya ? bukankah tuntunan agama menyuruh kita melakukan itu ?dan mampukah mereka membantu kita jika kita sendiri yang mengalaminya ? (silahkan bayangkan bagaimana keadaan finansial keluarga besar kita masing-masing…adakah yang bisa kita andalkan, jika ada, maukah mereka ikut menanggung beban kita ?)

Masyarakat kita masih kental dengan semangat tolong menolong. Jika ada yang terkena musibah, biasanya spontanitas kita bantu dengan mengumpulkan sumbangan alakadarnya. Di masyarakat kita pasti kita akan saling bantu, tapi berapa banyak kita bisa mengandalkan keluarga besar kita ? teman dan sahabat kita ? bantuan itu terbatas pastinya. Beban yang berat yang ditanggung oleh beberapa orang saja tentu akan terasa berat.

perlu ada suatu mekanisme tolong menolong dengan cara lain.

mengapa kita tidak saling bantu untuk lingkup kepesertaan yang lebih besar dengan berasuransi ? ‘Saweran’ yang kita berikan mampu menolong orang lain, juga mampu menolong kita ketika kita sendiri yang terkena musibah. kalau jumlah peserta ‘sawerannya’ banyak, tentu jumlah sawerannya jadi ringan, ya kan ? itu inti dari asuransi syariah sebenarnya.

ditulis ulang dari :

http://proteksisyariah.com