Tag Archives: sakit jantung

Jantung, Jenis Sakit Kritis yang Sering Diklaim di Allianz

Saya akan bahas tentang salah satu jenis sakit kritis yang sering diklaim nasabah yakni jantung.

JANTUNG 

 

#   Pada rider CI+ (49 jenis sakit kritis), ada beberapa kondisi organ jantung yang termasuk dalam kriteria sakit kritis yang bisa diklaim ke Allianz, yaitu:

 

SERANGAN JANTUNG PERTAMA (kondisi no.1)

Infark sebagian otot jantung sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jantung.  Kriteria diagnostik yang harus dipenuhi pada saaat terjadinya serangan tersebut adalah harus memenuhi 3 kriteria dari 5 kriteria di bawah ini dimana sesuai dengan diagnosa serangan jantung pertama:

  1. Adanya nyeri dada khas pada saat serangan
  2. Terjadinya perubahan gambaran elektrokardiogram yang khas untuk Infark Myocardial stadium dini
  3. Terjadinya peningkatan pada kadar enzim jantung CK-MB
  4. Terjadinya peningkatan Troponin (T or I)
  5. Left Centricular Ejevtion fraction kurang dari 50% yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih setelah serangan

 

OPERASI JANTUNG KORONER (kondisi no. 3)

Operasi dengan membuka dinding dada, untuk melakukan operasi pada satu atau lebih pembuluh darah arteri jantung karena penyempitan atau sumbatan pada pembuluh darah arteri tersebut.  Diagbosa ditegakkan berdasarkan angiography yang menunjukkan adanya penyumbatan arteri koroner yang bermakna dan prosedur untuk itu harus berdasarkan pertimbangan yang dibuat oleh ahli jantung.

Tidak termasuk teknik yang tidak memerlukan pembedahan, seperti Angioplasti atau laser.

 

OPERASI PENGGANTIAN KATUP JANTUNG  (kondisi no.4)

Operasi dengan membuka jantung untuk mengganti atau memperbaiki katup-katup jantung sebagai akibat rusaknya katup jantung.  Diagnosa katup jantung abnormal harus ditegakkan berdasarkan kateterisasi jantung atau echocardiogram dan prosedur pemeriksaan tersebut harus berdasarkan pertimbangan yang dibuat oleh dokter ahli jantung.

 

PENYAKIT JANTUNG KORONER LAIN YANG SERIUS  (kondisi no. 29)

Penyempitan dari salah satu arteri koroner dengan minimal 75% dan dua arteri koroner lainnya dengan minimal 60% yang dibuktikan dengan coronary arteriography, tanpa memandang apakah operasi sudah dilakukan atau belum.  Arteri koroner yang dimaksud adalah: Left Main Coronary Artery (LC), Left Anterior Descending Artery (LAD), Circumflex Artery dan Right Coronary Artery (RC)

 

ANGIOPLASTI DAN PENATALAKSANAAN INVASIF LAINNYA UNTUK PENYAKIT JANTUNG KORONER  (kondisi no. 30)

Batasan pembayaran manfaat ini adalah 10% dari total Maslahat Penyakit Kritis (CI+) atau maksimal tidak lebih dari Rp. 200.000.000,- setelah peserta melakukan balloning angioplasty atau intra arterial kateter prosedur untuk mengobati penyempitan minimal pembuluh darah koroner 60% dari satu atau lebih pembuluh darah arteri koroner yang major yang dibuktikan dari angiographic.  Revascularisasi ini harus sesuai dengan indikasi dan consultan cardiologist atau dokter spesialis jantung.

Arteri koroner yang dimaksud adalah: Left Main Coronary Artery (LC), Left Anterior Descending Artery (LAD), Circumflex Artery dan Right Coronary Artery (RC)

Pembayaran manfaat tersebut di atas untuk penyakit ini hanya dilakukan 1x saja dan sisa dari manfaat yang ada untuk program tambahan Penyakit Kritis (CI+) lainnya akan diteruskan dengan sisa sebesar 90% dari jumlah maslahat Penyakit Kritis (CI+).

Tindakan Diagnostik dengan angioplasty dikecualikan dari penyakit ini.

 

CARDIOMYOPATHY  (kondisi no. 38)

Diagnosis yang telah ditegakkan oleh dokter ahli jantung bahwa cardiomyopathy disebabkan oleh kerusakan fungsi bilik Ventrikel Jantung, ditunjukkan oleh hasil ECG yang tidak normal dan dikonfirmasikan oleh echo cardio graphy dan menyebabkan ketidakmampuan fisik secara permanen dengan derajat paling sedikit pada Clas III sesuai dengan New York Association Classification of Cardial Impairment.

Class III – Ketidakmampuan yang bermakna ditandai dengan – Pasien dalam kondisi yang nyaman dalam posisi istirahat tapi kemampuan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari sangat terbatas dari biasanya dan menunjukkan gejala-gejala dari gagal jantung kongestif

Class IV – Ketidakmampuan melakukan aktifitas apapun.  Gejala-gejala gagal jantung kongestif timbul meskipun dalam kondisi istirahat.  Setiap ada peningkatan aktifitas fisik, ketidaknyamanan akan terjadi.

Cardiomyopathy yang berlangsung berhubungan dengan penyalahgunaan minuman beralkohol dikecualikan dari penyakit ini.

 

#   Pada rider CI100  (100 kondisi sakit kritis), ada tambahan beberapa kondisi organ jantung yang termasuk dalam kriteris sakit kritis yang bisa diklaim ke Allianz, yaitu:

 

KATEGORI  EARLY CRITICAL ILLNESS

KELAINAN JANTUNG  (kondisi no.1)

Pemasangan Alat Pacu Jantung  (kondisi no. 1.a)

Pemasangan alat pacu jantung yang diperlukan karena aritmia jantung yang btidak dapat diterapi dengan cara lain.  Pemasangan alat pacu jantung harus dinyatakan oleh dokter spesialis jantung sebagai hal yang diperlukan secara medis.

Pericardectomy  (kondisi no. 1.b)

Tindakan pericardectomy atau prosedur pembedahan lain yang menggunakan prosedur keyhole sebagai akibat dari penyakit pericardial.  Prosedur pembedahan ini harus dinyatakan oleh dokter spesialis jantung sebagai pembedahan yang diperlukan secara medis.

 

TRANSMYOCARDIAL LASER THERAPY  (kondisi no.3)

Menjalani terapi laser transmyocardial untuk pengobatan refractory angina yang masih menetap walaupun telah mendapatkan terapi medis yang optimal.

Tindakan operasi bypass dan percutaneous angioplasty telah gagal dilakukan atau dianggap tidak tepat.

Manfaat ini tidak dibayarkan jika telah dilakukan tindakan revaskularisasi jantung lainnya termasuk CABG dan angioplasty.

 

PEMBEDAHAN KATUP JANTUNG PERCUTANEOUS  (kondisi no.4)

Pembedahan katup jantung percutaneous mengacu pada percutaneous valvuloplasty, percutaneous valvotomy dan penggantian katup percutaneous dimana prosedur ini dilakukan melalui teknik kateter intravaskuler.

Prosedur pada katup jantung yang membuka atau memasuki dada melalui thoractotomy incision dikecualikan.

 

PEMBEDAHAN PEMBULUH DARAH AORTA  (kondisi no. 17)

Pembuluh invasif minimum terhadap Pembuluh darah Aorta  (17.a)

Pembedahan melalui teknik invasif minimum atau intra-arterial untuk memperbaiki atau melakukan koreksi atas suatu aneurisma, penyempitan, penyumbatan atau diseksi pembuluh darah aorta, yang dibuktikan oleh pemeriksaan ekokardiogram jantung atau uji diagnostik lainnya yang tepat dan tersedia.  Defenisi pembuluh darah aorta yang dimaksud di atas adalah pembuluh darah aorta torakalis dan aorta abdominalis saja, tidak mencakup cabang-cabangnya.

Aneurisma besar aorta asimtomatik  (17.b)

Aneurisma besar pada aorta abdominalis atau aorta torakalis atau diseksi aorta sebagaimana dibuktikan oleh teknik imaging yang sesuai.  Diameter pembuluh darah aorta harus lebih besar dari 55 mm dan diagnosis harus ditegakkan oleh dokter spesialis jantung.

 

HIPERTENSI PULMONALIS TAHAP AWAL  (kondisi no.18)

Hipertensi pulmonalis primer dengan adanya pembesaran ventrikel kanan yang mengakibatkan ketidakmampuan fisik permanen sesuai dengan kelas III dari Classification Cardiac Impairment the New York Heart Association (NYHA) Classification.  Diagnosis harus didukung dengan pemeriksaan kateterisasi jantung yang ditegakkan oleh dokter spesialis jantung.

Class III – Ketidakmampuan yang bermakna ditandai dengan – Pasien dalam kondisi yang nyaman dalam posisi istirahat tapi kemampuan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari sangat terbatas dari biasanya dan menunjukkan gejala-gejala dari gagal jantung kongestif

Class IV – Ketidakmampuan melakukan aktifitas apapun.  Gejala-gejala gagal jantung kongestif timbul meskipun dalam kondisi istirahat.  Setiap ada peningkatan aktifitas fisik, ketidaknyamanan akan terjadi.

 

PENYAKIT ARTERI KORONER RINGAN  (kondisi no. 25)

Penyempitan pada pembuluh darah arteri koroner minimal 60% yang dapat dibuktikan melalui angiografi koroner (pemeriksaan CT/MRI Angiography tidak dapat diterima).  Penyempitan arteri koroner harus menyebabkan gejala yang tidak dapat disembuhkan melalui terapi medis.  Paling tidak salah satu dari arteri koroner sudah dilakukan penatalaksanaan dengan angioplasti koroner.

Arteri koroner yang dimaksud adalah: Left Main Coronary Artery (LC), Left Anterior Descending Artery (LAD), Circumflex Artery dan Right Coronary Artery (RC)

KATEGORI INTERMEDIATE CRITICAL ILLNESS

PEMASANGAN DEFIBRILATOR JANTUNG  (kondisi no.1)

Telah dilakukan pemasangan defibrilator jantung secara permanen sebagai akibat dari aritmia jantung yang tidak dapat diterapi dengan metode lain.  Prosedur pembedahan haruslah dikonfirmasi oleh dokter spesialis jantung sebagai hal yang diperlukan secara medis.

KATEGORI ADVANCES CRITICAL ILLNESS

Adalah kondisi sakit kritis seperti pada CI+ (49 sakit kritis) yang sudah disebutkan di atas, yaitu kondisi

no. 1 (Serangan Jantung Pertama),

no. 3  (Operasi Jantung Koroner),

no. 4  (Operasi Penggantian Katup Jantung),

no. 19  (Operasi Pembuluh Aorta),

no. 21  (Pulmonary Artery Hypertension Primer),

no. 29  (Penyakit Jantung Korone Lain Yang Serius),

no. 37  (Cardiomyopathy)

KATEGORI CATASTROPHIC CRITICAL ILLNESS

SERANGAN JANTUNG YANG EKSTENSIF

Kematian sebagian besar otot jantung yang timbul karena suplai darah yang tidak mencukupi.  Diagnosis ini harus didukung oleh seluruh kriteria berikut ini sesuai dengan serangan jantung baru dan berat:

  1. Nyeri dada yang khas, dan
  2. Perubahan elektrokardiogram (EKG) baru dengan kehadiran gelombang Q terus menerus, dan
  3. Peningkatan enzim jantung CK-MB atau protein jantung Troponin (T atau I), dan
  4. Ejection Fraction kurang dari 30% secara terus menerus yang dibuktikan pada echocardiogram jantung atau metode diagnostik lain yang dapat diandalkan, dan dilakukan oleh dokter spesialis jantung, setelah 60 hari dari seranga jantung akut, dan mengakibatkan gangguan fisik permanen sesuai dengan kleas IV klasifikasi New York Heart Association (NYHA)

TRANSPLANTASI JANTUNG DAN PARU-PARU

Transplantasi jantung dan paru-paru dari donor manusia yang dilakukan secara bersamaan.

Keunggulan Rider Critical Illness dari Tapro Allianz

critical-illness-probability

Program Allisya Protection Plus atau Tapro dari Allianz menyediakan produk rider yang sangat penting untuk dimiliki, yaitu Critical Illness. Rider ini menanggung 49 jenis penyakit kritis. Tersedia dalam dua versi, yaitu CI+ (Critical Illness Plus, klaim tidak mengurangi UP dasar, berlaku sampai usia 70 tahun) dan CI (Critical Illness, klaim mengurangi UP dasar, berlaku sampai usia 85 tahun). (Selengkapnya tentang rider CI dan CI+, klik di sini).

Berikut adalah keunggulan-keunggulan produk ini. Semoga bermanfaat untuk anda yang tengah memilih produk asuransi penyakit kritis, karena nama produk sama belum tentu ketentuannya sama.

1.       Tanpa syarat survival period (masa bertahan hidup)

Survival period atau masa bertahan hidup adalah jangka waktu yang disyaratkan untuk tetap hidup ketika seseorang terdiagnosa sakit kritis. Klaim penyakit kritis baru dapat diajukan jika survival period telah terlewati. Ada yang mensyaratkan harus bertahan hidup selama 14 hari, ada yang 15 hari, ada yang 30 hari. Jika yang bersangkutan meninggal dunia dalam masa survival period, klaim penyakit kritisnya tidak bisa dicairkan. Tapi itu di tempat lain.

Di Allianz, tidak ada syarat survival period. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami serangan jantung lalu meninggal, maka ahli warisnya memperoleh dua manfaat: UP penyakit kritis dan UP meninggal dunia. Dengan catatan, sebelum meninggal dunia sempat menjalani diagnosa untuk mendapatkan bukti medis serangan jantung.

2.       Klaim dapat diajukan begitu terdiagnosa memenuhi syarat kondisi kritis, tanpa harus menjalani pengobatan/operasi terlebih dahulu

Beberapa penyakit kritis dapat ditunda jadwal operasinya. Nah, sebelum operasi dilakukan, klaim dapat diajukan asalkan kelengkapan syarat-syaratnya terpenuhi.

3.       Menanggung kondisi cacat tetap total

Di antara daftar 49 penyakit kritis dari Allianz, ada tiga yang masuk kategori cacat tetap total, yaitu: 1) kebutaan; 2) kelumpuhan; 3) hilangnya kemandirian hidup. Apa pun nama penyakitnya, asalkan memenuhi tiga kondisi ini, maka klaim penyakit kritis dapat diajukan.

4.       Menanggung kondisi kritis yang disebabkan kecelakaan

Proteksi penyakit kritis dari Allianz tidak hanya bicara tentang kondisi kritis yang disebabkan oleh penyakit, tapi juga kondisi kritis yang disebabkan oleh kecelakaan. Di antara 49 penyakit kritis, setidaknya ada 10 yang dapat diakibatkan oleh kecelakaan, yaitu: 1) kebutaan; 2) kelumpuhan; 3) hilangnya kemandirian hidup; 4) Tuli; 5) Bisu; 6) Trauma kepala serius; 7) Koma; 8) Terminal illness; 9) Luka bakar; dan 10) Terputusnya akar-akar syaraf plexus brachialis. Selain itu, rusaknya organ-organ tubuh penting (seperti ginjal dan tulang belakang) juga dapat disebabkan oleh kecelakaan.

5.       Menanggung terminal illness

Di antara daftar 49 penyakit kritis dari Allianz, salah satunya adalah Terminal Illness. Apa pun nama penyakitnya, asalkan dokter telah mendiagnosa umur yang bersangkutan tidak akan melebihi 12 bulan, maka klaim penyakit kritis dapat diajukan.

6.       Menanggung transplantasi organ tubuh penting

Kinerja organ-organ tubuh penting menjadi perhatian utama dalam rider CI+ Allianz. Organ tubuh seperti jantung, ginjal, pankreas, liver, paru-paru, dan sumsum tulang merupakan penyangga kehidupan manusia. Memiliki proteksi yang dapat digunakan untuk membiayai penggantian organ-organ tersebut akan memberikan rasa aman yang diperlukan oleh setiap orang.

7.       Premi dan Biaya Asuransinya Murah

Di atas segala kelebihannya, harga adalah faktor yang sangat penting. Rider CI+ dari Allianz sangat murah, dan apalagi rider CI lebih-lebih lagi sangat murah. Mulai dengan premi 300 ribu per bulan, seorang pria dan wanita usia 30-an tahun dapat memiliki proteksi penyakit kritis sebesar 300 juta + proteksi jiwa 300 juta. Dan jika ingin terproteksi sebesar 1 miliar (UP jiwa 1 miliar + penyakit kritis 1 miliar), preminya 1 juta saja per bulan. Biaya asuransinya pun relatif lebih murah daripada produk sejenis di asuransi lain. Silakan dicek sendiri.

Kesimpulan

Dari berbagai keunggulan di atas, jelas bahwa rider Critical Illness dari Allianz adalah produk yang serba meliputi, karena menanggung hampir semua kondisi terburuk yang mungkin dialami manusia. Dia beririsan dengan rider ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability) pada kondisi cacat total. Jadi, cukup dengan memiliki proteksi jiwa ditambah rider Critical Illness, maka proteksi dasar kita sudah tercukupi. Namun lebih baik lagi jika ditambah ADDB dan TPD, karena meski beririsan, ada juga perbedaannya dan ketiga produk ini tidak saling mengurangi.

Ingin mendaftar asuransi sakit kritis Allianz hubungi:

Natanael

HP/WA 08113436830

Ini Serangan Jantung, Bukan Masuk Angin!

Berikut ini saya bagikan pengalaman wartawan dari blog rekan saya myallisya.com

Pada produk Tapro Allianz, gejala-gejala seperti dialami wartawan Kompas.com, M Latief, ini masuk kategori Serangan Jantung Pertama (rider CI+ ataupun CI100, kriteria lengkap ada di bagian bawah). Simak bagaimana kisahnya lolos dari serangan maut agar kita semua waspada. (Sumber artikel: Kompas.com).

M Latief saat berlibur dengan kedua putranya, Azka dan Azzam.

KOMPAS.com — Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dan tangan memegangi dada ketika pingsan. Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.

Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.

Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.

Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.

Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.

Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.

“Aneh, kok begini,” batin saya.

Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.

Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.

Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.

“Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin,” kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).

Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.

Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.

Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.

Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.

Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya,” kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.

Azka, anak saya yang nomor satu memotong. “Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter,” ujar Azka.

Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.

“Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita pulang sekarang saja ya,” kata istri saya.

“Enggak, ini aneh. Rumah sakit… ke rumah sakit sekarang,” kata saya.

“Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu,” jawab istri saya.

Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.

Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.

Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.

“Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini,” kata istri saya.

Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah, feeling saya bilang lain.

“Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung,” bentak saya.

Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.

Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.

“Itu taksi,” kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.

“Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat,” ujar istri saya.

Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.

“Tuhan… saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati,” batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.

Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.

Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.

“Dada sesak, keringat dingin,” ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.

Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.

“Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan,” ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.

Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.

Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.

Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.

“Habiskan, Pak,” ujarnya.

Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.

Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.

“Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya,” ujar dokter muda tersebut.

Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua “pahlawan” saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.

Pembengkakan jantung

Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.

Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun suka berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.

Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru pulang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.

“Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok,” kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.

Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belum ngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.

Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.

Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa….

Editor :
Lusia Kus Anna
Kriteria Serangan Jantung Pertama dalam rider CI+ dan CI100 Tapro Allianz
Infark sebagian otot jantung sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jantung. Kriteria diagnostik yang harus dipenuhi pada saat terjadinya serangan tersebut adalah harus memenuhi 3 dari 5 kriteria tersebut di bawah ini di mana sesuai dengan diagnosa serangan jantung pertama:
1. Adanya nyeri dada khas pada saat serangan;
2. Terjadinya perubahan-perubahan gambaran elektrokardiogram yang khas untuk infark myocardial stadium dini;
3. Terjadinya peningkatan pada kadar enzim jantung CK-MB;
4. Terjadinya peningkatan Troponin (T or I)
5. Left Ventrikular Ejection fraction kurang dari 50% (lima puluh persen) yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih setelah serangan.

Allianz Membayar Klaim Penyakit Kritis 3 Miliar

Klaim CI+ 3M

(Gambar di atas adalah seremoni penyerahan klaim secara simbolis pada bulan Oktober 2016 di Medan)

Nasabah berusia 51 tahun mengalami penyumbatan 85% di pembuluh darah jantung. Klaim penyakit kritis sebesar 3 miliar dibayarkan oleh Allianz, dilanjutkan dengan pembebasan premi 10 juta per bulan sampai nasabah berusia 65 tahun.

Kisah di balik klaim ini dituturkan oleh sang agen, pasangan suami-istri Bpk Suwanto (kanan) dan ibu Jenni (dua dari kiri):

Awalnya bapak ini tidak percaya akan asuransi. Setiap agen asuransi yang datang selalu dia tolak.

Kami berhasil meyakinkan dia setelah keponakannya yang sudah menjadi nasabah kami, mengalami kanker dan mengajukan klaim ke Allianz. Pada waktu itu kami ditantang oleh dia, jika klaimnya dibayar barulah dia akan percaya dengan asuransi. Ternyata klaim keponakannya dibayar dengan cepat.

Singkat cerita setelah percaya, dia pun ambil polis Tapro melalui kami. Sebenarnya dia punya kemampuan untuk mengambil UP 10 miliar. Tapi karena masalah laporan keuangan sedikit ribet, akhirnya diputuskan untuk mengambil 3 miliar dulu dengan premi 10 juta per bulan (usia nasabah waktu itu 49 tahun), dan sisanya secara bertahap akan ditambahkan setelah 3 tahun.

Tapi risiko tak bisa diduga. Ternyata 22 bulan setelah ambil polis, tanpa sengaja saat mengantar mertuanya berobat ke Malaysia, dia pun iseng sekalian general check up. Dan dokter curiga dengan hasil EKG serta treadmillnya.

Dia pun lalu dirujuk ke dokter spesialis jantung untuk dilakukan kateterisasi. Ternyata penyumbatannya sudah 85% dan jelas sekali di angiogramnya. Padahal orangnya selalu ke gym dan treadmill pun sanggup sampai tahap lari.

Serasa gak percaya, bapak ini sewaktu masih di Malaysia menghubungi kami di Medan. Seraya masih bercanda, dia berkata, “Saya kena lotere.” Waduh, rupanya kena lotere vonis penyakit kritis.

Akhirnya kami bantu kirimkan semua form klaim penyakit kritis untuk diisi dokter. Manfaat penyakit kritis yang diambil adalah rider CI+ (perlindungan terhadap 49 penyakit kritis).

Dalam waktu dua bulan setelah klaim dilengkapi, semua klaim dibayarkan dengan cepat oleh Allianz. Bukan hanya itu, melalui manfaat Payor Benefit, premi sebesar 10 juta per bulan pun dibayarkan oleh Allianz mulai nasabah usia 51 tahun sampai usia 65 tahun. Jika dihitung selama 14 tahun berarti manfaat Payor Benefitnya saja sekitar 1,6 miliar.

Lalu masih tersedia pula uang pertanggungan meninggal sebesar 3 miliar, plus hasil investasi.

Dengan kejadian ini, keyakinan dia terhadap asuransi pun semakin bertambah. Dia malah mau nambah lagi punya UP, tapi tentu sudah tidak bisa. Akhirnya dia masukkan istrinya juga mengingat pentingnya perlindungan Tapro.

Pendaftaran polis Allianz dapat menghubungi saya:

Natanael, Agen asuransi Allianz tinggal di Surabaya.

HP/WA: 08113436830

email: natanael.albertus@gmail.com

 

 

Sumber: https://myallisya.com