Tag Archives: Edukasi asuransi

Punya BPJS Saja Tidak Cukup, Biaya Hidup Orang Sakit Jauh lebih besar, Dibanding Orang Sehat

Asuransi bukan untuk anda.

Tapi, untuk orang yang anda cintai.

“Saya sudah pakai BPJS mbk…Saya sudah dapat askes dari kantor, aku juga sudah punya asuransi kesehatan. “

Apalagi katanya skg BPJS sudah meningkatkan pelayanan nya seiring dengan membludaknya masyarakat yang pakai BPJS.

BPJS atau asuransi rawat inap dari kantor, termasuk kedalam asuransi kesehatan, yang apabila kita terdiagnosa penyakit, BPJS akan membayar seluruh tagihan rumah sakit.

Tanpa kita sadari, kenyataan nya ketika kita terkena sakit bahkan sampai tidak bisa bekerja lagi, ada biaya non medis yang harus kita keluarkan.

Apa saja biaya non medisnya?

1. Bila pencari nafkah sakit, istri dan keluarga harus ikut menemani dan butuh akomodasi selama pengobatan.
2. Pengobatan alternatif/nutrisi tidak ditanggung BPJS alias tanggung biaya sendiri.
3. Ingin berobat ke Luar Negeri, pakai biaya sendiri.
4. Pekerjaan suami (pencari nafkah utama) atau istri akan terancam stop
5. Pekerjaan stop = income pun akan terancam stop.

Tapi, ada yang tidak pernah stop. Yaitu biaya hidup.
Biaya hidup orang sakit jauh lebih besarrr, dibanding orang sehat.
Benar atau benar?

Menurut pendapat saya, asuransi bukan menghitung nilai berapa jiwa kita, berapa harga resiko kita.
Tapi, menyisihkan berapa persen dari income untuk keluarga seandainya terjadi sesuatu beban finansial yang besar akan terasa ringan.

Asuransi bukan untuk anda. Tapi, untuk orang yang anda cintai.

Konsultasi:

Natanael (Agen Asuransi Jiwa dan kesehatan Allianz)

HP/WA : 08113436830

email: natanael.allianz@gmail.com

Konsep Asuransi sudah Digagas Tuhan Melalui Nabi Nuh

Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan r –dengan taat mempersiapkan bahtera s  untuk menyelamatkan keluarganya; t  dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. u 
sumber: http://alkitab.sabda.org/search.php?search=Nabi%20Nuh&scope=all&exact=off

Jika kita membaca ayat di atas yang saya kutip dari Ibrani 11:7 (Alkitab), dapat disimpulkan bahwa konsep asuransi sudah digagas oleh Allah sejak jaman Nabi Nuh. Karena Iman, maka Nuh-dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum terjadi (kelihatan). Dan dengan patuhnya, Nabi Nuh melaksanakan perintah Allah.

Nabi Nuh menyelamatkan keluarganya dengan membuat perahu (bahtera). Meskipun saat itu banyak orang yang mengolok-olok dia, karena Nabi Nuh membuat perahu dikala musim panas atau kering dan mustahil ada banjir.

Perintah Allah ke Nabi Nuh adalah konsep dasar asuransi. Tujuannya adalah agar keluarganya selamat. Selamat tidak hanya nyawanya, tetapi selamat dari kebangkrutan ekonomi. Selamat dari kemiskinan karena ditinggal pergi suami atau ayah sebagai kepala keluarga.

Nabi Nuh mengimani hal itu. Nabi Nuh mengimani bahwa perahu yang dibuatnya karena Allah akan mengirim air bah sehingga terjadi banjir. Dan, Nabi Nuh berhasil menyelamatkan keluarganya.

Nabi Nuh patuh terhadap perintah Tuhan. Dia mau melaksanakan karena iman.

Nah, jika kita kaitkan dengan konsep asuransi juga sama. Asuransi membicarakan sesuatu hal yang belum terjadi. Membicarakan program ke depan yang belum tentu terjadi. Namun, kita sebagai manusia ber-iman, percaya bahwa Allah memberikan kita petunjuk atau tanda akan sesuatu hal yang belum terjadi.

Maaf saya tulis artikel ini karena masih banyak yang beranggapan bahwa ikut asuransi berarti tidak percaya pada kemurahan Tuhan. Ikut asuransi berarti tidak menyerahkan hidup pada Tuhan. Jujur saja ya, saya tidak menyalahkan pendapat tersebut. Hanya saja, pendapat ini terlalu naif buat saya. Dan terlalu sombong. Istilah nya kesombongan rohani.

Sebagai manusia beriman, kita diberi kebijaksanaan untuk merencanakan yang terbaik buat Tuhan dan sesama, terutama keluarga. Sebaiknay hal ini seiring sejalan, tidak berat sebelah. Di kisah Nabi Nuh jelas digambarkan sebuah antisipasi positif terhadap sesuatu yang akan terjadi. Kita perlu belajar bagaimana mengantisipasi dampak keuangan yang terjadi jika terjadi sesuatu.

Kita boleh berserah pada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan pasti pegang kita tapi kita tidak boleh pasrah. Kita harus berusaha. Kita harus merencanakan sebuah tujuan masa depan yang lebih baik.

Demikian kiranya. Salam.

Dasar Hukum yang Berlaku dalam Asuransi Kesehatan Allianz

Pada dasarnya, asuransi merupakan sebuah bentuk perjanjian, maka dengan demikian hal ini memiliki risiko batal atau dibatalkan jika tidak memenuhi syarat keabsahan perjanjian yang mengacu pada Pasal 1320 KUH Perdata. Namun di luar KUHD tersebut, perjanjian asuransi juga dibatalkan bila terjadi beberapa hal seperti:

  • Memuat keterangan yang keliru atau tidak benar atau bila tertanggung tidak memberitahukan hal-hal yang diketahuinya, di mana apabila hal tersebut disampaikan kepada penanggung akan berakibat tidak ditutupnya perjanjian asuransi tersebut (Pasal 251 KUHD).
  • Memuat suatu kerugian yang sudah ada sebelum perjanjian asuransi ditandatangani (Pasal 269 KUHD).
  • Memuat ketentuan bahwa tertanggung dengan pemberitahuan melalui pengadilan membebaskan si penanggung dari segala kewajiban yang akan datang (Pasal 272 KUHD).
  • Terdapat suatu akalan cerdik, penipuan, atau kecurangan si tertanggung (Pasal 282 KUHD).
  • Apabila obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-undangan tidak boleh diperdagangkan dan atas sebuah kapal baik kapal Indonesia atau kapal asing yang digunakan untuk mengangkut obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-undangan tidak boleh diperdagangkan (Pasal 599 KUHD).

Bagaimana Cara Klaim Asuransi Kesehatan Allianz?

Berikut ini adalah prosedur cara klaim asuransi kesehatan Allianz:

  • Menghubungi call center Allianz pada nomor 1500 136 / Fax: +6221-2926 8080 / contactus@allianz.co.id
  • Melengkapi dokumen asuransi kesehatan (individu atau kelompok) 
  • Melengkapi Formulir Klaim Asuransi Kesehatan (individu / kelompok)
  • Melengkapi Formulir Aplikasi Asuransi Kesehatan Perseorangan (khsus klaim individu)
  • Menghubungi call center Allianz pada nomor 1500 136 / Fax: +6221-2926 8080 / contactus@allianz.co.id
  • Melengkapi dokumen asuransi kesehatan (individu atau kelompok) 
  • Melengkapi Formulir Klaim Asuransi Kesehatan (individu / kelompok)
  • Melengkapi Formulir Aplikasi Asuransi Kesehatan Perseorangan (khsus klaim individu)

Konsultasi lebih lanjut hubungi

Natanael Konsultan Asuransi Allianz

HP/WA 08113436830

Mengapa Klaim Asuransi Anda Ditolak?

Banyak yang mengatakan malas mengikuti asuransi karena sulitnya saat klaim. Pertanyaannya mengapa klaim asuransi kita ditolak oleh perusahaan asuransi? Saya tidak pernah menyebut siapa asuransinya tetapi hampir semua asuransi demikian. Apa sebab klaim asuransi kita ditolak atau tidak dicairkan?

Berikut 10 Alasan ditolaknya klaim Asuransi Anda menurut beberapa sumber :

1. Polis Sedang Tidak Aktif (Lapse)

Polis Tidak Aktif - Lapse

Polis Tidak Aktif via teamwinston.com

Polis asuransi bisa berada dalam keadaan tidak aktif karena beberapa keadaan. Keadaan tidak aktif ini disebut juga dengan lapse. Pihak asuransi tidak bersedia membayar klaim asuransi bila polis sedang lapse. Berikut dua contoh keadaan polis sedang lapse dan membuat klaim asuransi Anda ditolak.

  • Pembayaran premi asuransi jatuh tempo karena telah melewati masa tenggang. Setiap asuransi mungkin saja memiliki waktu tenggang berbeda-beda. Biasanya maksimal sekitar 45 hari. Bila kejadian terjadi setelah masa itu, asuransi tidak akan bertanggung jawab atas kerugian apapun yang diderita pemegang polis, sekalipun termasuk dalam klausul polis. Bayarlah premi asuransi tepat waktu atau setidaknya tidak sampai akhir masa tenggang.
  • Bila polis asuransi berbentuk unitlink, polis bisa dianggap lapse bila nilai tunai asuransi tidak cukup menutupi biaya asuransi. Setidaknya ada dua penyebab tidak cukupnya nilai tunai ini, yaitu kinerja investasi tidak baik dan nilai tunai sering dicairkan. Untuk menghindarinya, ada baiknya melakukan top up di waktu tertentu saat kinerja investasi sedang buruk. Selain itu, pastikan tidak mencairkan nilai tunai, kecuali sewaktu-waktu sedang dalam keadaan terdesak.

2. Klaim Tidak Tercakup Dalam Klausul

Klaim Tidak Termasuk Dalam Klausul

Klaim Tidak Tercakup Dalam Klausul via images.wisegeek.com 

Polis asuransi berisi kesepakatan yang meliputi kriteria-kriteria apa yang masuk dan tidak masuk dalam tanggungan asuransi. Dalam asuransi mobil TLO, apa yang dimaksud dengan rusak berat bisa jadi berbeda-beda antara satu asuransi dengan asuransi lain. Bisa jadi minimal 70%, 75%, bahkan 80%. Jadi, asuransi tidak akan menanggung pembiayaan kerusakan, bila kerusakan tidak mencapai persentase yang disepakati.

Kita ambil contoh lain. Misalnya, dalam polis tertera bahwa stroke merupakan serangan serebral-vaskular, bersifat neurologis permanen, dalam waktu lebih dari 24 jam. Sekalipun dokter mendiagnosis pemegang polis terkena stroke namun masih kurang dari 24 jam, klaim asuransi tidak dapat diajukan karena pasti akan ditolak. 

3. Pengajuan Klaim Melebihi Waktu Yang Ditentukan

Pengajuan Klaim

Pengajuan Claim Melebihi Waktu Yang Ditentukan via bajajcapital.com

Klaim asuransi dapat tertunda atau bahkan tertolak bila pengurusan klaim melebihi waktu yang telah ditentukan di dalam polis. Asuransi selalu memberikan batas waktu tertentu untuk pengurusan klaim. Lewat dari itu, klaim bisa ditolak. Klaim asuransi mobil harus segera diurus karena batas waktunya pendek, hanya 3 x 24 jam. Sementara untuk asuransi seperti asuransi jiwa, batas waktunya antara 30-60 hari.

4. Dokumen Klaim Tidak Lengkap

Dokumen Claim

Dokumen Klaim Tidak Lengkap via edu-one.co.id 

Pastikan mengetahui semua dokumen yang harus disediakan saat hendak mengajukan klaim. Satu saja dokumen yang kurang, asuransi akan menolak klaim. Misalnya untuk asuransi jiwa, diperlukan surat keterangan dari dokter. Anda juga diharuskan mengisi formulir klaim.

Ikuti prosedur dengan benar. Bila klaim yang diajukan adalah klaim asuransi mobil, pastikan mengambil foto kerusakan mobil. Foto ini akan menjadi salah satu bukti saat hendak mengajukan klaim ke asuransi.

Selanjutnya siapkan dokumen secara lengkap, mulai dari fotokopi polis asuransi, fotokopi SIM dan STNK, dan tentu saja formulir pengajuan klaim. Surat keterangan dari polisi mungkin juga dibutuhkan bila terjadi kerusakan berat.

Sangat mengisi formulir, isilah sejujur-jujurnya dan sejelas-jelasnya karena pihak asuransi nantinya akan melakukan pengecekan. Mereka tidak akan membayar klaim jika isi formulir klaim terbukti mengandung kebohongan.

Prosedur lain yang tidak kalah penting adalah melakukan perbaikan di bengkel rekanan. Hal serupa juga termasuk berobat di rumah sakit yang dirujuk oleh asuransi. Tidak boleh memperbaiki atau berobat di tempat di luar rujukan asuransi.

 

5. Berada Pada Masa Tunggu (Waiting Period)

Masa Tunggu

Berada Pada Masa Tunggu via saintpetersblog.com

Pada jenis-jenis asuransi tertentu, biasanya ada kebijakan yang dinamakan masa tunggu. Pembeli polis asuransi tidak akan dapat mengajukan klaim bila sedang dalam masa tunggu. Untuk sakit kritis, biasanya akan ada masa tunggu sekitar 30 sampai 365 hari.

Katakanlah masa tunggu sekitar 30 hari. Polis asuransi dibeli tanggal 1 februari 2015. Kemudian ia mengalami sakit kritis pada tanggal 1 Maret 2015. Bila ia mengajukan klaim, asuransi akan menolaknya, karena belum melewati masa tunggu.

6. Penyakit Telah Ada Sebelum Polis Dibeli

penyakit telah ada sebelum ikut asuransi

Penyakit Telah Ada Sebelum Polis Dibeli via thesweeterthejuice.com

Pemilik polis juga akan ditolak klaimnya bila menyembunyikan penyakit saat membeli klaim. Sekalipun masa tunggu telah dilewati, jika terbukti penyakit yang timbul sebenarnya sudah dialami sejak sebelum pembelian polis, asuransi akan menolak klaimnya. Jadi, pastikan Anda  masih dala keadaan sehat ketika membeli asuransi.

7. Klaim Ajuan Termasuk Pengecualian

Klaim ditolak

Klaim Ajuan Termasuk Pengecualian via greeleylawyers.com

Selain mengatur hal-hal yang termasuk tanggungan asuransi, polis juga mengatur hal-hal pengecualian. Hal-hal pengecualian ini adalah hal-hal yang tidak termasuk dalam tanggungan asuransi. Dalam asuransi jiwa, hal pengecualian ini di antaranya mati karena bunuh diri, hukuman pengadilan, maupun kejahatan.

8. Pemegang Polis Melanggar Hukum

Pemegang Polis Melanggar Hukum

Pemegang Polis Melanggar Hukum via gilesandgiles.com

Alasan lain yang membuat klaim asuransi ditolak adalah bila pemegang polis melakukan tindakan melanggar hukum. Misalnya, bila ia memiliki asuransi mobil all risk kemudian mobilnya kecelakaan karena ugal-ugalan atau melanggar lalu lintas, ia tidak dapat mengajukan klaim. Hal yang sama juga berlaku bila pemegang polis tidak memiliki SIM saat berkendara, parkir di sembarang tempat, dan mabuk.

Pemegang polis asuransi kesehatan juga tidak akan dapat mengajukan klaim jika misalnya ia mengalami luka berat akibat dihajar massa ketika melakukan tindak kejahatan. Polis asuransi selalu patuh dengan hukum yang berlaku, sehingga tidak mungkin mengakomodasi hal-hal yang terjadi karena tindak pelanggaran hukum. 

9. Melakukan kejahatan Asuransi

Kejahatan Asuransi

Crime Insurance via mdwinsurance.com

Yang dimaksud kejahatan asuransi adalah tindakan kebohongan atau sabotase yang dilakukan secara sengaja oleh pemilik polis atau ahli warisnya agar klaim asuransi dibayarkan. Seorang pemilik polis asuransi bisa saja melukai dirinya, membakar rumah sendiri, atau dengan sengaja menyebabkan kecelakaan untuk mendapatkan ganti rugi dari asuransi.

Pihak asuransi secara otomatis akan menolak klaim bila setelah penyelidikan diketahui bahwa tindakan tersebut disengaja. Hal yang sama juga berlaku bila ahli waris melakukan kejahatan terhadap pemilik polis agar mendapatkan klaim dari asuransi.

10. Wilayah Kejadian Tidak Termasuk Layanan Asuransi

Wilayah kejadian Tidak Termasuk ke dalam Kontrak

Wilayah Kejadian Tidak Termasuk Dalam Kontrak via sleep-doctor.com 

Polis asuransi juga mungkin saja memasukkan klausul mengenai wilayah ke dalam kesepakatan. Klaim hanya dilayani bila kejadian terjadi di wilayah tertentu saja. Bila seseorang mengasuransikan jiwanya di Indonesia dan polis menyatakan klaim hanya bisa diajukan bila ia meninggal di Indonesia, berarti klaim akan ditolak bila ia berobat ke luar negeri dan meninggal di sana.

Nah, dari sepuluh alasan diatas coba anda amati dan dibaca isi polis asuransi kesehatan atau jiwa yang anda miliki.

Konsultasi lebih lanjut hubungi saya,

Natanael (Konsultan/ Bisnis Partner Allianz)

HP/WA 08113436830

email: natanael.allianz@gmail.com

Asuransi bukan Investasi tapi Pemberi Dana Santunan

Pak, saya tertarik dengan artikel Bapak tentang asuransi yang bisa dapat income. Bagaimana caranya?”

“Caranya gampang, Bapak tinggal buka polis di asuransi saya, yakni Allianz.” Jawabku saat ditanya tentang artikel saya berjudul apakah-anda-mau-honor-rp1jt-perhari-saat-dirawat-di-rumah-sakit/

“Trus agar dapat honor bagaimana?”

“Agar dapat honor, Bapak harus di rawat di rumah sakit terlebih dahulu.”

“Ow begitu ya pak,”

Dari dialog diatas dapat disimpulkan masih banyak orang belum sadar tentang asuransi. Dikiranya asuransi itu pemberi talangan.

Ada juga yang beranggapan, asuransi adalah investasi. Iya, memang bisa dikategorikan seperti itu, namun itu persepsi salah. Banyak agen dari asuransi lain yang menawarkan tentang investasi di asuransi khususnya unitlink. Dan banyak pula yang kecewa karena hasil investasi asuransi yang selama 10 tahun diinvestasikan ternyata diluar dari harapan atau tidak sesuai dengan ilustrasi yang ditawarkan agen.

Kalau kita kembali ke definisi awal, asuransi adalah suatu perusahaan yang akan memberi dana atau santunan jika tertanggung mengalami hal yang tidak diharapkan, seperti meninggal, kecelakaan, atau sakit.

Menurut bahasa, asuransi berasal dari bahasa inggris yaitu insurance yang berarti pertanggungan.

Menurut UU No. 2 Tahun 1992, asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab pihak hukum ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Secara umum, asuransi adalah suatu perjanjian antara tertanggung (nasabah) dengan penanggung (perusahaan asuransi). Pihak perusahaan asuransi bersedia menanggung sejumlah kerugian yang mungkin akan timbul dimasa mendatang.

Istilah asuransi menggambarkan setiap tindakan untuk perlindungan terhadap risiko. Pengguna asuransi diberikan kewajiban untuk membayarkan uang dalam jumlah tertentu yang disebut dengan premi, yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi.

Pemahaman di atas semoga meluruskan anggapan orang bahwa asuransi itu investasi dan parahnya lagi ada agen yang menawarkan tabungan pendidikan. Itu salah, sama sekali bukan prinsip asuransi.

Demikian sedikit dari saya,

Jika anda ingin mendaftar asuransi kesehatan atau asuransi jiwa hubungi saya:

Natanael HP/WA 08113436830

Mengenal Istilah Underwriting dalam Asuransi

underwriting

“Waduh pak, sulit masuk sebagai nasabah Allianz kalau begini. Saya dimintai ini itu dari Rumah Sakit. Sebenarnya maunya apa sih, underwriting ini? Saya mundur saja kalau gitu.”

“Sabar pak, lebih bijaksana bapak ikuti saja apa yang diminta oleh underwriting.”

Apa itu underwriting? Mereka memang seperti dewa dalam menentukan kebijakan diterima atau tidaknya pengajuan polis nasabah. Selain itu juga yang menentukan sah tidaknya clime nasabah.

Pada jurnal Allianz, 25 Jul 2017, dijelaskan bahwa underwriting adalah proses identifikasi dan seleksi resiko. Saat mengajukan asuransi, calon tertanggung akan terlebih dahulu melalui proses underwriting sebelum akhirnya mereka dibebankan premi dengan jumlah tertentu.

Selama proses underwriting, hal yang pertama kali dilakukan adalah identifikasi resiko terhadap calon tertanggung oleh underwriterUnderwriter merupakan sebutan bagi personil perusahaan asuransi yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi resiko calon tertanggung.

Adapun faktor-faktor yang bisa ditinjau oleh underwriter dalam proses identifikasi resiko adalah faktor kesehatan, pekerjaan, gaya hidup, hobi, dan juga lokasi tempat tinggal.

Setelah identifikasi resiko selesai dilakukan, barulah underwriter bisa mengelompokan calon tertanggung ke dalam kategori resiko yang sesuai. Ada empat kategori resiko dalam asuransi, yaitu: declined risk, substandard risk, standard risk, dan preferred risk. Semakin tinggi resiko (substandard risk ), semakin besar pula premi yang dibebankan kepada calon tertanggung. Bahkan untuk resiko yang paling tinggi (declined risk), perusahan Asuransi tidak dapat menerima resiko tersebut. Sementara, calon tertanggung dengan resiko terendah (preferred risk) akan mendapat premi yang relatif lebih murah, namun pada prakteknya biasanya premi disamakan dengan yang standard risk.

Meski underwriting seringkali dianggap menyulitkan calon tertanggung, namun tindakan ini dilakukan demi tercapainya banyak tujuan. Salah satunya adalah agar calon tertanggung mendapatkan beban premi yang sesuai dengan resiko yang dimiliki. Sehingga, tercipta keadilan dalam pembebanan premi.

 

Pandangan yang Salah oleh Masyarakat terhadap Asuransi

Kesadaran berasuransi di tengah masyarakat Indonesia sejauh ini masih rendah, seperti yang dilansir KOMPAS.com –

Berikut ini pandangan salah yang berkembang di masyarakat, dan bagaimana pandangan yang lebih tepat mengenai asuransi.

1. Membeli Asuransi = Investasi?

Masih banyak kalangan yang menganggap, membeli asuransi sama saja membuang uang percuma. Malah, tak sedikit yang menilai membeli asuransi sebagai langkah investasi.

Pandangan seperti itu sebenarnya salah kaprah. Asuransi dalam kamus perencanaan keuangan adalah salah satu strategi manajemen risiko finansial. Dengan membeli produk asuransi, kita mengalihkan risiko keuangan pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi.

intinya adalah, sebagai manusia biasa kita memiliki risiko untuk sakit. Sakit membuat kita harus berobat yang menguras biaya.

Kondisi sakit juga membuat kita tidak bisa bekerja. Dengan membeli asuransi kesehatan, ketika risiko sakit itu menimpa kita, biaya berobat dan kerugian akibat produktivitas yang terhenti, kita alihkan ke perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi yang akan membayar biaya berobat tersebut.

2. Asuransi dan penghasilan

Banyak yang salah kaprah dalam tujuan membeli asuransi. Pada saat memiliki penghasilan, banyak orang yang langsung membeli asuransi. Padahal langkah ini belum tentu benar. Membeli asuransi diperlukan jika Anda telah memiliki tanggungan seperti anak atau istri.

Saat itulah sebagai pencari nafkah kita mengalihkan risiko kematian atau kesehatan diri dan keluarga kepada perusahaan asuransi. Jika belum memiliki tanggungan, belum ada kondisi mendesak bagi kita untuk memiliki asuransi.

3. Asuransi jiwa tak wajib

Selama ini asuransi jiwa sering disepelekan sehingga tak banyak yang membeli asuransi jenis ini.

Padahal jika kita sudah bekerja dan memiliki tanggungan yang akan terpengaruh kesejahteraan hidupnya bila kita meninggal dunia, maka memiliki proteksi jiwa adalah wajib hukumnya bagi kita.

Asuransi jiwa tersebut akan berfungsi menggantikan kontribusi finansial kita kepada para ahli waris yang selama ini menjadi tanggungan kita.

Sebaliknya, bila kita sudah bekerja tetapi tidak menanggung siapapun, belum perlu bagi kita membeli asuransi jiwa. Jadi, perlukah anak muda membeli produk asuransi?

Untuk asuransi kesehatan, kita bisa menjadi peserta Asuransi Kesehatan Allianz yakni Maxi Violet dan Smartmed Premier, untuk mengcover risiko-risiko terkait kesehatan. Bagaimana dengan asuransi jiwa?

Bila kita saat ini sudah menanggung hidup orang lain, seperti orangtua, adik, atau saudara, maka lebih baik memiliki asuransi jiwa yakni Tapro Allianz.

4. Salah mengasuransikan diri

Dan jangan salah mengasuransikan diri. Pencari nafkah, suami atau istri, itulah yang diasuransikan. Bukan anak atau istri/suami.

Artinya risiko si pencari nafkah ditanggung oleh perusahaan asuransi. Jika mengalami kematian, misalnya, ahli waris seperti anak dan istri, akan tetap menjalani kehidupannya dengan dana risiko dari perusahaan asuransi.

Pencari nafkah membeli asuransi untuk anak atau istri, padahal mereka bukan pencari nafkah. Istri, jika sebagai pencari nafkah bersama suami, dapat membeli asuransi jiwa dengan ahli waris anaknya atau keluarganya.