Tag Archives: uang pertanggungan

Peluang Investasi yang Prospektif dan Likuid

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa investasi yang prospektif adalah property misal invest rumah atau tanah. Pendapat tsb benar, namun jika dikaji lebih dalam invest di property menurut saya kurang prospektif. Mengapa?

Si Bapak A katakanlah baru beli rumah sehrg Rp 1 M. Pertanyaannya, apakah jika Bapak A tiba2 sakit yg mengharuskan dia membayar biaya berobat hingga 2 M (misal sakit yg berat seperti jantung, kanker, stroke, dll) dengan secepat itu dapat menjual rumahnya yg seharga Rp2M? Pasti sulit. Tidak mudah menjual rumah. Perlu waktu bulanan sampai tahunan. Padahal biaya sakit hrs cepat dibayar kalau tidak, terpaksa rumah sakit memulangkan Bapak A. Satu-satunya jalan mungkin pinjam saudara atau perusahaan. Tapi mungkin tidak sampai Rp2M.

Dari kasus tersebut, jalan yang bijaksana adalah menjadi nasabah asuransi. Bapak A bisa membuka polis asuransi dengan manfaat mendapat uang /dana cash jika terjadi sakit kritis. Besar nilai jangan tanggung-tanggung, ambillah Rp2M untuk antisipasi dana. Ini tanpa mengurangi saldo investasi di asuransi.

Selain itu, Bapak A harus mengambil juga manfaat santunan harian. Misal santunan harian Rp1.5jt per hari jika diopname di rumah sakit. Tinggal hitung saja. Misal opname sepuluh hari maka Bapak A dapat santunan dana Rp15jt.

Kalau Bapak A sudah ada asuransi dari kantor, ini bisa dipakai dobel klaim. Istilahnya sambil menyelam minum air.

Demikian ulasan saya tentang jenis pilihan investasi yang prospektif dan memilki likuiditas cepat.

Konsultasi hub

Bisnis Eksekutif Allianz tinggal di Surabaya – Sidoarjo

Natanael

Hp/WA 08113436830

Email; natanael.albertus@gmail.com

Advertisements

Daftar Asuransi Allianz Apakah Harus Tes Medis?

Tidak setiap orang yang mengajukan asuransi jiwa harus menjalani tes medis.

Tes medis hanya diperlukan karena satu atau dua hal:

  1. Uang pertanggungan melebihi limit non-medis.
  2. Ada riwayat sakit.

Tes Medis Berdasarkan Uang Pertanggungan

Perusahaan asuransi biasanya telah mengeluarkan tabel UP (uang pertanggungan) non-medis berdasarkan usia. Allianz sendiri pada tahun 2017 mengeluarkan tabel UP nonmedis sebagai berikut:

Tabel tes medis 2017 1

Penjelasan:

Untuk pria/wanita usia 18-45 tahun, sehat tanpa riwayat sakit, maka dia bisa mengajukan UP hingga 2,5 miliar tanpa harus menjalani tes medis. Tapi jika UP yang diambilnya lebih dari 2,5 miliar, dia harus menjalani tes medis dengan jenis pemeriksaan sesuai tabel di atas.

Untuk pria/wanita usia 46-50 tahun dan sehat, dia bisa mengajukan UP hingga 1 miliar tanpa harus menjalani tes medis. Tapi jika UP yang diambilnya lebih dari 1 miliar, dia harus menjalani tes medis dengan jenis pemeriksaan sesuai tabel di atas.

Untuk pria/wanita usia 51-56 tahun dan sehat, dia bisa mengajukan UP hingga 800 juta tanpa harus menjalani tes medis. Tapi jika UP yang diambilnya lebih dari 800 juta, dia harus menjalani tes medis dengan jenis pemeriksaan sesuai tabel di atas.

Untuk pria/wanita usia 56-70 tahun, dia bisa mengajukan UP hingga 650 juta tanpa harus menjalani tes medis. Tapi jika UP yang diambilnya lebih dari 650 juta, dia harus menjalani tes medis dengan jenis pemeriksaan sesuai tabel di atas.

Untuk anak-anak (usia 17 tahun ke bawah), UP maksimal tanpa tes medis adalah 1,5 miliar.

Tipe A, B, C, D, dan E menunjukkan hal-hal apa saja yang diperiksa dalam tes medis. Semakin tinggi UP yang diambil, semakin banyak item yang diperiksa. Detailnya bisa dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel tes medis keterangan

Perusahaan asuransi lain akan berbeda dalam menetapkan batasan UP non-medis bagi calon nasabahnya.

Tes Medis Berdasarkan Riwayat Sakit

Tanpa melihat jumlah UP, tes medis juga bisa dipersyaratkan untuk calon nasabah yang memiliki riwayat sakit.

Dari mana mengetahui riwayat sakit tersebut? Dari jawaban pertanyaan kesehatan di SPAJ (Surat Permohonan Asuransi Jiwa) yang diisi calon nasabah.

Calon nasabah harus jujur dalam menjawab setiap pertanyaan di SPAJ. Jika ada pertanyaan yang dijawab tidak dengan sebenarnya, maka kontrak polis batal demi hukum. Polis yang batal demi hukum, maka polis tersebut dianggap tidak ada, dan klaim yang terjadi, jika ada, tidak wajib dibayar.

Jika calon nasabah memiliki riwayat sakit dan telah menerangkan penyakit yang pernah dialaminya, dia perlu melampirkan dokumen pendukung berupa resume medis dan hasil cek lab dari rumah sakit. Jika tidak disimpan, dia bisa memintanya ke rumah sakit tempat dia pernah dirawat. Menurut Permenkes RI no 269 tahun 2008, pihak RS harus menyimpan rekam medis (termasuk di dalamnya resume medis dan hasil cek lab) sekurang-kurangnya lima tahun.

Berdasarkan pengakuan calon nasabah dan dokumen pendukung yang dilampirkan, underwriting perusahaan asuransi akan menilai apakah calon nasabah masih perlu tes medis atau tidak. Jika perlu, item apa saja yang harus diperiksa. Tes medis dalam hal ini dibutuhkan untuk mengetahui kondisi terkini kesehatan calon nasabah.

Asuransi Jiwa atau Asuransi Kesehatan yang Perlu Tes Medis?

Ada orang bertanya, “Saya hanya ambil asuransi jiwa, tanpa rider kesehatan, apakah saya harus tes medis juga?”

Jawab: Justru karena yang diambil asuransi jiwa maka ada ketentuan tes medis. Jika yang diambil hanya asuransi kesehatan, malah tidak diperlukan tes medis sama sekali, yang penting pertanyaan kesehatan dijawab dengan sebenarnya.

Asuransi kesehatan murni (tanpa asuransi jiwa) tidak memerlukan tes medis karena jikapun ada riwayat sakit, maka penyakit tersebut tinggal dikecualikan saja atau dikenakan masa tunggu, atau ditolak keseluruhan jika penyakitnya dinilai terlalu berat. Sementara premi biasanya tetap.

Sedangkan asuransi jiwa, jika ada riwayat sakit, maka perlu tes medis karena hasilnya akan berpengaruh ke besaran premi, apakah tetap standar atau dikenakan tambahan (ekstrapremi).

Di Mana Melakukan Tes Medis, dan Biayanya Ditanggung Siapa?

Tes medis dilakukan di RS atau laboratorium yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi. Contoh RS dan laboratorium yang bekerja sama dengan Allianz untuk tes medis antara lain RS Siloam, RS Pondok Indah, RS Premier, RS Mayapada, dan RS Mitra, dan Lab Prodia.

Biaya tes medis ditanggung oleh perusahaan, kecuali tes medis untuk pemulihan polis yang sudah lapse.

Jika di daerah tertentu tidak ada RS yang bekerja sama, atau lokasinya terlalu jauh dari tempat calon nasabah, maka tes medis dapat dilakukan di RS atau klinik terdekat dengan biaya sendiri, dan biayanya dapat diminta ganti ke Allianz dengan cara reimburse.

sumber: https://myallisya.com/

Info pendaftaran dan konsultasi hubungi:

Natanael Agen Asuransi Allianz tinggal di Surabaya-Sidoarjo

HP/WA 08113436830

Asuransi bukanlah Masalah Untung-Rugi

Contoh kasus.  Berdasarkan tabel premi sakit kritis 1 Miliar, maka untuk profil:

Pria 30th.

Premi = 500rb perbulan

Manfaat:

UP dasar       = 200 juta

UP 49 sakit kritis   = 500 juta

UP 100 sakit kritis     = 500 juta

(Total UP sakit kritis = 1 Miliar)

Manfaat payor

 

Saya setor premi 500 ribu perbulan, dalam 10 tahun berarti saya keluar dana 60 juta untuk dapat proteksi sakit kritis sebesar 1 Miliar.  Jika dalam 10 tahun itu saya tidak sakit kritis, UPnya tidak cair ya? Wah, saya rugi 60 juta dong ya….

 

Penjelasan:

Pertama, meluruskan pemahaman bahwa Asuransi = proteksi.

Asuransi bukanlah masalah untung-rugi.  Menjadi untung, jika sudah beli asuransi, lalu terjadi sakit kritis, ada Uang Pertanggungan yang cair.  Menjadi rugi, jika sudah beli asuransi, tapi tidak terjadi sakit kritis, tidak ada Uang pertanggungan yang cair, premi yang dibayarkan menjadi “terasa” hangus.

Mari kita sama-sama meluruskan pemahaman ini.  Mari kita membuka wawasan diri dengan pemahaman yang lebih baik, yaitu bahwa Asuransi Jiwa adalah salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga Anda.  Jika Anda sudah mengatur pos-pos pengeluaran rutin bulanan, kini saatnya Anda menambah alokasi pos untuk premi asuransi.  Tidak ada dana lebih untuk asuransi?  Tidak masalah, Anda bisa mengurangi biaya di pos “gaya hidup”.  Kurangi biaya “gaya hidup” Anda, untuk memaksimalkan biaya hidup.  Lebih detil untuk ini, silahkan googling ya.

Memiliki asuransi jiwa merupakan ikhtiar/upaya untuk menyiapkan dana tunai jumlah besar, dengan menyisihkan hanya sebagian kecil dari penghasilan Anda.  Setuju ya?

Kedua.  Kita tidak pernah tau apakah resiko hidup tersebut (contohnya: sakit kritis) akan datang pada kita?  Bisa ya, bisa tidak.  Kita tidak pernah tau kapan resiko tersebut bisa terjadi?  Mungkin saat usia senja, mungkin malah saat usia produktif.  Kita juga tidak bisa pilih-pilih resiko, maunya kalau sakit tuh hanya sakit pilek saja lah, sakit jantung stroke kankernya terjadi kepada si Fulan saja….  Kita tidak bisa seperti itu.  Menjadi sakit adalah takdir Allah SWT yang tidak bisa ditolak, harus diterima, dan tetap disyukuri.

Yang bisa kita siasati di awal adalah bagaimana strategi kita dalam mengatur rencana keuangan keluarga kita (baca kembali poin pertama).

Lanjut.  Katakanlah usia Anda saat ini 30th.  Anda menerapkan pola hidup sehat, sehingga sampai usia 40 tahun kondisi kesehatan Anda tetap prima.  Hal ini wajar bukan?  Secara umum diketahui bahwa usia non produktif itu adalah setelah masa pensiun, sekitar usia 55 tahun lebih.  Secara umum, justru pada usia senja tersebutlah baru muncul gejala penurunan kondisi kesehatan.  Ini juga dianggap wajar, karena demikianlah yang terjadi di sekitar kita.

Nah, yang dianggap belum wajar itu yang bagaimana?  Yaitu yang mengalami gejala penurunan kondisi kesehatan pada usia produktif!  Belum bisa dianggap wajar, namun saat ini faktanya demikian.  Contoh yang semua orang tau, tentunya kisah hidup artis muda Indonesia.  Masih muda, namun sudah mengalami sakit kritis.

Anda sudah menerapkan pola hidup sehat, tapi lingkungan sekitar tidak mendukung.  Menjamurnya restoran cepat saji, outlet penjual kopi, makanan instan yang mudah didapat di warung dekat rumah, sayur dan buah organik yang harganya malah lebih mahal, pola hidup tetangga Anda yang kurang sehat, tetangga Anda buang ludah sembarangan, dan sebagainya…  Hal sepele, namun sedikit banyak tentu bisa memberikan dampak juga bagi kesehatan Anda.

Hal penting untuk dipertimbangkan:

Jika selama ini Anda menyisihkan sedikit dari penghasilan Anda untuk ditabung, atau diinvestasikan, pasti tujuannya untuk kebahagiaan Anda, bukan?  Untuk masa depan anak, pendidikan anak, liburan, perjalanan ibadah, dll.  Sudahkah Anda menyisihkan sedikit penghasilan Anda untuk tujuan meminimalkan dampak buruk keuangan keluarga Anda, jika terjadi resiko hidup yang tidak diinginkan?  Inilah yang dimaksud dengan asuransi sebagai salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga.

Jika dalam 10 tahun ke depan, Anda tidak mengalami sakit kritis, Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Sungguh, saya pun selalu mendoakan agar saya dan semua nasabah saya senantiasa diberi nikmat kesehatan oleh Allah, agar kita semua dapat beraktifitas, dapat berkarya, dapat berpenghasilan, dapat menyisihkan penghasilan untuk ditabung.  Aamiin…  Semua hasil dari upaya yang kita kerjakan adalah bertujuan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, bagi diri kita dan anak-anak kita.  Setuju ya?

Ketiga, pemahaman tentang konsep asuransi jiwa Syariah.  Pada asuransi Syariah, premi yang disetorkan kepada Perusahaan Asuransi (sebagai pengelola dana) adalah Dana Tabarru atau Dana Kebajikan.  Semua peserta asuransi Syariah mengeluarkan dana tabarru.  Dana Tabarru ini dikumpulkan dalam rekening terpisah yaitu rekening Tabarru.  Jika seorang nasabah mengalami resiko, maka diambillah Dana Tabarru ini sebagai Uang Pertanggungan.  Memiliki asuransi syariah, artinya secara otomatis kita melakukan sedekah rutin setiap bulannya (mengikuti cara bayar), dan juga bisa ikut membantu peserta lain yang tertimpa musibah.

sumber: https://proteksikita.com/2017/08/01/kehilangan-sedikit-atau-kehilangan-banyak-yang-mana-pilihan-bijak-anda/

Pendaftaran dan informasi hubungi:

Natanael Agen Allianz life tinggal di Surabaya dan Sidoarjo

HP/WA: 08113436830

email: natanael.allianz@gmail.com

Mau Dibantu 250 juta atau 500 juta? (Bagaimana Memilih Ilustrasi Asuransi Unit-link)

Jika anda ditawari dua ilustrasi unit-link dengan kondisi seperti di bawah ini, mana yang akan anda pilih?

Tabel Ilustrasi A dan BCatatan:

  1. UP jiwa (warisan) adalah manfaat yg diberikan kepada ahli waris jika tertanggung meninggal dunia sd usia 100 tahun.
  2. CI100 (Critical Illness 100) adalah proteksi dari 100 kondisi kritis sejak tahap awal penyakit hingga usia 100 tahun. 
  3. ADDB (Accident Death and Disability Benefit) adalah proteksi cacat tetap atau meninggal dunia karena kecelakaan sd usia 65 tahun. 
  4. TPD (Total Permanent Disability) adalah proteksi cacat tetap total, baik karena sakit ataupun kecelakaan, sd usia 65 tahun. 
  5. Payor Benefit adalah pembebasan premi jika pemegang polis mengalami cacat tetap total atau penyakit kritis sd usia 65 tahun. 

Di antara dua alternatif, ilustrasi A dan ilustrasi B, mana yang anda pilih?

Untuk membantu anda menentukan pilihan, saya akan pandu dengan dua pertanyaan:

  1. Jika anda mengalami suatu musibah, berapakah anda ingin dibantu: 250 juta atau 500 juta?
  2. Jika anda ingin memberikan warisan kepada anak-anak anda, berapa yang ingin anda wariskan: 250 juta atau 500 juta?

Jika dua pertanyaan itu diajukan kepada saya, jelas saya akan pilih mendapat bantuan 500 juta daripada 250 juta, dan memberikan warisan 500 juta ketimbang 250 juta.

Bagaimana dengan anda?

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana dengan investasinya? Ilustrasi A lebih besar nilai investasinya daripada ilustrasi B. Ilustrasi A nilai investasinya terus berkembang meskipun setop bayar setelah 10 tahun, sedangkan ilustrasi B nilai investasinya habis meskipun bayar terus.

Betul, tapi saya tetap pilih ilustrasi B. Mengapa?

  1. Nilai investasi tidak dijamin, sedangkan saya butuh proteksi yang dijamin. Belum tentu ada nilai 31 juta di 5 tahun mendatang, belum tentu ada uang 889 juta di 40 tahun mendatang. Sedangkan nilai 500 juta adalah dijamin.
  2. Investasi butuh waktu, sedangkan yang namanya risiko bisa datang kapan saja. Bisa dilihat di tabel di atas, nilai 31 juta baru diperoleh setelah 5 tahun, dan nilai 889 juta baru diperoleh setelah 40 tahun, itu pun jika asumsi investasinya terpenuhi. Sedangkan nilai uang 500 juta, tidak perlu waktu lama, segera siaga begitu polis disetujui. Khusus manfaat penyakit kritis, ada masa tunggu 90 hari dari tanggal polis disetujui, tapi ini pun bukan waktu yang lama.
  3. Asuransi itu proteksi (perlindungan kekayaan), bukan investasi (pengembangan kekayaan). Meskipun produk ini berjenis unit-link yang ada investasinya, tetap saja tujuannya asuransi. Jadi saya pilih maksimalkan manfaat asuransinya. Jika saya ingin investasi, saya akan melakukannya di instrumen lain yang murni untuk investasi, bukan melalui produk asuransi.

Mungkin ada yang khawatir dengan polis lapse karena di ilustrasi B nilai investasinya akan habis selewat tahun ke-30, meskipun premi bayar terus. Bagaimana kalau itu terjadi?

Saya tetap pilih ilustrasi B. Mengapa?

  1. Waktu 30 tahun lagi itu masih lama, padahal saya butuh proteksi sebesar mungkin sejak sekarang dengan kemampuan yang ada saat ini.
  2. Asuransi itu biaya. Kalaupun preminya hangus, saya tak keberatan.
  3. Seiring waktu, penghasilan saya pun mestinya telah meningkat. Jadi saya tak akan kesulitan melakukan top up supaya polis tetap berlanjut.
  4. Seiring waktu, kebutuhan proteksi saya pun pasti telah bertambah, bukan lagi 500 juta. Mungkin dalam 5 atau 10 tahun kemudian, saya butuh menambah nilai proteksi polis.
  5. Nilai investasi habis bisa dicegah dengan melakukan top up tunggal, atau dibiarkan saja pun tak apa-apa. Sepanjang saya membayar biaya asuransinya (tabarru), saya tetap mendapatkan proteksi.

 

Semakin Banyak Membantu, Semakin Banyak Dibantu

Ilustrasi A dan ilustrasi B preminya sama-sama 700 ribu per bulan. Tapi orang yang memilih ilustrasi B akan mendapat bantuan 500 juta seandainya mengalami penyakit kritis, kecelakaan, atau cacat total, dan ahli warisnya akan memperoleh 500 juta seandainya dia dipanggil Tuhan. Sedangkan orang yang memilih ilustrasi A, bantuan yang diterimanya dan warisan yang diberikannya lebih kecil yaitu 250 juta.

Mengapa orang yang memilih ilustrasi B bisa mendapat bantuan yang lebih besar? Jawabannya tidak lain karena dia pun membantu lebih besar.

Asuransi dibangun dengan prinsip saling membantu di antara sesama peserta. Orang yang membantu lebih besar untuk para peserta lainnya, dia berhak memperoleh bantuan yang lebih besar pula.

Perhatikan tabel berikut:

Tabel iuran tabarru per bulan

Ilustrasi A dengan total manfaat > 1 miliar, total iuran tabarru-nya adalah 158.903 per bulan di tahun pertama kepesertaan. Sedangkan ilustrasi B dengan total manfaat > 2 miliar, total iuran tabarru-nya 297.820 per bulan. Tabarru adalah derma atau sedekah yang diberikan oleh peserta untuk membantu para peserta lain yang mengalami suatu musibah yang ditanggung. Iuran tabarru tiap peserta ini dikumpulkan dalam satu rekening dana bersama, di mana dari rekening dana bersama inilah uang klaim asuransi akan dicairkan untuk diberikan kepada siapa yang membutuhkan.

Iuran tabarru dipotong dari premi. Ilustrasi A dan ilustrasi B preminya sama-sama 700 ribu per bulan. Tapi dana yang dialokasikan untuk tabarru (sedekah) pada ilustrasi B lebih besar dibanding pada ilustrasi A. Itulah makanya UP atau bantuan yang akan diterima pemilik ilustrasi B pun lebih besar.

Dengan kata lain, semakin besar kita membantu orang lain, semakin besar pula kita akan mendapat bantuan.

Selisih premi dikurang tabarru digunakan untuk biaya lain dan sisanya masuk ke investasi. Ilustrasi A, karena alokasi untuk sedekahnya lebih kecil, maka nilai investasinya jadi lebih besar. Nilai investasi ini adalah murni uang milik sendiri, itulah sebabnya untuk mencapai jumlah yang besar butuh waktu yang lama. Sedangkan dana yang diikhlaskan sebagai sedekah (tabarru), dalam waktu singkat segera berubah menjadi uang yang besar, karena digabung dengan iuran tabarru dari para peserta lain.

Asuransi adalah tentang meringankan beban sesama manusia. Setiap orang yang meringankan beban sesamanya, maka bebannya pun akan diringankan. Semakin besar dia meringankan beban orang lain, semakin besar pula keringanan yang akan dia terima.

Betapa mulianya cara kerja dan prinsip asuransi, saya pun teringat sebuah ayat dalam kitab suci yang menyatakan bahwa harta yang disedekahkan itu akan dibalas hingga 700 kali lipat bahkan lebih (al-Baqarah [2]: 261).

Sekarang, jika anda punya uang 1 juta dan diberikan kesempatan untuk menyumbang 200 ribu atau 400 ribu, berapakah yang akan anda sumbangkan?

Sumber: https://myallisya.com/2015/06/17/mau-dibantu-250-juta-atau-500-juta-tentang-memilih-ilustrasi-asuransi-unit-link/

Konsultasi gratis dan pendaftaran polis asuransi Allianz hubungi:

Natanael (Agen Asuransi Allianz Berlisensi tinggal di Surabaya)

HP/WA: 08113436830

 

 

Apakah UP Jiwa Perlu Dinaikkan Seiring Waktu?

Pertanyaan pada judul di atas berkaitan dengan fakta bahwa inflasi membuat nilai uang semakin menurun seiring waktu. Misalnya kita punya asuransi jiwa dengan UP 1 miliar. Pada masa sekarang, uang tersebut mungkin terasa besar, tapi 10 atau 20 tahun kemudian, nilainya akan mengecil. Dengan tingkat inflasi 8% per tahun, misalnya, maka uang 1 miliar pada 10 tahun mendatang akan setara dengan uang 472 juta saat ini, dan 20 tahun mendatang setara dengan 205 juta.

Tapi apakah lalu UP jiwa harus dinaikkan setiap periode tertentu? Jawabannya bisa ya bisa tidak.

Ya, jika seiring waktu, penghasilan dan gaya hidup kita meningkat secara signifikan, sehingga jika terjadi klaim, UP yang ada tidak mencukupi untuk menopang gaya hidup keluarga yang kita tinggalkan.

Tidak, jika seiring waktu, aset-aset kita bertambah dan utang-utang kita berkurang. Dari tadinya tidak punya rumah jadi punya rumah, dari tadinya punya utang jadi tidak punya utang, dari tadinya punya simpanan emas 10 gram jadi 100 gram, dan seterusnya. Aset-aset yang kita miliki dapat berfungsi sama seperti UP jiwa, yaitu sama-sama bisa dijadikan warisan.

Jika kita bisa mengelola gaya hidup dan pengeluaran dengan benar, seharusnya aset-aset kita bertambah seiring waktu. Pertambahan aset yang normal adalah seimbang dengan tingkat inflasi, dan yang ideal adalah lebih besar daripada inflasi.

Jika ini yang terjadi (aset bertambah), maka kebutuhan UP jiwa kita tidak akan sebesar sebelumnya, sehingga menurunnya nilai UP tidak lagi menjadi masalah karena tertutupi oleh penambahan aset-aset kita.

Namun jika meningkatnya penghasilan dan gaya hidup tidak diimbangi dengan meningkatnya aset, kebutuhan UP jiwa kita memang akan meningkat. Pada kasus ini, UP jiwa kita perlu dinaikkan setelah periode tertentu. Tapi perlu diingat juga, bahwa peningkatan UP jiwa berarti peningkatan premi yang harus dibayar. Dan karena usia pun sudah bertambah lebih tua, maka penambahan preminya pun akan lebih besar lagi.

Tinggal sekarang, kita termasuk kategori yang mana: gaya hidup yang meningkat ataukah aset yang bertambah? []

Kesimpulan

  1. UP jiwa perlu dinaikkan jika pengeluaran dan gaya hidup kita meningkat, sementara aset kita tidak bertambah.
  2. UP jiwa tidak perlu dinaikkan jika aset-aset kita bertambah, dan penambahannya lebih tinggi daripada peningkatan gaya hidup.

 

sumber: https://myallisya.com/2012/03/06/apakah-up-jiwa-perlu-dinaikkan-seiring-waktu/

Asuransi Apa yang Tepat untuk Orang Tua?

Apakah anda sedang kebingungan mencari asuransi yang paling tepat untuk orang tua anda?

Asuransi_untuk_ Orang_TuaCoba anda simak 2 cerita di bawah ini yang saya kutip dari www.asuransi-jiwa.org/asuransi-allianz-untuk-orang-tua-anda/

Dewi Santika (40) hampir saja mengalami syok. Bagaimana tidak. Coba anda bayangkan sendiri saja. Dia harus bolak balik mencari rumah sakit untuk menangani kasus sakit jantung yang tiba-tiba diderita oleh ibundanya tercinta. Ia pergi ke beberapa layanan Unit Gawat Darurat (UGD) untuk mendapatkan perawatan segera. Sayangnya, beberapa rumah sakit penuh. Terpaksa, ia harus melarikan cepat-cepat ibundanya ke salah satu rumah sakit khusus sakit jantung di Jakarta Barat. Bayangan soal biaya sudah jadi pikiran kesekian. Yang penting, nyawa ibundanya terselamatkan. Itu yang menjadi prioritas utamanya saat ini

Namun, ibu dua anak yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan swasta ini merasa bingung setelah hari-hari berikutnya harus mengurus administrasi rumah sakit. Dia mengatakan bahwa, untuk sekali suntik infus saja biayanya mencapai Rp 1,8 juta. Dalam dua hari, ibundanya disuntik sampai 10 kali. Belum lagi biaya alat dan sewa kamar. Bahkan akhirnya, sang ibunda harus dioperasi untuk diimplantasi ring jantung yang nilai operasinya mencapai Rp 35 juta. Dewi khawatir, asuransi yang diberikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang dimiliki tidak dapat mengganti biaya perawatan hingga sebesar itu. Beruntung, saat mengurus biaya-biaya, ternyata semua dijamin BPJS. Ia hanya diminta membayar biaya administrasi rumah sakit yang nilainya tak lebih dari Rp10 ribu. Alhamdulilah…

Hal senada juga dialami oleh Niko (45), seorang warga negara Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Norwegia. Suatu kali, orangtuanya mengunjungi Udin ke Norwegia. Untuk itu, selain harus membelikan tiket pesawat dan akomodasi, Udin juga membelikan asuransi perjalanan. Sebab, selain harus menempuh perjalanan panjang Indonesia ke Norwegia yang memakan waktu 20 jam lebih, secara fisik kedua orangtuanya sudah cukup tua. Udin berpikir, asuransi tambahan tersebut bisa jadi back-up jika terjadi sesuatu pada mereka. Tak disangka, jalanan licin akibat salju turun sempat membuatnya ibunya—Aminah (63)—terpeleset dan jatuh. Dan terpaksa ibundanya harus menjalani perawatan ke rumah sakit di sana. Biayanya mencapai belasan juta rupiah. Beruntung—berkat jaminan asuransi perjalanan yang sempat dibeli semua biaya ditanggung. Bahkan, sampai tiba di Tanah Air, biaya rawat jalannya pun tetap ditanggung.

Asuransi Allianz untuk orangtua

Apakah anda pernah mengalami hal yang mirip dengan cerita di atas, mungkin dengan versi yang sedikit berbeda. Ya, memang benar. Kasus yang dialami oleh Dewi dan Niko tersebut adalah sebuah kejadian nyata yang mungkin bisa dialami oleh siapa saja yang memiliki orangtua. Apalagi, menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia saat ini makin meningkat. Dari 70,6 tahun pada tahun 2010, pada tahun 2014 UHH kita menjadi 72 tahun. Tak heran jika diperkirakan penduduk lansia Indonesia yang pada tahun 2009 berjumlah 20,5 juta jiwa, pada tahun 2020 diprediksi melonjak menjadi sekitar 28,8 juta jiwa atau setara 11% dari total penduduk Indonesia. Dari fakta tersebut, jumlah orang tua yang mungkin membutuhkan perawatan kesehatan seperti kasus Dewi dan Niko diatas, bisa jadi akan ikut meningkat.

asuransi sejak usia diniPertanyaannya adalah, apakah Anda sudah punya kesiapan seperti Dewi dan Niko, jika sewaktu-waktu menghadapi kasus yang mirip? Mengapa tidak mulai merencanakan untuk membelikan asuransi untuk orang tua tercinta sejak usia mereka masih muda? Mengapa mesti menunda dan menunggu sampai usia mereka sudah uzur baru ingin membeli asuransi?

Tahukah anda bahwa semakin anda menunggu, semakin anda rugi. Penundaan yang anda lakukan untuk membeli asuransi untuk orang tua akan menyebabkan biaya/ premi asuransi yang anda bayar akan menjadi semakin mahal karena premi asuransi akan meningkat biayanya seiring dengan usia yang semakin bertambah. Bahkan untuk asuransi jiwa tapro Allianz, usia masuk paling maksimal untuk bisa menjadi nasabah adalah 70 tahun. Perlindungan yang dibutuhkan orang tua lanjut usia semuanya ada di Asuransi Tapro Allianz yaitu santunan atas kematian, santunan akan cacat tetap total, santunan penyakit kritis, dan lain lain. Sebab, pada usia-usia lansia, biaya perawatan kesehatan cenderung meningkat.

Lantas, asuransi terbaik  seperti apa yang harus dipilih, untuk memberikan perlindungan yang memberi kenyamanan bagi orang tua? Setidaknya ada tiga hal mendasar yang perlu dipahami seseorang yang ingin memberikan asuransi terbaik untuk orang tua mereka

Pertama, beli asuransi yang sesuai dengan kebutuhan orang tua. Saat ini beragam perusahaan asuransi kerap menawarkan perlindungan dengan keuntungan bermacam-macam. Agar lebih efisien, Anda bisa melihat rekam medis orang tua, sehingga bisa memilih asuransi kesehatan yang sesuai dengan risiko kesehatan mereka. Produk asuransi jiwa Tapro Allianz adalah asuransi yang paling fleksibel. Tapro memberikan manfaat dasar santunan kematian, tetapi juga bisa ditambahkan manfaat lain sesuai dengan pilihan yang anda inginkan masing masing seperti manfaat santunan cacat tetap total, santunan sakit kritis, santunan kematian dan cacat karena kecelakaan, santunan harian selama di rawat inap di rumah sakit, penggantian biaya selama dirawat di rumah sakit, dan lain lain. Anda mau tambahkan semua manfaat itu ke dalam 1 polis bisa, atau anda ingin polis nya cuma mengcover untuk santunan kematian saja, bisa juga.

Kedua, cari asuransi yang memberikan perlindungan yang sesuai dengan kenaikan inflasi biaya kesehatan. Jangan sampai, saat orang tua sakit di masa depan—ketika biaya-biaya sudah naik—nilai pertanggungannya malah kurang cukup untuk mengganti biaya perawatan. Anda bisa memperkirakan, jika nilai inflasi setahun sekitar 8%, berapa biaya kesehatan yang dibutuhkan beberapa tahun mendatang. Dari angka perkiraan tersebut, Anda bisa melihat berapa nilai yang dijamin asuransi kesehatan yang Anda pilih. Apabila anda semakin cepat memasukkan orang tua anda untuk mengikuti program asuransi, makin murah premi yang anda bayarkan untuk mendapatkan manfaat yang lebih maksimal.

Ketiga, saat membeli asuransi, perhatikan masa tunggu asuransi terhadap penyakit yang dijamin. Beberapa asuransi khususnya yang menjamin penyakit kritis mensyaratkan ketentuan masa tunggu terhadap penyakit berdasar waktu tertentu. Misalnya,masa tunggu adalah 30 hari. Maka, orang tua Anda baru bisa mendapat jaminan biaya perawatan saat di rawat inap di rumah sakit jika dia jatuh sakit setelah melewati waktu 30 hari dari tanggal polisnya aktif. Untuk asuransi jiwa Tapro Allianz, masa tunggu nya adalah 0 hari sehingga proteksi/ perlindungan jiwa orang tua anda langsung berjalan di saat polis dinyatakan aktif (inforce) meskipun buku polisnya belum anda terima di tangan.

Selain itu, ada pula ketentuan penyakit pre-existing condition (penyakit yang sudah diderita sebelum mengajukan pembukaan polis). Misalnya, jika masa pre-existing 12 bulan, maka bila ada klaim untuk penyakit pre existing sebelum polis berusia 12 bulan, pihak asuransi akan mengecualikan biaya perawatan di rumah sakit yang diakibatkan oleh penyakit pre existing tersebut. Tapi jika klaim dilakukan setelah masa pre-existing, asuransi akan langsung membayar klaim. Teliti juga beberapa pasal pengecualian yang ada di dalam polis asuransi anda. Sebab, biasanya ada penyakit dan kondisi tertentu yang menjadi pengecualian, yang tidak dijamin asuransi.

Yang jelas, agar tak merepotkan saat melakukan klaim, Anda perlu membaca polis dengan teliti. Selain itu, Anda juga harus jujur kepada pihak asuransi, tentang riwayat kesehatan orang tua anda. Sehingga, jika ada risiko penyakit tertentu, semua bisa tetap dijamin. Untuk memberikan gambaran awal berapa kebutuhan nilai asuransi yang perlu ditanggung, Anda bisa menggunakan kalkulator asuransi ini.

Semoga, dengan berbagai pertimbangan tersebut, orang tua akan terlindungi, dan Anda pun tak perlu kebingungan memikirkan biaya lagi karena sudah memilih asuransi terbaik bagi orang tua. Asuransi jiwa Tapro Allianz merupakan asuransi jiwa terbaik bagi orang tua anda. Anda bisa memilih antara Tapro Konvensional (Smartlink Flexi Account Plus) atau Tapro Syariah (Allisya Protection Plus).

Ingin buka polis Allianz?

Hubungi Natanael (agen asuransi Allianz)

HP 08113436830

Hitunglah Kebutuhan Uang Pertanggungan Anda dengan Kalkulator Asuransi

Uang pertanggungan asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti penghasilan ketika pencari nafkah dalam keluarga meninggal dunia. Pengganti penghasilan ini tentunya digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga yang ditinggalkan. Sampai berapa lama? Sampai keluarga tersebut mampu menghidupi diri sendiri.

Jadi, seberapa besar uang pertanggungan yang mesti anda miliki? Sudah cukupkah uang pertanggungan yang anda miliki saat ini?

Allianz Life Indonesia memiliki sebuah Kalkulator Asuransi untuk menghitung kebutuhan uang pertanggungan yang anda siapkan untuk melindungi kehidupan keluarga tercinta.

Petunjuknya disajikan dalam gambar berikut. 

Menghitung UP.png

menghitung-up-2

menghitung-up-3

Jika anda telah mendapatkan hasilnya, silakan menghubungi saya untuk mendapatkan ilustrasi produk yang sesuai.

Natanael

Bisnis Eksekutif Allianz Star Network

HP/WA 08113436830

sumber: